LOGIN“Maura, ini minumnya,” kata Dewangga ketika mereka sampai di dalam kamar.
“Aku udah nggak haus,” jawab Maura acuh tak acuh sambil naik ke ranjang dan segera berbaring. “Apa?” Dewangga tertegun tak mengerti, kemudian menghela napasnya saat menatap Maura yang memejamkan mata. “Aku simpan gelasnya di sini. Mungkin nanti kamu haus lagi,” ujar pria itu sambil meletakkan gelas di nakas samping wanita itu, lalu berjalan sedikit memutar menuju sisi lain ranjang. Maura tak menjawab. Keheningan menyergap keduanya. Maura merasakan sisi lain ranjang bergerak, lalu tenang lagi. Dia tahu Dewangga pasti tidur di sampingnya. “Apa … mama dan tante ngobrolin sesuatu yang buat kamu marah tadi?” tanya pria itu, yang tak ditanggapi Maura meski wanita itu mendengar ucapannya. Dewangga yang berbaring dengan menggunakan salah satu lengannya sebagai bantal menoleh, menatap sisi wajah Maura yang tetap memejamkan matanya. Dia tahu Maura belum tidur. “Kalau gitu, aku akan minta mama dan tante buat nggak usah ngomong—” “Mereka nggak bilang apa-apa,” potong Maura tenang, masih dengan mata terpejam. “Besok, aku mau pulang.” “Pulang?” Ada nada ragu di ucapan Dewangga. Pria itu tahu, pasti oma Ambar tak akan setuju kalau sampai Maura pulang. “Tapi ….” “Dan buat undangan mediasinya, kayaknya aku nggak bisa datang,” lanjut wanita itu. “Kamu urus aja semuanya sampai tuntas.” Dewangga menelan ludahnya. Dia hampir lupa bahwa beberapa hari lagi akan ada mediasi antara mereka. “Kita tunda mediasinya sampai ….” Dewangga berhenti. “Sampai kapan?” tanya Maura sambil membuka matanya dan menoleh menatap Dewangga. Pandangan mereka bertemu di antara lembutnya cahaya lampu tidur. Dewangga tak yakin harus menjawab apa. Dia sendiri tak tahu. Kehamilan Maura merupakan variabel tak terduga yang menunda impiannya sejak dulu. Padahal akhirnya mereka sudah sepakat akan berpisah. “Mungkin sampai anak itu lahir atau … mungkin kamu mau menggugurkannya?” tanya Dewangga hati-hati. Rasa terkejut melintas di bola mata Maura. Wanita itu menggenggam erat selimut yang tengah dipakainya. “Kalau kamu mau menggugurkannya ….” Pandangan wajah Dewangga beralih ke langit-langit kamar. “Aku akan menemanimu. Aborsi di beberapa negara dilegalkan. Kamu tinggal pilih aja mau—” “Nggak perlu,” tolak Maura sambil menghadapkan wajah ke langit-langit kamar dan memejamkan matanya, masih dengan tangan terkepal erat di selimut. “Masalah anak ini, biar jadi urusanku. Kalau aku mau menggugurkannya, aku bisa sendiri. Kamu fokus aja ngurusin perceraian kita.” Dewangga kembali menatap Maura dengan perasaan tak menentu. Pikirnya, Maura pasti tak menginginkan anak itu padahal dia sempat berharap Maura mau melahirkannya. Mereka bisa membuat kesepakatan untuk membesarkan anak itu meski sudah berpisah nantinya. Tapi sepertinya Maura belum siap menjadi seorang ibu, atau mungkin tak mau menjadi seorang ibu. Pria itu ingat Maura pernah mengatakan bahwa dia tak ingin punya anak saat menjenguk pak Jo di rumah sakit beberapa bulan lalu. Jadi, rasanya egois kalau dia meminta Maura melahirkan anak mereka karena semua penderitaan saat mengandung dan melahirkan, hanya bisa ditanggung dan dirasakan Maura seorang diri. *** Jauh di tempat lain, Alena duduk di meja sudut di sebuah bar kecil dengan perasaan gelisah sambil menunggu seseorang. Berkali-kali dia mengecek arloji, kemudian mengecek ponselnya. Orang yang ditunggunya masih belum kunjung terlihat. “Di mana, sih, dia?” gerutunya perlahan menahan kekesalan dan rasa frustrasi yang memenuhi dadanya. Wanita muda itu menekan sebuah kontak tak bernama, lalu menghembuskan napasnya kasar saat ponsel orang yang dihubunginya tak aktif. “Berengsek! Pasti dia nggak akan datang!” makinya perlahan dengan gestur gelisah. Alena segera berdiri dari duduknya