Share

Bab 2

Author: Silas
Di seberang telepon hening cukup lama.

Beberapa saat kemudian, Ayah menghela napas pelan.

"Fiona, kamu bertengkar lagi sama Joel?"

"Dari awal Ayah nggak pernah berniat ngasih proyek-proyek ini ke Grup Gutama. Kamu sendiri yang memohon pada Ayah sampai berlutut di depan ruang kerjaku selama tiga hari tiga malam."

"Fiona, jangan begini terus. Jangan campur adukkan urusan perusahaan dengan masalah perasaanmu."

Aku duduk di anak tangga sambil mengusap memar di lututku.

Baru kusentuh sedikit saja, rasa nyerinya langsung menjalar.

"Ayah, kali ini aku benar-benar serius. Minggu depan aku akan mulai bertugas di kantor cabang luar negeri. Mulai sekarang, aku nggak akan keras kepala lagi."

Ayah saja tahu Joel adalah orang yang paling kucintai.

Mustahil Olivia tidak mengetahuinya.

Malam harinya, sesampainya di rumah, ponselku kembali berdering.

Nomornya masih sama. Begitu kuangkat, terdengar lagi suara lembut gadis kecil itu.

"Tante, kenapa aku nggak bisa kirim chat ke Tante, ya?"

Perasaan tidak rela bercampur marah perlahan memenuhi dadaku.

Aku ingin tahu, sejak kapan semuanya mulai berubah.

Akhirnya aku menyimpan nomor Nadya. Anak itu ternyata sangat ceria dan cerewet.

Melihat rentetan stiker lucu yang terus dikirimnya, aku terdiam sesaat sebelum akhirnya bertanya, "Nadya, kamu tahu bagaimana Papa dan Mamamu bisa bersama?"

Tanpa ragu, dia langsung mengirim pesan suara yang panjang dengan nada penuh kebanggaan.

"Tentu saja tahu! Aku hafal semua kisah cinta Papa dan Mama. Setiap malam sebelum tidur, Papa selalu ceritain ke aku."

Perlahan tatapanku beralih ke bingkai foto di atas meja.

Foto pertama yang memperlihatkan aku dan Joel berdiri berdampingan.

Aku mengejarnya selama tiga tahun, sejak SMA sampai kuliah.

Saat upacara kelulusan SMA, Olivia mendorongku ke samping Joel sambil menggoda dan memberi kode agar kami berfoto bersama.

Joel menolak. Bahkan ketika tanpa sengaja kusenggol, dia diam-diam menepuk bagian bajunya yang terkena sentuhanku.

Olivia langsung kesal. Dia menarikku kembali ke samping Joel dan memaksanya berfoto bersama kami.

Kukira Joel akan kembali menunjukkan wajah jijiknya. Tak kusangka, kali ini dia justru mengangguk setuju.

Setelah itu Olivia mengirimkan foto tersebut kepadaku, tetapi sengaja memotong dirinya sendiri dari gambar.

Aku begitu bahagia sampai tidak bisa tidur. Foto itu langsung kujadikan wallpaper ponsel dan kupakai selama empat tahun.

"Nadya, Tante juga pengin dengar ceritanya. Mau ceritain ke Tante?"

"Mau, dong!"

"Papa bilang, sejak upacara kelulusan SMA, Papa sudah jatuh cinta sama Mama pada pandangan pertama. Foto mereka waktu itu masih dipajang di kepala tempat tidur sampai sekarang."

Sambil berkata begitu, dia memotret foto tersebut lalu mengirimkannya kepadaku.

Saat kubuka, ternyata memang foto kelulusan kami.

Hanya saja, sosokku yang dulu berdiri di tengah sudah dihapus begitu saja dari foto itu.

Di sampingnya terpajang foto pernikahan Joel dan Olivia dengan nuansa tradisional.

Dua hari lalu aku sempat membahas konsep foto pernikahan dengan Joel. Aku bilang ingin memakai nuansa pernikahan tradisional.

Saat itu dia bahkan tidak mengangkat kepalanya, apalagi melihat contoh yang aku tunjukkan.

Dia hanya menggeleng dan berkata, "Terlalu banyak warna merah. Kesannya jadi menyeramkan. Cari konsep lain saja."

Selama setahun terakhir, sudah lebih dari seratus konsep foto pernikahan yang kuajukan.

Tak satu pun pernah dia setujui.

Ternyata yang salah bukan konsepnya, melainkan orangnya.

Nadya masih terus bercerita tanpa henti.

Dia menceritakan bagaimana Joel mengejar Olivia sejak lulus SMA hingga lulus kuliah. Baginya, kisah mereka seperti dongeng yang sempurna.

Sedangkan aku, justru terdengar seperti orang ketiga yang menyela kisah cinta mereka.

Lambungku mendadak terasa perih.

Rasa mual yang hebat naik ke tenggorokan hingga aku hampir muntah.

Ponselku terlepas dan jatuh ke atas karpet. Saat hendak mengambilnya, tanpa sengaja aku menekan tombol kamera.

Nadya yang tadi cerewet mendadak terdiam.

Wajahnya tampak membeku, seolah sedikit ketakutan saat melihatku.

Aku mengangkat ponsel dan bertanya pelan, "Nadya, ada apa?"

Dia tampak menghela napas lega.

"Oh ... ternyata Tante."

