Share

Bab 6

Penulis: Serena Sentosa
Demi melihat jumlah transferan tersebut, Emma diam-diam mendekati Stella.

Layar itu menyala terang, dan bukti transfer terbaru senilai puluhan juta terpampang jelas di depannya. Jumlahnya sangat besar dan mencolok.

Pupil mata Emma menyempit.

Seingatnya, Stella berasal dari keluarga biasa. Saat baru masuk kuliah, Stella mengenakan pakaian yang kusam, yang jelas menunjukkan bahwa keluarganya miskin.

Mana mungkin gadis dari keluarga biasa sepertinya, yang mana harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, bisa menerima begitu banyak uang tanpa alasan?

Jangan-jangan Stella menghasilkan uang dengan menggunakan tubuhnya?

Tatapan Emma tertuju pada wajah Stella.

Meskipun gaya pakaiannya biasa saja, Stella memiliki paras yang cantik. Dia tipe gadis yang akan disukai para pria.

Hanya itu satu-satunya kemungkinan. Jika tidak, mana mungkin dia bisa menerima uang sebanyak itu tanpa alasan.

Emma tersenyum sinis. Secercah kecemburuan terpancar di matanya.

Dia menatap layar ponsel Stella dengan saksama. Selagi Stella menunduk menatap layar dan tidak memperhatikannya, dia dengan cepat menekan tombol kamera dengan tangan lainnya dan diam-diam mengambil foto halaman obrolan dan bukti transfer.

Semuanya dilakukan sekaligus.

Saat foto berhasil disimpan, bibir Emma melengkung membentuk senyum sinis.

Berpura-pura polos? Berpura-pura bersih?

Dia keluar pagi-pagi dan pulang larut malam setiap hari, mengenakan gaun panjang polos, berpenampilan seperti gadis yang lugu. Nyatanya, dia mencari uang instan dengan mendekati orang-orang kaya.

Emma menyimpan ponselnya. Dia diam-diam telah menyusun rencana.

Dia harus merobek topeng Stella di hadapan semua orang di kampus.

Gadis yang polos? Belum tentu.

Emma melengkungkan sudut bibirnya membentuk senyum.

Di akhir kelas, lembar ujian dikumpulkan.

Begitu bel berbunyi, para mahasiswa langsung berdiri dan mengemasi buku-buku mereka.

Stella menggosok-gosok pergelangan tangannya yang sedikit pegal, mengambil buku-bukunya, dan bersiap untuk kembali ke asrama.

Emma yang duduk di sebelahnya, sudah mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kelas selangkah lebih dulu.

Begitu meninggalkan ruang kelas, Emma membuka galeri ponselnya, dan mencari tangkapan layar yang barusan diambilnya secara diam-diam.

Setelah diperbesar, jumlah transfer tampak jelas di layar ponsel. Foto profil pengirim tampak sangat sederhana, dan terkesan misterius.

Makin diperhatikan makin tampak seperti hubungan pribadi yang tidak pantas.

Emma mencibir, dan langsung membuka obrolan grup kelas.

[Lihat, kalian masih ingat Stella nggak? Aku baru saja sadar kalau dia menerima transfer dalam jumlah besar. Sepertinya dia menjadi simpanan seseorang.]

[Percaya atau nggak, bukti tangkapan layarnya ada di sini. Perhatikan baik-baik. Sekali transfer puluhan juta sekaligus. Mana mungkin seorang guru les biasa bisa menghasilkan begitu banyak uang?]

Begitu tangkapan layar diunggah, obrolan grup langsung heboh.

Obrolan grup kelas yang tadinya tenang dan sunyi tiba-tiba dibanjiri pesan dari orang-orang yang sibuk bergosip, hanya dalam beberapa puluh detik.

[Ini Stella? Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu di belakang orang!]

Sebagian tampak terkejut, dan sebagian lagi menyindir.

[Kenapa? Kamu masih nggak percaya? Orang yang terlihat polos itu seringkali orang yang melakukan hal-hal paling keji. Dia bilang dia guru les? Aku nggak percaya dia bisa menghasilkan puluhan juta sebagai guru les hanya dalam satu sesi.]

Orang-orang di grup obrolan mulai heboh.

[Sepertinya guru les yang dia maksud adalah mengajari di atas ranjang. Bisakah seseorang bertanya kepada Stella apa dia masih menerima les semacam ini?]

Komentar-komentar menjijikkan membanjiri obrolan. Emma merasa sangat senang saat melihat percakapan di obrolan grup tersebut.

Dia memang ingin menghancurkan kedok polos dan patuh yang dimiliki Stella.

Mengapa Stella yang tidak punya apa-apa, bisa mempertahankan citra polos dan murni, disukai oleh para guru serta disayangi oleh teman-teman sekelas?

Dia jelas-jelas melakukan hal tercela di belakang orang lain.

Atas dasar apa sesuatu yang dia dapatkan secara susah payah justru bisa didapatkan Stella dengan mudah?

Desas-desus jahat menyebar dengan cepat seperti api, meluas dari grup obrolan kelas kecil ke grup obrolan kelas yang lebih besar.

Tangkapan layar itu berulang kali diteruskan, disimpan, dan menjadi bahan ejekan. Semua orang berasumsi bahwa Stella menghasilkan uang melalui hubungan yang tidak pantas, dan tidak ada yang tertarik untuk menyelidiki kebenarannya.

Dalam hitungan menit, nama Stella menjadi sensasi di seluruh kampus.

Stella tidak tahu apa yang sedang terjadi di dunia maya.

Setelah menyelesaikan ujian di kelas, dia kembali ke asrama dengan membawa buku-bukunya.

Begitu mendorong pintu hingga terbuka, dia nyaris merasakan sesuatu yang aneh dalam asrama itu.

Teman sekamar yang tadinya makan dengan kepala menunduk, menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Melihat Stella berdiri di ambang pintu, ekspresi mereka berubah dan menjadi penuh arti.

Stella berhenti sejenak, lalu mendorong pintu hingga terbuka dan langsung berjalan ke tempat tidurnya.

"Stella, kudengar kamu jadi guru les?"

Stella yang baru saja meletakkan buku di atas meja ketika teman sekamarnya menanyakan sesuatu dari belakang.

Stella menoleh.

"Ya, aku mengajar les. Bukankah sudah aku beri tahu dari dulu?"

Begitu dia selesai berbicara, teman-teman sekamarnya saling pandang dan tertawa terbahak-bahak.

Stella terpaku di tempat. Ada sedikit kebingungan terpancar di matanya.

Meskipun dia tidak tahu mengapa teman sekamarnya bersikap seperti itu, dia bisa merasakan niat jahat mereka.

"Apa yang kalian tertawakan?"

Ekspresi Stella juga berubah dingin.

Dia tidak banyak bicara di asrama, dan tidak terlalu mencolok, tetapi untungnya, dia cukup akrab dengan teman sekamarnya.

Ini pertama kalinya dia menghadapi kebencian mereka secara langsung.

Tawa mengejek itu makin keras begitu dia selesai berbicara.

Emma juga berada di dalam kamar. Mendengar itu, dia perlahan beranjak dari tempat tidurnya. Pandangannya tertuju pada Stella, dengan senyum mengejek di bibirnya.

"Masih pura-pura bodoh, Stella?"

Stella mengerutkan bibirnya.

"Apa maksudmu?"

Emma mendengus dingin. Tatapannya penuh penghinaan.

"Kamu paling jelas apa yang sedang kamu pura-purakan. Aku malas mendebatkan hal ini. Kamu sudah melakukan hal-hal tercela di belakang kami, dan masih saja tinggal di asrama. Apa kamu nggak takut menyebarkan penyakit kepada kami? Menjijikkan sekali."

Seluruh asrama menjadi hening begitu kata-kata itu dilontarkan.

Teman-teman sekamar lainnya saling memandang. Tak ada seorang pun yang angkat bicara untuk melerai.

Wajah Stella berubah menjadi gelap.

Dia tidak mengerti maksud Emma. Dia melakukan pekerjaannya sebagai guru les dengan jujur dan mendapatkan uang secara halal. Dia tidak mengerti bagaimana hal-hal ini bisa digambarkan sebagai kotor dan hina sebagaimana yang dikatakan Emma barusan.

"Emma, jelaskan kata-katamu dengan benar."

Emma tersenyum sinis.

"Jelaskan dengan benar? Bagaimana aku harus menjelaskannya lagi? Kamulah yang paling jelas dengan perbuatanmu sendiri."

"Kalau kamu ingin tahu, periksa saja whatsapp-mu dan baca pesan-pesan di obrolan grup. Mungkin sudah ada banyak orang yang mencarimu, dan ingin kamu menjadi guru les mereka sekarang."

Dia sengaja menekankan kata 'guru les' yang mengandung implikasi yang jelas. Teman-teman sekamarnya langsung mengerti dan menahan tawa.

Stella tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya lalu membuka obrolan grup kelas.

Dia menggulir ke atas hingga kata-kata cabul dan tangkapan layar transfer yang diambil secara diam-diam itu menarik perhatiannya. Setiap kata terasa seperti jarum yang menusuk matanya.

Seperti yang dikatakan Emma, ada banyak nomor baru yang menambahkan whatsapp-nya.

Isi pesan-pesan mereka juga sangat jelas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status