共有

Bab 3

作者: Coco
Aku mendekat ke telinga Ibu dan mengatakan beberapa patah kata dengan suara pelan. Setelah mendengarnya, ekspresi tegang di wajah Ibu langsung tampak lega. Dia kemudian menoleh ke arah Sheva.

"Jelaskan baik-baik. Ada lebih dari 40 murid di kelas ini. Kenapa dari sekian banyak orang, pensil rusak itu malah diberikan ke putriku?"

Ekspresi Sheva langsung membeku. Sorot matanya tampak panik sekilas dan dia hanya tergagap, tidak mampu memberikan jawaban.

Melihat hal itu, Rico segera berdiri di depannya dan melindunginya.

"Memangnya kenapa lagi? Dia sendiri yang sial! Dari kecil memang dia selalu bawa sial. Kalau nggak, ayahnya juga nggak mungkin meninggal secepat itu!"

"Tante, nggak usah menanyakan hal-hal nggak penting begini. Lebih baik cepat carikan dia tempat bimbingan untuk mengulang ujian tahun depan. Kalau terlambat, bisa-bisa tempatnya sudah penuh. Tahun ini dia sudah pasti nggak akan bisa masuk universitas."

Rico jelas-jelas tahu bahwa ibuku punya penyakit jantung dan tidak boleh mengalami tekanan emosional, tetapi dia sengaja mengatakan semua itu untuk memancing emosi Ibu.

Begitu Rico selesai bicara, wajah Ibu seketika pucat pasi. Tangannya mencengkeram dada dengan erat, napasnya tersengal hingga sulit bernapas, sementara tubuhnya sedikit gemetar.

Jantungku mencelos. Aku segera bergegas menghampirinya, buru-buru mengeluarkan obat jantung dari saku dan memberikannya kepada Ibu, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut agar napasnya kembali teratur.

"Bu, jangan dengarkan omong kosongnya. Tenang saja, nilaiku pasti nggak bermasalah."

Aku mengangkat kepala dan menatap Rico, lalu berkata dengan tegas, "Kamu nggak perlu mencemaskan nilaiku. Soal tempat untuk mengulang ujian ... sebaiknya kamu simpan saja untuk dirimu sendiri."

Rico seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia.

"Mikha, kamu sudah gila? Memangnya aku perlu mengulang ujian? Sepertinya kejadian ini benar-benar membuatmu terpukul sampai pikiranmu nggak waras!"

Teman-teman di sekitar kami juga ikut tertawa mengejek.

"Benar. Rico itu calon kuat peraih nilai tertinggi seprovinsi. Mana mungkin dia perlu mengulang ujian?"

"Mikha mungkin nggak sanggup menerima kenyataan sampai mulai bicara ngawur. Konyol banget."

Sheva segera mendekat dan ikut bicara dengan sikap pura-pura prihatin.

"Mikha, aku tahu kamu ingin buat Tante tenang, tapi kamu juga nggak boleh berbohong. Kita harus menerima kenyataan. Lembar jawabanmu semuanya kosong, memangnya dari mana kamu bisa dapat nilai? Kalau kamu membohongi Tante begini, nanti dia hanya akan semakin terpukul."

Teman-teman di sekitar juga ikut menimpali dengan sindiran demi sindiran.

"Jelas-jelas nggak punya nilai, tapi masih saja keras kepala. Buat apa?"

"Benar. Memangnya apa gunanya menghibur diri sekarang? Sepuluh menit lagi hasil ujian sudah bisa dicek. Nilai yang keluar nanti nggak mungkin ikut berbohong demi kamu."

Wali kelas menghentikan perbincangan semua orang dan berkata dengan nada dingin, "Sudah, jangan ribut lagi. Ibu Mikha, sekalipun putri Ibu mengumpulkan lembar jawaban kosong, itu bukan masalah besar. Nilainya di kelas memang biasa-biasa saja. Paling-paling dia hanya bisa masuk universitas negeri biasa. Sekarang nilainya nol, ya tinggal mengulang ujian tahun depan."

Setelah berkata begitu, dia menoleh ke arah Rico dengan wajah penuh pujian, bahkan mengulurkan tangan dan menepuk bahunya.

