Home / Rumah Tangga / Sehangat Dekapan Mantan / 25| Hadangan Pagi Hari

Share

25| Hadangan Pagi Hari

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2025-12-15 16:52:35

Pagi Raya datang seperti serangan jantung.

Jantungnya berdentum keras bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Napasnya tercekat, telapak tangannya dingin. Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari dirinya masih berada di kamar utama penthouse itu, kamar yang selama dua tahun terakhir ia sebut rumah, namun pagi ini terasa asing, terlalu sunyi, terlalu luas.

Raya meraba jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul tujuh tepat.

Itu artinya Ardava seharusnya sudah berangkat.

Rutinitas itu terlalu ia hafal. Ardava selalu keluar sebelum pukul tujuh, jas rapi, wangi parfum mahal, panggilan kerja yang tak pernah putus bahkan sebelum lift menutup. Kesadaran itu membuat dada Raya sedikit mengendur.

Sembari duduk di depan meja rias besar di kamarnya, Raya menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya pucat, lingkar gelap mengendap di bawah mata. Ia tak tahu apakah itu akibat terlalu sering menangis atau tubuhnya yang akhirnya menyerah menutupi kelelahan batin.

Ia menghela napa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   91| Keputusan Spontan

    Pagi datang tanpa tergesa, menyelinap lewat celah tirai dan jatuh lembut di dinding kamar Raya. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh kesadaran kecil yang menyenangkan—hari ini libur. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada rapat mendadak, tidak ada panggilan pasien gawat. Hanya satu agenda yang tertera rapi di kepalanya: sebuah seminar kedokteran gigi di salah satu universitas negeri ternama, siang nanti. Undangan resmi sudah ia terima sejak dua minggu lalu.Namanya tercantum sebagai pembicara tamu untuk sesi diskusi klinis. Bukan hal baru, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab yang membuatnya ingin tampil prima.Raya berguling pelan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada pusing yang mengganggu, tidak ada rasa mual samar. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum berdiri dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi bahunya, membawa sisa-sisa lelah y

  • Sehangat Dekapan Mantan   90| Belum Mengenal Jagara

    Malam sudah benar-benar turun ketika Jagara mengemudi sendirian meninggalkan klinik.Kota tampak tenang dari balik kaca mobil, lampu-lampu jalan memantul memanjang, berpendar lembut seolah tak tahu bahwa di dalam dada lelaki itu ada sesuatu yang sedang berpacu cepat. Kertas hasil lab masih berada di tangannya, terlipat rapi namun tak pernah benar-benar ia lepaskan sejak keluar dari ruang dokter. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kertas itu, ada rasa nyata yang menegaskan bahwa semua ini bukan ilusi. Bukan lagi dugaan, bukan lagi ketakutan yang ia pendam sendirian selama dua bulan terakhir.Jantungnya berdegup tidak teratur, bukan karena kecemasan, melainkan karena antusiasme yang tertahan. Bayangan Raya muncul berulang kali di benaknya, begitu jelas hingga hampir terasa menyakitkan. Cara wanita itu menatapnya di hari terakhir mereka bertemu, tatapan yang tidak marah namun juga tidak berharap. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menunggu penjelasan. Jagara menel

  • Sehangat Dekapan Mantan   89| The Truth Behind the Poison

    Ruang tunggu itu terasa lebih sempit dari ukurannya yang sebenarnya.Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai keramik, membuat bayangan Jagara jatuh lurus dan kaku di bawah kursinya. Bau antiseptik mengisi udara, menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi dari dispenser sudut ruangan, aroma yang biasanya menenangkan, namun kali ini justru membuat dadanya terasa penuh.Jagara duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sikapnya terlihat tenang, nyaris dingin, namun hanya ia yang tahu betapa keras tubuhnya bekerja menahan diri. Jari-jarinya menekan lengan jasnya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena ia butuh sesuatu untuk digenggam agar pikirannya tidak lepas kendali.Di balik pintu kayu bercat pucat itu, dokter kepercayaannya, seorang pria paruh baya dengan suara tenang dan tatapan objektif—sedang membahas hasil uji laboratorium yang sudah Jagara tunggu selama dua bulan terakhir. Dua bulan penuh penyangkalan. Dua bulan hidup di antara “

