Share

Bab 68. Lemon Drop

Penulis: Clau Sheera
last update Tanggal publikasi: 2025-07-27 14:48:15

Perjalanan malam menggunakan bus cukup tenang. Meski jam masih menunjukkan waktu pukul sepuluh lebih beberapa menit, beberapa orang sudah tertidur termasuk Maura yang sejak pagi harus bekerja hingga sore.

Wanita itu bersandar pada sebuah bantal leher yang diberikan Mawar untuknya, tanpa selimut dan hanya mengenakan jaket jeans sementara udara dalam bus cukup dingin.

“Apa ada selimut tambahan?” tanya Dewangga dengan suara rendah pada Zefan yang duduk di deretan kursi sebelah kanan, tepat di se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 120. Provokasi Laura

    Sore itu menara Big Ben terdengar berdentang lima kali dari kejauhan, tanda waktu sudah pukul lima sore.Maura tengah menikmati segelas minuman cokelat hangat dan semilir angin yang berhembus perlahan di sisi sungai Thames sambil melihat pemandangan tower bridge yang cukup ramai dan beberapa kapal pesiar yang melintas.Wanita itu merapatkan jaketnya. Meski sudah tinggal beberapa bulan di sana, dia masih belum terbiasa dengan suhu udaranya yang lebih dingin dari suhu udara di Indonesia.“Mau pancake?” tanya Narendra sambil mendekat dan menyodorkan sebuah pancake panas yang dibungkus kertas roti.“Makasih.” Maura tersenyum sambil menerima pancake itu.Narendra tersenyum sambil menatap kapal pesiar di depan mereka. “Kalau menikmati afternoon tea sambil berlayar kayaknya enak, tuh.”“Males, ah,” jawab Maura sambil menggigit kuenya.Narendra terkekeh geli. Sudah berapa kali wanita itu menolak ajakannya entah apapun itu? Meski cuma menaiki London Eye berdua atau ke tempat manapun yang dia m

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 119. Masih Belum Bercerai

    Sudah lebih dari seminggu berlalu, Dewangga memilih tinggal di rumah oma Ambar karena hampir tak bisa tidur di rumahnya sendiri.Pria itu semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan terkadang pulang larut.Hampir pukul setengah sepuluh malam, saat dia baru pulang. Seharusnya ruang samping sudah gelap gulita seperti biasa. Namun hari itu masih terang benderang.Dia segera menuju ke ruang itu, ingin melihat siapa yang belum tidur. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah saat dia mendengar suara yang familiar.“Maura tinggal di apartemen dekat sungai Thames.”Dewangga tahu itu suara Narendra. Sepertinya dia baru pulang setelah lebih dari seminggu di London.“Dia baru ikut kelas baking karena pengen bisa bikin beberapa kue enak.”“Oh, ya? Oma nggak sabar pengen ketemu dia dan nyicip kue buatannya.”Kali ini, terdengar suara oma Ambar menyahut.Dewangga terdiam di balik dinding. Tak seharusnya dia menguping namun rasanya dia ingin mendengar kabar Maura lebih banyak.“Aku udah nyicip

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 118. Rumah yang Kehilangan Jiwa

    Alena tiba di rumahnya sekitar satu jam setelah menerima telepon.Di ruang keluarga, ibunya telah menunggu dengan wajah gelisah sekaligus menahan amarah.“Mama, ada apa Mama nyuruh aku pulang?” tanya wanita itu sambil duduk begitu saja di dekat ibunya.“Minum ini,” pinta Silvia sambil memberikan dua butir pil berukuran kecil berwarna putih ke tangan Alena. Di atas meja, telah tersedia segelas air mineral.Alena mengerutkan alisnya. “Obat apa ini, Ma?”“Vitamin.”Alena meletakkan kedua pil itu di meja di samping gelas. “Aku nggak butuh vitamin. Lagipul, vitaminku masih banyak. Masa iya Mama nyuruh aku pulang cuma buat makan vitamin doang?”“Alena?!” Silvia memekik menahan amarah sambil mengambil pil itu dan meletakkannya ke tangan Alena kembali. “Kamu harus makan pil ini. Gugurkan anak yang ada di perutmu!”Alena menatap ibunya tak percaya. “Mama … dari mana Mama tahu?”

