LOGIN
Baru sebulan berlalu, tetapi penampilan Rico sudah berubah total.Rambutnya berantakan, wajahnya dipenuhi cambang yang tidak terurus, matanya cekung dan dipenuhi urat merah. Tubuhnya juga menjadi sangat kurus. Dia masih mengenakan pakaian lama yang kusut.Sosoknya yang dulu selalu angkuh, penuh percaya diri, dan dianggap sebagai siswa berbakat sudah lenyap sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah seseorang yang tampak terpuruk dan berantakan.Begitu melihatku, dia segera bertumpu pada lututnya untuk berdiri, lalu bergegas mengejarku."Mikha, aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah mengecewakanmu .... Bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan lagi? Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya?"Aku menghentikan langkah dan menatapnya dengan tenang. "Rico, hubungan kita sudah lama berakhir. Mulai sekarang, jangan datang cari aku lagi. Jalani hidup kita masing-masing dan jangan saling mengganggu."Setelah berkata demikian, aku berbalik dan masuk ke gedung apartemen tanpa menoleh lagi.Sejak hari i
Aku memapah Ibu yang emosinya perlahan mulai tenang, lalu berbalik dan berjalan keluar."Mikha, tunggu! Kumohon, tunggu aku!"Rico berusaha keras untuk bangkit, tetapi kedua lututnya lemas. Berkali-kali dia mencoba berdiri, tetapi selalu gagal. Dia tergeletak di lantai sambil menangis penuh penyesalan."Maaf .... Aku salah. Aku benar-benar salah! Maafkan aku kali ini saja, ya ...."Langkahku sama sekali tidak berhenti. Aku bahkan tidak menoleh ataupun meliriknya sedikit pun. Aku menggandeng Ibu dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi.Baru saja kami keluar dari pintu utama kantor polisi, dua perwira berseragam militer dengan postur tegap berjalan cepat menghampiri kami.Ekspresi mereka serius dan pembawaan mereka tenang. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka adalah prajurit yang telah menjalani pelatihan ketat."Apakah Anda Mikha? Kami adalah penanggung jawab penerimaan khusus akademi militer.""Setelah melakukan verifikasi informasi melalui dinas pendidikan, kami mengetahui
Rico tiba-tiba tersadar. Semua kejadian dari awal hingga akhir seketika menjadi jelas dan membuat amarahnya langsung memuncak. Dia melangkah cepat menghampiri Sheva, mencengkeram kerah bajunya, lalu menariknya dengan kasar dari lantai."Kamu yang melakukannya! Ternyata benar-benar kamu! Kenapa kamu sejahat ini?!"Sheva ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat pasi dan air matanya terus menetes saat dia membela diri dengan panik."Aku nggak bermaksud mencelakaimu, aku benar-benar nggak ingin mencelakaimu! Dari awal, orang yang ingin kucelakai adalah Mikha! Universitas Primadana hanya menerima satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dari provinsi kita.""Aku ingin masuk ke sana bersamamu. Aku cuma ingin menyingkirkan Mikha, makanya aku ngasih pensil itu ke dia! Mikha yang terlalu licik. Dia sengaja menukar pensilnya denganmu. Kalau bukan karena dia, semua ini nggak akan terjadi!""Nggak usah lempar tanggung jawab!" Rico gemetar hebat karena marah dan berkata sambil
Rekaman CCTV segera didapatkan.Dalam rekaman di luar lokasi ujian sebelum ujian dimulai, pensil ujian milik Rico terlihat tidak sengaja jatuh ke tanah dan terinjak pejalan kaki hingga patah. Dia berdiri dengan kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.Akulah yang berinisiatif menghampirinya, menyerahkan pensil ujianku yang masih bagus kepadanya, lalu mengambil pensilnya yang sudah terinjak dan patah.Sepanjang kejadian tidak ada perebutan sedikit pun. Aku sendiri yang mengulurkan tangan, sementara Rico menerima pensil itu begitu saja.Rekamannya sangat jelas. Setiap gerakan terlihat dengan gamblang. Sama sekali tidak ada bukti bahwa aku diam-diam menukar pensil untuk sengaja menjebaknya.Setelah melihat rekaman tersebut, polisi langsung berkata, "Rekaman CCTV menunjukkan seluruh kejadian dengan jelas. Mikha secara sukarela memberikan pensilnya yang masih bagus kepada Rico untuk membantunya. Ini merupakan tindakan dengan niat baik, bukan pertukaran yang dilakukan dengan niat jahat.
Sheva menunjuk ke arahku sambil menangis dan bersikeras bahwa aku sudah mengetahui pensil itu bermasalah, lalu diam-diam menukarnya dengan pensil Rico.Teman-teman di sekitar memang sejak awal hanya mendengarkan satu sisi cerita. Komentar mereka pun semakin lama semakin menusuk."Benar! Ketua kelas jelas-jelas bilang pensil rusak itu diberikan ke Mikha, tapi sekarang malah ada di tangan Rico. Pasti Mikha yang diam-diam menukarnya!""Dia pasti sudah tahu dari awal kalau pensil itu bermasalah, lalu sengaja menjebak Rico. Nilai Rico sebagus itu, dia pasti iri setengah mati!""Jahat banget! Cuma karena dirinya nggak sehebat orang lain, dia sampai tega menghancurkan masa depan orang. Memangnya perlu sampai segitunya?"Setiap ucapan itu semakin membakar amarah Rico.Sejak awal dia memang tidak mau menerima kenyataan. Sekarang dia benar-benar tersulut emosi dan yakin bahwa akulah yang diam-diam menjebaknya.Matanya memerah. Dia menunjuk ke arahku dan meraung, "Mikha, dasar wanita jahat! Kamu
Menghadapi tatapan semua orang, Rico jadi merasa sangat tidak nyaman. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa kalian semua lihat aku? Memangnya ada apa?"Seorang teman sekelas ragu sejenak, tetapi akhirnya memberanikan diri untuk bicara."Semua orang sudah mengecek nilainya. Nilai seluruh murid di kelas kita normal, nggak ada satu pun yang bermasalah .... Kalau pensil rusak yang bekas arsirannya bisa menghilang itu memang benar-benar ada, berarti ...."Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi semua orang yang berada di ruangan itu sudah mengerti maksudnya.Wajah Rico langsung muram. Untuk pertama kalinya, kepanikan terlihat di matanya. Dia akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan jemari gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan buru-buru membuka halaman pengecekan nilai.Halaman itu macet cukup lama. Lingkaran pemuatan terus berputar berkali-kali sebelum akhirnya hasilnya muncul.Deretan angka di layar itu tampak begitu menusuk mata.Total nilai: 250.Wajah Rico seketika pu






