مشاركة

Bab 3

مؤلف: Jisu
"Semua orang di perusahaan menganggap saya sebagai orang ketiga cuma karena Kak Julian terus salah paham pada saya."

"Hari ini memang nggak ada rekan kantor di sini. Kalau Kak Julian memukul saya, saya terima. Tapi kalau suatu hari nanti dia nggak bisa menahan amarahnya, lalu datang ke perusahaan buat memukul saya, gimana saya bisa menghadapi orang-orang di sana?"

Wajah Celine seketika berubah muram.

Dia memeluk Elio erat-erat, lalu menatapku tajam dengan penuh amarah.

"Julian, minta maaf!"

Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk ditolak.

Aku pun menatap balik tanpa sedikit pun gentar.

"Nggak mungkin!"

Mendengar jawabanku, bibirnya mengatup menjadi satu garis lurus.

"Kalau kau nggak minta maaf, hubungan kita benar-benar selesai!"

Meskipun dalam hati aku sudah mengambil keputusan itu, saat mendengar sendiri kata-kata itu keluar dari mulutnya, hatiku tetap tidak kuasa bergetar pelan.

Namun, aku tidak menunjukkannya. Aku hanya tersenyum dingin.

"Baik."

Suasana hatiku sudah rusak. Aku tidak jadi masuk agar tidak merusak kesenangan teman-temanku, dan langsung pulang ke rumah.

Awalnya, kukira malam ini aku akan terjaga semalaman.

Namun, kenyataannya, aku justru tidur cukup nyenyak.

Sampai-sampai keesokan paginya, saat turun dari kamar dan melihat Elio berada di rumahku, aku sempat mengira diriku masih bermimpi.

Elio hanya mengenakan handuk yang dililitkan seadanya di pinggang, sementara tubuh bagian atasnya telanjang saat mondar-mandir di rumahku.

Celine yang biasanya bahkan tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur, kali ini sedang memasak bubur di dapur.

Mendengar langkah kakiku menuruni tangga, mereka berdua serempak menoleh ke arahku.

Celine mengernyit menatapku, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun.

Justru Elio yang lebih dulu menjelaskan, "Kak Julian, jangan salah paham. Tadi malam aku kebanyakan minum sampai muntah mengenai seluruh tubuhku. Kunci rumahku juga hilang, jadi Bu Celine terpaksa membawaku ke sini."

Aku mencibir.

"Terpaksa? Menurutku dia justru senang melakukannya."

Mendengar itu, Celine membanting sendok sayur ke dalam panci.

Dia berbalik menatapku dengan wajah penuh kekesalan.

"Julian, tahu bataslah!"

Mendengar kata-katanya, aku hanya merasa itu benar-benar menggelikan.

Dia sudah membawa pria lain masuk ke rumah kami, tetapi yang dia suruh tahu batas justru aku.

Bukankah dia berani melakukan semua ini karena merasa yakin akan cintaku kepadanya?

Kalau bukan karena itu, dia tidak mungkin bisa mengendalikanku selama tiga tahun penuh hanya dengan ucapan, "Kalau kita pisah kamar selama seminggu, otomatis kita resmi bercerai."

Selama ini aku selalu berpikir bahwa cinta dan toleransiku pada akhirnya akan dibalas dengan perasaan yang sama.

Namun, aku lupa, makin aku merendahkan diriku sendiri demi meninggikannya, makin dia memandang rendah dan meremehkanku.

Melihat aku tidak berkata apa-apa, Elio menggigit bibir bawahnya pelan.

"Bu Celine, maaf. Saya malah merepotkan Ibu lagi. Saya rasa lebih baik saya pergi sekarang."

Elio berpura-pura hendak berjalan menuju pintu.

Namun, sebelum sempat berbalik, Celine sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya.

"Kau berpakaian setipis itu, gimana bisa keluar? Gimana kalau bertemu orang jahat?"

"Setelah sarapan dan bajumu selesai dikeringkan, aku sendiri yang bakal mengantarmu pulang."

Setelah mengatakan itu, Celine kembali menatapku. Nada suaranya kini jauh lebih kesal.

"Julian, pagi-pagi begini, apa kau harus membuat semua orang merasa nggak nyaman?"

