Share

Bab 7

Penulis: Serena Sentosa
Wajah Stella perlahan memucat.

Dia mendongak menatap Emma, dan mengucapkan kata demi kata.

"Kamu yang foto, 'kan?"

Sosok yang biasanya pendiam dan lembut itu tiba-tiba menjadi dingin, memperlihatkan sisi paling kerasnya. Tawa di kamar asrama perlahan mereda.

Emma sedikit gugup di bawah tatapannya, tetapi dia tetap mempertahankan kesombongannya, mengangkat dagunya dan menyangkal semuanya.

"Apa maksudmu aku yang foto? Semua orang bisa melihat tangkapan layarnya. Palingan, ada orang yang kebetulan mengambil foto itu. Nggak ada hubungannya denganku. Stella, alih-alih memikirkan hal ini, sebaiknya renungkan hal-hal nggak pantas apa yang telah kamu lakukan."

Membuat Emma mengakui perbuatannya sendiri adalah hal yang sulit. Tanpa bukti, dia tidak akan pernah mengakuinya.

Namun, jika ingin menemukan bahwa Emma yang mengambil foto transfer itu juga bukan hal yang mudah.

Stella sangat marah hingga seluruh tubuhnya gemetar.

Dia menatap Emma. "Kamu tahu nggak, menyebarkan rumor itu ilegal?"

Emma melipat tangannya dan bersandar di samping tempat tidur. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Stella, dia tertawa keras, seolah-olah tidak punya perasaan.

"Kapan aku menyebarkan rumor? Kamu mau bagaimana buktikan kalau aku yang menyebarkan rumor ini? Atau kamu mau bagaimana buktikan kalau ini adalah rumor?"

"Menurutku, inilah kebenarannya. Kamu sudah melakukan hal-hal tercela di belakang kami. Guru les? Huh, kurasa, itu hanyalah kedok. Aslinya, kamu menemani orang tidur."

Wajah Stella sedikit memucat karena marah.

Sementara itu, desas-desus yang beredar di kampus juga sampai ke telinga Cristian.

Saat asistennya berdiri di sampingnya melaporkan apa yang telah terjadi di kampus, wajah Cristian berubah dingin.

"Pak Cristian, masalah ini sudah menyebar ke banyak grup obrolan di kampus. Riwayat obrolan ini beredar luas di grup besar maupun kecil."

Dia mengamati ekspresi dingin Cristian dengan saksama, dan berbicara dengan hati-hati.

"Ada banyak mahasiswa yang nggak tahu apa-apa, pun ikut-ikutan mengejeknya. Mereka bahkan mengirim banyak pesan yang berbentuk pelecehan pada Nona Stella. Pak Cristian, perlu saya selidiki?"

Wajah Cristian berubah menjadi dingin sepenuhnya.

Ekspresinya yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah dingin. Dia berbicara dengan suara yang menakutkan.

"Selidiki siapa yang menyebarkan riwayat obrolan itu ke grup, lalu selidiki siapa yang ikut-ikutan mengejeknya. Jangan lewatkan seorang pun. Semuanya harus ditemukan."

"Selidiki jurusan mereka, selidiki kelas mereka, simpan semua bukti, hubungi kampus, hubungi dosen, hubungi orang tua mereka, dan kirimkan pada mereka satu per satu. Jangan biarkan siapa pun lolos begitu saja, mengerti?"

Asisten agak terkejut mendengar hal ini. Ada sedikit rasa heran terpancar dari matanya.

Melakukan hal ini pasti akan menghabiskan tenaga dan energi. Berdasarkan kepribadian Cristian, dia biasanya hanya akan berurusan dengan orang-orang yang menyebarkan rumor. Namun kali ini, dia juga ingin berurusan dengan mereka yang hanya ikut-ikutan.

Jelas sekali, dia telah membuat keputusan tegas.

Dan keputusan tegas ini hanya diperuntukkan Stella.

"Di mana Stella sekarang?" tanya Cristian dengan nada berat.

"Nona Stella seharusnya masih berada di asramanya. Haruskah saya menghubunginya?"

Asisten menjawab dengan hati-hati.

Cristian terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya.

"Nggak perlu."

Stella pada dasarnya punya sifat penakut dan pendiam. Dia pasti panik dan takut ketika menghadapi peristiwa sebesar itu.

Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah meredam rumor-rumor ini secepat mungkin. Dia hanya perlu bekerja secara diam-diam di balik layar.

Dia tidak ingin terburu-buru muncul, karena itu hanya akan membuat Stella merasa canggung, dan akan menjadi bahan pembicaraan orang lain. Pada akhirnya, hanya akan mengarah pada spekulasi liar tentang hubungan mereka.

