LOGINThe Rogue Kings I ~ Solaris’ Reign ~ Solaris has reached the end. Her body giving out after her gruesome past and forcing her to accept the future. However, she’s not done yet. There are some last strings tied to her past that she needs to bring together. It brings her home, to the Moon River pack, and to two men she never thought she would see again. However, with their fates intertwined, Solaris needs to pull everyone together before she takes her last breath. To save the lives of everyone she loves but her own. Battling the stigma of rogues, the broken-hearts of her lovers, an old flame, her duties to her kind, and trying to hold on before her final breath is taken. ~ The Rogue Kings is a two-part story. Solaris’ Reign is the first part of this epic tale. Part 2 (Nate’s Reign) is coming May 2025!
View More"Kamu enggak masak, Dek?" tanya Rusman pada istrinya, Yuni.
Yuni yang sedang melipat pakaian menoleh ke arah suaminya.
"Enggak, Bang. Kan, pagi tadi aku udah bilang kalau beras kita udah abis dan aku udah gak pegang uang lagi." sahut Yuni dengan suara datar.
"Ya Allah, Abang lupa, Dek. Maaf, ya?" Rusman menepuk dahinya sendiri lalu turut menjatuhkan diri di depan sang istri.
"Adek pasti lapar seharian belum makan. Sebentar, Abang ke rumah wak Harjo dulu, ya, minta singkong." ucapnya mengusap bahu istrinya. Yuni hanya mengangguk pelan, tak lupa ia ulas senyum agar suaminya tahu bahwa ia pun tak keberatan dengan keadaan mereka.
Rusman dengan cepat bangkit lalu melangkah cepat menuju rumah tetangganya untuk meminta singkong.
"Assalamualaikum, Wak!" salamnya saat sudah sampai di rumah yang ia tuju.
"Walaikumsalam ... " terdengar salam jawaban dari dalam rumah. Tak lama, muncul seorang lelaki paruh baya memakai sarung dan peci.
"Oh, kamu, Man. Masuk sini!" ajaknya saat melihat Rusman berdiri di ambang pintu.
"Gak usah, Wak. Saya ke sini mau minta singkong, Uwak. Boleh tidak, Wak?" ucapnya sungkan.
"Oh, singkong? Boleh, ambil saja. Itu yang di belakang yang udah layak makan, sok atuh, ambil saja!" sahut sang pemilik kebun singkong.
"Alhamdulillah, terimakasih, Wak!"
"Hayuk, Uwak temanin. Kamu ada bawa cangkul tidak? Kalau tidak, itu di belakang ada cangkul." tunjuk Harjo ke arah dalam rumahnya.
Rusman segera mengekor pemilik rumah untuk ke halaman belakang rumah itu. Rumah sederhana yang memang di kelilingi oleh kebun singkong. Ada juga aneka sayur mayur ditanam oleh pemilik rumah itu.
Dengan bantuan sang pemilik rumah, Rusman berhasil mencabut dua pohon singkong yang berbuah cukup banyak. Ia berpikir bisa ia makan sampai esok hari.
"Wah, banyak isinya, Wak!" kagum Rusman melihat isi pohon singkong yang ia cabut itu.
"Iya, alhamdulillah. Ini singkong mentega, warnanya kuning dan pulen kalau direbus, Man. Sok atuh, masukin karung semua!"
"Semua, Wak?"
"Iyalah, bawa saja semua."
Rusman gegas memasukkan singkong ke dalam karung bekas wadah beras itu, dengan senyum mengembang menghiasi wajah lelahnya.
Setelahnya, ia bergegas kembali pulang setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih pada pemilik kebun. Bahkan, Harjo berpesan jika sewaktu-waktu Rusman membutuhkan singkong untuk mengambilnya tanpa sungkan. Bahkan, saat dia tak di rumah sekalipun.
"Dek, ini singkongnya." ucap Rusman dengan suara agak keras sebab dirinya langsung menuju dapur melalui pintu belakang sedangkan sang istri ada di kamar paling depan.
