LOGINHappy Reading ☺️
Hari pertama bekerja sebagai sekretaris pribadi Direktur Utama Mahendra Group dimulai dengan sunyi yang menekan. Nadira duduk di mejanya sejak pukul delapan tepat. Laptop menyala, buku agenda terbuka, pena tertata rapi. Namun tak satu pun bisa menenangkan degup jantungnya yang terasa terlalu keras untuk ruangan sepi itu. Pintu kaca buram di hadapannya—ruang Arka Mahendra—belum terbuka sejak ia datang. Ia mencoba fokus. Membaca ulang job desk. Mengatur jadwal yang masih kosong. Menghafal struktur perusahaan. Tapi bayangan tatapan pria itu terus muncul tanpa diminta. Dingin. Tajam. Seolah bisa menembus jarak. Pukul delapan lewat lima belas, pintu itu akhirnya terbuka. “Nadira.” Satu kata. Nada rendah. Tanpa basa-basi. “Iya, Pak Direktur.” Nadira langsung berdiri. “Masuk.” Ia melangkah masuk, merasakan udara ruangan itu berbeda—lebih dingin, lebih sunyi. Arka berdiri di balik meja kerjanya, memeriksa sesuatu di tablet. “Duduk,” ucapnya singkat. Nadira duduk di kursi di depannya, punggung tegak. “Ini agenda hari ini,” Arka meletakkan tablet itu di hadapannya. “Rapikan. Konfirmasi ulang. Saya tidak suka perubahan mendadak.” “Baik, Pak.” “Dan satu hal,” lanjutnya tanpa menatap. “Saya tidak sarapan.” Nadira mengangguk. “Saya akan siapkan—” “Kopi hitam. Tanpa gula. Seperti kemarin.” Nadira sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arka mengingatnya. “Baik.” Saat ia berdiri untuk pergi, suara Arka kembali terdengar. “Nadira.” Ia menoleh. “Di kantor ini, waktu adalah segalanya,” ucap Arka tenang. “Saya tidak menunggu.” Kalimat itu terdengar seperti peringatan. Namun ada sesuatu di cara Arka mengucapkannya—bukan ancaman, melainkan batas. Nadira mengangguk mantap. “Saya mengerti, Pak.” --- Di pantry, Nadira menyiapkan kopi dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup—melainkan karena perasaan aneh yang belum bisa ia beri nama. Ia kembali ke ruang Arka tepat waktu. Meja itu kosong. Arka berdiri di dekat jendela, memunggunginya. Kota terlihat sibuk di bawah sana. “Kopi Anda, Pak.” “Letakkan di meja.” Nadira menuruti, lalu berdiri menunggu. Beberapa detik berlalu. Arka tidak bergerak. “Kamu bisa kembali ke meja,” ucapnya akhirnya. “Iya, Pak.” Saat Nadira berbalik, Arka berkata pelan, nyaris seperti gumaman, “Terima kasih.” Langkah Nadira terhenti sepersekian detik. Ia menoleh, tapi Arka sudah kembali menatap ke luar jendela. Ia keluar dengan perasaan bingung. Dia dingin… tapi tidak sepenuhnya. --- Siang hari, agenda mendadak berubah. Salah satu klien penting meminta pertemuan lebih cepat. Nadira masuk ke ruang Arka dengan cepat. “Pak Direktur, ada perubahan jadwal. Pihak—” “Ada siapa di luar?” potong Arka tiba-tiba. Nadira terdiam. “Maksud Bapak?” Arka menatap ke arah pintu. “Pria yang tadi bicara denganmu.” “Oh. Itu staf IT, Pak. Ada masalah jaringan di lantai tiga.” Tatapan Arka mengeras sesaat. “Pastikan urusan kerja. Tidak lebih.” Nadira mengangguk, meski heran. “Baik.” Ia keluar dengan alis sedikit berkerut. Arka menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tahu reaksinya barusan tidak profesional. Terlalu… personal. Namun ia juga tahu satu hal: Ia tidak suka ada orang lain berdiri terlalu dekat dengan Nadira. --- Menjelang sore, Nadira menutup laptopnya setelah memastikan semua jadwal besok tersusun rapi. Ia berdiri, bersiap pulang. Pintu ruang Arka terbuka. “Nadira.” “Iya, Pak?” “Kamu pulang jam berapa?” Pertanyaan itu sederhana. Namun terasa aneh. “Biasanya jam lima, Pak.” Arka mengangguk. “Besok datang lebih pagi. Ada rapat.” “Baik.” Saat Nadira melangkah pergi, Arka kembali memanggilnya. “Dan—” Ia berhenti sejenak. “Hati-hati di jalan.” Nadira menoleh, sedikit terkejut. “Terima kasih, Pak.” Ia keluar dengan langkah ringan. Arka menatap pintu yang tertutup itu cukup lama. Untuk pertama kalinya, ruang kerjanya terasa terlalu sunyi. Ia tahu, menjaga jarak akan semakin sulit. Karena setiap hari, Nadira berada terlalu dekat— dan perasaan itu mulai tumbuh, diam-diam, di balik sikap dinginnya. Jam menunjukkan hampir pukul lima sore ketika Nadira kembali ke mejanya setelah mengantarkan berkas terakhir ke bagian keuangan. Badannya terasa sedikit pegal, tapi hatinya justru lebih ringan. Hari pertama yang ia bayangkan akan penuh bentakan ternyata tidak seburuk itu. Arka Mahendra memang dingin. Namun ia tidak kasar. Nadira baru saja merapikan tasnya ketika interkom di mejanya menyala. “Nadira,” suara Arka terdengar dari seberang. “Masuk.” Ia menahan napas sebentar sebelum berdiri dan melangkah masuk ke ruang Direktur Utama. Arka berdiri di dekat mejanya, membuka jas hitamnya dan meletakkannya di sandaran kursi. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan kesan lelah yang jarang terlihat. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Nadira sopan. “Kamu sudah cek agenda besok?” tanya Arka sambil membuka laptop. “Sudah. Rapat jam sembilan dengan dewan direksi, lalu—” “Pindahkan rapat siang ke pukul empat.” Nadira mengangguk cepat. “Baik.” Arka terdiam sejenak, jarinya berhenti di atas keyboard. “Kamu belum makan siang, ya?” Pertanyaan itu membuat Nadira terkejut. “Eh… sudah, Pak. Tadi.” Itu bohong kecil. Ia memang belum sempat makan, tapi rasanya tidak perlu dibahas. Arka menatapnya sekilas. Tatapan yang seolah tahu. “Besok,” ucapnya datar, “atur waktu makanmu. Sekretaris yang pingsan di kantor itu merepotkan.” Nada itu terdengar dingin, tapi Nadira menangkap maksud lain di baliknya. “Baik, Pak,” jawabnya pelan. Ia hendak melangkah keluar ketika Arka kembali berbicara. “Nadira.” “Iya?” “Pekerjaan hari ini… cukup rapi.” Itu bukan pujian terbuka. Namun cukup membuat Nadira tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak Direktur.” Ia keluar dari ruangan dengan perasaan aneh—hangat, tapi juga bingung. --- Setelah Nadira pulang, Arka masih duduk di ruang kerjanya. Lampu meja menyala redup, sementara kota di luar tampak mulai dipenuhi cahaya malam. Ia membuka agenda besok, menatap nama Nadira yang tertera hampir di setiap catatan. Terlalu cepat. Ia seharusnya tidak memperhatikan sekretaris barunya sejauh ini. Ia seharusnya bersikap netral. Profesional. Namun pikirannya terus kembali ke satu hal sederhana: cara Nadira menatapnya tanpa rasa takut. Arka menekan pelipisnya pelan. Ini tidak boleh berlanjut. --- Keesokan paginya, Nadira datang lebih awal seperti yang diperintahkan. Kantor masih sepi ketika ia tiba. Ia menyalakan lampu mejanya dan mulai menyiapkan agenda rapat. Belum lama ia duduk, pintu lift terbuka. Arka Mahendra keluar, jas hitam rapi, ekspresi dingin seperti biasa. “Kamu datang cepat,” ucapnya. “Iya, Pak.” “Bagus.” Arka masuk ke ruangannya, lalu berhenti di ambang pintu. “Kopi.” Nadira tersenyum kecil. “Hitam, tanpa gula.” Arka mengangguk singkat. Saat Nadira kembali membawa kopi, Arka sedang menerima telepon. Ia memberi isyarat agar Nadira menunggu. Ia berdiri di dekat meja, cukup dekat hingga bisa mendengar potongan pembicaraan Arka. “Tidak,” ucap Arka dingin. “Saya tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan.” Nadira tidak sengaja menatapnya. Arka menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali ke telepon. “Dan saya tidak tertarik.” Telepon ditutup. Nadira meletakkan kopi dengan hati-hati. “Ini kopinya, Pak.” “Terima kasih.” Saat Nadira hendak pergi, Arka berkata, “Mulai hari ini, kamu ikut saya ke setiap rapat.” Nadira menoleh. “Semua rapat, Pak?” “Ya.” Tatapan Arka tajam. “Saya ingin kamu tahu ritme kerja saya.” Ia tidak mengatakan alasan sebenarnya. Bahwa ia ingin Nadira selalu berada dalam jangkauannya. --- Siang hari, mereka berjalan berdampingan menuju ruang rapat. Beberapa karyawan menoleh, jelas penasaran. Nadira bisa merasakan aura Arka—dingin, dominan—membuat siapa pun otomatis menjaga jarak. Namun langkahnya justru disesuaikan dengan langkah Nadira, tidak terlalu cepat, tidak meninggalkannya. Sebuah gestur kecil. Nyaris tak terlihat. Namun cukup untuk membuat Nadira berpikir: CEO ini… aneh. Dan bagi Arka Mahendra, setiap menit yang ia habiskan bersama Nadira hanya memperjelas satu hal— Menjaga jarak akan semakin mustahil. Karena sekretaris yang seharusnya hanya bagian dari pekerjaannya itu… perlahan mulai menjadi hal yang paling ia perhatikan setiap hari. Sore itu, saat rapat berakhir, Arka berdiri lebih dulu dan tanpa sadar menoleh ke arah Nadira. “Pastikan semua jadwal saya besok kamu yang pegang,” ucapnya tenang. Nadira mengangguk. “Baik, Pak Direktur.” Arka melangkah pergi, tapi satu hal sudah ia sadari sepenuhnya— Sejak Nadira hadir, ruang kerjanya tidak lagi sekadar tempat bekerja. Dan menjaga batas profesional… perlahan berubah menjadi hal paling sulit yang pernah ia lakukan.Happy Reading ☺️Gedung kantor mulai sepi ketika jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Lampu-lampu sebagian telah dimatikan, menyisakan lorong panjang dengan cahaya redup yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Nadira duduk di mejanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun.Pintu ruang CEO masih tertutup.Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka.“Nadira.”Ia menoleh. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi dilonggarkan. Tampilan yang jarang ia lihat—lebih manusiawi, lebih berbahaya.“Kamu belum pulang,” katanya.“Bapak juga,” jawab Nadira pelan.Arka melangkah keluar dan menutup pintu ruangannya kembali. Kali ini, ia tidak kembali ke kursi CEO. Ia justru berjalan mendekat ke meja Nadira.“Kamu bisa pulang,” katanya, namun nada suaranya tidak benar-benar menyuruh.Nadira menelan ludah. “Tadi Bapak bilang… ada yang perlu dibicarakan.”Arka berhenti tepat di depannya.“Aku tidak i
Happy Reading ☺️Malam itu, hujan turun tanpa peringatan.Nadira masih duduk di kursinya ketika jam dinding menunjuk angka delapan. Lantai eksekutif sudah lengang. Lampu-lampu meja menyala temaram, meninggalkan bayangan panjang di koridor.Pintu ruang Arka masih tertutup.Ia menutup laptop, merapikan agenda, lalu berdiri. Baru dua langkah melangkah, suara pintu terbuka membuatnya berhenti.Arka Mahendra keluar dari ruangannya.Jasnya sudah dilepas. Kemeja putihnya digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan—tidak seperti biasanya.“Kamu belum pulang?” tanyanya.Nadira menoleh. “Saya menunggu Bapak. Ada berkas yang perlu ditandatangani.”Arka mendekat. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk disebut profesional.“Besok saja,” ucapnya pelan. “Hujan.”Seolah itu alasan yang cukup.Nadira ragu. “Saya bisa pulang sendiri, Pak.”Tatapan Arka turun sejenak—ke jemarinya yang masih menggenggam map—lalu kembali naik ke wajahnya.“Saya tidak mengulang perintah,” katanya.Nada itu tidak kera
Happy Reading ☺️Pagi itu hujan turun tipis sejak subuh, membasahi kaca gedung Mahendra Group dengan gurat-gurat air yang bergerak pelan. Nadira tiba lebih awal dari biasanya, mantel tipisnya masih lembap saat ia menggantung tas di kursi.Ia menarik napas panjang.Sudah hampir tiga minggu ia bekerja sebagai sekretaris pribadi Arka Mahendra, dan entah sejak kapan jantungnya mulai berdetak berbeda setiap kali pintu lift terbuka.Belum sempat ia menyalakan laptop, pintu ruang direktur utama terbuka.Arka keluar dengan jas abu gelap, rambut rapi, ekspresi dingin yang selalu sama—namun matanya berhenti sesaat ketika melihat Nadira sudah duduk di meja.“Kamu datang lebih pagi,” ucapnya.“Iya, Pak. Hujan, jadi saya berangkat lebih cepat.”Arka mengangguk singkat. “Bagus.”Satu kata itu selalu terdengar sederhana. Namun dari Arka Mahendra, kata bagus adalah bentuk persetujuan tertinggi.Ia masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi.Nadira baru saja membuka agenda hari ini ketika interkom menyala
Happy Reading ☺️Malam itu, kantor Mahendra Group sudah jauh lebih lengang dari biasanya.Lampu-lampu di lorong sebagian telah dimatikan, menyisakan cahaya putih redup yang membuat suasana terasa lebih sunyi. Nadira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan mata sedikit lelah. Notulen rapat hari itu hampir selesai, hanya perlu satu kali pengecekan terakhir sebelum dikirim.Di dalam ruang Direktur Utama, Arka belum keluar sejak satu jam lalu.Biasanya, Nadira tidak terlalu memikirkan jam pulang Arka. Namun entah sejak kapan, ia mulai otomatis memperhatikan—lampu ruangannya masih menyala, pintu belum terbuka, dan tidak ada tanda-tanda ia akan meninggalkan kantor dalam waktu dekat.Nadira menarik napas pelan, lalu kembali fokus.Beberapa menit kemudian, pintu kaca buram itu akhirnya terbuka.“Nadira.”Ia mendongak. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi sedikit dilonggarkan. Wajahnya tetap datar, tapi terlihat lebih lelah dari biasanya.“Iya, Pak?”“Kamu masih
Happy Reading☺️Pagi datang dengan langkah yang terlalu cepat bagi Nadira.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya yang sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak tenang—setidaknya di permukaan. Namun ada sesuatu di balik tatapannya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.Ia tidak lagi sekadar bersiap untuk bekerja.Ia bersiap untuk menghadapi dirinya sendiri.Lift kantor membawa Nadira naik dalam diam. Beberapa karyawan masuk dan keluar, menyapanya singkat. Ia membalas dengan senyum profesional yang sudah menjadi kebiasaan. Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat lantai tujuan semakin dekat.Pintu lift terbuka.Langkah pertamanya keluar terasa lebih berat dari biasanya.Di meja resepsionis, semuanya terlihat normal. Aroma kopi, suara keyboard, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Namun Nadira tahu, hari ini tidak akan sesederhana itu.Ia berjalan ke mejanya dan mulai menyalakan komputer. Belum sempat duduk sepenuhnya, suara tenang itu ter
Happy Reading ☺️ Pagi datang tanpa permisi. Nadira terbangun sebelum alarm berbunyi, matanya langsung menatap langit-langit kamar hotel. Cahaya pucat menyelinap lewat celah tirai, terlalu terang untuk pikirannya yang belum siap menghadapi hari. Ia bangun perlahan, seolah gerakan terlalu cepat bisa memecahkan sesuatu di dalam dadanya. Malam tadi masih menempel—bukan sebagai kejadian, melainkan sebagai jarak. Jarak yang terasa lebih intim daripada sentuhan. Di kamar mandi, Nadira menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah. Lebih waspada. Lebih jujur. Ia menyadari satu hal sederhana yang terlalu lama ia abaikan: menahan perasaan ternyata juga bentuk pengakuan. Sarapan berlangsung sunyi. Mereka duduk berhadapan di meja panjang restoran hotel. Ada kopi, roti panggang, dan obrolan ringan tentang jadwal hari ini. Semuanya terdengar normal. Terlalu normal. Namun di sela bunyi sendok dan cangkir, ada kata-kata yang