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 117. Makan Siang

    “Lalu … yang waktu itu selalu mengirimkan hadiah ke rumah sebelum Anda menikah dengan nyonya Maura, sebenarnya adalah Alena. Nyonya Maura saat itu nggak mungkin bisa beli hadiah-hadiah mahal karena uang jajannya sangat terbatas,” kata Zefan sambil memberikan bukti salinan invoice dari pembelian jam tangan mahal, beberapa pakaian, sepatu, hingga makanan. “Ini invoice yang kudapatkan dengan susah payah. Pembayarannya semuanya atas nama Alena.” Dewangga memeriksa sekilas salinan invoice itu. Barang-barang yang didapatnya benar-benar sama dengan yang tertera di invoice.“Bu Silvia selaku ibu tirinya, nggak begitu baik sama nyonya Maura. Ayahnya juga diam aja karena menyangka kalau nyonya Maura itu bukan anaknya jadi mereka kurang baik memperlakukan nyonya. Tapi belakangan … apa Anda sudah dengar? Pak Ruslan dan bu Silvia cerai karena bu Silvia telah membohongi pak Ruslan selama bertahun-tahun. Katanya Alena bukan anak kandung pak Ruslan. Dan katanya lagi, pe

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 116. Kebenaran Terungkap

    Hampir pukul lima sore, namun langit masih cerah kebiruan.Di sebuah mobil, Dewangga duduk diam menatap rumah Maura dari balik kemudinya.Jari-jari rampingnya mengetuk-ngetuk stir, sementara matanya berpindah dari jendela kaca yang satu, hingga jendela kaca lantai dua, ke arah jendela kamar Maura di lantai atas tapi keberadaan wanita itu tak terlihat sedikitpun.“Apa dia lagi keluar, ya?” gumamnya perlahan sambil melihat arlojinya sejenak, kemudian dia menunggu lagi, memikirkan beberapa alasan tepat bertemu dengannya sementara sekotak kue tergeletak di sisi jok penumpang.Tiba-tiba saja, kaca pintu depan bagian kiri diketuk, membuat pria itu teralihkan.Tampak bu Dina berdiri di luar sambil berusaha memandangnya lewat kaca riben.Dewangga segera menurunkan kaca mobilnya.“Nyariin neng Maura, ya?” tanya bu Dina ramah.“Iya, Bu,” jawab Dewangga sambil mengangguk. “Dia lagi pergi?”“Iya, neng Maura udah pergi, udah berangkat tadi pagi sama bapaknya,” jawab wanita paruh baya itu. “Memangn

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 115. Berpamitan

    Jam menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Di restoran milik Andreas, Maura berkumpul dengan beberapa karyawan restoran bersama Andreas dan Marina. Kebetulan, restoran tak terlalu ramai.Wanita itu mendapatkan undangan untuk makan bersama, sebelum pertunangan Andreas dan Marina diadakan seminggu lagi.“Kamu mau pergi?!” Nada protes Marina keluar begitu saja. “Aku sama mas Andreas mau tunangan, lho. Itu artinya kamu nggak bisa datang, dong?”“Iya. Maaf, ya, Marina. Aku cuma bisa ngasih selamat dan doa aja,” kata Maura tak enak hati. “Kalau kalian menikah nanti, aku akan usahakan untuk datang.”“Meski kak Maura nggak bisa hadir, yang penting kan bos sama calonnya bos hadir,” kata Andy.“Iya, tuh. Kalau salah satu diantara kalian nggak hadir, bisa-bisa nggak jadi tunangannya,” celetuk Ricko, membuat Marina kesal.“Enak aja. Amit-amit, ya. Mas Andreas harus hadir, lho, nanti,” kata Marina sambil menatap Andreas dengan permohonan. “Awas aja kalau nggak.”“Ricko cuma asal ngomong, Ma

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 104. Waktu Bergulir

    Maura menarik napasnya. Siapa juga yang membuat pengumuman menyedihkan seperti itu? Lagi pula bagaimana bisa dia membuat pengumuman sementara dia masih terjebak di ruang rawat inap? Harusnya Dewangga bertanya pada orang di rumah keluarganya.“Kak, jangan batalin perceraian kalian. Kak Angga udah ba

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 100. Pertanyaan untuk Esok

    “Ruslan, apa dia putrimu? Kalau yang ini Maura, yang satu ini pasti Alena, kan? Putrimu Alena pintar bercanda, ya!” kata dokter Bram pada Ruslan dengan suara tenang, lalu beralih menatap Alena. “Kata siapa saya ayah kandungnya Maura?” “Kenapa, Dok? Mau menyangkal? Masa Anda nggak kenal dengan putr

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 99. Ayah Kandung Maura

    Di sebuah perusahaan yang cukup besar, Alena bekerja dengan serius di sebuah ruang kerja miliknya sendiri. Dia sudah resmi bekerja di perusahaan Ruslan sejak beberapa waktu lalu. “Alena, sore nanti kita akan ke rumah sakit sebentar,” kata Ruslan saat pria itu mengunjungi Alena

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 98. Awal Penyesalan

    Maura tengah memakan potongan pir yang disiapkan Yanti saat pintu diketuk.Bu Dina datang dengan membawa paper bag pink serta sebuah rantang makanan, dan langsung masuk menemui Maura dan oma Ambar.“Apa kabar, Bu?” sapa bu Dina pada oma Ambar.“Baik, baik. Bu Dina sendiri gimana kabarnya? Katanya s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status