Share

Bab 2

Author: Coco
Mata Sheva langsung memerah. Air matanya berjatuhan, seolah dia baru saja dipermalukan dan ditindas di depan semua orang.

Rico langsung naik pitam. Tanpa berpikir panjang, dia bergegas menghampiriku dan mendorongku dengan keras.

"Mikha, memangnya kamu harus mempermalukan Sheva di depan semua orang seperti ini?"

Aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku menoleh kepada wali kelas dan berkata, "Pak, uang kas yang dikumpulkan dari kelas kita jumlahnya lebih dari 2 juta. Pensil ujian yang seharusnya dibeli adalah merek resmi dengan kontrol kualitas pabrik yang ketat."

"Nggak mungkin ada produk cacat yang bekas arsirannya bisa menghilang seperti ini. Pasti ada yang nggak beres. Saya minta masalah ini diselidiki sampai tuntas."

Begitu mendengar ucapanku, tubuh Sheva mendadak limbung. Wajahnya seketika pucat pasi dan air matanya langsung mengalir.

"Mikha, sebenarnya apa maksudmu? Hanya karena keluargaku miskin, kamu langsung menuduhku menggelapkan uang kas kelas? Aku sudah susah payah mengurus keperluan kelas, tapi kenapa kamu malah memfitnahku begini? Keterlaluan ...."

Tangisnya semakin menjadi-jadi. Bahunya terus bergetar, wajahnya pucat, seolah dia akan pingsan kapan saja.

Ekspresi Rico langsung berubah. Dia segera menghampiri dan memegangi Sheva agar tidak jatuh, tatapannya dipenuhi rasa khawatir.

Setelah memastikan Sheva baik-baik saja, dia tiba-tiba menoleh kepadaku dengan penuh amarah, lalu menampar wajahku dengan keras. Suara tamparan yang nyaring menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang seketika terpaku.

Aku memegangi pipiku yang terasa panas dan perih. Hatiku sedingin es.

Sampai sekarang, Rico masih mati-matian melindungi orang yang menjadi biang keladi semua ini. Namun dia tidak tahu bahwa sejak awal, pensil bermasalah itu berada di tangannya sendiri. Orang yang menyerahkan lembar jawaban kosong sebenarnya adalah dia.

"Cepat minta maaf sama Sheva! Kenapa pikiranmu bisa seburuk itu? Kamu harus minta maaf sama Sheva yang baik dan tulus!"

Wali kelas juga mengernyit sambil menatapku.

"Mikha, ucapanmu memang sudah keterlaluan. Kondisi keluarga Sheva kurang mampu, tapi dia tetap bersedia membantu mengurus keperluan kelas. Kamu nggak seharusnya menuduh dia tanpa bukti."

Teman-teman di sekitar juga ikut membenarkan ucapan mereka. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku sambil mengatakan bahwa aku picik dan sengaja mempersulit ketua kelas.

Saat semua orang menyalahkanku dan keadaan sepenuhnya memojokkanku, pintu ruangan perlahan terbuka.

Ibuku masuk sambil mendorong troli kue. Kue itu tampak cantik dan mewah, dipenuhi buah-buahan segar serta hiasan gula. Ibu sengaja memesannya khusus untuk merayakan selesainya ujian masuk perguruan tinggi bersama seluruh teman sekelas.

Di belakangnya juga ada beberapa orang tua murid yang datang untuk merayakan bersama anak-anak mereka.

Para orang tua tersenyum dan serempak mengucapkan selamat kepada kami, mendoakan agar ujian kami berjalan lancar dan masa depan kami cerah.

Kedatangan mereka yang mendadak membuat seluruh ruangan seketika hening. Teman-teman sekelas saling berpandangan, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Rico adalah orang pertama yang tersadar.

"Daripada repot-repot membuat acara mewah yang nggak ada gunanya begini, lebih baik Tante mendidik putri Tante dengan benar. Hanya karena ibunya ketua komite orang tua murid, dia merasa bisa menindas teman dan menekan orang lain seenaknya!"