"Rico baru pantas disebut siswa berbakat. Dia selalu stabil menduduki peringkat pertama di angkatan. Dalam ujian kali ini, dia sangat berpeluang menjadi peraih nilai tertinggi di provinsi maupun kota. Harapan kelas kita semuanya ada padanya. Jangan sampai mengecewakan harapan semua orang."

Rico berdiri di sana dengan ekspresi bangga.

Tepat pukul sepuluh, situs pengecekan nilai resmi dibuka.

Semua orang segera mengeluarkan ponsel dan sibuk mengecek nilai masing-masing.

Sheva menjadi orang pertama yang membuka halaman pengecekan. Hanya dalam beberapa detik, dia menutup mulutnya dengan tangan dan menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus gembira.

"Nilai ujianku 682 ...."

Suasana di sekitarnya langsung heboh. Para orang tua dan teman-teman mengerumuninya sambil melontarkan pujian tanpa henti.

"Sheva hebat banget! Nilai setinggi itu luar biasa!"

"Pantas saja jadi ketua kelas. Sudah baik, pintar lagi!"

Sheva tersenyum pura-pura malu, tetapi tatapannya sesekali melirik ke arahku.

"Mikha, kenapa kamu belum mengecek nilaimu? Cepat coba muat ulang halamannya. Kamu nggak mungkin terus menghindar, 'kan? Cepat atau lambat tetap harus menghadapi kenyataan."

Aku menggenggam ponsel dengan erat. Halamannya terus macet saat memuat data. Lingkaran di layar berputar tanpa henti, tetapi nilaiku tak kunjung muncul.

Ibu menggenggam tanganku. Telapak tangannya dipenuhi keringat dingin dan wajahnya terlihat sangat tegang.

Melihat nilaiku tak kunjung muncul, Sheva semakin bersemangat menyindirku.

"Internetnya terlalu lambat, ya? Gimana kalau aku yang bantu cek? Sekalipun nilainya jelek, kamu tetap harus menghadapinya. Kamu nggak mungkin terus membohongi Tante, 'kan?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 10

    Baru sebulan berlalu, tetapi penampilan Rico sudah berubah total.Rambutnya berantakan, wajahnya dipenuhi cambang yang tidak terurus, matanya cekung dan dipenuhi urat merah. Tubuhnya juga menjadi sangat kurus. Dia masih mengenakan pakaian lama yang kusut.Sosoknya yang dulu selalu angkuh, penuh percaya diri, dan dianggap sebagai siswa berbakat sudah lenyap sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah seseorang yang tampak terpuruk dan berantakan.Begitu melihatku, dia segera bertumpu pada lututnya untuk berdiri, lalu bergegas mengejarku."Mikha, aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah mengecewakanmu .... Bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan lagi? Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya?"Aku menghentikan langkah dan menatapnya dengan tenang. "Rico, hubungan kita sudah lama berakhir. Mulai sekarang, jangan datang cari aku lagi. Jalani hidup kita masing-masing dan jangan saling mengganggu."Setelah berkata demikian, aku berbalik dan masuk ke gedung apartemen tanpa menoleh lagi.Sejak hari i

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 9

    Aku memapah Ibu yang emosinya perlahan mulai tenang, lalu berbalik dan berjalan keluar."Mikha, tunggu! Kumohon, tunggu aku!"Rico berusaha keras untuk bangkit, tetapi kedua lututnya lemas. Berkali-kali dia mencoba berdiri, tetapi selalu gagal. Dia tergeletak di lantai sambil menangis penuh penyesalan."Maaf .... Aku salah. Aku benar-benar salah! Maafkan aku kali ini saja, ya ...."Langkahku sama sekali tidak berhenti. Aku bahkan tidak menoleh ataupun meliriknya sedikit pun. Aku menggandeng Ibu dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi.Baru saja kami keluar dari pintu utama kantor polisi, dua perwira berseragam militer dengan postur tegap berjalan cepat menghampiri kami.Ekspresi mereka serius dan pembawaan mereka tenang. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka adalah prajurit yang telah menjalani pelatihan ketat."Apakah Anda Mikha? Kami adalah penanggung jawab penerimaan khusus akademi militer.""Setelah melakukan verifikasi informasi melalui dinas pendidikan, kami mengetahui

