แชร์

EPISODE 2 JARAK YANG TERLALU DEKAT

ผู้เขียน: Isabella Hart
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-17 09:12:17

Happy Reading ☺️

Hari pertama bekerja sebagai sekretaris pribadi Direktur Utama Mahendra Group dimulai dengan sunyi yang menekan.

Nadira duduk di mejanya sejak pukul delapan tepat. Laptop menyala, buku agenda terbuka, pena tertata rapi. Namun tak satu pun bisa menenangkan degup jantungnya yang terasa terlalu keras untuk ruangan sepi itu.

Pintu kaca buram di hadapannya—ruang Arka Mahendra—belum terbuka sejak ia datang.

Ia mencoba fokus. Membaca ulang job desk. Mengatur jadwal yang masih kosong. Menghafal struktur perusahaan. Tapi bayangan tatapan pria itu terus muncul tanpa diminta.

Dingin. Tajam. Seolah bisa menembus jarak.

Pukul delapan lewat lima belas, pintu itu akhirnya terbuka.

“Nadira.”

Satu kata. Nada rendah. Tanpa basa-basi.

“Iya, Pak Direktur.” Nadira langsung berdiri.

“Masuk.”

Ia melangkah masuk, merasakan udara ruangan itu berbeda—lebih dingin, lebih sunyi. Arka berdiri di balik meja kerjanya, memeriksa sesuatu di tablet.

“Duduk,” ucapnya singkat.

Nadira duduk di kursi di depannya, punggung tegak.

“Ini agenda hari ini,” Arka meletakkan tablet itu di hadapannya. “Rapikan. Konfirmasi ulang. Saya tidak suka perubahan mendadak.”

“Baik, Pak.”

“Dan satu hal,” lanjutnya tanpa menatap. “Saya tidak sarapan.”

Nadira mengangguk. “Saya akan siapkan—”

“Kopi hitam. Tanpa gula. Seperti kemarin.”

Nadira sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arka mengingatnya.

“Baik.”

Saat ia berdiri untuk pergi, suara Arka kembali terdengar.

“Nadira.”

Ia menoleh.

“Di kantor ini, waktu adalah segalanya,” ucap Arka tenang. “Saya tidak menunggu.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan. Namun ada sesuatu di cara Arka mengucapkannya—bukan ancaman, melainkan batas.

Nadira mengangguk mantap. “Saya mengerti, Pak.”

---

Di pantry, Nadira menyiapkan kopi dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup—melainkan karena perasaan aneh yang belum bisa ia beri nama.

Ia kembali ke ruang Arka tepat waktu.

Meja itu kosong.

Arka berdiri di dekat jendela, memunggunginya. Kota terlihat sibuk di bawah sana.

“Kopi Anda, Pak.”

“Letakkan di meja.”

Nadira menuruti, lalu berdiri menunggu.

Beberapa detik berlalu. Arka tidak bergerak.

“Kamu bisa kembali ke meja,” ucapnya akhirnya.

“Iya, Pak.”

Saat Nadira berbalik, Arka berkata pelan, nyaris seperti gumaman, “Terima kasih.”

Langkah Nadira terhenti sepersekian detik. Ia menoleh, tapi Arka sudah kembali menatap ke luar jendela.

Ia keluar dengan perasaan bingung.

Dia dingin… tapi tidak sepenuhnya.

---

Siang hari, agenda mendadak berubah. Salah satu klien penting meminta pertemuan lebih cepat.

Nadira masuk ke ruang Arka dengan cepat. “Pak Direktur, ada perubahan jadwal. Pihak—”

“Ada siapa di luar?” potong Arka tiba-tiba.

Nadira terdiam. “Maksud Bapak?”

Arka menatap ke arah pintu. “Pria yang tadi bicara denganmu.”

“Oh. Itu staf IT, Pak. Ada masalah jaringan di lantai tiga.”

Tatapan Arka mengeras sesaat. “Pastikan urusan kerja. Tidak lebih.”

Nadira mengangguk, meski heran. “Baik.”

Ia keluar dengan alis sedikit berkerut.

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tahu reaksinya barusan tidak profesional. Terlalu… personal.

Namun ia juga tahu satu hal:

Ia tidak suka ada orang lain berdiri terlalu dekat dengan Nadira.

---

Menjelang sore, Nadira menutup laptopnya setelah memastikan semua jadwal besok tersusun rapi. Ia berdiri, bersiap pulang.

Pintu ruang Arka terbuka.

“Nadira.”

“Iya, Pak?”

“Kamu pulang jam berapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun terasa aneh.

“Biasanya jam lima, Pak.”

Arka mengangguk. “Besok datang lebih pagi. Ada rapat.”

“Baik.”

Saat Nadira melangkah pergi, Arka kembali memanggilnya.

“Dan—” Ia berhenti sejenak. “Hati-hati di jalan.”

Nadira menoleh, sedikit terkejut.

“Terima kasih, Pak.”

Ia keluar dengan langkah ringan.

Arka menatap pintu yang tertutup itu cukup lama. Untuk pertama kalinya, ruang kerjanya terasa terlalu sunyi.

Ia tahu, menjaga jarak akan semakin sulit.

Karena setiap hari, Nadira berada terlalu dekat—

dan perasaan itu mulai tumbuh, diam-diam, di balik sikap dinginnya.

Jam menunjukkan hampir pukul lima sore ketika Nadira kembali ke mejanya setelah mengantarkan berkas terakhir ke bagian keuangan. Badannya terasa sedikit pegal, tapi hatinya justru lebih ringan. Hari pertama yang ia bayangkan akan penuh bentakan ternyata tidak seburuk itu.

Arka Mahendra memang dingin.

Namun ia tidak kasar.

Nadira baru saja merapikan tasnya ketika interkom di mejanya menyala.

“Nadira,” suara Arka terdengar dari seberang. “Masuk.”

Ia menahan napas sebentar sebelum berdiri dan melangkah masuk ke ruang Direktur Utama.

Arka berdiri di dekat mejanya, membuka jas hitamnya dan meletakkannya di sandaran kursi. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan kesan lelah yang jarang terlihat.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Nadira sopan.

“Kamu sudah cek agenda besok?” tanya Arka sambil membuka laptop.

“Sudah. Rapat jam sembilan dengan dewan direksi, lalu—”

“Pindahkan rapat siang ke pukul empat.”

Nadira mengangguk cepat. “Baik.”

Arka terdiam sejenak, jarinya berhenti di atas keyboard.

“Kamu belum makan siang, ya?”

Pertanyaan itu membuat Nadira terkejut. “Eh… sudah, Pak. Tadi.”

Itu bohong kecil. Ia memang belum sempat makan, tapi rasanya tidak perlu dibahas.

Arka menatapnya sekilas. Tatapan yang seolah tahu.

“Besok,” ucapnya datar, “atur waktu makanmu. Sekretaris yang pingsan di kantor itu merepotkan.”

Nada itu terdengar dingin, tapi Nadira menangkap maksud lain di baliknya.

“Baik, Pak,” jawabnya pelan.

Ia hendak melangkah keluar ketika Arka kembali berbicara.

“Nadira.”

“Iya?”

“Pekerjaan hari ini… cukup rapi.”

Itu bukan pujian terbuka. Namun cukup membuat Nadira tersenyum kecil.

“Terima kasih, Pak Direktur.”

Ia keluar dari ruangan dengan perasaan aneh—hangat, tapi juga bingung.

---

Setelah Nadira pulang, Arka masih duduk di ruang kerjanya. Lampu meja menyala redup, sementara kota di luar tampak mulai dipenuhi cahaya malam.

Ia membuka agenda besok, menatap nama Nadira yang tertera hampir di setiap catatan.

Terlalu cepat.

Ia seharusnya tidak memperhatikan sekretaris barunya sejauh ini. Ia seharusnya bersikap netral. Profesional.

Namun pikirannya terus kembali ke satu hal sederhana:

cara Nadira menatapnya tanpa rasa takut.

Arka menekan pelipisnya pelan.

Ini tidak boleh berlanjut.

---

Keesokan paginya, Nadira datang lebih awal seperti yang diperintahkan. Kantor masih sepi ketika ia tiba. Ia menyalakan lampu mejanya dan mulai menyiapkan agenda rapat.

Belum lama ia duduk, pintu lift terbuka.

Arka Mahendra keluar, jas hitam rapi, ekspresi dingin seperti biasa.

“Kamu datang cepat,” ucapnya.

“Iya, Pak.”

“Bagus.”

Arka masuk ke ruangannya, lalu berhenti di ambang pintu. “Kopi.”

Nadira tersenyum kecil. “Hitam, tanpa gula.”

Arka mengangguk singkat.

Saat Nadira kembali membawa kopi, Arka sedang menerima telepon. Ia memberi isyarat agar Nadira menunggu.

Ia berdiri di dekat meja, cukup dekat hingga bisa mendengar potongan pembicaraan Arka.

“Tidak,” ucap Arka dingin. “Saya tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan.”

Nadira tidak sengaja menatapnya.

Arka menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali ke telepon. “Dan saya tidak tertarik.”

Telepon ditutup.

Nadira meletakkan kopi dengan hati-hati. “Ini kopinya, Pak.”

“Terima kasih.”

Saat Nadira hendak pergi, Arka berkata, “Mulai hari ini, kamu ikut saya ke setiap rapat.”

Nadira menoleh. “Semua rapat, Pak?”

“Ya.” Tatapan Arka tajam. “Saya ingin kamu tahu ritme kerja saya.”

Ia tidak mengatakan alasan sebenarnya.

Bahwa ia ingin Nadira selalu berada dalam jangkauannya.

---

Siang hari, mereka berjalan berdampingan menuju ruang rapat. Beberapa karyawan menoleh, jelas penasaran.

Nadira bisa merasakan aura Arka—dingin, dominan—membuat siapa pun otomatis menjaga jarak. Namun langkahnya justru disesuaikan dengan langkah Nadira, tidak terlalu cepat, tidak meninggalkannya.

Sebuah gestur kecil. Nyaris tak terlihat.

Namun cukup untuk membuat Nadira berpikir:

CEO ini… aneh.

Dan bagi Arka Mahendra, setiap menit yang ia habiskan bersama Nadira hanya memperjelas satu hal—

Menjaga jarak akan semakin mustahil.

Karena sekretaris yang seharusnya hanya bagian dari pekerjaannya itu…

perlahan mulai menjadi hal yang paling ia perhatikan setiap hari.

Sore itu, saat rapat berakhir, Arka berdiri lebih dulu dan tanpa sadar menoleh ke arah Nadira.

“Pastikan semua jadwal saya besok kamu yang pegang,” ucapnya tenang.

Nadira mengangguk. “Baik, Pak Direktur.”

Arka melangkah pergi, tapi satu hal sudah ia sadari sepenuhnya—

Sejak Nadira hadir, ruang kerjanya tidak lagi sekadar tempat bekerja.

Dan menjaga batas profesional…

perlahan berubah menjadi hal paling sulit yang pernah ia lakukan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 35 DI BAWAH SUMPAH DAN KAMERA

    HAPPY READING 🥰 Pagi datang terlalu cepat. Nadira hampir tidak tidur sama sekali. Ia hanya sempat memejamkan mata sebentar sebelum alarm berbunyi, memaksa tubuhnya bangkit di tengah rasa lelah yang masih menggantung. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari di mana semuanya bisa runtuh—atau justru terbuka. Ia memilih pakaian dengan hati-hati. Bukan untuk terlihat cantik. Bukan untuk terlihat kuat. Tapi untuk terlihat tak tergoyahkan. Setelah menarik napas panjang, Nadira mengambil map berisi dokumen-dokumen yang semalam ia periksa ulang. Bukti transfer, email internal, rekaman rapat, catatan koreksi laporan. Semuanya ada di sana. Semuanya siap. Saat ia keluar dari apartemen, dua orang keamanan perusahaan sudah menunggunya di lobi. “Perintah langsung dari Pak Arka,” kata salah satu dari mereka. Nadira tidak membantah. Ia tahu—hari ini tidak ada yang boleh terjadi secara kebetulan. Gedung pusat Arkadia Group dipenuhi suasana tegang. Bukan hanya karyawan internal. B

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 34 HARGA DARI KEBENARAN

    Happy Reading ☺️Pengumuman resmi keluar pukul sepuluh pagi.Email dari sekretariat dewan masuk serentak ke seluruh jajaran manajerial. Nadira membacanya di ruang proyek sementara—ruangan tanpa jendela, dinding abu-abu, meja lipat yang terlalu bersih untuk disebut nyaman.Keputusan sementara:Audit forensik disetujui.Kewenangan CEO tetap berlaku.Akses tertentu dibatasi selama proses berjalan.Tidak ada nama yang jatuh hari ini.Tidak ada yang menang.Namun semua orang tahu—ini baru permulaan.Ponsel Nadira bergetar.Arka: Kamu baca?Nadira: Sudah.Arka: Tetap di ruanganmu. Jangan menemui siapa pun sendiri.Ia mengunci ponsel, menarik napas dalam-dalam. Baru sepuluh menit berlalu ketika pintu diketuk.Seorang staf keamanan berdiri di ambang. “Mbak Nadira, mohon ikut kami. Ada klarifikasi tambahan.”“Klarifikasi apa?”“Instruksi dari dewan.”Nadira berdiri. “Saya minta perwakilan legal.”Staf itu ragu sepersekian detik. “Permintaan dicatat.”Koridor menuju ruang klarifikasi lebih semp

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 33 SIDANG YANG TIDAK NETRAL

    Happy Reading ☺️Ruang komite etik terletak di lantai tertinggi—dinding kaca, meja oval panjang, dan kursi-kursi kulit yang selalu terasa lebih dingin dari suhu ruangan. Nadira melangkah masuk dengan map hitam di tangan, punggungnya tegak, wajahnya terkendali.Semua mata tertuju padanya.Arka sudah duduk di ujung meja. Tidak menoleh. Tidak memberi isyarat. Jarak itu disengaja—sebuah pementasan yang harus sempurna.Ketua komite membuka sidang tanpa basa-basi. “Agenda kita hari ini adalah klarifikasi dugaan penyalahgunaan kewenangan dan kebocoran data.”Nadira duduk di kursi yang disediakan, tepat di sisi layar presentasi. Ia meletakkan map hitam itu di depannya, menahan dorongan untuk menyentuhnya terlalu sering.“Sebelum kita mulai,” kata salah satu anggota dewan senior, suaranya halus, “kami ingin mendengar dari sekretaris CEO. Mengingat namanya beberapa kali muncul.”Nadira mengangguk. “Saya siap.”Arka tetap diam.Pertanyaan pertama datang seperti peluru kecil—tanggal, akses sistem

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 32 RUANG ARSIP B2

    Happy Reading ☺️Langkah Nadira bergema pelan di lantai beton B2. Udara di ruang arsip terasa lebih dingin, bercampur bau kertas lama dan logam. Lampu neon berkedip samar, membuat bayangan rak-rak besi memanjang seperti jeruji.Ia menghentikan langkah di depan meja kecil tempat map hitam itu tergeletak.Namanya tertulis rapi.Terlalu rapi.Nadira menarik napas, lalu membuka map itu.Di dalamnya tersusun dokumen lama—laporan audit internal, memo rapat, dan salinan kontrak yang ditandai stabilo merah. Tanggal-tanggalnya meloncat ke masa ketika Arka belum menjadi CEO. Nama-nama muncul berulang, beberapa sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.Satu foto terjepit di antara kertas-kertas itu.Arka. Lebih muda. Wajahnya lebih keras, sorot matanya tidak setenang sekarang. Di sampingnya, seorang pria yang Nadira kenali dari profil lama di intranet—mantan direktur operasional yang diberhentikan secara mendadak.Di balik foto itu, tertulis tangan:Dia memilih bertahan. Kami yang dikorbankan.Nad

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 31 JARAK YANG DIPERTONTONKAN

    Happy Reading ☺️Pagi datang terlalu cepat.Nadira tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Rambutnya terikat rapi, riasan wajahnya tipis dan netral—nyaris seperti perisai. Ia berjalan lurus menuju mejanya tanpa menoleh ke arah ruang kerja Arka di ujung koridor.Lift eksekutif terbuka.Arka keluar dengan langkah mantap. Jasnya sempurna. Wajahnya dingin. Tidak ada satu pun tanda bahwa malam tadi pernah terjadi.“Pagi,” ucapnya datar saat melewati Nadira.“Pagi, Pak.”Tidak ada tatapan. Tidak ada jeda.Profesionalitas dipertontonkan dengan rapi—terlalu rapi.Namun Nadira bisa merasakannya: kehadiran Arka yang menekan, seperti medan magnet yang dipaksa saling menjauh.Rapat dewan dimulai pukul sembilan.Nadira duduk di sisi ruang, laptop terbuka, fokus pada notulen. Satu per satu direktur datang, termasuk Alena—dengan senyum yang terlalu percaya diri.“Pagi, Nadira,” sapa Alena ringan. “Kamu terlihat… segar.”Nadira membalas dengan senyum formal. “Terima kasih.”Arka masuk terakhir. Ruan

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 30 GARIS YANG TAK LAGI DIJAGA

    Happy Reading ☺️Hujan turun pelan ketika Nadira melangkah keluar dari lift lantai eksekutif. Kantor hampir sepenuhnya gelap, hanya beberapa lampu meja yang masih menyala—tanda orang-orang penting yang belum selesai dengan urusannya.Langkahnya terhenti di depan ruang kerja Arka.Pintu tidak tertutup rapat.Ia bisa saja berbalik. Menunggu besok. Bersikap profesional seperti beberapa hari terakhir yang terasa menyiksa.Namun Nadira justru mengetuk pelan, lalu mendorong pintu.Arka berdiri membelakanginya, menatap kota dari balik dinding kaca. Jasnya tergantung di sandaran kursi, lengan kemejanya tergulung, dasinya entah diletakkan di mana. Sosoknya terlihat lebih manusia malam ini—lelah, tapi penuh tekanan yang belum dilepaskan.“Maaf,” ujar Nadira pelan. “Saya kira Bapak sudah pulang.”Arka menoleh.Tatapan mereka bertemu, dan ada jeda sepersekian detik yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.“Kamu masih di sini,” katanya. Bukan pertanyaan.Nadira mengangguk. “Laporan terakhir s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status