Beranda / Rumah Tangga / Sebelum Kita Bercerai / Bab 9. PERASAAN ALENA

Share

Bab 9. PERASAAN ALENA

Penulis: Clau Sheera
last update Tanggal publikasi: 2023-12-07 14:17:57
Maura menoleh menatap Zefan, mempertanyakan apa yang Dewangga katakan.

"Oh, itu ... jadwalnya udah ditetapkan, Nyonya. Jam empat sore nanti Nyonya harus udah tiba di sana," kata Zefan.

"Kenapa kamu gak tanya dulu ke saya? Saya belum menyetujui apapun," protes Maura. "Sore ini saya ada kelas memasak."

"Maaf, Nyonya. Saya yang salah. Saya nggak tahu kalau nyonya udah ada rencana. Tapi ... gak mudah bikin janji sama psikolog ini, Nyonya." Zefan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Dia sudah ter
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 132. Makan Bersama

    Maura menatap kosong ke arah kaca pintu mobil yang tengah melaju dengan Zefan sebagai sopirnya.Laju mobilnya stabil, tidak terlalu cepat maupun lambat.Saat wanita itu dan bosnya masih berada di area pemakaman, Zefan dengan sigap meminta seseorang mengantarkan mobil Dewangga ke sana, supaya saat kembali nanti Maura dan Dewangga merasa lebih nyaman dalam perjalanan pulang.Hari telah sore. Meski Dewangga tak mengatakan harus pergi ke mana, Zefan memutuskan membawa mereka pulang ke rumah Dewangga dan memberi tahu Mia lewat pesan teks agar gadis muda itu bisa bersiap-siap menyambut mereka.Hening, tak ada musik, tak ada obrolan apapun seolah setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Zefan sendiri tak berani bersuara meski sesekali dia melirik ke arah belakang melalui kaca spion tengah.Di sisi Maura, di kursi belakang, Dewangga tengah membersihkan jari-jari tangan wanita itu dari sisa tanah merah menggunakan tisu basah.“Lapar?” tanya Dewangga memecah sepi meski dengan suar

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 131. Pusara Kecil

    Langit sedikit berwarna kelabu sore itu. Area pemakaman elit itu begitu sejuk dan sepi dengan ciri khas udara yang terasa lebih kering.Meski begitu, di kejauhan ada beberapa orang yang tengah berkunjung ke sebuah makam sehingga tak membuat Maura benar-benar merasa sendirian.Maura berjalan tenang dengan membawa satu rangkaian bunga lily putih yang dicampur dengan bunga baby’s breath dan diikat pita biru muda yang lembut.Meski langkahnya terlihat tenang, namun hatinya merasa berat seiring semakin dekatnya dia dengan makam anaknya yang sudah dia duga dimakamkan di samping mendiang suami oma Ambar, kakek Dewangga dari pihak ayahnya.Pagi-pagi sekali saat dia terbangun karena mimpi itu, dia tak bisa memejamkan matanya lagi. Hatinya yang memang sering merasakan kegelisahan saat malam sejak kehilangan anaknya, semakin merasa gelisah.Rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Rasanya ada sesuatu yang belum tuntas hingga membuatnya memutuskan mengambil penerbangan paling pagi dari London ke S

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 130. Pulang

    Maura buru-buru menyembunyikan foto USG bayinya di bawah bantal kemudian memejamkan matanya seolah sudah tertidur saat dia mendengar suara pintu kamar terbuka.Mungkin itu ayahnya, yang ingin melihat apakah dia sudah pulang atau belum.Aroma parfum yang familiar tercium samar. Seharusnya yang masuk ke kamarnya bukan ayahnya, melainkan Dewangga karena Maura hafal betul aroma parfum milik pria itu. Itu adalah parfum yang pernah dipilihkan untuknya dulu.Maura merasakan sebuah tangan hangat mengusap lembut rambutnya sekali, lalu aroma parfum itu semakin tercium jelas seolah Dewangga tepat berada di depannya.“Kamu udah tidur?” Benar saja itu suara Dewangga. Pria itu bertanya dengan suara rendah seolah takut Maura benar-benar sudah tidur dan tak ingin membangunkannya.Hening sejenak karena tak mungkin bagi Maura menjawab pertanyaan pria itu.“Maura, apa yang harus kulakukan untuk menebus s

