Mag-log inAva, an Omega, had a stroke of luck when she became the mate of the Alpha Zane, whos also her childhood crush. After securing her position as Luna, things don't exactly have a happy ever after for her. Working hard to guide her pack and please her mate, her efforts still gone unnoticed. Her entire world comes to a crashing point when her mate unable to cope with her inability to produce a heir for him impregnates her best friend. Betrayed and hurt, Ava was tossed away to the side; her tears and her pleas for a second chance went unheeded until finally she was killed by her mate. In a turn of events,the Moon goddess steps in giving her a second chance at life. What happens when Ava returns from her rebirth? Will she tread down the same path as before? Or would she seek revenge on those who betrayed and killed her?
view moreKisah ini di awali dengan seorang laki-laki berumur 22 tahun bernama Febrian yang bisa kita sapa dengan Febri, ia mempunyai seorang adik yang umurnya sangat tertinggal jauh darinya yang bernama Febi. Kedua orang tua Febri hanya orang yang berkecukupan, dengan bapaknya yang bekerja sebagai ojol dan ibunya yang berjualan nasi kuning dan masakan. Kedua orang tua Febri sangat sederhana sekali, baik dan loyal kepada anak-anaknya.
Dimana waktu itu Febri baru saja lulus dari SMA, ia di haruskan untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi oleh orang tuanya. Febri di haruskan untuk memilih apakah akan melanjutkan pendidikan nya atau hanya sebatas lulusan SMA saja dan bekerja sebagai buruh pabrik. Febri memilih untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, ia tidak mau seperti orang tuanya yang hanya sekedar lulusan SMA saja. Hari demi hari berlalu akhirnya Febri mendaftarkan dirinya di suatu PTN yang ada di Bandung dan cukup terkenal juga, setelah melalui beberapa tahapan dan ujian akhirnya hari penerimaan pun tiba dan Febri diterima di PTN tersebut dengan mengambil jurusan keperawatan.
Hari ospek pun tiba dimana semua mahasiswa wajib mengikuti ini, bisa dibilang ospek ini adalah suatu tradisi turun temurun dari generasi ke generasi. Ospek ini sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya ketika di SMA disini kita di tuntut harus disiplin, taat terhadap aturan yang ada dan intinya kita harus bisa mandiri dan jangan manja. Hari pertama di lalui Febri dengan biasa saja dan mendapatkan beberapa teman baru disana, dan nantinya teman-teman baru Febri ini akan menjadi teman sekelasnya nanti. Hari kedua ketiga dan sampai selesai acara ospek ini Febri lalui dengan baik tanpa ada hambatan sama sekali. Dikarenakan rumah Febri ke kampus cukup jauh jadi Febri memutuskan untuk kost di daerah dekat kampusnya dan dekat teman satu kelasnya juga.
Hari pertama perkuliahan pun tiba, jam menunjuka pukul 06:00 Febri sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus tidak lupa dia membangunkan teman-temannya yang bersebelahan kamarnya,
Febri : "toko tok tok" (Febri mengetuk pintu kamar temannya yang bersebelahan)
Febri : "sal bangun sudah pagi ayo berangkat ke kampus".
Faisal adalah salah satu teman sekelas Febri sekarang di kampus dan menjadi teman dekatnya. Faisal pun beranjak dari kamarnya dan membukakan pintu,
Faisal :" oh ayo, bentar ya mau mandi dulu"kata Faisal
Febri :" mau titip sarapan gak, gua mau beli sarapan dulu nih?",sahut Febri
Faisal : " oh iya sok gua nitip naskun aja 1 nanti uang nya gua ganti ya"
Febri pun beranjak dari kost-an nya untuk membeli sarapan di depan. Selesai membeli sarapan mereka makan dulu sebelum berangkat ke kampus karena sarapan itu sangat wajib untuk tubuh kita.
Setelah selesai sarapan mereka berdua pun pergi ke kampus dengan jalan kaki di karenakan jarak dari kost-an ke kampus itu sangatlah dekat. Tiba di kampus mereka berdua terheran-heran dikarenakan kelas nya penuh dengan wanita dan memang mayorita untuk jurusan keperawatan ini di dominasi oleh wanita, satu kelas mereka ada 40 mahasiswa dengan 7 orang laki-laki termasuk Febri dan Faisal dan sisanya wanita. 5 orang laki-laki tersebut adalah andre, Sandy, Ihsan , Rifky dan sugih, mereka berlima ini sangat akrab dan gampang sekali berbaur. Hari demi hari Febri lalui dengan Semangat dan tanpa ada kendala apapun, semuanya Febri jalani dengan ikhlas dan tanpa beban apapun, tidak lupa dia menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim dengan sholat 5 waktu. Untuk jadwal Febri sendiri kebetulan mahasiswa baru jadwalnya masih sangat sangat dan tidak terlalu sibuk, Febri mengisi waktu luang nya itu dengan mengikuti beberapa organisasi mahasiswa yang ada di kampus.
