Home / Romansa / Secret Service 21+ / 1. Misi Penting

Share

1. Misi Penting

last update publish date: 2025-02-26 21:25:59

Chapter 1

Misi Penting

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Grayson J. Elingthon seraya merentangkan tangannya kepada Nichole Georgia Elingthon.

Nichole memeluk kakeknya yang memasuki ruangan yang digunakan sebagai ruang keluarga lalu mencium pipi tua pria itu kemudian berkata, “Sejujurnya aku sangat marah padamu.”

Nichole baru mendarat dari penerbangannya menggunakan first class selama delapan jam dua puluh lima menit dari London ke Washington D.C dan langsung menemui kakeknya di gedung putih, alih-alih pulang dulu ke tempat tinggal orang tuanya di New York, ia memilih penerbangan ke Washington karena tidak sabar lagi untuk bertemu dengan kakeknya.

Wanita berusia dua puluh satu tahun itu baru aja menyelasaikan pendidikannya di Cambridge University dan mendapatkan gelar sarjana, ia bercita-cita menjadi seorang pengacara dan untuk merai cita-citanya itu ia harus mengambil pendidikan satu tahun lagi agar mendapatkan gelar master dan Nichole ingin mendapatkan gelar Juris Doctor di Cambridge University lalu melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Juris Doctor.

Namun, kakek tersayangnya justru mengacaukannya dengan menguluarkan perintah agar ia kembali ke Washington dan melanjutkan studinya di Amerika membuat Nichole sangat kesal. berparas cantik dengan rambut pirang dan mata amber itu menyukai kehidupan di Cambridge, Nichole menyukai kehidupan di Cambridge, bukan hanya karena setiap hari pandangannya disuguhkan dengan keindahan arsitektur kuno yang indah, di sana masyarakatnya sangat ramah, dan tingkat kejahatan sangat sedikit.

Grayson terkekeh seraya menepuk-nepuk punggung Nichole. “Aku mengerti kemarahanmu.”

Nichole menjauhkan dirinya dari pelukan kakeknya dan menatap Grayson dengan kesal. “Kau tidak datang saat aku menerima gelar sarjanaku dan sekarang kau memaksaku kembali ke New York. Dengar, Kek. Aku benar-benar marah padamu.”

“Maafkan aku, aku akan menebusnya kesalahanku, oke?”

Nichole mendengus kesal. “Aku ingin kembali ke Cambridge," katanya sembari menatap Grayson dengan tatapan memohon.

“Kau baru datang dan langsung blak-blakan bicara ingin kembali ke sana, kedengarannya kau tidak merindukan kakekmu ini," kata Grayson sembari keduaalisnya terangkat.

"Tentu saja aku merindukanmu, Kek. Tapi...."

"Tentu saja, kau bisa kembali ke sana," potong Grayson.

“Kau serius?” tanya Nichole dengan mata berbinar-binar.

Grayson mengangguk-angguk sambil menggandeng Nichole dan perlahan melangkah.

“Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kita bicarakan malam ini, setelah makan malam,” kata Grayson.

“Kakek, kau tidak perlu berbelit-belit. Kau bisa mengatakan sekarang,” ujar Nichole dan masih memperlihatkan kekesalannya.

Grayson duduk di sofa disusul Nichole yang duduk di sampingnya.

“Aku ingin melepas rindu dengan cucuku yang telah lama tidak kujumpai, kenapa harus terburu-buru?” kata Grayson dengan senyum mengembang di bibirnya dan menatap Nichole dengan penuh kasih sayang.

Grayson memang selalu menatap Nichole dengan lembut dan penuh kasih sayang, bahkan memperlakukan Nichole seperti Nichole adalah gadis kecil tujuh belas tahun yang lalu dan Nichole tidak benar-benar kesal pada Grayson karena ia tahu Grayson sangat menyayanginya sehingga kakeknya itu pastinya bisa dibujuk.

“Well, aku tidak akan bisa mendesakmu,” kata Nichole berpura-pura melunak dan tersenyum manis.