  • Sehangat Dekapan Mantan   88| Perlakuan Sederhana

    Hari pertama Raya kembali bekerja berjalan lebih pelan dari biasanya dan untuk pertama kalinya, itu bukan hal yang membuatnya gelisah.Ia tiba di rumah sakit saat matahari belum sepenuhnya naik, mengenakan jas dokter yang masih terasa sedikit asing di bahunya setelah beberapa hari terbaring sebagai pasien. Langkahnya terukur, tidak tergesa, seolah tubuhnya sendiri masih memberi peringatan agar tidak memaksakan apa pun. Aroma antiseptik yang khas menyambutnya, membawa rasa familiar yang justru menenangkan.“Udah enakan, Dok?” sapa seorang perawat ketika Raya melewati nurse station.Raya berhenti sejenak, menoleh dengan senyum kecil yang jujur. “Lumayan,” jawabnya singkat, tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi hari ini, setidaknya, ia merasa cukup.Untungnya, jadwal hari ini bersahabat. Tidak ada operasi. Tidak ada tindakan berat yang menuntut stamina penuh. Hanya pemeriksaan rutin, visit pasien, membaca hasil lab, dan diskusi singkat den

  • Sehangat Dekapan Mantan   87| Anggota Geng Motor

    Motor Triumph Bonneville Speedmaster berwarna hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan bangunan apartemen sederhana tempat Raya tinggal. Mesin besar itu menggeram pelan sebelum benar-benar mati, menyisakan keheningan malam yang hanya diisi suara serangga dan dengung lampu jalan yang redup.Raya turun perlahan. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, dan perjalanan singkat tadi—meski terasa aman—cukup menguras tenaganya. Ia meraih helm full face yang sejak tadi melindungi kepalanya, sedikit kesulitan membuka pengait di bawah dagu.Belum sempat ia benar-benar melepasnya, tangan Aksara sudah lebih dulu terulur.“Biar saya,” ucapnya ringan.Dengan gerakan hati-hati, Aksara membantu membuka pengunci helm, lalu mengangkatnya perlahan dari kepala Raya. Rambut wanita itu sedikit kusut, beberapa helai menempel di dahi dan pelipis akibat keringat. Tanpa sadar, Aksara merapikannya, jemarinya menyibak helaian rambut yang jatuh ke wajah Raya, gerakannya pelan, nyaris refleks.“Be

  • Sehangat Dekapan Mantan   86| Insatiable Habits

    Hari terakhir Raya dirawat berjalan tanpa drama berkepanjangan, setidaknya di permukaan.Tak ada kejadian mendadak, tak ada alarm yang berbunyi terlalu nyaring, tak ada langkah tergesa yang biasanya mengiringi hari-hari sibuknya sebagai dokter. Semua terasa… tenang. Terlalu tenang, sampai keheningan itu sendiri terasa melelahkan.Rutinitas rumah sakit berjalan seperti biasa. Perawat datang dan pergi, mencatat, mengecek tekanan darah, mengganti cairan infus dengan gerakan efisien yang nyaris otomatis. Seorang dokter jaga menyempatkan diri mampir, membuka berkasnya, lalu menatap Raya dengan ekspresi profesional.“Kondisinya sudah stabil,” ucapnya sambil menutup map. “Tapi jangan terlalu memaksa diri. Istirahat penuh dulu beberapa hari, hindari begadang, dan tolong… makan teratur.”Raya mengangguk. Ia mendengar semua itu, mencatatnya dengan kepala, meski tahu sebagian akan sulit ia patuhi. Ada resep yang diselipkan, jadwal kontrol ulang yang dituliskan singkat, dan pesan terakhir yang di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status