"Kelakuanmu ini cuma membuatku menyesal pernah menikah denganmu."

Begitu kalimat itu terucap, ruang tamu langsung diselimuti keheningan.

Celine pun segera menyadari bahwa ucapannya tadi sudah keterlaluan.

Dia membuka mulut, seolah ingin menjelaskan.

Namun, aku tidak memberinya kesempatan dan berkata dengan dingin, "Celine, yang menyesal bukan cuma kau."

"Kalian nggak perlu pergi. Orang yang seharusnya pergi itu aku."

Aku berbalik dan naik ke lantai atas.

Sepuluh menit kemudian, aku turun sambil membawa koper yang sejak lama sudah kubereskan.

Saat melihat koper di tanganku, pupil mata Celine sedikit menyusut.

Sorot kegembiraan sempat melintas di mata Elio, tetapi segera disembunyikannya di balik raut wajah polos seperti biasanya.

"Kak Julian, jangan begini. Hubunganku dengan Bu Celine benar-benar cuma sebatas atasan dan bawahan."

"Tadi malam aku benar-benar nggak punya tempat buat pulang dan juga nggak punya baju ganti. Bu Celine kasihan padaku, makanya dia menampungku."

Sebenarnya aku tidak ingin membuang waktu berbicara dengannya.

Namun, sandiwaranya benar-benar sudah kelewatan. Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri untuk balik bertanya ....

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 9

    Menyadari nada suaraku yang penuh ketidaksabaran, mata Celine memerah, sementara wajahnya dipenuhi kepedihan."Sayang, aku mengakui kalau aku nggak menjaga batasan saat berhubungan dengan Elio. Maaf, aku benar-benar salah.""Tapi aku bersumpah, dari awal sampai sekarang, satu-satunya orang yang ada di hatiku cuma kau. Tolong percayalah padaku."Sejujurnya, ini pertama kalinya aku melihat Celine serendah ini.Namun, semuanya sudah terlambat.Sejak dia kembali melewatkan ulang tahunku demi Elio, hubungan kami sebenarnya telah benar-benar berakhir.Melihat wajahnya yang pucat, aku tetap mempersilakannya masuk dan menuangkan segelas air hangat untuknya.Menatap gelas berisi air hangat di depannya, Celine langsung menatapku dengan penuh harap.Dia mengira hatiku mulai luluh.Namun, tanpa belas kasihan aku menghancurkan harapannya."Jangan salah paham. Aku cuma khawatir kalau kau pingsan di depan rumahku, orang tuamu nanti datang lagi mencariku.""Kau juga tahu sendiri betapa menyebalkannya

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 8

    Setiap kali, rencana itu selalu gagal terwujud karena berbagai macam alasan.Namun, ketika Elio dengan santainya berkata ingin pergi ke Kota Buona untuk melakukan perjalanan dinas ....Pada bulan berikutnya, Celine benar-benar menerima proyek di Kota Buona, lalu membawanya terbang ke sana.Celine sudah berkali-kali mengatakan bahwa dirinya dan Elio tidak pernah melakukan sesuatu yang mengkhianatiku.Aku percaya.Namun, hatinya memang telah berpaling. Itu juga fakta yang tidak terbantahkan.Bahkan, perselingkuhan hati justru lebih sulit dimaafkan daripada perselingkuhan fisik.Untungnya, aku masih sempat menyadari semuanya.Berdiri di tepi pantai yang telah berkali-kali kubayangkan, aku menarik napas panjang.Ini adalah aroma laut, sekaligus aroma kebebasan.Setelah mengirim pesan kepada seorang teman untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja, telepon darinya langsung masuk."Senang berada di pantai?"Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Senangnya luar biasa."Di seberang telepon se