Ayah Rico yang berdiri di sampingnya langsung memasang wajah muram dan menegur dengan suara rendah, "Gimana sih caramu bicara sama orang yang lebih tua? Nggak sopan sama sekali."

Namun, Rico sama sekali tidak mau mengalah. Dia malah membantah dengan keras kepala, "Memang kenyataannya begitu! Kalau dia berani berbuat, kenapa takut orang lain membicarakannya?"

Ibuku terpaku di tempat dengan wajah kebingungan.

"Apa ada salah paham? Bukannya kita sedang merayakan selesainya ujian? Kenapa malah bertengkar begini?"

Begitu ibu selesai bicara, Sheva berjalan menghampirinya sambil terisak-isak, lalu membungkuk dalam-dalam.

"Tante, maaf .... Semua ini salahku. Aku ceroboh saat membeli pensil ujian sampai membuat Mikha menyerahkan lembar jawaban kosong. Semuanya salahku. Tante jangan menyalahkan Mikha, semua ini karena aku."

Begitu mendengar kata "lembar jawaban kosong", senyum di wajah ibuku seketika lenyap.

"Mikha, apa sebenarnya yang terjadi? Lembar jawaban kosong apa? Ceritakan yang sebenarnya kepada Ibu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 10

    Baru sebulan berlalu, tetapi penampilan Rico sudah berubah total.Rambutnya berantakan, wajahnya dipenuhi cambang yang tidak terurus, matanya cekung dan dipenuhi urat merah. Tubuhnya juga menjadi sangat kurus. Dia masih mengenakan pakaian lama yang kusut.Sosoknya yang dulu selalu angkuh, penuh percaya diri, dan dianggap sebagai siswa berbakat sudah lenyap sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah seseorang yang tampak terpuruk dan berantakan.Begitu melihatku, dia segera bertumpu pada lututnya untuk berdiri, lalu bergegas mengejarku."Mikha, aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah mengecewakanmu .... Bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan lagi? Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya?"Aku menghentikan langkah dan menatapnya dengan tenang. "Rico, hubungan kita sudah lama berakhir. Mulai sekarang, jangan datang cari aku lagi. Jalani hidup kita masing-masing dan jangan saling mengganggu."Setelah berkata demikian, aku berbalik dan masuk ke gedung apartemen tanpa menoleh lagi.Sejak hari i

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 9

    Aku memapah Ibu yang emosinya perlahan mulai tenang, lalu berbalik dan berjalan keluar."Mikha, tunggu! Kumohon, tunggu aku!"Rico berusaha keras untuk bangkit, tetapi kedua lututnya lemas. Berkali-kali dia mencoba berdiri, tetapi selalu gagal. Dia tergeletak di lantai sambil menangis penuh penyesalan."Maaf .... Aku salah. Aku benar-benar salah! Maafkan aku kali ini saja, ya ...."Langkahku sama sekali tidak berhenti. Aku bahkan tidak menoleh ataupun meliriknya sedikit pun. Aku menggandeng Ibu dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi.Baru saja kami keluar dari pintu utama kantor polisi, dua perwira berseragam militer dengan postur tegap berjalan cepat menghampiri kami.Ekspresi mereka serius dan pembawaan mereka tenang. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka adalah prajurit yang telah menjalani pelatihan ketat."Apakah Anda Mikha? Kami adalah penanggung jawab penerimaan khusus akademi militer.""Setelah melakukan verifikasi informasi melalui dinas pendidikan, kami mengetahui