"Iya, Bang!" teriak Yuni menyahut, lalu bergegas menyusul suaminya di belakang.
"Kamu bikin apinya saja, Dek, biar ini Abang yang kupas!" titah Rusman, Yuni mengangguk setuju. Lalu ia bersiap duduk di depan tungku untuk membuat apinya.
***
"Dek, maafkan Abang yang hari ini pulang tidak bawa uang. Kata Pak Amir, kerja hari ini akan dibayar besok sekalian." ujar Rusman mengusap punggung Yuni saat keduanya tengah duduk di depan tungku api menunggu singkong matang.
"Iya, gak papa, Bang. Mau gimana lagi?" sahutnya menanggapi.
"Abang benar-benar minta maaf, Dek," lanjut Rusman penuh sesal melihat raut sendu sang istri. Yuni hanya tersenyum saja menanggapi.
Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Bahkan, untuk sekedar berdebatpun ia sudah tak ada tenaga lagi.
Sejak Rusman diberhentikan secara tiba-tiba dari pabrik roti tempatnya mengais rejeki dulu, kehidupan mereka benar-benar berubah drastis. Terlebih, usai Bu Rusni -mertua Yuni- jatuh sakit. Hampir semua tabungan mereka habis untuk biaya perawatan sang ibu. Dan sisanya, hanya cukup untuk biaya hidup sederhana mereka selama 2 minggu saja.
Rusman bekerja sebagai buruh serabutan dikarenakan usia yang tak lagi muda untuk melamar pekerjaan di pabrik-pabrik. Terkadang dia menjadi kuli panggul di pasar, terkadang menjadi buruh petik kelapa, kadang membersihkan kandang ternak tetangga dan apa saja yang menghasilkan uang dia lakoni asalkan halal.
Sedangkan, Yuni bekerja sebagai buruh di pabrik teh dengan gaji bulanan yang tak seberapa, sebab ia harus menanggung cicilan di Bank yang mereka pakai untuk biaya sekolah kedua anak mereka.
Anak pertama mereka kini tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas negeri karena mendapat beasiswa prestasi. Dan anak kedua mereka masih duduk di bangku SMA. Keduanya masih sama-sama membutuhkan biaya besar sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk berleha-leha.
"Assalamualaikum ... " terdengar salam dari luar dan sontak mereka menjawab serentak.
"Walaikumsalam ... "
"Loh, Neng, kok sudah pulang?" tanya Rusman pada Santi, anak keduanya yang masih kelas 2 SMA.
"Iya, Pak. Para guru ada rapat dadakan katanya," sahut Santi sembari mencium punggung tangan orang tuanya.
"Ibu masak apa?" tanyanya melihat ke arah tungku api.
"Singkong, Neng. Sana ganti baju dulu, terus sholat dulu, ya!" titah Yuni pada anak gadisnya.
"Santi lagi enggak sholat, Bu, lagi halangan." sahut Santi lagi.
"Yasudah, ganti bajunya. Nanti kotor,"
Santi gegas berlalu ke kamarnya, kamar berukuran 3x3 yang terletak di sebelah kanan ruang tamu kecil keluarga mereka. Ia begitu maklum dengan keadaan ekonomi keluarga mereka yang jauh dari kata layak. Pernah dia meminta pada orang tuanya untuk berhenti sekolah dan ingin ikut bekerja saja agar bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Tetapi dengan tegas Rusman menolak, begitupun Adji, kakaknya yang sekarang tengah menempuh pendidikan di kota.
"Neng, singkongnya udah mateng ini!" panggil Yuni pada putri bungsunya.
"Iya, Bu!"
Gegas Santi berganti pakaian lalu keluar dari kamarnya dan bergabung dengan ibu bapaknya untuk menikmati singkong yang masih mengebulkan asap sebagai pengisi perut hari ini.
"Neng, si Aa' ada telepon tidak?" tanya Rusman sambil mengunyah singkong.