Sesekali Febri ketika libur kuliah dia pulang ke rumah dan membantu ibunya berjualan di rumah. Untuk meringankan beban orang tuanya sendiri Febri sering bermain voly keluar daerah Bandung dengan diberi upah yang cukuplah untuk uang jajannya sendiri seelama satu bulan di kampus. Kegiatan voly itu sudah Febri tekuni sejak masih SMA awalnya ia sering ikut-ikutan voly antar desa sampai kecamatan dan banyak yang kenal Febri sampai ia sering di ajak untuk mengikuti turnamen di luar kota, dari situlah Febri sudah bisa mulai mandiri dan tidak menyusahkan orang tuanya.
Suatu hari ketika Febri sedang duduk terdiam sendirian di taman kampusnya ada seseorang perempuan yang menghampiri dia,
Cewe : "hai" menyapa Febri dengan senyuman nya yang manis
Febri : "ohh iya hai" merekapun saling menyapa satu sama lain nya.
Cewe : "Sendirian aja,, hehe?" tanya si cewe
Febri : " ehh iya sendirian nih, silahkan duduk"
Merekapun duduk berhadapan di taman
Cewe : "kenalin aku Santi, mahasiswi dari kampus sebelah."
Febri : " aku Febri, kalau boleh tau ada apa yah?"
Santi : " hmmm ngga ko gapapa, heheh"
Febri : " ohh kirain aku ada apa gtu ".
Santi : " ngga ko gapapa, sendirian aja kamu disini? Gada yang nemenin gitu ?"
Febri : " lagi pengen sendiri aja, terus kamu ngapain disini? "
Santi : " ohh aku kebetulan aja tadi lewat sini terus liat kamu. Kamu ngekos di s***** yah? "
Febri : " Iyah, kok kamu tau ?"
Santi : " yah iya lah tau orang sebrang kosan kamu kosan ku, makanya aku beraniin diri buat nyapa kamu tadi hehehe".
Febri : " ohh tetangga rupanya".
Santi : " Iyah, kamu kenapa belum pulang?"
Febri : " ini udah mau pulang ko "
Santi : " yaudah ayo bareng "
Febri : " ayo ".
Mereka pun pulang bersama, dari pertemuan hari itu mereka berdua pun semakin akrab dan saling bertukar nomor W******p. Semakin hari mereka berdua pun semakin dekat dan tidak jarang mereka setelah pulang dari kampus sering jalan berdua keluar untuk makan atau main. Di suatu malam Santi mengajak mengajak Febri untuk main , kebetulan hari itu hari sabtu dan besoknya libur perkuliahan merekapun pergi menggunakan mobil milik Santi ke daerah lembang. Sesampainya disana mereka mengobrol dan Santi pun disitu bertanya sesuatu kepada Febri.
Santi : " feb aku mau nanya boleh?"
Febri : " boleh, sok mau nanya apa?"
Santi : " kamu udah punya pacar?"
Febri : " hmmm belum, kenapa gitu?"
Sinta : " aku tuh sebenernya suka sama kamu feb, tapi aku malu mau ngomong nya."
Febri : " hah ? Yah wajar kalo kamu suka sama aku itu berarti kamu normal masih suka sama lawan jenis hahaha."
Santi : " ihh serius tau, malah di becandain gitu ahh ".
Febri : " yah becanda gimana san emang bener kan ".
Santi : " Iyah bener, tapi aku suka sama kamu. Aku pengen hubungan kita tuh ga cuman sebatas teman aja feb".
Seketika Febri pun terdiam dan merenung.
Santi : " kenapa kamu diem feb? Kamu gasuka yah sama aku?
Febri : " bukan gitu san, aku juga suka sama kamu tapi yah aku malu sama kamu san aku gapunya apa-apa, aku cuman oranga biasa hidup aku sederhana orang tuaku hanya bekerja sebagai penjual nasi kuning dan ojol".
Santi : " emang aku pikirin, aku tetep terima kamu apa adanya ko feb aku juga suka orang sederhana kaya kamu gitu".
Febri : " asli san gitu? Diluaran sana masih banyak loh cowok-cowok yang lebih dari aku?"
Santi : " lah terus, kan aku maunya sama kamu ga sama orang lain. Aku Nerima kamu apa adanya ko feb, aku ga mandang kamu dari harta atau apapun aku tulus ko suka dan sayang sama kamu ko".