Menyelesaikan masalah secara diam-diam adalah pendekatan yang paling tepat.

"Selidiki dengan cepat."

Cristian memijat pangkal hidungnya. Nada suaranya sangat dingin.

"Selain itu, tangani semua orang-orang yang mengganggunya lewat whatsapp, dan ambil tindakan pencegahan untuk mencegah orang asing lainnya mengganggunya."

"Baik, akan segera saya tangani."

Asisten tidak berani menunda dan segera keluar untuk melaksanakan instruksi tersebut.

Asisten menangani masalah itu dengan sangat cepat. Lagi pula, pelakunya masih mahasiswa, jadi dia tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan sempurna, hingga menyisakan banyak petunjuk dan kelemahan.

Asisten bisa dengan mudah mengetahui siapa sumber informasinya.

Di hari yang sama, dia menghubungi konselornya Emma.

Emma yang berada di kamar asrama, masih tidak menyadari bahwa sudah ada orang yang menyelidiki perbuatannya hari ini.

Dia berjalan menghampiri Stella dengan tangan bersilang. Melihat mata Stella yang memerah, rasa superioritasnya makin menguat.

"Kenapa? Kok nggak berani bicara lagi?"

"Stella, aku sangat mengagumimu. Kamu benar-benar nggak tahu malu. Kamu menerima uang haram, menikmatinya, tapi masih berpura-pura tampak menyedihkan dan berpura-pura berjuang keras di depanku. Kamu nggak lelah?"

"Lebih baik akui saja, yang kamu hasilkan itu memang uang haram. Dengan begitu, aku mungkin akan mengagumimu."

Stella gemetar karena marah. Dadanya naik turun hebat. Perasaan terluka dan tak berdaya bercampur aduk.

Dia tidak punya bukti. Yang ada hanya satu foto itu, yang tidak bisa membuktikan bahwa Emma yang mengambil foto tersebut.

Emma juga tidak bodoh. Saat mengunggah foto itu, dia pasti sudah menghapus foto di galeri ponselnya. Akan sangat sulit baginya untuk menemukan bukti.

"Bicaralah, mengapa kamu diam?"

Bibir Emma melengkung membentuk senyum puas.

Dia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa sosok telah muncul di pintu kamar asrama. Dia juga tidak memperhatikan perubahan drastis pada ekspresi teman sekamarnya saat mereka mendekati Stella.

Detik berikutnya, suara konselor yang dingin dan tegas terdengar dari balik pintu.

"Emma."

Emma terpaku. Senyum puas di wajahnya langsung membeku.

Dia buru-buru berbalik, menatap konselor dan dosen yang berdiri di pintu. Jantungnya berdebar kencang. Dia benar-benar panik.

Sebelum dia sempat membuka mulut untuk membela diri, dosen secara terbuka mengkritiknya dan langsung memutuskan tindakan disiplin yang mencakup pernyataan di seluruh kampus, dan permintaan maaf secara terbuka.

"Hanya sedikit yang tersisa di asrama. Pihak kampus saat ini sedang menyelidiki mereka yang ikut menyebarkan rumor dan menimbulkan masalah di grup obrolan. Kalau kami menemukan ada orang di asrama kalian yang terlibat, orang itu akan dihukum berat."

Sebelum pergi, konselor itu melirik ke sekeliling dan memberikan tatapan peringatan kepada teman-teman sekamar yang tersisa.

"Emma, kamulah dalangnya. Ikutlah bersama kami. Kami akan menjatuhkan hukuman lain padamu."

Semua orang di asrama terdiam. Tak ada seorang pun berani menatap Emma lagi.

Badai desas-desus yang melanda seluruh angkatan sepenuhnya terselesaikan hanya dalam waktu sepuluh menit lebih.

Stella terpaku di tempat. Teman sekamar lainnya tidak berani menatapnya.

Dia diam-diam menghela napas lega. Untunglah, rumor telah dihentikan. Selanjutnya, dia harus pergi mencari Sean.

Teringat akan Sean, Stella mempercepat langkahnya, lalu mengemasi barang-barangnya dan segera meninggalkan asrama.

Cristian masih dalam perjalanan dinas, dan hanya ada pelayan di rumah yang mengurus kehidupan sehari-hari Sean. Ketika dia melihat Stella masuk dari kejauhan, dia segera menghampirinya untuk menyambut.

"Nona Stella sudah datang. Sean sudah menunggu Nona dari tadi."

Stella mengangguk sambil tersenyum tipis.

Dia tidak pernah bersikap angkuh, dan memperlakukan semua orang dengan sama serta sopan.

"Apa Nona Stella ingin makan sesuatu? Saya akan minta dapur untuk menyiapkannya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status