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 7

    "Julian."Nada suara Celine terdengar datar, tanpa emosi."Kita perlu bicara."Aku mengernyit pelan."Kalau soal perceraian, kau bisa bicarakan dengan pengacaraku. Kalau soal yang lain, kurasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan."Setelah mengatakan itu, aku tidak lagi memandangnya dan langsung melangkah pergi.Namun, Celine segera meraih pergelangan tanganku."Julian, berhentilah bersikap seperti ini."Sampai detik ini pun, dia masih menganggap aku hanya sedang merajuk.Aku menoleh sambil tersenyum tipis."Celine, kita sudah bersama selama tujuh tahun dan menikah selama tiga tahun. Tapi ternyata kau benar-benar nggak memahamiku.""Aku bukan sepertimu, yang sedikit-sedikit mengucapkan kata cerai."Celine membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya berkata, "Sayang, kita sudah pisah kamar selama setengah bulan. Bagaimana kalau kita baikan saja?""Aku tahu kau keberatan dengan Elio. Aku sudah memecatnya. Sekarang kau puas, 'kan?"Aku terkekeh pelan."Aku nggak punya alasan buat

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 6

    Meskipun aku sudah menghapus semua orang yang berhubungan dengan Celine dari daftar kontakku, foto dirinya yang menghadiri jamuan bersama Elio tetap dikirim seseorang ke ponselku.[Julian, kami semua tahu betapa besar cintamu pada Celine. Apa kau benar-benar rela menyerahkannya pada pria lain?][Jangan terus keras kepala. Kalau nggak, kau benar-benar bakal menyesal.]Tanpa ekspresi, aku menghapus foto dan pesan itu.Aku mencintai Celine selama delapan tahun penuh, tetapi pada akhirnya hubungan kami berakhir seperti ini.Apa aku rela?Tentu saja, masih ada sedikit rasa tidak rela.Saat melihat Celine dan Elio berdiri berdampingan dengan lengan saling bertaut, dadaku masih terasa sedikit sesak.Namun, sedikit rasa tidak rela dan nyeri itu sama sekali tidak cukup untuk menggoyahkan tekadku bercerai.Waktu adalah obat terbaik yang mampu menyembuhkan segalanya.Aku percaya, jika diberi sedikit waktu lagi, aku pasti benar-benar bisa melepaskan Celine.Namun, jika aku terus membiarkan diriku

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 5

    Melihat wajah Celine yang mendadak berubah drastis, sang asisten sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi."Bu Celine, selain membeli hadiah dan memesan restoran, apa perlu sekalian membelikan bunga buat Pak Julian? Pak Julian paling suka mawar merah."Asisten itu memberi saran dengan penuh perhatian.Detik berikutnya, Celine langsung mencengkeram kerah bajunya."Dokumen ini dikirim langsung oleh Julian?"Asisten itu ketakutan dan buru-buru menggeleng sekuat tenaga."Bukan. Pak Julian meminta kurir buat antarkan.""Ada apa? Apa ada masalah dengan dokumen ini? Perlu saya ...."Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, Celine sudah melepaskan kerah bajunya, lalu berkata dengan wajah muram dan nada rendah, "Keluar!"Namun, sebelum sang asisten sempat meninggalkan ruang kerja, Celine kembali memanggilnya."Tunggu. Pinjam ponselmu sebentar."Dia mengambil ponsel itu dan menghubungi nomor yang sudah begitu melekat dalam ingatannya.Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya di

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 4

    Nggak punya tempat pulang? Nggak punya baju ganti?""Memangnya semua hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Jinuo sudah bangkrut? Sampai-sampai kau terpaksa datang ke rumah istri orang dengan dada telanjang?"Ekspresi wajah Elio langsung membeku. Dia tidak menemukan kata-kata untuk membantahku dan hanya bisa menatap wanita di sampingnya dengan tatapan memelas."Julian ...."Aku sama sekali tidak memberi Celine kesempatan untuk berbicara dan langsung memotongnya, "Kau juga diam saja. Aku nggak ingin mendengar suaramu."Setelah mengatakan itu, aku pergi tanpa menoleh lagi.Tiga hari berlalu dalam sekejap. Tidak terasa, tenggat satu minggu yang disebut Celine pun tiba.Sepanjang hari, ponselku terus berbunyi tanpa henti.Semuanya adalah pesan dari teman-teman yang sama-sama mengenal aku dan Celine.[Kak Julian, kau masih marah sama Bu Celine? Sebenarnya Bu Celine itu cuma keras kepala di luar, tapi hatinya lembut. Dia sudah nggak marah lagi. Asal kau mengucapkan beberapa kata manis buat mem

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status