“Aku ingin minum teh ditemani cucuku tersayang, tetapi sepertinya cucuku hanya datang untuk kepentingannya,” kata Grayson menggoda Nichole.

"Aku merindukanmu, Kek. Aku serius, aku datang karena aku merindukanmu."

Grayson terkekeh. "Baiklah, Kakek juga sangat merindukanmu. Aku belum memberikan hadiah kelulusan untukmu, katakan apa yang kau inginkan?"

"Kau akan memberikan apa pun yang kuinginkan?" tanya Nichole yang diangguki Grayson. Nichole berdehem dan memegangi tangan kakeknya. “Kek, kau serius ‘kan dengan ucapanmu tadi?”

“Ucapan? Minum teh? Ya, aku sangat ingin minum teh ditemani dirimu.”

Nichole mendengus kesal. “Kau memperbolehkan aku kembali ke Cambridge.”

“Ya. Aku serius.”

Nichole terbelalak menatap kakeknya. “Kakek, aku menyayangimu!”

“Tapi dengan satu syarat.”

“Katakan!” pinta Nichole dengan sangat bersemangat.

Grayson menyentuh ujung hidung Nichole dengan jari telunjuknya. “Kau akan tahu syaratnya nanti setelah kita makan malam.”

Nichole merengut karena ucapan kakeknya. “Kau tidak akan menyulitkanku, kan?”

Grayson terkekeh. “Mana mungkin aku menyulitkan cucuku tersayang?”

***

Pukul delapan malam setelah makan malam bersama nenek dan kekeknya, Nichole dipanggil ke ruang pribadi kakeknya, ia cukup terkejut karena seorang pria dengan perawakan tinggi besar mengenakan setelan jas lengkap berada di sana. Nichole tidak begitu jelas melihat wajah pria itu karena ia melihat dari belakang, tetapi dari penampilannya itu Nichole menebak pria itu memiliki posisi lumayan penting karena bisa berada di ruang belajar priabdi presiden.

“Duduklah,” kata Grayson kepada Nichole.

Nichole duduk di samping pria asing yang baru pertama kali ia jumpai dan mereka berseberangan dengan Grayson dipisahkan oleh meja kayu yang kokoh.

“Nichole, aku tahu kau pasti akan datang secepatnya untuk mencariku karena kau memiliki tekad yang besar untuk melanjutkan pendidikanmu di Cambridge,” kata Grayson membuka pembicaraannya. “Dan malam ini aku memanggil kalian ke sini untuk sebuah misi,” lanjut Grayson seraya menatap Nichole.

Alis Nichole sontak berkerut mendengar ucapan Grayson. “Misi? Untukku?”

“Kalian berdua,” jawab Grayson dengan tegas, “kau ingin kembali ke Cambridge, bukan?”

"Jadi, kau berencana memanfaatkan tekadku demi kepentinganmu?" tanya Nichole tidak senang sembari melirik pria di sampingnya yang duduk dengan sangat tenang.

Grayson tersenyum mendengar ucapan Nichole yang terdengar pedas itu. "Kedengarannya ini tidak cukup adil bagimu."

"Kau benar, aku itu tidak cukup adil bagiku karena aku tidak ingin menjadi bagian dari politikmu," ucap Nichole terus terang karena ia sama sekali tidak ingin mengikuti jejak kekeknya yang berkecimpung di dunia politik, ia ingin menjadi seorang pengacara seperti ayahnya.

“Baiklah, demi kembali ke Cambridge. Apa pun akan kulakukan,” ujar Nichole tegas dengan ekspresi malas.

“Mulai hari Senin kau akan menjadi mahasiswa di Columbia University,” kata Grayson dan hal itu membuat keadaan menjadi senyap karena Nichole tidak bersuara. Wanita itu hanya bengong menatap kakeknya. “Hanya untuk sementara sampai kau berhasil menyelesaikan misimu, semakin cepat selesai maka semakin cepat pula kau kembali ke Cambridge.”

“Aku tidak mengerti maksudmu,” kata Nichole muram.