"Ada, Pak, tadi pagi. Katanya, sekarang si Aa' teh kuliah nyambi kerja gitu." jelas Santi pada orang tuanya.
"Iya?" tanya Yuni memastikan.
"Iya, katanya besok lusa mau pulang pas libur."
"Alhamdulillah kalau begitu, Neng. Ibu sudah kangen sama si Aa'." ujar Yuni dengan mata berbinar merindukan sosok anak sulungnya.
Hari berganti begitu cepat, hari ini hari Jumat dimana sang anak sulung akan pulang dari kota.
"Bang, uang yang kemarin sudah habis buat beli kebutuhan kita. Yang dari Yu Hamidah sudah dikasih belum uangnya? Soalnya berasnya habis, Bang. Mana si Aa nanti pulang, kan kasihan kalau dia pulang enggak ada apapun." ucap Yuni pelan pada suaminya.
"Kata Yu Hamidah sih katanya nanti sekalian kalau sudah selesai kerjaan, Abang. Palingan besok, Dek. Beras saja yang habis? Bumbu dapur gimana? Masih?"
"Bumbu dapur masih ada, Bang. Beras saja."
"Kalau gitu, coba nanti Abang ke rumah Emak ya, pinjam beras dulu lusa kita ganti. Gimana?" usul Rusman, Yuni diam sejenak memikirkan konsekuensinya berurusan dengan mertuanya.
Siapa yang tak kenal Bu Rusni di kampung itu, mertua Yuni ini orangnya pelit bukan main. Tak hanya pada orang lain, pada anaknya sendiri saja ia begitu perhitungan. Padahal, waktu Bu Rusni sakit, merekalah yang merawat. Makanya, Yuni sangat enggan berurusan dengan mertuanya itu. Disamping pelit, mulutnya lemes dan beracun, tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Tetapi dia tak punya pilihan lain, daripada anak sulungnya pulang dan tidak ada apapun untuk dimakan. Padahal, anak sulungnya itu pulang sebulan sekali.
"Tapi, Bang--" Yuni nampak ragu menerima usulan suaminya.
"Kamu tenang saja, biar Abang yang bujuk Emak. Semoga, Emak sedang khilaf hari ini." hibur Rusman menenangkan sang istri.
Akhirnya mau tak mau Yuni mengangguk juga. Tak ada pilihan lain selain datang pada mertuanya untuk meminjam beras, sebab ia sudah terlalu malu jika harus datang ke tetangganya dan juga ia tak mau berhutang di warung.
Siang itu Rusman bergegas ke rumah ibunya, dengan debaran di dada ia beranikan diri untuk datang ke sana. Rumah mereka masih satu kampung hanya beda RT saja. Jadilah bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Siang nan terik tak menyurutkan langkah kakinya menuju rumah besar ibunya.
"Assalamualaikum ... " salamnya saat sudah sampai di teras rumah ibunya.
"Walaikumsalam ... " terdengar salam balasan dari dalam dan Rusman tahu itu suara ibunya.
Tak lama, wanita sepuh bertubuh gempal itu keluar. Raut wajahnya tak bersahabat kala melihat anak keduanya ada di ambang pintu rumahnya.
"Tumben datang, Man?" ketusnya. Rusman segera menyalimi ibunya itu dengan takzim.
"Iya, Mak. Emak sehat?" tanyanya basa-basi.
"Ada apa?" todongnya langsung tanpa mengindahkan pertanyaan Rusman. Bahkan tak mempersilahkan anaknya itu masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Em, begini, Mak. Rusman mau pinjam beras dulu 1 kg saja, lusa Rusman ganti." dengan segenap keberanian Rusman berucap.
Senyum meremehkan terbit dari bibir wanita sepuh itu.
"Kamu itu, Man-Man, datang ke sini kalau cuma ada maunya. Memangnya istrimu itu gak ada uang sekedar beli beras?" ketus Bu Rusni lalu menjatuhkan diri di kursi teras. Mau tak mau Rusman mengikutinya duduk di sebelah Bu Rusni.