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 8

    Rico tiba-tiba tersadar. Semua kejadian dari awal hingga akhir seketika menjadi jelas dan membuat amarahnya langsung memuncak. Dia melangkah cepat menghampiri Sheva, mencengkeram kerah bajunya, lalu menariknya dengan kasar dari lantai."Kamu yang melakukannya! Ternyata benar-benar kamu! Kenapa kamu sejahat ini?!"Sheva ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat pasi dan air matanya terus menetes saat dia membela diri dengan panik."Aku nggak bermaksud mencelakaimu, aku benar-benar nggak ingin mencelakaimu! Dari awal, orang yang ingin kucelakai adalah Mikha! Universitas Primadana hanya menerima satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dari provinsi kita.""Aku ingin masuk ke sana bersamamu. Aku cuma ingin menyingkirkan Mikha, makanya aku ngasih pensil itu ke dia! Mikha yang terlalu licik. Dia sengaja menukar pensilnya denganmu. Kalau bukan karena dia, semua ini nggak akan terjadi!""Nggak usah lempar tanggung jawab!" Rico gemetar hebat karena marah dan berkata sambil

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 7

    Rekaman CCTV segera didapatkan.Dalam rekaman di luar lokasi ujian sebelum ujian dimulai, pensil ujian milik Rico terlihat tidak sengaja jatuh ke tanah dan terinjak pejalan kaki hingga patah. Dia berdiri dengan kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.Akulah yang berinisiatif menghampirinya, menyerahkan pensil ujianku yang masih bagus kepadanya, lalu mengambil pensilnya yang sudah terinjak dan patah.Sepanjang kejadian tidak ada perebutan sedikit pun. Aku sendiri yang mengulurkan tangan, sementara Rico menerima pensil itu begitu saja.Rekamannya sangat jelas. Setiap gerakan terlihat dengan gamblang. Sama sekali tidak ada bukti bahwa aku diam-diam menukar pensil untuk sengaja menjebaknya.Setelah melihat rekaman tersebut, polisi langsung berkata, "Rekaman CCTV menunjukkan seluruh kejadian dengan jelas. Mikha secara sukarela memberikan pensilnya yang masih bagus kepada Rico untuk membantunya. Ini merupakan tindakan dengan niat baik, bukan pertukaran yang dilakukan dengan niat jahat.

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 6

    Sheva menunjuk ke arahku sambil menangis dan bersikeras bahwa aku sudah mengetahui pensil itu bermasalah, lalu diam-diam menukarnya dengan pensil Rico.Teman-teman di sekitar memang sejak awal hanya mendengarkan satu sisi cerita. Komentar mereka pun semakin lama semakin menusuk."Benar! Ketua kelas jelas-jelas bilang pensil rusak itu diberikan ke Mikha, tapi sekarang malah ada di tangan Rico. Pasti Mikha yang diam-diam menukarnya!""Dia pasti sudah tahu dari awal kalau pensil itu bermasalah, lalu sengaja menjebak Rico. Nilai Rico sebagus itu, dia pasti iri setengah mati!""Jahat banget! Cuma karena dirinya nggak sehebat orang lain, dia sampai tega menghancurkan masa depan orang. Memangnya perlu sampai segitunya?"Setiap ucapan itu semakin membakar amarah Rico.Sejak awal dia memang tidak mau menerima kenyataan. Sekarang dia benar-benar tersulut emosi dan yakin bahwa akulah yang diam-diam menjebaknya.Matanya memerah. Dia menunjuk ke arahku dan meraung, "Mikha, dasar wanita jahat! Kamu

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 5

    Menghadapi tatapan semua orang, Rico jadi merasa sangat tidak nyaman. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa kalian semua lihat aku? Memangnya ada apa?"Seorang teman sekelas ragu sejenak, tetapi akhirnya memberanikan diri untuk bicara."Semua orang sudah mengecek nilainya. Nilai seluruh murid di kelas kita normal, nggak ada satu pun yang bermasalah .... Kalau pensil rusak yang bekas arsirannya bisa menghilang itu memang benar-benar ada, berarti ...."Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi semua orang yang berada di ruangan itu sudah mengerti maksudnya.Wajah Rico langsung muram. Untuk pertama kalinya, kepanikan terlihat di matanya. Dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan jemari gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan buru-buru membuka halaman pengecekan nilai.Halaman itu macet cukup lama. Lingkaran pemuatan terus berputar berkali-kali sebelum akhirnya hasilnya muncul.Deretan angka di layar itu tampak begitu menusuk mata.Total nilai: 250.Wajah Rico seketika pu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status