“Ada seorang mata-mata dari Rusia masuk ke negara kita dan orang ini sangat berbahaya, dia adalah mantan komandan angkatan darat Rusia yang ahli dalam penyamaran. Keberadaan orang ini tidak diketahui, agen CIA sudah mengerahkan orang-orangnya tetapi belum membuahkan hasil,” ujar Grayson sembari terus menatap Nichole.

“Lalu apa hubungannya dengan kuliahku di Columbia University?” tanya Nichole datar.

“Baru-baru ini agen CIA mendapat laporan kalau putra Igor Rumanov ternyata berada di New York dan kuliah di Columbia University. Tugasmu adalah mendekati putra Igor dan mendapatkan informasi di mana keberadaan pria itu.” Grayson mengalihkan pandangan pada pria di samping Nichole. “Dan, Max... selain bertugas melindungi cucuku, kau juga harus membantunya menyelesaikan misinya.”

“Saya mengerti, Tuan presiden,” kata pria itu dengan tegas.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Secret Service 21+   23. Sesuatu yang Lebih Besar

    Chapter 23Sesuatu yang Lebih BesarUdara di dalam penginapan terasa lebih sempit dari biasanya seolah dinding-dindingnya ikut menekan bersama pikiran yang terlalu penuh. Laptop Raymond kembali terbuka, layar dipenuhi grafik, potongan data, dan rekaman hitam-putih dari kamera yang dipasang Max. Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit pertama, tetapi keheningan itu dipenuhi oleh perhitungan.Nichole berdiri di dekat meja, kedua tangannya bertumpu di permukaan kayu, matanya menatap layar tanpa berkedip. Rekaman itu diputar berulang, pintu yang terbuka, wanita yang keluar, jeda beberapa detik lalu tatapan yang terasa terlalu tepat untuk disebut kebetulan."Mereka mungkin akan meninggalkan tempat itu," kata Nichole akhirnya.Raymond tidak membantah sembari memperbesar frame terakhir untuk memperjelas siluet wanita itu meskipun kualitasnya buruk."Kurasa mereka tidak akan terburu-buru," kata Raymond.Max bersandar di kursinya, satu tangan mengusap sebagian wajahnya sejenak sebelum a

  • Secret Service 21+   22. Permainan yang Terbuka

    Chapter 22Permainan yang Terbuka Di mansion yang terlihat sangat sepi hingga nyaris terkesan kosong, tidak ada suara yang keluar, dan tidak ada cahaya yang bocor ke luar seolah bangunan itu sengaja menahan keberadaannya sendiri dari dunia. Namun, pergerakan di dalamnya tetap terkendali dan penuh perhitungan.Jelena berdiri di dekat meja panjang dengan beberapa berkas terbuka di depannya. Lampu redup di atas kepalanya memantulkan bayangan tajam di wajahnya, menegaskan garis tegas yang jarang berubah. Matanya bergerak cepat membaca, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang dan tidak membuatnya menoleh."Kau tidak seharusnya berada di sini," kata Oleg datar.Oleg berhenti beberapa langkah di belakang Jelena, telapak tangannya masuk ke dalam saku jaket, dan sikapnya santai, tetapi matanya tidak. "Aku juga tidak pernah berpikir akan datang ke tempat seperti ini hanya untuk mencarimu," lanjutnya.Jelena akhirnya menutup berkas di

  • Secret Service 21+   21. Di Ambang Batas

    Chapter 21Di Ambang BatasUdara malam terasa lebih berat dari biasanya ketika mobil berhenti dua blok dari rumah belakang milik Daniel Hargrove. Tidak ada percakapan selama beberapa detik pertama setelah mesin dimatikan, hanya suara halus pendingin mesin yang perlahan mereda dan napas yang ditahan terlalu lama. Nichole menatap lurus ke depan, tetapi pikirannya bergerak jauh lebih cepat daripada apa pun di sekitarnya sembari menyusun ulang semua potongan ingatan yang ia miliki, tentang pintu tersembunyi, wanita misterius, rumah yang terlalu bersih untuk disebut tempat tinggal, dan kini satu fakta baru yang tidak bisa diabaikan yaitu mereka sudah terlihat."Kalau mereka tahu kita mengawasi," kata Nichole akhirnya, suaranya rendah namun stabil, "dan mereka juga tahu kita akan mencoba masuk dari sisi yang sama."Max tidak langsung menjawab, ia sedang memasang sarung tangan hitamnya dengan gerakan tenang, tetapi ketegangan di rahangnya tidak bisa disembunyikan."Ya, dan itu berarti kemung

