LOGIN"Dokumen apa ini? Tumben Kakak minta diantar ke kamar."Aku berdiri di depan pintu kamar yang masih terbuka setengah. Wajah anak buah Malachi yang mengantar dokumen ini terasa asing di ingatanku, kurasa lagi-lagi Malachi memecat seseorang lalu mencari orang baru.Map hitam di tanganku terasa berat, penuh berisi tumpukan lembaran kertas. Jujur saja, rasa penasaran membuatku ingin mengintip isinya, tapi aku takut kalau lagi-lagi melakukan kesalahan dan berujung pada kemarahan Malachi yang menyeramkan."Sudahlah. Lebih baik aku tidak menyentuh barangnya seenaknya."Mataku mencari tempat untuk menaruh dokumen yang kuyakin pasti penting itu. Kamar Malachi minim perabotan, hanya ada ranjang besar di tengah, lemari kayu di sudut kiri, dan meja bundar dekat jendela yang penuh dengan toples makanan, teko air, dan satu gelas kaca."Mejanya penuh toples snack yang kubawa dari dapur," gumamku, memiringkan kepala sambil berpikir."Taruh di dalam lemari baju aja, deh. Belum tentu Malachi cepat data
Malachi POV"Anda terlihat marah, Tuan Malachi. Tadi adik Anda, ya?"Suara Rosa yang dibuat seksi menarik perhatianku begitu aku baru melangkah masuk ke ruangan."Benar," jawabku singkat, menutup pintu di belakangku."Anda tidak mengunci pintunya kembali? Bagaimana kalau adik Anda datang lagi?" komentar Rosa, seolah dia berhak ikut campur dalam urusanku."Tutup mulutmu," balasku kesal. "Karena aku menjawab satu pertanyaanmu, kau kira sudah cukup dekat denganku?"Wanita itu otomatis menundukkan kepala. Tubuhku lelah, dan aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Tapi kenapa selalu begini, setiap wanita yang kubayar mahal justru bersikap tidak tahu aturan, dan senang ikut campur melebihi batas."Maafkan saya, Tuan. Silakan duduk, biar saya yang melayani Anda dengan baik."Rosa melangkah mendekat, jari-jari jari lentiknya menempel di dadaku, bergerak turun perlahan seakan ingin meredakan ketegangan di tubuhku."Sekarang aku mengerti kenapa kamu jadi pelacur kelas atas di tempatmu bekerja
"Anda kenapa diam saja, Tuan? Bukankah Anda yang tiba-tiba meminta saya datang? Untung saja saya tidak punya pelanggan hari ini." Wanita itu turun dari meja, lalu duduk manja di pangkuan Malachi. Jemarinya menangkup pipi Malachi, membuat wajahnya menoleh menatap sang wanita. "Anda tidak mau langsung memakan saya, Tuan?" godanya, suaranya dibuat semanja mungkin. "Dasar jalang murahan," makiku pelan, tidak sadar kalimat itu lolos dari mulutku sendiri. Aku masih diam di tempat, mataku terpaku pada celah pintu yang sempit ini. Rasanya aku ingin lari sejauh mungkin, tapi ada bagian diriku yang menolak pergi begitu saja, tidak rela membiarkan mereka bersenang-senang tanpa gangguan. Jadi aku bertahan, menunggu momen yang tepat untuk menerobos masuk. Biar saja Malachi memarahiku habis-habisan nanti. Toh dia sendiri yang memulai semua ini. Setelah mencuri ciuman pertamaku beberapa waktu lalu,, sekarang dia justru asyik bersama seorang pelacur? "Rosa, aku tidak suka kamu memakai par
"Selamat datang kembali, sayang..." ucap Malachi saat mobil berhenti di garasi, suaranya lembut, tapi seringai tipis di sudut bibirnya menandakan dia sedang menikmati situasi ini sepenuhnya."Iya. Rumah yang sekarang menjadi penjaraku," jawabku dengan nada sinis, menolak menatap wajahnya."Ah, benar juga! Penjara mana yang menyediakan makanan mewah dan baju mahal? Bahkan membayar pendidikan tawanannya sampai lulus kuliah." Dia terkekeh pelan, matanya menyipit jenaka, terlihat jelas sedang bermain-main denganku. "Kuharap kamu selalu berterima kasih padaku."Aku memilih diam, terlalu lelah untuk membalas sindirannya. Begitu mobil benar-benar berhenti, dan mesin sudah mati, aku langsung turun lebih dulu, berjalan cepat masuk ke dalam rumah menuju dapur. Perutku sudah berbunyi sejak tadi, rasa lapar mengalahkan rasa kesalku untuk sesaat."Ah, Nona? Selamat datang. Makan malam sudah siap," sapa salah satu pelayan begitu melihatku masuk."Wah, ada pisang goreng!" seruku girang, langsung men
"Hati-hati!" teriakku saat Malachi menahan tangan pria yang maju untuk menusukku. Satu tangannya masih melingkar di pinggangku, memberikan beberapa tepukan di perut, seakan ingin aku tetap tenang."Hah. Keparat bodoh. Kau bahkan tidak tahu postur menusuk dengan benar," komentarnya dengan nada santai."Arghh!! Brengsek kau!!"Malachi memutar pergelangan tangan pria bersenjata itu ke belakang, sampai pisaunya terlepas dan jatuh berdenting ke aspal. Satu gerakan cepat, tangannya sudah mencengkeram leher pria itu, membantingnya keras ke dinding gang.Aku bisa mendengar suara benturan kepala membentur beton, disusul erangan kesakitan.Malachi membungkuk, mengambil pisau yang tadi jatuh, lalu menghunjamkannya tepat ke dada kanan pria itu."Malachi, hentikan!!!" jeritku panik, mataku membelalak ngeri. "Tidak!! Jangan bunuh dia!"Sial. Aku tidak ingin dirinya berakhir menjadi pelaku pembunuhan. Walau di sisi lain, aku sangat ingin keparat seperti mereka mati. Malachi tidak menoleh, tangannya
"Dia pikir aku manusia lemah yang selalu butuh bantuan? Sialan! Cuma karena dia kaya dan punya banyak koneksi, dia pikir aku akan berlutut di depannya! Semakin ingat, semakin bikin emosi saja!"Mulutku terus mengomel sepanjang mengemasi barang. Bagian paling menyebalkan adalah saat aku sadar tidak punya tas yang cukup. Aku hanya punya satu koper kecil, dan tas ransel lusuh yang robek karena kupaksa memuat baju sebanyak mungkin."Tsk, menyebalkan. Kalau begini, aku terpaksa meninggalkan banyak baju dan barang-barang mahalku," gerutuku kesal.Setelah hampir dua jam, akhirnya kegiatan berkemas itu selesai. Kakiku mematung di depan pintu kamar, kepalaku menoleh ke belakang, menatap kamar ini untuk terakhir kalinya, pernak-pernik yang sudah kukenal empat tahun terakhir, dan pakaian yang masih tergeletak di atas kasur karena tidak muat kubawa."Selamat tinggal..." ucapku lirih.Saat mencapai anak tangga terakhir, perasaan ragu menyelimuti hatiku.Apa aku bisa bertahan hidup sendirian?"Hah.







