MasukHmmm ... Makin nekat. Lampu hijau kayaknya sebentar lagi menyala ...🥰🥰🥰
Ellena hanya menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh. Alih-alih mereda, ekspresi wajahnya justru terlihat semakin garang. Mungkin ada 10 tanduk yang keluar. Alan mulai panik. Dia melangkah mendekat, mencoba merayu dengan jurus lain. “Atau kamu bosan di rumah? Bagaimana kalau besok kita berangkat liburan? Kamu boleh pilih mau keliling Eropa dua bulan, atau mau kubelikan pulau pribadi di biar kita bisa berdua saja tanpa gangguan si sialan Ivan? Katakan saja, semua asetku bebas kamu pakai.” Bukannya senang, Ellena malah mendengkus ketus. Dia merogoh saku dress rumah yang dipakainya, lalu menyodorkan sebuah amplop putih berukuran sedang tepat di depan dada Alan. “Lihat sendiri! Aku tidak menyangka, ternyata sekarang sudah ada orang ketiga di antara hubungan kita!” Mendengar kata 'orang ketiga', wajah Alan seketika memucat. Jantungnya serasa berhenti berdetak dan rasa takut setengah mati langsung menyerangnya. Dia menerima amplop itu dengan tangan mendadak dingin
Alan mengangkat tangan, lalu dengan lembut mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi Ellena menggunakan ibu jarinya. “Aku tidak apa-apa, Sayang.”Kakek Adhinata perlahan bangkit berdiri. Beliau menatap cucunya. “Alan, Kakek cuma punya satu jantung dan itu pun sudah sekarat. Jangan buat orang khawatir setengah mati lagi.”Alan menoleh pada kakeknya, lalu menundukkan kepalanya sedikit. “Maaf, Kek. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”Ivan melangkah mendekat dengan tatapan sangat tajam dan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat, dan melayang cepat ke arah wajah Alan, tapi kepalan itu berhenti mendadak dan hanya meninju udara kosong tepat beberapa sentimeter di depan wajah Alan. “Sudah kubilang, jangan pernah buat adikku menangis lagi.”Alan tidak menghindar, dia justru menyunggingkan senyum tipis menatap kakak iparnya itu. “Tidak akan lagi, Ivan.”Pria itu kemudian kembali menatap Ellena, lalu menunduk untuk mengecup kening dan kedua pipi istrinya secara bergantian, mengaba
Ellena berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit, Ivan berusaha mengimbangi dari belakang. Begitu tiba di depan ruang penanganan darurat, langkahnya melambat secara drastis.Di sana, Kakek Adhinata duduk termangu di kursi tunggu. Kedua tangannya yang bergetar mencengkeram erat kepala tongkat kayu miliknya, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap kosong ke lantai. Tidak jauh dari sana, Eric bersandar pasrah pada dinding. Penampilannya sangat berantakan, jas kerjanya sudah hilang, dan kemeja putihnya dipenuhi noda darah merah yang mengering.Ellena langsung menghambur maju, berlutut di depan kursi Kakek Adhinata. “Kakek ... di mana Alan? Bagaimana kondisi Alan, Kek?” tanyanya dengan suara bergetar hebat di sela isak tangisnya yang deras.Kakek Adhinata tidak menjawab. Beliau hanya diam, lalu perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa sanggup menatap menantunya.Melihat respons itu, Ellena bangkit berdiri dan beralih mencengkeram kuat kedua bahu Eric, mengguncangnya denga
Keesokan harinya.“Jangan bangunkan Nyonya!”Semua pembantu mengangguk. Alan lantas berangkat perang dengan senyum lebar.Ehm, berangkat kerja ….Bagaimana tidak bahagia. Semalam dia berhasil memiliki istrinya seutuhnya.Bahkan full charger sampai berkali-kali ronde.Kini, di kursi belakang, Alan duduk dengan setelan jas kerjanya. Di depan, Eric fokus mengendalikan kemudi.Alan sudah harus meninggalkan mansion untuk menyelesaikan rentetan urusan bisnis.Satu hari ini pontang panting tanpa ampun. Tapi Alan tetap tegap semangat.Hingga sore harinya.Dia baru saja menyelesaikan pertemuan berturut-turut di sebuah restoran mewah, lalu berlanjut rapat di hotel dengan investor asing, dan langsung menyambung pertemuan darurat di dua kantor perusahaan cabang miliknya. Yang fatal, karena saking senangnya semalam dengan Ellena, dia lupa sarapan dan makan siang. Hanya minum kopi saja dan makan ringan saat meeting.Ditambah aktivitasnya yang padat selama ini, dan yang pasti istirahatnya sangat