dan membayar segelas jus yang bahkan belum disentuhnya, lalu segera berlalu menuju tempat mobilnya diparkir. Baru saja wanita itu masuk dan duduk di belakang kemudi sambil memasang sabuk pengaman, seseorang tiba-tiba masuk dan duduk di kursi sampingnya, membuatnya ketakutan. “Si-siapa kamu?! Kenapa kamu masuk ke mobil orang sembarangan?!” tanya Alena dengan suara terkejut. Wanita itu menoleh ke kanan dan kirinya sambil menggenggam erat sabuk pengaman yang sudah terpasang. Di sekitar mobilnya sepi, sama sekali tak ada orang lain. Dia tak akan bisa meminta pertolongan siapapun. “Keluar, sana!!” usir wanita itu dengan sikap tubuh waspada sambil menatap sosok pria berhoodie hitam yang sebagian wajahnya tertutup masker dengan warna senada. “Ini aku,” ujar pria itu sambil menarik maskernya ke bawah, memperlihatkan wajahnya yang tersenyum lalu menggenggam tangan Alena yang dingin. “Lama nggak ketemu, Ratuku. Kamu makin cantik aja,” ucap pria itu sambil mengecup punggung tangan Alena. “Kamu …. Kamu ….” Alena masih terkejut, namun hatinya segera menjadi lega, lalu berubah kesal. “Sialan, Jayden! Kenapa kamu baru datang, sih?! Aku nungguin kamu lama banget, tahu!” “Jangan marah. Aku tadi ada sedikit urusan, jadi terlambat ke sini.” Wajah Alena segera berubah menjadi sedih dan gelisah. “Jayden …, aku … aku udah nyari tahu ke beberapa orang. Maura … dia hamil anaknya Dewangga. Aku nggak rela. Pasti habis ini mereka nggak bakalan jadi cerai karena anak itu. Iya, kan?” Alena menatap Jayden dengan mata yang langsung berkaca-kaca. “Padahal … padahal sebentar lagi mereka akan cerai. Di saat mediasi nanti pasti mereka akan baikan. Iya, kan?” “Rupanya kamu masih belum bisa melepaskan Dewangga, Alena.” Jayden tersenyum tenang. “Nggak. Aku nggak bisa lepasin dia. Kalau aku nggak bisa bersama Dewangga, Maura lebih nggak boleh bersamanya.” “Tenang … kita pergi dulu ke tempatku, oke?” “Tapi kamu punya rencana bagus supaya mereka tetap bercerai, kan?” tanya Alena penuh harap. “Punya. Tentu saja punya.”Keesokan harinya, Maura bangun dengan perasaan yang lebih waspada. Dia mengecek jendela yang semalam dilewati orang misterius itu.Tak ada kerusakan maupun goresan apapun seolah apa yang terjadi semalam hanya halusinasinya.“Tidurmu nyenyak, Mia?” tanya Maura sambil duduk di sofa saat Mia tengah mengelap guci di bufet, sementara bu Dina sedang mencuci pakaian di ruang laundry.“Nyenyak, Nyonya,” jawab Mia yang sekali-kali memijat bahunya. “Nggak biasanya aku ketiduran di meja belajar kayak kebo, bikin badan sakit-sakit. Bangun-bangun udah agak terang di luar, padahal aku set alarm jam lima.”Maura tersenyum sambil menelan ludahnya. Dia yakin semalam bukan mimpi.“Oh, iya. Bukannya waktu semalam kamu udah ngecek semua pintu dan jendela, ya?” tanya Maura lagi, membuat Mia mengerutkan alisnya.“Udah, Nyonya. Apa ada jendela yang saya lupa kunci?” Wanita muda itu balik bertanya dengan wajah bingung.“Nggak.” Maura menggelengkan kepalanya sambil melirik jendela itu. Seingatnya juga, jendel
“Nyonya, siapa yang datang?” tanya Mia begitu Maura kembali masuk setelah membuang kotak kardus itu. “Nggak ada siapa-siapa. Mungkin ada yang iseng pencet bel. Biasanya sih, anak-anak,” jawab Maura sambil tersenyum dan duduk kembali. “Ah, aku ngantuk.” “Nyonya mau tidur lagi?” tanya Mia. “Ya, sebentar aja. Bangunin kalau satu jam aku belum bangun, ya,” pinta Maura sambil merebahkan diri di sofa dengan mengenakan selimutnya. “Ya, Nyonya.” Mia mengangguk patuh meski sedikit heran dengan perubahan wajah Maura yang tampak sedikit gelisah. Sebenarnya dia ingin bertanya, namun urung karena tak mau mengganggu istirahat Maura. *** Malam datang dengan cepat. Sekitar pukul delapan, Mia mengecek semua pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci dengan aman sementara Maura menonton berita di televisi setelah makan malam. “Nyonya, kapan jadwal Anda periksa ke dokter?” tanya Mia begitu dia selesai mengecek semuanya. “Dua hari lagi, kalau nggak ada keluhan berat,” jawab Maura sa