  • Secret Service 21+   20. Tekanan dari Langley

    Chapter 20 Tekanan dari Langley Mobil berhenti di depan penginapan lalu mesin dimatikan, tetapi ketegangan di dalam kabin tidak ikut padam. Nichole tetap duduk di kursinya beberapa detik samberi menatap lurus ke depan mengingat bayangan wanita yang baru saja mereka, sementara Max keluar lebih dulu tanpa berkata apa pun kemudian membuka pintu untuk Nichole seperti biasa, tetapi kali ini tanpa gestur santai yang biasanya menyertainya. Gerakannya lebih kaku dan lebih cepat seolah pikirannya sedang bekerja terlalu keras untuk menyisakan ruang bagi hal-hal kecil. Mereka masuk ke dalam penginapan dan mendapati Fred masih terjaga, duduk di meja makan dengan beberapa bagian senjata api terbongkar di depannya. Raymond langsung berjalan menuju meja kerja dan membuka laptopnya tanpa melepas jaket. "Ada perkembangan?" tanya Fred, matanya bergantian antara Max dan Nichole. "Ada. Dan ini bukan kabar baik," jawab Reymond dengan suara datar. Max menatap Max. "Mereka sepertinya tahu sedang

  • Secret Service 21+   19. Bayangan di Balik Tembok

    Chapter 19Bayangan di Balik TembokMalam turun perlahan di perbatasan Baltimore, membungkus kawasan perumahan itu dalam kesunyian. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan bayangan panjang di aspal kosong, sementara di dalam sebuah SUV hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah target, tiga orang duduk dalam diam yang sarat kewaspadaan. Nichole berada di kursi penumpang, tubuhnya sedikit condong ke depan, menatap layar tablet kecil yang menampilkan rekaman dari kamera pengawas publik di sekitar mansion dan rumah di belakangnya. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya, mempertegas sorot mata yang kini jauh lebih tajam, lebih dingin, dan penuh perhitungan. Max duduk di kursi pengemudi dengan satu tangan bertumpu di setir, sementara tangan lainnya memegang teropong kecil yang sesekali diarahkan ke pagar tinggi yang memisahkan mansion dari dunia luar. Di kursi belakang, Raymond mengetik cepat di laptopnya, sesekali berhenti untuk menyesuaikan data dengan kondisi lapangan, napasny

  • Secret Service 21+   18. Sebuah Arah

    Chapter 18Sebuah ArahKetika berada di barak militer, Max terbiasa dengan kehadiran anjing yang telah dilatih secara militer, bahkan Max biasanya membawa anjing tersebut berjalan-jalan di kala senggang. Tentu saja menggunakan tali kekang demi keamanan. Max menatap anjing itu dengan lembut, tetapi tidak menurunkan kewaspadaannya "Kemarilah," katanya pelan dan melambaikan tangannya. Tatapan anjing itu berangsur berubah, ekornya bergoyang-goyang sembari mendekati Max. Max lalu membelai leher anjing berwarna hitam itu hingga anjing itu terlihat nyaman lalu Max membelai kepalanya. "Kau rupanya suka dibelai, huh?" kata Max lembut lalu ia memberikan belaian lebih lama lagi hingga ia mendengar suara langkah mendekat.Sebagai seorang yang pernah menjalani pelatihan tingkat tinggi, telinga Max sangat sensitif dan memiliki kewaspadaannya sangat jauh di atas rata-rata orang biasa. "Pergi temui majikanmu dan bermainlah dengannya," kata Max sembari mengelus kepala anjing lalu menepuk punggung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status