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 129. Sama-sama Kehilangan

    Siang itu, matahari terasa sangat terik dan membakar kulit. Alena duduk di bangku taman tanpa tujuan, di bawah rindangnya pohon.Tabungannya tak banyak karena dia harus melunasi utang kartu kredit ibunya yang kini sudah diblokir. Tabungan itu paling-paling hanya mampu bertahan untuk seminggu saja. Ralat, dua minggu jika dia bisa mendapatkan hotel murah untuk tinggal dan makan sederhana.Bagaimana dia bisa bertahan hidup nantinya? Dia harus mencari pekerjaan ke beberapa perusahaan, itupun jika Dewangga masih berbaik hati tak memblacklist namanya dari perusahaan-perusahaan besar meski rasanya mustahil pria itu akan sebaik itu.Baru beberapa menit dia duduk, ibunya datang menyusul dengan napas putus-putus karena kelelahan sambil menarik koper yang lebih kecil dari milik Alena.“Kenapa, sih, kamu ninggalin mama?” protesnya kesal sambil duduk. “Mama nggak dibolehin bawa mobil, Alena. Mereka bilang, mobil juga disita. Gimana kehidupa

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 128. Karma

    Cup.Satu kecupan ringan di bibirnya menyadarkan Maura. Wanita itu segera mendorong tubuh Dewangga dan menjaga jarak.“Aku butuh waktu, Dewangga. Waktu tiga tahun itu sudah sangat panjang dan terlalu melelahkan. Aku berjuang sendirian mempertahankan pernikahan yang sudah rusak sedari awal,” ujar Maura sambil membuka pintu. “Rasanya … sulit bagiku untuk bisa kembali.”Dewangga menatap kepergian Maura, menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya seolah pintu itu adalah hati Maura.Sudah terlalu lama memang dia membuat Maura menderita. Sudah terlalu banyak luka yang ditorehkannya. Hanya kata ‘maaf’ saja tentu tak akan cukup membasuh dan menyembuhkan luka-luka itu.Penyesalan memang selalu datang terlambat, bukan?***Alena diam menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Hari masih siang, namun semangatnya tak secerah matahari di luar.Sudah beberapa hari sejak kepulangannya dari rumah sakit, dia hanya berdiam diri dan tak melakukan apapun.“Alena …! Alena …!”Teriakan Sivia terd

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 127. Perasaan Keduanya

    Beberapa hari berlalu dengan rasa sesak di dada. Maura berhasil menghindari kontak dengan Dewangga sebisa mungkin meski mereka tinggal di atap yang sama. Pagi-pagi sekali dia harus bangun dan bersiap ke restoran sebelum Dewangga bangun, sementara di awal malam dia akan pulang lebih dulu dan mengunci diri di kamar sebelum Dewangga pulang dari kantornya. Namun malam itu sedikit berbeda. Di atas nakasnya saat dia tiba di kamar, dia menemukan sebuah kotak kado yang dibungkus rapi dengan sebuah pita cantik. Ukurannya tak terlalu besar, namun juga tak terlalu kecil sehingga mudah terlihat. Maura mengerutkan alisnya. Hari ini bukanlah hari ulang tahunnya. Siapakah yang telah masuk ke kamarnya tanpa izin dan meletakkan kotak itu di sana? Apa mungkin ayahnya? Wanita itu segera membuka kotak kado itu. Di dalamnya terdapat satu set perhiasan mahal bertahtakan batu rubin yang dicampur dengan berlian. Rasanya tak mungkin bagi ayahnya untuk membelikannya satu set perhiasan mewah itu meng

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 72. Wanita Pengacau Pikiran

    Maura terburu-buru menuruni tangga dan berdiri di depan pintu.Di luar sana, Dewangga masih mengetuk, menunggu Maura membukakan pintunya.“Maura, buka pintunya!”“Nggak, Dewangga. Aku bilang, aku nggak leluasa ketemu siapapun,” ujar wanita itu, yang berdiri dengan gugup

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 69. Malam itu ....

    “Aku mau lagi lemon drop-nya, Riaa ….” Maura tertawa-tawa kecil sambil memeluk sebuah gelas bir yang isinya hampir habis, sementara Ria dan Devina sedikit kewalahan membujuk Maura di lorong hotel untuk segera membawanya beristirahat.“Udah, Bu … udah …,” bujuk Ria untuk yang kesekian kalinya. “Ini

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 67. Liburan

    “Menikahlah dengan Dewangga.”Satu kalimat yang dilontarkan oma Ambar itu meruntuhkan sunyi, namun membangun keraguan di hati Maura.Maura mendongak, menatap wanita baya yang masih cantik dan anggun itu, yang duduk di sofa tepat di depannya sambil tersenyum menikmati secangkir teh hangat yang terhi

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 66. Kisah Tiga Tahun Lalu

    “Maura, lihat.” Alena datang membuka pintu kamar Maura tanpa permisi. “Ini gaun baru yang aku dan mama pilih buatmu. Cantik, ‘kan?” Dengan wajah sumringah, dia memperlihatkan sebuah gaun merah anggur yang ditaburi kilauan sekuin, saat Maura tengah menulis sesuatu di buku diary-nya sambil telungkup

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status