LOGIN
Happy Reading ☺️
Hari itu seharusnya biasa saja. Nadira berdiri di depan gedung Mahendra Group dengan map cokelat di tangan dan napas yang sedikit tertahan. Gedung itu menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan langit pagi yang kelabu. Ia menatap pintu masuknya selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ini kesempatan terakhir, Nadira. Jangan gugup. Jangan gagal. Ia melangkah masuk, sepatu hak rendahnya berdenting pelan di lantai marmer. Aroma kopi dan pendingin ruangan menyambutnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah serius, setelan rapi, dan langkah cepat—dunia yang terasa asing tapi menantang. Saat Nadira hampir mencapai meja resepsionis, sebuah benturan kecil terjadi. “Ah—maaf!” Map di tangannya hampir terjatuh jika sebuah tangan besar tidak lebih dulu menahannya. Nadira mendongak. Dan di sanalah semuanya berubah. Pria di depannya tinggi, berwajah tegas dengan rahang kokoh dan mata gelap yang menatapnya tanpa berkedip. Setelan hitamnya sederhana tapi mahal. Auranya… dingin. Tenang. Mengintimidasi. “Tidak apa-apa,” ucap Nadira cepat, gugup. Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya seolah menelusuri wajah Nadira, berhenti terlalu lama untuk ukuran orang asing. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, dalam, seakan sedang mengunci sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan. “Apa kamu terluka?” tanyanya akhirnya, suara rendah dan datar. Nadira menggeleng. “Tidak. Terima kasih.” Pria itu menyerahkan mapnya. Ujung jarinya hampir menyentuh kulit Nadira. Sentuhan singkat, nyaris tak terasa—namun cukup membuat Nadira menegang tanpa alasan jelas. “Semoga wawancaranya lancar,” ucap pria itu singkat sebelum melangkah pergi. Nadira menatap punggungnya yang menjauh, masih sedikit linglung. Aneh… Kenapa dadanya terasa sesak? Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir perasaan tak masuk akal itu, lalu melanjutkan langkah menuju resepsionis. Ia tidak tahu. Pria yang baru saja ia temui adalah Arka Mahendra—Direktur Utama Mahendra Group. Dan sejak tatapan pertama itu, Arka tahu satu hal dengan sangat jelas: Ia tidak ingin kehilangan perempuan itu. Wawancara berjalan lebih menegangkan dari yang Nadira bayangkan. Pertanyaan datang bertubi-tubi—tentang pengalaman, ketahanan mental, hingga kesiapan bekerja di bawah tekanan. Namun Nadira menjawab semuanya dengan jujur dan tenang. Dua hari kemudian, sebuah email masuk ke kotak pesannya. Selamat, Anda diterima sebagai Sekretaris Direktur Utama. Nadira menutup mulutnya, menahan teriakan kecil yang hampir lolos. Tangannya gemetar saat membaca ulang email itu berkali-kali. Ia berhasil. Hari pertama bekerja, Nadira datang lebih pagi. Seragam kerja rapi, rambut tersanggul sederhana. Ia berdiri di meja sekretaris yang terletak tepat di depan ruang Direktur Utama. Saat pintu ruang itu terbuka, langkah kaki berat terdengar. Nadira mendongak. Dan napasnya seakan tertahan. Pria itu. Pria yang pernah bertabrakan dengannya. Ia berdiri dari kursinya. “Selamat pagi, Pak.” Tatapan itu kembali. Tatapan yang sama. Dingin, tenang, namun membuat Nadira merasa seperti sedang diperhatikan lebih dari seharusnya. “Pagi,” jawab Arka singkat. “Kamu sekretaris baru?” “Iya, Pak. Nama saya Nadira.” Arka mengangguk kecil. “Arka Mahendra.” Nadira membeku sesaat. Direktur… utama? Jadi pria itu— “Silakan duduk,” ucap Arka dingin, lalu melangkah masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi. Nadira duduk perlahan, jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia tidak tahu mengapa, tapi berada sedekat ini dengan atasannya membuatnya tidak nyaman… sekaligus bingung. Di balik pintu kaca buram ruang kerjanya, Arka berdiri memunggungi meja. Tangannya mengepal pelan. Takdir benar-benar punya selera humor yang buruk. Perempuan yang sejak dua hari lalu tak bisa