"Uang Yuni sudah dipakai buat bayar cicilan Bank, Mak. Emak, kan tahu sendiri cicilan kami banyak. Sedangkan Rusman belum dibayar sama Yu Hamidah." jelas Rusman.
"Kamu sih, bebal, Man. Coba kamu menikah sama Rusminah, sudah enak hidupmu. Sawah luas di mana-mana, punya toko grosir besar di kelurahan ini. Terjamin hidupmu, tapi kamu malah milih si Yuni itu. Jadi begini, kan, hidupmu."
"Mak--"
"Apa? Masih mau membela wanita miskin itu? Kalian juga, bodoh! Sudah tahu miskin, pakai gaya-gayaan sekolahin anak sampai kuliah di kota. Kalian pikir, kuliah gak pakai uang? Kalau sudah begini, datang juga ke Emak. Halah, Man-Man, bodoh jangan dipelihara terus." ocehnya panjang dengan nada suara ketus membuat Rusman menunduk saja.
Padahal, waktu Bu Rusni sakit, merekalah yang merawat sekaligus yang mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakitnya. Namun, lagi-lagi kata 'bakti' sebagai kata keramat yang terucap dari mulut wanita sepuh itu. Yang membuat Rusman maupun Yuni diam tak berkutik dan pasrah saja dengan makian darinya.
Hinaan serta makian kerap singgah kepada Yuni sebab dirinya berasal dari keluarga miskin yang beruntung karena dipilih Rusman sebagai istri.
"Emak ada atau tidak? Kalau tidak ada, Rusman pinjam Wak Suli saja. Tidak perlu mengungkit masa lalu, toh, sekarang kami memang sedang berjuang agar Adji dan Santi tidak bernasib sama seperti ibu bapaknya. Maaf kalau sudah menggangu waktu Emak." putus Rusman menyerah. Lalu ia bangkit dari duduknya.
Saat kakinya menapaki tanah halaman kembali suara ibunya terdengar.
"Tunggu di sini!" ketusnya lalu membawa diri masuk ke dalam.
Tak seberapa lama ia keluar dengan membawa kantong kresek berisi beras yang diminta Rusman tadi.
"Nih! Bilang ke istri miskinmu itu, tidak perlu lagi menyuruhmu datang padaku minta-minta, kayak pengemis saja!" omelnya.
Hati Rusman terluka, dikatakan pengemis oleh ibunya sendiri. Ingin ia tolak beras itu tetapi ia butuh demi anak sulungnya yang dalam hitungan jam ke depan akan pulang.
Demi anak sulungnya, ia kalahkan harga dirinya sendiri. Dengan tangan gemetar dan mata berkabut ia terima juga beras itu untuk ia bawa pulang. Entah salah apa dirinya sampai sang ibu begitu tega padanya.
Bahkan, ia sangat menyadari jika perlakuan ibunya jauh berbeda dengan kakak dan adiknya. Kakaknya begitu dimanjakan, bahkan tak segan menjual sawah demi membelikan rumah kala kakaknya baru saja menikah dengan anak seorang mantan kepala desa.
Begitupun untuk sang adik, juga tak segan-segan menggelontorkan uang banyak untuk membuatkan toko dan apapun yang diminta adiknya itu, padahal mereka sama-sama sudah berkeluarga. Sedangkan untuk dirinya, meminjam beras 1 kg saja harus dimaki dan dihina lebih dulu.
Tanpa terasa, air matanya mengalir sepanjang jalan menuju rumah sederhananya. Namun, segera ia hapus begitu rumahnya terlihat agar sang istri tak curiga.
Mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah, nampak sang istri sudah bersiap dengan seragam kerjanya. Karena kebetulan dia mendapat shift siang.
"Gimana, Bang?" sambut Yuni penuh harap. Rusman tak menjawab melainkan mengangkat kantung yang ia bawa.