“Auw.” Alan meringis pelan, kemudian dia justru terkekeh kecil.Genggaman tangan Alan pada lengan Ellena makin mengerat. “Bagaimana, kamu bahagia? Nyonya Adhinata ternyata Nona Besar Gumelar dan saat ini sukses membuat heboh jagat raya. Sepertinya aku harus menyiapkan bodyguard yang banyak, khusus untuk melindungi istriku dari tatapan laki-laki lain.”Ellena menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menahan kedutan di sudut bibirnya agar senyumnya tidak makin lebar di depan umum. Dia mengabaikan godaan itu dengan tetap memasang datar.Alan memiringkan kepalanya lagi. “Aku sangat merindukanmu, Ellen. Aku tidak bisa menunggu sampai pesta ini selesai. Bagaimana kalau aku menculikmu sekarang dari sini? Lagipula, aku sangat membenci kakakmu itu. Gara-gara trik bodohnya, kita harus berjauhan sebulan ini.”“Jangan membuat masalah, Alan. Ini pesta penting!” desis Ellena, dan menajamkan tatapannya.Alan tertawa kecil. Kemudian mengalihkan pandangannya, menatap tajam Veri, Fero, dan Julian berdi
Semua mata seketika beralih menatap ke arah tangga utama. Di sana, Ellena muncul dan mulai melangkah turun dengan langkah anggun perlahan. Gaun putih melekat sempurna di tubuhnya yang anggun. Rambut hitamnya ditata sanggul modern yang menyisakan beberapa helai di samping wajah, mengekspos leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian minimalis. Riasan wajahnya yang natural namun berkelas menonjolkan kecantikan alaminya yang memikat. Langkah kaki Ellena di atas anak tangga memancarkan pesona seorang Nona Besar sejati yang elegan, kuat. Ratusan tamu undangan terkesima, tidak terkecuali Alan.Alan membeku di tempatnya berdiri, matanya melebar tanpa berkedip menatap wanita di atas tangga itu. Dadanya bergejolak hebat menyaksikan istrinya tampil begitu memukau di hadapan semua orang. Rasa rindu yang menyiksanya selama sebulan terakhir seolah meledak di kepalanya, membuatnya ingin segera berlari ke atas tangga dan menarik Ellena ke dalam pelukannya saat itu juga.Ellena yang sedang berj
“Kamu menyukai istriku. Jawab, Brengsek!” bentak Alan lagi, suaranya naik satu oktav hingga urat-urat di lehernya mencuat tebal dengan rona wajah yang merah padam.Ellena yang panik melihat situasi makin tak terkendali cepat mencengkeram lengan jaket Alan, menariknya sekuat tenaga agar pria itu mun
Eric masih berdiri mematung di dekat pintu, menunggu instruksi lebih lanjut.Melihat asistennya hanya diam seperti patung, Alan mendadak berhenti dan menoleh dengan wajah geram.“Kenapa kamu cuma diam saja di situ?!” bentak Alan.Eric tersentak, dia menelan ludah dengan susah payah. “Memangnya ...
Hujan deras mengguyur.Ellena menatap ke luar jendela, memperhatikan sosok Joanna yang kini basah kuyup. Gaun mahalnya melekat ketat, rambutnya berantakan. Dia bisa melihat dengan jelas maskara wanita itu luntur.Alan menatap lurus ke depan, jemarinya mencengkeram sabuk pengaman. Wajahnya mengeras,
Ellena seketika membeku. Matanya bertemu dengan manik mata Alan yang kini menatapnya lekat dengan sorot yang berbeda. Membuat napas Ellena tertahan sejenak. Ada desiran aneh yang merambat ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa gugup sekaligus bingung dengan perasaannya sendiri.‘Kenapa dia harus me