ia lupakan… kini berada tepat di luar ruangannya. Menjadi sekretaris pribadinya. Dan Arka tahu, menjaga jarak profesional dengan Nadira— akan menjadi pertarungan paling sulit dalam hidupnya. Di luar ruangannya, Nadira berusaha menenangkan diri. Ia membuka laptop, menyusun agenda hari itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Kenapa dia harus jadi atasanku? Nadira menghela napas pelan. Ia tidak boleh bersikap aneh. Pria itu—Arka Mahendra—adalah Direktur Utama, dan ia hanyalah sekretaris baru. Tidak lebih. Beberapa menit kemudian, telepon meja berdering. “Nadira.” Suara itu terdengar dari balik gagang, datar dan singkat. “Iya, Pak.” “Masuk.” Nadira berdiri, merapikan blazer, lalu melangkah masuk ke ruangan Arka. Ruangan itu lebih dingin dari yang ia bayangkan. Dinding abu-abu gelap, meja kerja besar, jendela tinggi dengan pemandangan kota. Arka berdiri membelakangi meja, menatap keluar jendela. “Kamu sudah baca kontrak kerja?” tanyanya tanpa menoleh. “Sudah, Pak.” “Kamu tahu jam kerja di posisi ini tidak mengenal waktu?” “Iya.” “Kamu tahu tekanan dan tuntutannya?” “Iya.” Arka akhirnya berbalik. Tatapannya menelusuri wajah Nadira, seakan mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jawaban formal. “Kalau begitu, satu hal lagi,” ucapnya pelan. “Saya tidak menyukai kesalahan.” Nadira menegakkan bahu. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak.” Bukan jawaban yang berlebihan. Tidak defensif. Tidak takut. Untuk sesaat, Arka terdiam. Menarik. “Kamu bisa mulai dengan menyusun ulang agenda saya minggu ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah map. “Ada beberapa jadwal yang ingin saya ubah.” “Baik, Pak.” Saat Nadira menerima map itu, jari mereka kembali bersentuhan—singkat, nyaris tidak disengaja. Namun Arka menarik tangannya lebih cepat dari sebelumnya. “Keluar,” ucapnya dingin. Nadira mengangguk dan segera keluar, tidak menyadari bahwa di balik ekspresi datar Arka, ada napas yang tertahan. Ini tidak seharusnya seperti ini. Arka duduk di kursinya, menyandarkan punggung, menutup mata sejenak. Ia jarang—bahkan hampir tidak pernah—terganggu oleh kehadiran orang lain. Namun sejak pagi, fokusnya pecah. Sekretarisnya. Perempuan itu. Ia membuka mata, menatap pintu kaca buram di depannya. Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal paling tidak rasional yang pernah ia alami. Dan lebih buruknya lagi, ia tidak bisa mengabaikannya. Sementara itu, di mejanya, Nadira bekerja dengan penuh konsentrasi. Ia mencocokkan jadwal rapat, menelpon beberapa pihak, dan menyusun ulang agenda Arka dengan teliti. Setiap kali pintu ruang Direktur terbuka, refleks Nadira selalu menegang. Kenapa aku segugup ini? Saat jam makan siang tiba, Nadira belum beranjak dari kursinya. Ia masih memeriksa ulang email dan catatan rapat. “Kamu tidak makan?” Suara itu datang tiba-tiba. Nadira mendongak. Arka berdiri di depannya. “Ah… sebentar lagi, Pak.” Arka mengamati meja Nadira yang penuh catatan. “Jangan biasakan melewatkan makan.” “Itu urusan saya, Pak,” jawab Nadira refleks, lalu langsung menyesal. Ia menunduk. “Maaf.” Arka terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Sepuluh menit. Setelah itu lanjutkan.” Nadira mengangguk cepat. Saat Arka kembali masuk ke ruangannya, Nadira menatap punggungnya dengan perasaan aneh. Dingin. Tegas. Menyebalkan. Tapi… perhatian? Nadira menggeleng kecil, menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Di dalam ruangannya, Arka berdiri kembali di depan jendela. Bibirnya terkatup rapat. Ia baru saja melanggar prinsipnya sendiri. Mencampuri urusan pribadi karyawan. Dan itu semua karena satu orang bernama Nadira. Hari pertama itu berakhir tanpa insiden besar. Namun saat Nadira membereskan mejanya dan bersiap pulang, Arka memanggilnya sekali lagi. “Besok datang lebih pagi,” katanya. “Baik, Pak.” Arka menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum berkata, “Kamu… bekerja dengan baik hari ini.” Itu bukan pujian yang berlebihan. Tapi cukup membuat Nadira terkejut. “Terima kasih, Pak.” Saat Nadira melangkah pergi, Arka menatap pintu yang tertutup perlahan. Hari pertama saja sudah begini. Ia tahu satu hal dengan pasti— Hubungan profesional ini tidak akan sesederhana yang ia harapkan. Nadira berjalan menuju lift dengan langkah pelan. Hari pertama kerja itu terasa jauh lebih melelahkan dari yang ia perkirakan—bukan karena tugasnya, tapi karena keberadaan Arka Mahendra yang entah kenapa terus memenuhi pikirannya. Ia menekan tombol lift, menunggu pintu tertutup. Di dalam, ia menyandarkan punggung ke dinding, menghembuskan napas panjang. “Aneh,” gumamnya pelan. “Kenapa cuma tatapan saja rasanya seperti dia selalu… mengawasi?” Nadira menggeleng, mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Ia hanya sekretaris baru. Terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun. Namun di lantai atas, Arka masih berada di ruang kerjanya meski jam kerja telah usai. Ia berdiri di dekat meja, menatap agenda yang sudah disusun rapi oleh Nadira. Terlalu rapi. Terlalu teliti. Arka menutup map itu perlahan. Sekretaris sebelumnya bekerja dengan baik, tapi tidak pernah membuatnya merasa kehilangan kendali seperti ini. Nadira berbeda—tenang, cerdas, dan tanpa sadar menembus pertahanannya yang selama ini kokoh. Ia mengambil ponselnya, berniat pergi, lalu berhenti. Arka menatap kursi sekretaris di luar ruangannya melalui kaca buram. “Ini baru hari pertama,” ucapnya lirih. “Dan aku sudah ceroboh.” Namun jauh di dalam hatinya, Arka tahu— ia tidak sedang ingin berhati-hati. Ia justru penasaran… seberapa lama Nadira bisa tetap menjadi sekadar sekretaris baginya.Happy Reading ☺️Gedung kantor mulai sepi ketika jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Lampu-lampu sebagian telah dimatikan, menyisakan lorong panjang dengan cahaya redup yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Nadira duduk di mejanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun.Pintu ruang CEO masih tertutup.Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka.“Nadira.”Ia menoleh. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi dilonggarkan. Tampilan yang jarang ia lihat—lebih manusiawi, lebih berbahaya.“Kamu belum pulang,” katanya.“Bapak juga,” jawab Nadira pelan.Arka melangkah keluar dan menutup pintu ruangannya kembali. Kali ini, ia tidak kembali ke kursi CEO. Ia justru berjalan mendekat ke meja Nadira.“Kamu bisa pulang,” katanya, namun nada suaranya tidak benar-benar menyuruh.Nadira menelan ludah. “Tadi Bapak bilang… ada yang perlu dibicarakan.”Arka berhenti tepat di depannya.“Aku tidak i
Happy Reading ☺️Malam itu, hujan turun tanpa peringatan.Nadira masih duduk di kursinya ketika jam dinding menunjuk angka delapan. Lantai eksekutif sudah lengang. Lampu-lampu meja menyala temaram, meninggalkan bayangan panjang di koridor.Pintu ruang Arka masih tertutup.Ia menutup laptop, merapikan agenda, lalu berdiri. Baru dua langkah melangkah, suara pintu terbuka membuatnya berhenti.Arka Mahendra keluar dari ruangannya.Jasnya sudah dilepas. Kemeja putihnya digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan—tidak seperti biasanya.“Kamu belum pulang?” tanyanya.Nadira menoleh. “Saya menunggu Bapak. Ada berkas yang perlu ditandatangani.”Arka mendekat. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk disebut profesional.“Besok saja,” ucapnya pelan. “Hujan.”Seolah itu alasan yang cukup.Nadira ragu. “Saya bisa pulang sendiri, Pak.”Tatapan Arka turun sejenak—ke jemarinya yang masih menggenggam map—lalu kembali naik ke wajahnya.“Saya tidak mengulang perintah,” katanya.Nada itu tidak kera
Happy Reading ☺️Pagi itu hujan turun tipis sejak subuh, membasahi kaca gedung Mahendra Group dengan gurat-gurat air yang bergerak pelan. Nadira tiba lebih awal dari biasanya, mantel tipisnya masih lembap saat ia menggantung tas di kursi.Ia menarik napas panjang.Sudah hampir tiga minggu ia bekerja sebagai sekretaris pribadi Arka Mahendra, dan entah sejak kapan jantungnya mulai berdetak berbeda setiap kali pintu lift terbuka.Belum sempat ia menyalakan laptop, pintu ruang direktur utama terbuka.Arka keluar dengan jas abu gelap, rambut rapi, ekspresi dingin yang selalu sama—namun matanya berhenti sesaat ketika melihat Nadira sudah duduk di meja.“Kamu datang lebih pagi,” ucapnya.“Iya, Pak. Hujan, jadi saya berangkat lebih cepat.”Arka mengangguk singkat. “Bagus.”Satu kata itu selalu terdengar sederhana. Namun dari Arka Mahendra, kata bagus adalah bentuk persetujuan tertinggi.Ia masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi.Nadira baru saja membuka agenda hari ini ketika interkom menyala
Happy Reading ☺️Malam itu, kantor Mahendra Group sudah jauh lebih lengang dari biasanya.Lampu-lampu di lorong sebagian telah dimatikan, menyisakan cahaya putih redup yang membuat suasana terasa lebih sunyi. Nadira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan mata sedikit lelah. Notulen rapat hari itu hampir selesai, hanya perlu satu kali pengecekan terakhir sebelum dikirim.Di dalam ruang Direktur Utama, Arka belum keluar sejak satu jam lalu.Biasanya, Nadira tidak terlalu memikirkan jam pulang Arka. Namun entah sejak kapan, ia mulai otomatis memperhatikan—lampu ruangannya masih menyala, pintu belum terbuka, dan tidak ada tanda-tanda ia akan meninggalkan kantor dalam waktu dekat.Nadira menarik napas pelan, lalu kembali fokus.Beberapa menit kemudian, pintu kaca buram itu akhirnya terbuka.“Nadira.”Ia mendongak. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi sedikit dilonggarkan. Wajahnya tetap datar, tapi terlihat lebih lelah dari biasanya.“Iya, Pak?”“Kamu masih
Happy Reading☺️Pagi datang dengan langkah yang terlalu cepat bagi Nadira.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya yang sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak tenang—setidaknya di permukaan. Namun ada sesuatu di balik tatapannya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.Ia tidak lagi sekadar bersiap untuk bekerja.Ia bersiap untuk menghadapi dirinya sendiri.Lift kantor membawa Nadira naik dalam diam. Beberapa karyawan masuk dan keluar, menyapanya singkat. Ia membalas dengan senyum profesional yang sudah menjadi kebiasaan. Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat lantai tujuan semakin dekat.Pintu lift terbuka.Langkah pertamanya keluar terasa lebih berat dari biasanya.Di meja resepsionis, semuanya terlihat normal. Aroma kopi, suara keyboard, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Namun Nadira tahu, hari ini tidak akan sesederhana itu.Ia berjalan ke mejanya dan mulai menyalakan komputer. Belum sempat duduk sepenuhnya, suara tenang itu ter
Happy Reading ☺️ Pagi datang tanpa permisi. Nadira terbangun sebelum alarm berbunyi, matanya langsung menatap langit-langit kamar hotel. Cahaya pucat menyelinap lewat celah tirai, terlalu terang untuk pikirannya yang belum siap menghadapi hari. Ia bangun perlahan, seolah gerakan terlalu cepat bisa memecahkan sesuatu di dalam dadanya. Malam tadi masih menempel—bukan sebagai kejadian, melainkan sebagai jarak. Jarak yang terasa lebih intim daripada sentuhan. Di kamar mandi, Nadira menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah. Lebih waspada. Lebih jujur. Ia menyadari satu hal sederhana yang terlalu lama ia abaikan: menahan perasaan ternyata juga bentuk pengakuan. Sarapan berlangsung sunyi. Mereka duduk berhadapan di meja panjang restoran hotel. Ada kopi, roti panggang, dan obrolan ringan tentang jadwal hari ini. Semuanya terdengar normal. Terlalu normal. Namun di sela bunyi sendok dan cangkir, ada kata-kata yang