"Alhamdulillah ... " girang Yuni lantas dengan semangat menerima kantung beras itu untuk segera ia masak sebelum ia berangkat kerja.
Diikuti Rusman dibelakangnya, ia segera mengambil wadah untuk mencuci beras itu. Namun, saat kantong kresek itu dia buka, seketika dia menangis tanpa suara, menatap isi kantong dengan tatapan nanar. Pun dengan Rusman yang memerah wajahnya, ia mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya.
"Astaghfirullahhalazim ... Tega sekali Emak!"
bersambung ...
Hey everyone!! I can’t believe The Rogue Kings I finished August 2023. Over a year now it’s been since I finished! I always intended on starting Part 2 earlier (considering how much I had already written) but it just never felt like the right time. Until now! That’s right! The Rogue Kings II - Nate’s Reign is starting! There are the first six chapters up already. And I will be updating daily!! It’s a big story, with big chapters. There is so much to Nate and Silas well. With everything that they go through and really the foundation of how Nate steps into Solaris’ shoes. :) It’s such a heartbreaking story. Another 18+ because of just how intense it can get. Also, if you’re looking for more content like extra chapters, chapters that never made it into the stories, FULL character biographies, recipes, weekly updates, story wrap ups, and new stories, you can actually find me on Sub - St4ck (all one word). You can search my username MishanAngel. I’m on there and I reply as well.
This is it. This is the end of Solaris' Reign and her story. I hope you all enjoyed and I'm so thankful for all of you who have stuck by over...really...these past twelve months. It's been crazy from illness, to being in the hospital, to having a baby, to still being really sick and him being sick. Then my daughter starting school. It has been a ride. Now having two kids, working through they very different personalities and being in a very different place from when we had her to where my husband and I are now. I'm lucky enough right now to do what I love. Writing is a passion for me. It's a love every since I was in middle school and I did go to college for creative writing as well. Does that make writing easier? Absolutely not. Does it make me faster? Absolutely not. But it does help me to craft better stories. One thing though is that I will NEVER abandon a book. I may take my time, I may rewrite or fix, but I will never abandon. I love writing and sometimes I wish I could just
I hopped the ledge as I saw Nate struggling to set her down. Coming up next to him, I got my hands under his arms to help with the weight. Noah came on the other side and all three of us lifted her onto the wood structure. Finn came up behind us and stepped up, taking the a small stone and pressing it to the white silk. It must have been infused with some type of magic because the white silk faded. It happened so quickly I didn’t have time to prepare. My body started to shake and I reached out, grabbing the closest thing for stability which happened to be Nate’s shoulder. They had dressed her in her uniform. It was a far cry from the bloodied and mud-caked version that I carried back to the tent. Her face looked peaceful, and even though you could see how thin she had gotten, there wasn’t the immense dark circles. She didn’t look sick. With the eyelids down, I wondered if they left her eye in. Her leg and arm were missing but I knew what originally was holding that together was her.
Tucking in my shirt, I took a couple of deep breaths. I hadn’t really slept last night. My mind and heart being pulled very which way. It was frustrating and exhausting. Today though, all I needed to do was to show up. Grabbing my watch off my dresser, I was securing the clasp on my wrist when the door to my bedroom opened.“Alpha, are you almost ready?”“Yeah, one second, Sam.”Turning, I started to walk towards him but he stared at me, looking me up and down. “Alpha…are you…not going to wear a tie?”I smirked. “Are you seriously criticizing how I’m dressed?” For the second time in two days, my jokes didn’t land.Sam frowned and furrowed his brow. “You look like you’re going into the office to work. You can’t…”Charles put his hand on Sam’s shoulder and pulled him back. “Why don’t you go get Nate? We will meet you down at pools.”Sam looked up at his mate and nodded, disappearing down the hall. Charles walked into the room and my eyes narrowed. We hadn’t spoken since he slammed the d






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore