แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Jisu
"Aku nggak perlu mendengar laporan tentang keadaannya. Aku sama sekali nggak ingin tahu."

"Suruh aku membantunya mengklarifikasi semuanya? Jangan mimpi!"

Kedua tanganku terkepal erat. Aku berusaha keras menahan gejolak emosi agar suaraku tidak bergetar.

Celine tertawa sinis karena marah.

Dia mengucapkan kata "bagus" tiga kali berturut-turut.

"Mulai hari ini, aku bakal tinggal di kantor."

"Julian, kalau memang punya nyali, jangan pernah datang mencariku lagi!"

Melihat pintu yang dibanting hingga tertutup rapat, hatiku seolah diremas oleh tangan raksasa. Dadaku begitu sesak hingga aku hampir tidak bisa bernapas.

Saat itulah ponselku tiba-tiba berbunyi dua kali.

Kupikir itu pesan dari Celine.

Namun, saat kulihat, ternyata pesan dari Elio.

[Kak Julian, hari ini jariku nggak sengaja tergores kertas. Karena itu, Bu Celine mengantarku ke rumah sakit. Tolong jangan salah paham.]

[Cuma pria yang nggak percaya diri yang setiap hari curiga tanpa alasan.]

Aku menatap pesan itu beberapa detik dengan tatapan kosong. Aku tidak membalasnya, juga tidak menghapusnya.

Ternyata, penyakit yang membuat Celine begitu panik hingga rela mengabaikan hujan badai di luar dan langsung menyuruhku turun dari mobil ....

Hanyalah luka kecil akibat tergores kertas.

Dulu, saat usus buntuku meradang, aku kesakitan sampai bahkan tidak sanggup turun dari tempat tidur.

Aku hanya meminta dia menuangkan segelas air hangat untukku. Namun, dia malah mengatakan bahwa aku terlalu manja.

Memikirkan itu, aku tersenyum mengejek diri sendiri.

Ternyata, mencintai dan tidak mencintai seseorang memang terlihat begitu jelas.

Meskipun mereka belum benar-benar menjalin hubungan.

Selama tiga hari berturut-turut, Celine benar-benar tidak pulang.

Aku pun tidak tinggal diam. Sedikit demi sedikit aku mulai membereskan barang-barangku.

Rumah ini adalah harta milik Celine sebelum menikah, jadi sudah pasti orang yang harus pergi adalah aku.

Pada hari keempat kami "pisah kamar", seorang teman mengajakku bersenang-senang.

Dulu, aku pasti menolaknya karena harus menunggu Celine pulang di rumah.

Kali ini, aku langsung menyetujuinya tanpa ragu.

Namun, tidak pernah kusangka. Sekali-sekalinya aku keluar untuk bersenang-senang, justru bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin kulihat saat ini.

Saat melihatku, mata Celine sempat berbinar sesaat, tetapi segera berubah menjadi tatapan penuh rasa jengkel.

Dia mengernyit lalu bertanya, "Kenapa kau sampai mengejarku ke sini? Kau nggak malu, tapi aku malu."

Sebelum sempat aku menjawab, Elio lebih dulu berkata dengan nada mengejek, "Bu Celine, jangan begitu. Kak Julian pasti khawatir Ibu benar-benar menceraikannya. Lagi pula, batas waktu seminggunya tinggal tiga hari lagi."

"Tapi, Kak Julian, sikapmu benar-benar mempermalukan kaum pria. Kalau aku jadi kau, senggaknya aku bakal bertahan sampai hari terakhir sebelum meminta berdamai."

Orang-orang yang datang bersama mereka pun ikut menimpali, "Memang Bu Celine luar biasa. Benar-benar tahu cara mengendalikan suami. Cuma dengan satu kalimat saja, suaminya sudah berada dalam genggaman. Kita semua harus belajar darinya."

Pujian mereka tampaknya sangat menyenangkan hati Celine.

Dia berkata kepadaku dengan nada seolah sedang bermurah hati, "Sudahlah, aku mengerti. Malam ini, aku bakal pulang. Sekarang, cepat pergi, jangan merusak suasana."

Ucapan seperti itu sebenarnya sudah sering kudengar.

Dulu, aku tidak merasa ada yang salah.

Namun, entah mengapa, hari ini aku justru merasa sangat muak.

Aku mengangkat pandangan ke arah Celine yang tampak begitu puas dengan dirinya sendiri, lalu berkata dengan dingin, "Kau pulang atau nggak, sama sekali bukan urusanku. Lagi pula, hari ini aku juga bukan datang buat mencarimu."

Setelah mengatakan itu, aku melewati mereka dan langsung berjalan masuk ke dalam klub.

Responsku benar-benar di luar dugaan semua orang. Mereka semua tertegun sesaat.

Elio yang paling cepat sadar langsung meraih pergelangan tanganku.

"Kak Julian, Bu Celine sudah bilang bakal pulang malam ini. Jadi, berhentilah bersikap keras kepala."

"Kalau nanti Bu Celine benar-benar marah, ujung-ujungnya aku lagi yang bakal kau salahkan."

"Elio, kalau aku dan Celine bercerai, bukannya itu justru memberimu kesempatan buat menggantikanku? Jadi, berhentilah berpura-pura baik. Melihatmu saja sudah membuatku muak."

Setelah mengatakan itu, aku langsung menepis tangannya.

Padahal aku tidak menggunakan banyak tenaga. Namun, dia tetap menjerit pelan dan terhuyung ke belakang.

Dia tidak jatuh ke tanah, melainkan jatuh ke dalam pelukan Celine.

Matanya memerah, wajahnya dipenuhi ekspresi sedih dan penuh keluhan.

"Bu Celine, sepertinya lebih baik saya mengundurkan diri saja."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 9

    Menyadari nada suaraku yang penuh ketidaksabaran, mata Celine memerah, sementara wajahnya dipenuhi kepedihan."Sayang, aku mengakui kalau aku nggak menjaga batasan saat berhubungan dengan Elio. Maaf, aku benar-benar salah.""Tapi aku bersumpah, dari awal sampai sekarang, satu-satunya orang yang ada di hatiku cuma kau. Tolong percayalah padaku."Sejujurnya, ini pertama kalinya aku melihat Celine serendah ini.Namun, semuanya sudah terlambat.Sejak dia kembali melewatkan ulang tahunku demi Elio, hubungan kami sebenarnya telah benar-benar berakhir.Melihat wajahnya yang pucat, aku tetap mempersilakannya masuk dan menuangkan segelas air hangat untuknya.Menatap gelas berisi air hangat di depannya, Celine langsung menatapku dengan penuh harap.Dia mengira hatiku mulai luluh.Namun, tanpa belas kasihan aku menghancurkan harapannya."Jangan salah paham. Aku cuma khawatir kalau kau pingsan di depan rumahku, orang tuamu nanti datang lagi mencariku.""Kau juga tahu sendiri betapa menyebalkannya

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 8

    Setiap kali, rencana itu selalu gagal terwujud karena berbagai macam alasan.Namun, ketika Elio dengan santainya berkata ingin pergi ke Kota Buona untuk melakukan perjalanan dinas ....Pada bulan berikutnya, Celine benar-benar menerima proyek di Kota Buona, lalu membawanya terbang ke sana.Celine sudah berkali-kali mengatakan bahwa dirinya dan Elio tidak pernah melakukan sesuatu yang mengkhianatiku.Aku percaya.Namun, hatinya memang telah berpaling. Itu juga fakta yang tidak terbantahkan.Bahkan, perselingkuhan hati justru lebih sulit dimaafkan daripada perselingkuhan fisik.Untungnya, aku masih sempat menyadari semuanya.Berdiri di tepi pantai yang telah berkali-kali kubayangkan, aku menarik napas panjang.Ini adalah aroma laut, sekaligus aroma kebebasan.Setelah mengirim pesan kepada seorang teman untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja, telepon darinya langsung masuk."Senang berada di pantai?"Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Senangnya luar biasa."Di seberang telepon se

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 7

    "Julian."Nada suara Celine terdengar datar, tanpa emosi."Kita perlu bicara."Aku mengernyit pelan."Kalau soal perceraian, kau bisa bicarakan dengan pengacaraku. Kalau soal yang lain, kurasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan."Setelah mengatakan itu, aku tidak lagi memandangnya dan langsung melangkah pergi.Namun, Celine segera meraih pergelangan tanganku."Julian, berhentilah bersikap seperti ini."Sampai detik ini pun, dia masih menganggap aku hanya sedang merajuk.Aku menoleh sambil tersenyum tipis."Celine, kita sudah bersama selama tujuh tahun dan menikah selama tiga tahun. Tapi ternyata kau benar-benar nggak memahamiku.""Aku bukan sepertimu, yang sedikit-sedikit mengucapkan kata cerai."Celine membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya berkata, "Sayang, kita sudah pisah kamar selama setengah bulan. Bagaimana kalau kita baikan saja?""Aku tahu kau keberatan dengan Elio. Aku sudah memecatnya. Sekarang kau puas, 'kan?"Aku terkekeh pelan."Aku nggak punya alasan buat

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 6

    Meskipun aku sudah menghapus semua orang yang berhubungan dengan Celine dari daftar kontakku, foto dirinya yang menghadiri jamuan bersama Elio tetap dikirim seseorang ke ponselku.[Julian, kami semua tahu betapa besar cintamu pada Celine. Apa kau benar-benar rela menyerahkannya pada pria lain?][Jangan terus keras kepala. Kalau nggak, kau benar-benar bakal menyesal.]Tanpa ekspresi, aku menghapus foto dan pesan itu.Aku mencintai Celine selama delapan tahun penuh, tetapi pada akhirnya hubungan kami berakhir seperti ini.Apa aku rela?Tentu saja, masih ada sedikit rasa tidak rela.Saat melihat Celine dan Elio berdiri berdampingan dengan lengan saling bertaut, dadaku masih terasa sedikit sesak.Namun, sedikit rasa tidak rela dan nyeri itu sama sekali tidak cukup untuk menggoyahkan tekadku bercerai.Waktu adalah obat terbaik yang mampu menyembuhkan segalanya.Aku percaya, jika diberi sedikit waktu lagi, aku pasti benar-benar bisa melepaskan Celine.Namun, jika aku terus membiarkan diriku

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 5

    Melihat wajah Celine yang mendadak berubah drastis, sang asisten sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi."Bu Celine, selain membeli hadiah dan memesan restoran, apa perlu sekalian membelikan bunga buat Pak Julian? Pak Julian paling suka mawar merah."Asisten itu memberi saran dengan penuh perhatian.Detik berikutnya, Celine langsung mencengkeram kerah bajunya."Dokumen ini dikirim langsung oleh Julian?"Asisten itu ketakutan dan buru-buru menggeleng sekuat tenaga."Bukan. Pak Julian meminta kurir buat antarkan.""Ada apa? Apa ada masalah dengan dokumen ini? Perlu saya ...."Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, Celine sudah melepaskan kerah bajunya, lalu berkata dengan wajah muram dan nada rendah, "Keluar!"Namun, sebelum sang asisten sempat meninggalkan ruang kerja, Celine kembali memanggilnya."Tunggu. Pinjam ponselmu sebentar."Dia mengambil ponsel itu dan menghubungi nomor yang sudah begitu melekat dalam ingatannya.Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya di

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 4

    Nggak punya tempat pulang? Nggak punya baju ganti?""Memangnya semua hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Jinuo sudah bangkrut? Sampai-sampai kau terpaksa datang ke rumah istri orang dengan dada telanjang?"Ekspresi wajah Elio langsung membeku. Dia tidak menemukan kata-kata untuk membantahku dan hanya bisa menatap wanita di sampingnya dengan tatapan memelas."Julian ...."Aku sama sekali tidak memberi Celine kesempatan untuk berbicara dan langsung memotongnya, "Kau juga diam saja. Aku nggak ingin mendengar suaramu."Setelah mengatakan itu, aku pergi tanpa menoleh lagi.Tiga hari berlalu dalam sekejap. Tidak terasa, tenggat satu minggu yang disebut Celine pun tiba.Sepanjang hari, ponselku terus berbunyi tanpa henti.Semuanya adalah pesan dari teman-teman yang sama-sama mengenal aku dan Celine.[Kak Julian, kau masih marah sama Bu Celine? Sebenarnya Bu Celine itu cuma keras kepala di luar, tapi hatinya lembut. Dia sudah nggak marah lagi. Asal kau mengucapkan beberapa kata manis buat mem

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status