مشاركة

Bab 4

مؤلف: Jisu
Nggak punya tempat pulang? Nggak punya baju ganti?"

"Memangnya semua hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Jinuo sudah bangkrut? Sampai-sampai kau terpaksa datang ke rumah istri orang dengan dada telanjang?"

Ekspresi wajah Elio langsung membeku. Dia tidak menemukan kata-kata untuk membantahku dan hanya bisa menatap wanita di sampingnya dengan tatapan memelas.

"Julian ...."

Aku sama sekali tidak memberi Celine kesempatan untuk berbicara dan langsung memotongnya, "Kau juga diam saja. Aku nggak ingin mendengar suaramu."

Setelah mengatakan itu, aku pergi tanpa menoleh lagi.

Tiga hari berlalu dalam sekejap. Tidak terasa, tenggat satu minggu yang disebut Celine pun tiba.

Sepanjang hari, ponselku terus berbunyi tanpa henti.

Semuanya adalah pesan dari teman-teman yang sama-sama mengenal aku dan Celine.

[Kak Julian, kau masih marah sama Bu Celine? Sebenarnya Bu Celine itu cuma keras kepala di luar, tapi hatinya lembut. Dia sudah nggak marah lagi. Asal kau mengucapkan beberapa kata manis buat membujuknya, masalah ini pasti selesai.]

[Kak, Kak Celine sudah memindahkan Elio ke departemen lain. Kalau kau masih terus marah, itu benar-benar keterlaluan.]

[Hari ini hari terakhir. Julian, jangan terus bersikap keras kepala. Wanita sehebat Celine itu sulit sekali dicari. Kalau kalian benar-benar bercerai, yang untung justru para pria di luar sana yang selama ini mengincarnya.]

Melihat satu demi satu pesan itu, aku tiba-tiba tertawa.

Jelas-jelas Celine yang bertindak kelewatan.

Namun, semua orang justru menganggap akulah yang seharusnya lebih dulu mengalah dan meminta berdamai.

Aku mengirim satu pesan balasan kepada mereka semua.

[Aku dan Celine lagi mengurus proses perceraian. Siapa pun yang mengirim pesan buat membujukku, silakan hapus pertemanan denganku. Terima kasih!]

Setelah mengirim pesan itu, aku menghapus dan memblokir semua teman yang berhubungan dengan Celine.

Kemudian, aku meminta pengacaraku menyerahkan surat perjanjian cerai kepada Celine.

Setelah semuanya selesai, aku melapor keluar dari hotel, lalu tanpa sedikit pun rasa enggan menaiki taksi menuju bandara.

....

Di sisi lain, Celine yang sedang menghadiri rapat di ruang rapat tampak sangat gelisah.

Sesekali dia melirik ponselnya.

Namun, pesan yang sudah beberapa hari ditunggunya tidak kunjung datang.

Akhirnya, rapat selesai.

Begitu keluar dari ruang rapat, tanpa sadar dia kembali melirik ke ruang tamu. Di sana kosong melompong.

Dulu, setiap kali mereka bertengkar, tidak sampai tiga hari Julian pasti akan datang mencarinya untuk berdamai.

Namun, kali ini sudah genap seminggu, tetapi sama sekali tidak ada kabar darinya.

Apa mungkin kali ini dia benar-benar marah besar?

Bukankah hanya ulang tahun?

Kalau tahun ini terlewat, masih ada tahun depan. Perlukah sampai semarah itu?

Tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, mata Celine langsung membelalak.

Tahun lalu dan tahun sebelumnya, dia juga melewatkan ulang tahun Julian.

Penyebabnya selalu karena Elio.

Pantas saja ....

Rasa bersalah perlahan muncul di hati Celine.

Memang kali ini dia sudah keterlaluan.

Memikirkan hal itu, dia segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

[Julian, bukannya kau selalu ingin pergi berlibur ke pantai? Setelah aku menyelesaikan semua kesibukan ini, aku bakal mengajakmu ke sana.]

Pesan itu terkirim. Namun, yang diterimanya hanyalah tanda seru berwarna merah.

Julian telah memblokirnya.

Alis Celine langsung berkerut rapat.

Dia segera mencari nomor telepon Julian dan meneleponnya, tetapi yang terdengar hanyalah suara dingin dari mesin otomatis.

Nomor teleponnya juga sudah diblokir.

Suasana di dalam kantor seketika menjadi dingin.

Saat dia hendak menyuruh asistennya mencari tahu hotel tempat Julian menginap beberapa hari terakhir, asistennya kebetulan mengetuk pintu dan masuk.

"Bu Celine, ada dokumen yang dikirim Pak Julian buat Anda."

Mendengar itu, kerutan di dahi Celine langsung mengendur.

Suasana hatinya pun tampak membaik dengan cepat.

Dia menerima dokumen yang disodorkan sang asisten sambil berkata dengan nada penuh rasa puas, "Aku sempat kira kali ini dia benar-benar punya harga diri. Ternyata, pada akhirnya dia tetap yang lebih dulu datang minta berdamai denganku."

"Melihat dia begitu tahu diri, kali ini aku nggak bakal mempermasalahkannya lagi. Nanti pergilah ke toko perhiasan dan belikan aku sebuah jam tangan, lalu reservasi restoran Pranvis di sebelah barat kota. Malam ini ...."

Suara Celine mendadak terhenti saat matanya menangkap isi dokumen tersebut.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 9

    Menyadari nada suaraku yang penuh ketidaksabaran, mata Celine memerah, sementara wajahnya dipenuhi kepedihan."Sayang, aku mengakui kalau aku nggak menjaga batasan saat berhubungan dengan Elio. Maaf, aku benar-benar salah.""Tapi aku bersumpah, dari awal sampai sekarang, satu-satunya orang yang ada di hatiku cuma kau. Tolong percayalah padaku."Sejujurnya, ini pertama kalinya aku melihat Celine serendah ini.Namun, semuanya sudah terlambat.Sejak dia kembali melewatkan ulang tahunku demi Elio, hubungan kami sebenarnya telah benar-benar berakhir.Melihat wajahnya yang pucat, aku tetap mempersilakannya masuk dan menuangkan segelas air hangat untuknya.Menatap gelas berisi air hangat di depannya, Celine langsung menatapku dengan penuh harap.Dia mengira hatiku mulai luluh.Namun, tanpa belas kasihan aku menghancurkan harapannya."Jangan salah paham. Aku cuma khawatir kalau kau pingsan di depan rumahku, orang tuamu nanti datang lagi mencariku.""Kau juga tahu sendiri betapa menyebalkannya

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 8

    Setiap kali, rencana itu selalu gagal terwujud karena berbagai macam alasan.Namun, ketika Elio dengan santainya berkata ingin pergi ke Kota Buona untuk melakukan perjalanan dinas ....Pada bulan berikutnya, Celine benar-benar menerima proyek di Kota Buona, lalu membawanya terbang ke sana.Celine sudah berkali-kali mengatakan bahwa dirinya dan Elio tidak pernah melakukan sesuatu yang mengkhianatiku.Aku percaya.Namun, hatinya memang telah berpaling. Itu juga fakta yang tidak terbantahkan.Bahkan, perselingkuhan hati justru lebih sulit dimaafkan daripada perselingkuhan fisik.Untungnya, aku masih sempat menyadari semuanya.Berdiri di tepi pantai yang telah berkali-kali kubayangkan, aku menarik napas panjang.Ini adalah aroma laut, sekaligus aroma kebebasan.Setelah mengirim pesan kepada seorang teman untuk memberi tahu bahwa aku baik-baik saja, telepon darinya langsung masuk."Senang berada di pantai?"Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, "Senangnya luar biasa."Di seberang telepon se

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 7

    "Julian."Nada suara Celine terdengar datar, tanpa emosi."Kita perlu bicara."Aku mengernyit pelan."Kalau soal perceraian, kau bisa bicarakan dengan pengacaraku. Kalau soal yang lain, kurasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan."Setelah mengatakan itu, aku tidak lagi memandangnya dan langsung melangkah pergi.Namun, Celine segera meraih pergelangan tanganku."Julian, berhentilah bersikap seperti ini."Sampai detik ini pun, dia masih menganggap aku hanya sedang merajuk.Aku menoleh sambil tersenyum tipis."Celine, kita sudah bersama selama tujuh tahun dan menikah selama tiga tahun. Tapi ternyata kau benar-benar nggak memahamiku.""Aku bukan sepertimu, yang sedikit-sedikit mengucapkan kata cerai."Celine membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya berkata, "Sayang, kita sudah pisah kamar selama setengah bulan. Bagaimana kalau kita baikan saja?""Aku tahu kau keberatan dengan Elio. Aku sudah memecatnya. Sekarang kau puas, 'kan?"Aku terkekeh pelan."Aku nggak punya alasan buat

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 6

    Meskipun aku sudah menghapus semua orang yang berhubungan dengan Celine dari daftar kontakku, foto dirinya yang menghadiri jamuan bersama Elio tetap dikirim seseorang ke ponselku.[Julian, kami semua tahu betapa besar cintamu pada Celine. Apa kau benar-benar rela menyerahkannya pada pria lain?][Jangan terus keras kepala. Kalau nggak, kau benar-benar bakal menyesal.]Tanpa ekspresi, aku menghapus foto dan pesan itu.Aku mencintai Celine selama delapan tahun penuh, tetapi pada akhirnya hubungan kami berakhir seperti ini.Apa aku rela?Tentu saja, masih ada sedikit rasa tidak rela.Saat melihat Celine dan Elio berdiri berdampingan dengan lengan saling bertaut, dadaku masih terasa sedikit sesak.Namun, sedikit rasa tidak rela dan nyeri itu sama sekali tidak cukup untuk menggoyahkan tekadku bercerai.Waktu adalah obat terbaik yang mampu menyembuhkan segalanya.Aku percaya, jika diberi sedikit waktu lagi, aku pasti benar-benar bisa melepaskan Celine.Namun, jika aku terus membiarkan diriku

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 5

    Melihat wajah Celine yang mendadak berubah drastis, sang asisten sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi."Bu Celine, selain membeli hadiah dan memesan restoran, apa perlu sekalian membelikan bunga buat Pak Julian? Pak Julian paling suka mawar merah."Asisten itu memberi saran dengan penuh perhatian.Detik berikutnya, Celine langsung mencengkeram kerah bajunya."Dokumen ini dikirim langsung oleh Julian?"Asisten itu ketakutan dan buru-buru menggeleng sekuat tenaga."Bukan. Pak Julian meminta kurir buat antarkan.""Ada apa? Apa ada masalah dengan dokumen ini? Perlu saya ...."Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, Celine sudah melepaskan kerah bajunya, lalu berkata dengan wajah muram dan nada rendah, "Keluar!"Namun, sebelum sang asisten sempat meninggalkan ruang kerja, Celine kembali memanggilnya."Tunggu. Pinjam ponselmu sebentar."Dia mengambil ponsel itu dan menghubungi nomor yang sudah begitu melekat dalam ingatannya.Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya di

  • Sedekat Cinta, Sejauh Ufuk   Bab 4

    Nggak punya tempat pulang? Nggak punya baju ganti?""Memangnya semua hotel dan pusat perbelanjaan di Kota Jinuo sudah bangkrut? Sampai-sampai kau terpaksa datang ke rumah istri orang dengan dada telanjang?"Ekspresi wajah Elio langsung membeku. Dia tidak menemukan kata-kata untuk membantahku dan hanya bisa menatap wanita di sampingnya dengan tatapan memelas."Julian ...."Aku sama sekali tidak memberi Celine kesempatan untuk berbicara dan langsung memotongnya, "Kau juga diam saja. Aku nggak ingin mendengar suaramu."Setelah mengatakan itu, aku pergi tanpa menoleh lagi.Tiga hari berlalu dalam sekejap. Tidak terasa, tenggat satu minggu yang disebut Celine pun tiba.Sepanjang hari, ponselku terus berbunyi tanpa henti.Semuanya adalah pesan dari teman-teman yang sama-sama mengenal aku dan Celine.[Kak Julian, kau masih marah sama Bu Celine? Sebenarnya Bu Celine itu cuma keras kepala di luar, tapi hatinya lembut. Dia sudah nggak marah lagi. Asal kau mengucapkan beberapa kata manis buat mem

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status