Febri : " Iyah deh san "
Santi : " jadi kamu mau jadi pacar aku feb ?"
Febri : " Iyah san aku mau ".
Terlihat senyum yang sangat bahagia di wajah santu setelah mendengar Febri mau jadi pacarnya, dari malam itu Febri dan santi pun resmi berpacaran dan mereka pun terlihat bahagia.
Malam itu ketika mereka hendak pulang hujan sangat deras, dan mereka mengurungkan niatnya untuk pulang jadi terpaksa mereka harus mencari penginapan di sekitar situ dan bermalam.
Bersambung
AVA.I just sat there in shock staring at Cade who looked back at me with n nothing but coldness in his eyes. I couldn’t believe what I was seeing.“You?” I said disbelieving what I was seeing.He said nothing but kept on watching me no expression on his face, nothing.“Cade here would be responsible for the final process of your death. He is going to inject his blood into you and from there we can proceed with what needs to be done.I closed my eyes refusing to believe that was I was seeing was true, refusing to believe that Rykers brother wasn’t just standing I front of me about to lend a hand to tis witches on my own death.“Please let me go “I said opening g my eyes, fighting back the tears that were threatening to spill through.“I’m afraid that isn’t an option” Eve hissed.Miriam gave a nod and the two women close to me bent a
AVAI just stared back at Eve noting the way her eyes shone like she had just won the lottery.“Did you hear me Ava; I said I’m going to have Ryker kill you.”Of course I heard her but I didn’t want to acknowledge what she had just said. I didn’t want to show her the fear that was coursing through my body.“Why?” was all I could say as my brain wrapped around what Eve had just said.“That’s a good question. Miriam must have told you that she does not have any personal vendetta against you but I don’t want you to believe what she says for even a second, I do have a personal vendetta against you”Eve paused and paced around me her footsteps making thumping nooses in the floor of the cell.“I don’t know what gave you the audacity to think that you could just waltz into Ryker's life and suddenly act lovey dovey with him. When I’m done punishing you, you’ll never have a taste of what isn't yours.”“Ryker doesn’t belong to you; he has the right to chose whom he should remain with.”I knew I
AVA. For some reason whatever Eve had put into my body was preventing me from using my wolf powers. The more I remained in the darkness of the cell the weaker and weaker I got. Occasionally Eve would come in and taunt me while I kept quiet and just listened without saying a word. I was more interested on what I was going to do, what steps I was going to take to make sure that I escaped from her clutches without any harm. What she said yesterday still haunted me, echoing in my head like some sort of phantom bell. If Eve and Miriam were indeed serious about creating this so called witch hybrid that they talked about it meant that they had to kill me first in order for the spell to work. Apparently I had a mate somewhere who wasn’t dead and as long as I lived it posed a problem to the spell. Yet something kept bugging me at the back of my head. If I had a mate, how come he had a child without me and how come the both of us had been separated? Now that I was alone in the cell and tho
I was starting to get restless now and with each minute that passed I could feel myself getting more and more angry. It had been two hours since Cade had left the pack in search of Ava and I haven't heard anything from him. All my attempts to reach him had all proved abortive. Grimacing, I rubbed my hands on my face trying to quell the shift that was beginning in me whenever I got angry. "Relax Alpha if Cade is true to his words them we only have to trust him and wait for now" I knew Tao was trying to get me to calm down but his words only seemed to agitate me even more. "It's been hours, he hasn't called back or said anything. If you were in my position you'd feel the same." "Maybe there is traffic," Tao offered. I threw him a murderous glance and Tao raised his hands in surrender. "Fine, I give up on cheering you up." I took a deep breath once again trying to calm down the beast that was fast rising within me feeding on my restlessness and anger and felt it subside. "There
AVA. I hurriedly packed my things into the small box I decided I was going to use for my escape. My father was currently positioned at the door his eyes fixed to the pack hall at the distance acting as a look out. The last thing I wanted was for the gathering in the hall to dismiss and people star
AVA. I watched as my father dropped to the ground twitching, the gash in his neck spilling blood like a liquid tap. I watched as he switched his eyes to amber willing on the powers of his wolf to try and heal him from death which was fast approaching, hovering over him like a harbinger of doom. I
AVA. I could feel every pair if eyes in the hall drawn to Zane who stood powerfully tall commanding respect like he owned it. I could feel the tension in the room rising like poisonous gas as it came to settle about us thick with promises of what was to come. I could see Cassie playing with her f
“Tomorrow we will begin the final selection of the youngest warriors that will be inducted into the Betas programme,” I said, my voice projecting into the night. I moved my gaze to each individual wolf looking at me and watched the passion reflect in their eyes. I wanted them to be strong, to have






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu