LOGINHappy Reading ☺️
Hari ketiga Nadira bekerja dimulai dengan perubahan kecil yang langsung terasa besar. Begitu ia tiba di kantor, meja kerjanya sudah dipenuhi catatan tambahan—jadwal rapat mendadak, revisi kontrak, dan satu memo bertuliskan tangan. Prioritas. Tangani sendiri. — A Nadira menatap tulisan itu beberapa detik. Ia belum terbiasa dengan kebiasaan Arka Mahendra meninggalkan instruksi singkat tanpa penjelasan. Namun satu hal ia pelajari cepat: CEO itu tidak suka diulang. Ia segera bekerja. --- Pukul sepuluh pagi, seorang wanita muncul di area sekretariat. Penampilannya mencolok—gaun merah marun, sepatu hak tinggi, rambut terurai rapi. Senyumnya percaya diri, seolah tempat ini bukan hal baru baginya. “Maaf,” ucap wanita itu, menatap Nadira dari ujung kepala sampai kaki. “Saya mau bertemu Pak Arka.” Nadira berdiri sopan. “Apakah ada janji sebelumnya?” Wanita itu tersenyum tipis. “Tidak perlu. Katakan saja Alina datang.” Nadira ragu sejenak, lalu mengangguk. “Mohon tunggu sebentar.” Ia masuk ke ruang Arka dan menyampaikan nama itu. Arka yang sedang menandatangani dokumen langsung berhenti. “Siapa?” tanyanya, nada suaranya mengeras. “Alina, Pak.” Rahang Arka mengencang. “Saya tidak menerima tamu.” Nadira terdiam. “Baik, Pak.” Saat ia berbalik pergi, Arka menambahkan, “Dan jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.” Nadira mengangguk, meski bingung dengan kontradiksi itu. --- Di luar, Alina berdiri menyilangkan tangan. “Beliau tidak bisa menemui Anda sekarang,” ucap Nadira profesional. Alina tertawa kecil. “Kamu sekretaris barunya, ya?” “Iya.” “Pantas.” Tatapan Alina menyipit. “Dia selalu suka yang… rapi.” Nadira tidak membalas. Ia hanya tersenyum sopan. Namun sebelum Alina pergi, wanita itu mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik, “Hati-hati. Arka bukan pria yang mudah dilepaskan.” Nadira menatap punggung Alina yang menjauh dengan alis berkerut. Apa maksudnya? --- Di dalam ruangannya, Arka berdiri di dekat jendela. Tangannya mengepal perlahan. Ia tidak menyukai kehadiran Alina. Lebih tepatnya—ia tidak menyukai cara Alina menatap Nadira. Ia menekan tombol interkom. “Nadira.” “Iya, Pak.” “Masuk.” --- Begitu Nadira masuk, Arka menatapnya lebih lama dari biasanya. “Dia bilang apa?” tanya Arka akhirnya. “Tidak banyak,” jawab Nadira jujur. “Hanya ingin bertemu.” Arka mengangguk singkat. “Jika dia datang lagi, katakan saya tidak ada.” “Baik.” Nadira hendak pergi ketika Arka berkata pelan, “Dan satu hal.” Ia menoleh. “Di kantor ini, tidak semua orang datang dengan niat baik.” Nada Arka datar, tapi tegas. Protektif—meski ia tidak menyebutnya begitu. Nadira mengangguk. “Saya mengerti, Pak.” Namun saat ia keluar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. --- Siang hari, Nadira sibuk menyiapkan materi presentasi. Seorang manajer muda dari divisi pemasaran menghampirinya. “Kamu sekretaris Pak Arka, ya?” tanyanya ramah. “Iya.” “Kalau begitu, kamu pasti sibuk. Tapi kalau sempat—” “Nadira.” Suara Arka memotong percakapan itu dari ambang pintu ruangannya. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke arah pria tersebut. “Dia sedang bekerja,” lanjut Arka dingin. “Ada yang bisa saya bantu?” Manajer itu langsung canggung. “Tidak, Pak. Maaf.” Begitu pria itu pergi, Nadira menoleh ke Arka. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Arka menatap layar laptopnya. “Masuk. Kita lanjutkan laporan.” Nada itu terdengar biasa. Namun Nadira menangkap sesuatu yang berbeda. Sejak kapan beliau memperhatikan percakapan di luar? --- Sore hari, hujan turun deras. Nadira menutup laptopnya, bersiap pulang. Namun Arka masih berdiri di ruangannya. “Kamu pulang naik apa?” tanyanya tiba-tiba. “Bus, Pak.” Arka terdiam. “Saya antar.” Nadira terkejut. “Tidak perlu, Pak.” “Itu bukan pertanyaan.” Nada itu tegas. Tidak membuka ruang penolakan. --- Di dalam mobil, suasana sunyi. Hujan memukul kaca, lampu kota memantul samar. “Kamu terbiasa pulang sendiri?” tanya Arka tanpa menoleh. “Iya.” “Hm.” Hanya itu. Namun ketika mobil berhenti di depan kos Nadira, Arka berkata pelan, “Besok datang seperti biasa.” Nadira membuka pintu. “Terima kasih, Pak.” Ia menutup pintu dan berdiri di bawah hujan ringan, menatap mobil hitam itu pergi. Di dadanya, ada perasaan asing yang mulai tumbuh. Dan di balik kemudi, Arka Mahendra akhirnya mengakui satu hal— Ia tidak lagi bersikap dingin karena profesional. Ia bersikap dingin karena takut ketahuan peduli. Malam itu, Nadira sulit tidur. Suara hujan masih terngiang di kepalanya, bercampur dengan bayangan Arka Mahendra yang duduk diam di balik kemudi mobil. Cara pria itu tidak banyak bicara. Cara ia menatap lurus ke depan seolah segalanya terkendali, padahal Nadira bisa merasakan ada sesuatu yang ditahan. Ia membalikkan badan, menatap langit-langit kamar kos. Kenapa aku kepikiran begini? Arka adalah atasannya. CEO. Pria dingin yang jelas tidak bisa disentuh dunia Nadira. Ia menutup mata, memaksa pikirannya berhenti. --- Keesokan paginya, suasana kantor terasa sedikit berbeda. Begitu Nadira tiba, beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Ada bisikan-bisikan kecil yang terhenti begitu ia lewat. Ia berpura-pura tidak menyadarinya, meski perasaan tidak nyaman mulai muncul. “Nadira.” Ia menoleh. Sekretaris senior dari divisi lain berdiri sambil membawa map. “Kamu ikut Pak Arka pulang kemarin, ya?” Nadira terkejut. “Eh… iya. Beliau kebetulan lewat.” Wanita itu tersenyum tipis. “Hati-hati. Orang-orang cepat salah paham.” Nadira mengangguk pelan. “Terima kasih.” Namun perasaan itu tidak menghilang. --- Belum sempat ia duduk, pintu ruang Arka terbuka. “Nadira. Masuk.” Nada suaranya tetap sama—dingin, datar. Namun Nadira menangkap tatapan sekilas yang memastikan dirinya baik-baik saja. “Agenda hari ini berubah,” ucap Arka begitu Nadira masuk. “Ada pertemuan mendadak dengan investor.” “Baik, Pak.” “Kamu ikut.” Nadira mengangguk, meski ia tahu tatapan-tatapan itu akan semakin tajam. --- Di ruang rapat, suasana formal langsung menyelimuti mereka. Arka duduk di kursi utama, Nadira di sampingnya, laptop terbuka, dokumen siap. Sepanjang rapat, Arka nyaris tidak menoleh. Namun setiap kali Nadira menyodorkan berkas, jari mereka nyaris bersentuhan—cukup dekat untuk membuat Nadira menahan napas. Seorang investor menatap mereka berdua dan tersenyum tipis. “Sekretaris baru, Pak Arka?” “Iya,” jawab Arka singkat. “Cepat sekali Anda percaya.” Arka menatap pria itu dingin. “Saya tahu apa yang saya lakukan.” Nada itu membuat ruangan senyap sejenak. Nadira menelan ludah. --- Setelah rapat usai, Nadira berjalan sedikit di belakang Arka. Begitu pintu lift tertutup, Arka tiba-tiba berkata, “Apakah ada yang mengganggumu?” Nadira menoleh. “Tidak, Pak.” Tatapan Arka menajam. “Kamu yakin?” Ia ragu sejenak, lalu menjawab jujur, “Hanya… ada beberapa orang yang bertanya.” Arka terdiam. Lift bergerak turun perlahan. “Mulai sekarang,” ucapnya akhirnya, “jika ada yang bicara tidak pantas, laporkan ke saya.” Nada itu bukan perintah keras. Lebih seperti janji. Nadira mengangguk pelan. “Baik, Pak.” --- Siang hari, Nadira duduk di pantry sendirian, menatap makanannya yang belum tersentuh. Pikirannya terlalu penuh. “Boleh duduk?” Ia menoleh. Manajer pemasaran yang kemarin sempat disela Arka berdiri canggung. “Oh… silakan.” Pria itu tersenyum. “Maaf soal kemarin. Saya tidak bermaksud mengganggu.” “Tidak apa-apa.” “Kamu terlihat… nyaman bekerja dengan Pak Arka.” Nadira mengangkat bahu. “Beliau profesional.” Pria itu tertawa kecil. “Profesional, ya.” Belum sempat ia melanjutkan, suara yang sudah Nadira kenal terdengar dari belakang. “Nadira.” Ia menoleh. Arka berdiri di ambang pintu pantry. Tatapannya tidak ramah. “Kita ada rapat lanjutan.” “Sekarang, Pak?” “Sekarang.” Tanpa menunggu jawaban lain, Arka berbalik pergi. Manajer itu tersenyum kikuk. “Sepertinya kamu dipanggil.” Nadira berdiri cepat. “Permisi.” Begitu mereka masuk ke ruang Arka, pintu tertutup pelan. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun ke siapa pun,” ucap Arka datar. Nadira terdiam. “Saya hanya—” “Saya tahu.” Arka menatapnya lurus. “Dan saya tidak suka orang lain mengganggumu saat jam kerja.” Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat. “Pak Direktur,” ucap Nadira pelan, “saya baik-baik saja.” Arka menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar atasan. “Aku tahu,” katanya pelan—lalu berhenti. Ia kembali menarik jarak. “Kamu boleh kembali ke meja.” --- Sore menjelang, hujan kembali turun. Nadira menyelesaikan pekerjaannya dengan rapi. Saat ia berdiri untuk pulang, interkom berbunyi. “Nadira.” “Iya, Pak?” “Kamu bisa pulang lebih awal hari ini.” Nadira terkejut. “Terima kasih, Pak.” Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju lift. Namun sebelum pintu tertutup, Arka berdiri di kejauhan, menatapnya. Tatapan itu berbeda. Tidak dingin. Tidak keras. Lebih… khawatir. Lift tertutup. Dan untuk pertama kalinya, Nadira merasakan sesuatu yang membuat dadanya menghangat—perasaan yang belum ia pahami sepenuhnya. Sementara di ruang kerjanya, Arka Mahendra berdiri diam, menyadari satu kebenaran yang tak bisa lagi ia abaikan— Batas profesional itu mulai retak. Dan jika ia tidak berhati-hati, sekretarisnya bukan lagi sekadar bagian dari pekerjaannya.HAPPY READING 🥰 Pagi datang terlalu cepat. Nadira hampir tidak tidur sama sekali. Ia hanya sempat memejamkan mata sebentar sebelum alarm berbunyi, memaksa tubuhnya bangkit di tengah rasa lelah yang masih menggantung. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari di mana semuanya bisa runtuh—atau justru terbuka. Ia memilih pakaian dengan hati-hati. Bukan untuk terlihat cantik. Bukan untuk terlihat kuat. Tapi untuk terlihat tak tergoyahkan. Setelah menarik napas panjang, Nadira mengambil map berisi dokumen-dokumen yang semalam ia periksa ulang. Bukti transfer, email internal, rekaman rapat, catatan koreksi laporan. Semuanya ada di sana. Semuanya siap. Saat ia keluar dari apartemen, dua orang keamanan perusahaan sudah menunggunya di lobi. “Perintah langsung dari Pak Arka,” kata salah satu dari mereka. Nadira tidak membantah. Ia tahu—hari ini tidak ada yang boleh terjadi secara kebetulan. Gedung pusat Arkadia Group dipenuhi suasana tegang. Bukan hanya karyawan internal. B
Happy Reading ☺️Pengumuman resmi keluar pukul sepuluh pagi.Email dari sekretariat dewan masuk serentak ke seluruh jajaran manajerial. Nadira membacanya di ruang proyek sementara—ruangan tanpa jendela, dinding abu-abu, meja lipat yang terlalu bersih untuk disebut nyaman.Keputusan sementara:Audit forensik disetujui.Kewenangan CEO tetap berlaku.Akses tertentu dibatasi selama proses berjalan.Tidak ada nama yang jatuh hari ini.Tidak ada yang menang.Namun semua orang tahu—ini baru permulaan.Ponsel Nadira bergetar.Arka: Kamu baca?Nadira: Sudah.Arka: Tetap di ruanganmu. Jangan menemui siapa pun sendiri.Ia mengunci ponsel, menarik napas dalam-dalam. Baru sepuluh menit berlalu ketika pintu diketuk.Seorang staf keamanan berdiri di ambang. “Mbak Nadira, mohon ikut kami. Ada klarifikasi tambahan.”“Klarifikasi apa?”“Instruksi dari dewan.”Nadira berdiri. “Saya minta perwakilan legal.”Staf itu ragu sepersekian detik. “Permintaan dicatat.”Koridor menuju ruang klarifikasi lebih semp
Happy Reading ☺️Ruang komite etik terletak di lantai tertinggi—dinding kaca, meja oval panjang, dan kursi-kursi kulit yang selalu terasa lebih dingin dari suhu ruangan. Nadira melangkah masuk dengan map hitam di tangan, punggungnya tegak, wajahnya terkendali.Semua mata tertuju padanya.Arka sudah duduk di ujung meja. Tidak menoleh. Tidak memberi isyarat. Jarak itu disengaja—sebuah pementasan yang harus sempurna.Ketua komite membuka sidang tanpa basa-basi. “Agenda kita hari ini adalah klarifikasi dugaan penyalahgunaan kewenangan dan kebocoran data.”Nadira duduk di kursi yang disediakan, tepat di sisi layar presentasi. Ia meletakkan map hitam itu di depannya, menahan dorongan untuk menyentuhnya terlalu sering.“Sebelum kita mulai,” kata salah satu anggota dewan senior, suaranya halus, “kami ingin mendengar dari sekretaris CEO. Mengingat namanya beberapa kali muncul.”Nadira mengangguk. “Saya siap.”Arka tetap diam.Pertanyaan pertama datang seperti peluru kecil—tanggal, akses sistem
Happy Reading ☺️Langkah Nadira bergema pelan di lantai beton B2. Udara di ruang arsip terasa lebih dingin, bercampur bau kertas lama dan logam. Lampu neon berkedip samar, membuat bayangan rak-rak besi memanjang seperti jeruji.Ia menghentikan langkah di depan meja kecil tempat map hitam itu tergeletak.Namanya tertulis rapi.Terlalu rapi.Nadira menarik napas, lalu membuka map itu.Di dalamnya tersusun dokumen lama—laporan audit internal, memo rapat, dan salinan kontrak yang ditandai stabilo merah. Tanggal-tanggalnya meloncat ke masa ketika Arka belum menjadi CEO. Nama-nama muncul berulang, beberapa sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.Satu foto terjepit di antara kertas-kertas itu.Arka. Lebih muda. Wajahnya lebih keras, sorot matanya tidak setenang sekarang. Di sampingnya, seorang pria yang Nadira kenali dari profil lama di intranet—mantan direktur operasional yang diberhentikan secara mendadak.Di balik foto itu, tertulis tangan:Dia memilih bertahan. Kami yang dikorbankan.Nad
Happy Reading ☺️Pagi datang terlalu cepat.Nadira tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Rambutnya terikat rapi, riasan wajahnya tipis dan netral—nyaris seperti perisai. Ia berjalan lurus menuju mejanya tanpa menoleh ke arah ruang kerja Arka di ujung koridor.Lift eksekutif terbuka.Arka keluar dengan langkah mantap. Jasnya sempurna. Wajahnya dingin. Tidak ada satu pun tanda bahwa malam tadi pernah terjadi.“Pagi,” ucapnya datar saat melewati Nadira.“Pagi, Pak.”Tidak ada tatapan. Tidak ada jeda.Profesionalitas dipertontonkan dengan rapi—terlalu rapi.Namun Nadira bisa merasakannya: kehadiran Arka yang menekan, seperti medan magnet yang dipaksa saling menjauh.Rapat dewan dimulai pukul sembilan.Nadira duduk di sisi ruang, laptop terbuka, fokus pada notulen. Satu per satu direktur datang, termasuk Alena—dengan senyum yang terlalu percaya diri.“Pagi, Nadira,” sapa Alena ringan. “Kamu terlihat… segar.”Nadira membalas dengan senyum formal. “Terima kasih.”Arka masuk terakhir. Ruan
Happy Reading ☺️Hujan turun pelan ketika Nadira melangkah keluar dari lift lantai eksekutif. Kantor hampir sepenuhnya gelap, hanya beberapa lampu meja yang masih menyala—tanda orang-orang penting yang belum selesai dengan urusannya.Langkahnya terhenti di depan ruang kerja Arka.Pintu tidak tertutup rapat.Ia bisa saja berbalik. Menunggu besok. Bersikap profesional seperti beberapa hari terakhir yang terasa menyiksa.Namun Nadira justru mengetuk pelan, lalu mendorong pintu.Arka berdiri membelakanginya, menatap kota dari balik dinding kaca. Jasnya tergantung di sandaran kursi, lengan kemejanya tergulung, dasinya entah diletakkan di mana. Sosoknya terlihat lebih manusia malam ini—lelah, tapi penuh tekanan yang belum dilepaskan.“Maaf,” ujar Nadira pelan. “Saya kira Bapak sudah pulang.”Arka menoleh.Tatapan mereka bertemu, dan ada jeda sepersekian detik yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.“Kamu masih di sini,” katanya. Bukan pertanyaan.Nadira mengangguk. “Laporan terakhir s