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 8

    Rico tiba-tiba tersadar. Semua kejadian dari awal hingga akhir seketika menjadi jelas dan membuat amarahnya langsung memuncak. Dia melangkah cepat menghampiri Sheva, mencengkeram kerah bajunya, lalu menariknya dengan kasar dari lantai."Kamu yang melakukannya! Ternyata benar-benar kamu! Kenapa kamu sejahat ini?!"Sheva ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat pasi dan air matanya terus menetes saat dia membela diri dengan panik."Aku nggak bermaksud mencelakaimu, aku benar-benar nggak ingin mencelakaimu! Dari awal, orang yang ingin kucelakai adalah Mikha! Universitas Primadana hanya menerima satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dari provinsi kita.""Aku ingin masuk ke sana bersamamu. Aku cuma ingin menyingkirkan Mikha, makanya aku ngasih pensil itu ke dia! Mikha yang terlalu licik. Dia sengaja menukar pensilnya denganmu. Kalau bukan karena dia, semua ini nggak akan terjadi!""Nggak usah lempar tanggung jawab!" Rico gemetar hebat karena marah dan berkata sambil

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 7

    Rekaman CCTV segera didapatkan.Dalam rekaman di luar lokasi ujian sebelum ujian dimulai, pensil ujian milik Rico terlihat tidak sengaja jatuh ke tanah dan terinjak pejalan kaki hingga patah. Dia berdiri dengan kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.Akulah yang berinisiatif menghampirinya, menyerahkan pensil ujianku yang masih bagus kepadanya, lalu mengambil pensilnya yang sudah terinjak dan patah.Sepanjang kejadian tidak ada perebutan sedikit pun. Aku sendiri yang mengulurkan tangan, sementara Rico menerima pensil itu begitu saja.Rekamannya sangat jelas. Setiap gerakan terlihat dengan gamblang. Sama sekali tidak ada bukti bahwa aku diam-diam menukar pensil untuk sengaja menjebaknya.Setelah melihat rekaman tersebut, polisi langsung berkata, "Rekaman CCTV menunjukkan seluruh kejadian dengan jelas. Mikha secara sukarela memberikan pensilnya yang masih bagus kepada Rico untuk membantunya. Ini merupakan tindakan dengan niat baik, bukan pertukaran yang dilakukan dengan niat jahat.

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 6

    Sheva menunjuk ke arahku sambil menangis dan bersikeras bahwa aku sudah mengetahui pensil itu bermasalah, lalu diam-diam menukarnya dengan pensil Rico.Teman-teman di sekitar memang sejak awal hanya mendengarkan satu sisi cerita. Komentar mereka pun semakin lama semakin menusuk."Benar! Ketua kelas jelas-jelas bilang pensil rusak itu diberikan ke Mikha, tapi sekarang malah ada di tangan Rico. Pasti Mikha yang diam-diam menukarnya!""Dia pasti sudah tahu dari awal kalau pensil itu bermasalah, lalu sengaja menjebak Rico. Nilai Rico sebagus itu, dia pasti iri setengah mati!""Jahat banget! Cuma karena dirinya nggak sehebat orang lain, dia sampai tega menghancurkan masa depan orang. Memangnya perlu sampai segitunya?"Setiap ucapan itu semakin membakar amarah Rico.Sejak awal dia memang tidak mau menerima kenyataan. Sekarang dia benar-benar tersulut emosi dan yakin bahwa akulah yang diam-diam menjebaknya.Matanya memerah. Dia menunjuk ke arahku dan meraung, "Mikha, dasar wanita jahat! Kamu

  • Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka   Bab 5

    Menghadapi tatapan semua orang, Rico jadi merasa sangat tidak nyaman. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa kalian semua lihat aku? Memangnya ada apa?"Seorang teman sekelas ragu sejenak, tetapi akhirnya memberanikan diri untuk bicara."Semua orang sudah mengecek nilainya. Nilai seluruh murid di kelas kita normal, nggak ada satu pun yang bermasalah .... Kalau pensil rusak yang bekas arsirannya bisa menghilang itu memang benar-benar ada, berarti ...."Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi semua orang yang berada di ruangan itu sudah mengerti maksudnya.Wajah Rico langsung muram. Untuk pertama kalinya, kepanikan terlihat di matanya. Dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan jemari gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan buru-buru membuka halaman pengecekan nilai.Halaman itu macet cukup lama. Lingkaran pemuatan terus berputar berkali-kali sebelum akhirnya hasilnya muncul.Deretan angka di layar itu tampak begitu menusuk mata.Total nilai: 250.Wajah Rico seketika pu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status