Siang itu, Dewangga makan bersama Zefan di sebuah restoran di area pusat perbelanjaan.Selesai makan, keduanya berpisah karena Zefan harus membeli sesuatu sebelum jam istirahat habis, sementara Dewangga berjalan pulang melintasi deretan pertokoan.Ketika melewati sebuah toko perlengkapan bayi, dia berhenti sejenak, kemudian masuk dan disapa pegawai tokonya.“Saya ingin membeli sesuatu buat anak saya,” ujar Dewangga pada pegawai toko itu. “Apa ada rekomendasi produk yang bagus?”“Apa yang mau Anda beli, Pak? Pakaian, boneka, peralatan makan bayi, stroller, atau mainan bayi?”“Hmm … pakaian saja,” jawab Dewangga cepat.“Anaknya usia berapa?”“Dia belum lahir.”Pegawai toko itu menahan senyumnya. “Lalu, perlengkapan apa yang udah dibeli, Pak?”Dewangga berpikir sejenak. Dilihat dari kondisi Maura, sepertinya wanita itu belum membeli sesuatu. Tapi entahlah.
Pagi menjelang. Di luar, udara dingin berhembus perlahan menyapu ranting-ranting basah bekas hujan semalam. Sinar matahari baru nampak setelah tertutup awan tipis sejenak. Zefan menjemput Dewangga tepat setelah pria itu selesai sarapan. “Kamu menginap di rumah nyonya?” tanya Zefan sambil menahan senyum saat Dewangga baru masuk ke mobilnya. “Di mana mobilmu?” “Di pinggir jalan, mogok.” “Mogok? Serius?” tanya Zefan tak percaya karena setahunya, mobil-mobil milik Dewangga sangat terawat sehingga tak akan mogok begitu saja. “Bannya kempes. Nggak ada ban cadangan,” jawab Dewangga dengan wajah datar sambil membuka ponselnya untuk mengecek e-mail. “Pakaian ganti untuk hari ini—” “Sedang dalam perjalanan ke kantor,” jawab Zefan sambil menjalankan mobilnya. “Oke.” “Bagaimana rasanya jadi calon ayah?” tanya Zefan. “Menikah sana, kalau
“Tuan, ini paket yang Nyonya terima tadi,” kata Mia dengan suara perlahan sambil melirik pintu kamar Maura yang sudah tertutup rapat. “Nggak ada nama pengirimnya.” Dewangga yang tengah berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya segera duduk. “Berikan padaku,” pintanya. Mia langsung menyerahkannya. Dewangga segera memeriksa isi paket tersebut dan mengeluarkan boneka pink. “Bonekanya rusak?” Pria itu mengerutkan alisnya. “Seharusnya bukan rusak, Tuan. Tapi sengaja dirusak.” Dewangga mengangguk mengerti. “Lalu, apa yang kamu katakan padanya?” “Saya bilang … mungkin bonekanya tersangkut sesuatu ketika sedang dibungkus sehingga robek, Tuan.” “Bagus. Ini udah malam. Sebaiknya kamu segera tidur.” “Ya, Tuan. Saya permisi,” pamit Mia dan segera beranjak menaiki tangga. Dewangga termenung menatap boneka di tangannya. Meski tidak ada cat merah atau noda darah, keb
Di sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan perabotan berkualitas tinggi, Alena duduk di sofa kamarnya sambil menggenggam ponselnya. Televisinya menyala, memutar sebuah film yang tak minat ditontonnya. Wanita itu segera menghubungi seseorang dengan perasaan tak sabar sambil menggigit kuku ibu jarinya saat panggilannya masih belum diangkat. “Halo, Sayang ….” Suara di seberang sana yang dinantinya terdengar setelah panggilan kedua. “Gimana? Udah berhasil?” tanyanya pada pria di seberang telepon dengan penuh harap. “Belum, Ale sayang. Semuanya butuh proses dan nggak bisa dilakukan dengan terburu-buru.” “Jangan main-main, Jayden. Aku pengen Maura keguguran. Kamu jangan menunda-nunda terlalu lama karena aku udah nggak sabar!” pinta Alena setengah berteriak karena kesal. Tawa Jayden pecah. “Kamu mau ingkar janji?!” tanya Alena marah karena tawanya. “Kita udah buat kesepakatan. Aku udah nemenin kamu kemarin malam