"Kalau lagi nggak gila, ternyata Tante cantik banget."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 9

    Begitu keluar dari bandara, Joel langsung menuju kantorku.Dia menunggu hingga malam. Saat aku dan Dennis keluar dari gedung perusahaan, barulah akhirnya dia melihat kami.Kami masih berjalan berdampingan sambil tertawa dan berdebat soal rencana kerja hari itu.Begitu melewati pintu keluar, langkah Dennis tiba-tiba terhenti.Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat sosok yang begitu kukenal.Joel berdiri di bawah lampu jalan, menatapku tanpa berkedip.Refleks aku hendak berbalik ke arah lain. Namun Joel berlari menghampiri, bahkan nyaris tertabrak mobil yang melintas.Dia mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga terasa nyeri."Joel! Apa sebenarnya maumu?""Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku pergi? Aku sudah pergi. Lalu sekarang kenapa kamu malah datang nyari aku?"Matanya merah karena kelelahan. Tatapannya dipenuhi kepanikan.Dia buru-buru menggeleng. "Fiona, jangan begini. Aku tahu aku salah.""Pulanglah sama aku. Aku janji semua ini nggak akan terulang lagi. Olivia

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 8

    Joel terdiam selama beberapa detik, seolah sengaja menungguku bertanya lebih banyak.Entah sejak kapan, dia mulai merindukan suaraku.Hanya mendengarnya sebentar saja sudah membuat hatinya merasa lebih tenang."Fiona, jangan marah lagi, ya. Cepat pulang.""Sekarang aku benar-benar butuh kamu."Aku hanya tertawa sinis. Di matanya, rupanya aku tak lebih dari seseorang yang bisa dipanggil kapan pun dia mau.Begitu dia merasa membutuhkan, aku harus selalu ada di sisinya.Keheninganku malah disalahartikan oleh Joel. Dengan suara yang jarang sekali selembut itu, dia kembali berkata, "Fiona, setelah semua ini selesai, aku akan menebus semuanya. Soal foto pernikahan yang dulu kamu inginkan, mau konsep tradisional ataupun gaya Barat, terserah kamu.""Atau kita ...."Aku sudah muak mendengarnya dan langsung menyela."Sudah cukup, Joel.""Kamu terlalu merasa dirimu penting. Memang, dulu aku pernah mencintaimu sepenuh hati selama bertahun-tahun. Tapi sejak tahu kamu mengkhianatiku, semuanya sudah

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 7

    Menyadari Olivia sedang marah, Joel menghela napas panjang.Dia meraih Olivia ke dalam pelukannya dan memeluknya erat."Sudahlah, jangan bicara begitu hanya karena emosi. Kamu 'kan tahu, orang yang paling aku cinta tetap kamu. Fiona cuma sedang ngambek. Tunggu dua hari lagi, begitu amarahnya reda, dia pasti pulang. Aku tinggal minta maaf dan mengalah sedikit. Dia pasti akan dengan senang hati ngasih aku proyek yang lebih besar."….Setibanya di di Kota Losanya, aku beristirahat selama dua hari.Setelah itu, aku langsung mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor cabang.Orang yang ikut berangkat bersamaku adalah Dennis Saputra, putra tunggal Pak Fredy, Presiden Direktur Grup Saputra.Ayah bilang, begitu Pak Fredy mendengar aku akan dikirim ke luar negeri untuk menimba pengalaman,beliau langsung memutuskan mengirim Dennis agar ikut ditempa.Yang masih membuatku heran, Keluarga Saputra memiliki begitu banyak perusahaan sendiri. Kenapa justru dia dikirim berlatih di perusahaan mi

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 6

    Langkah Joel langsung terhenti.Dengan wajah tak percaya, dia menatap Ayah yang berdiri di atas panggung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.Dari berbagai penjuru ruangan terdengar tawa-tawa kecil yang menyakitkan, cukup jelas hingga menusuk telinganya.Perwakilan Grup Saputra berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya hingga dia terdorong ke samping.Tatapan pria itu penuh ejekan."Maaf ya, Pak Joel. Kesempatan kali ini jatuh ke tangan kami.""Proyek sebesar ini memang bukan perkara mudah. Mungkin Pak Andre khawatir Anda yang terbiasa hidup nyaman belum sanggup menanganinya."Selama ini Joel selalu diperlakukan bak tamu kehormatan. Penghinaan di depan banyak orang itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.Dia terpaku di tempat, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.Begitu melihat kedua pihak hendak menandatangani kontrak dan membubuhkan stempel, dia langsung menerobos ke depan seperti kehilangan akal."Jangan! Kontrak itu nggak boleh ditandatanga

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 5

    Tak lama setelah aku pergi, Joel membuka kembali pintu rumah.Olivia keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang baru selesai dicuci.Gerak-geriknya begitu santai, seolah rumah itu memang sudah lama menjadi miliknya."Lagi lihat apa?"Joel menoleh ke arah luar, tetapi aku sudah tak terlihat lagi.Entah mengapa, hatinya mendadak diliputi kegelisahan."Nggak ... cuma buang sampah."Olivia duduk di sofa lalu langsung membongkar kebohongannya."Tempat sampahnya masih penuh.""Joel, kalau kamu benar-benar cinta sama Fiona, aku akan gugurkan kandungan ini. Jangan pakai sandiwara murahan begini untuk mempermainkan kami berdua."Joel menghela napas, lalu berjongkok di atas karpet.Tangannya mengusap lembut perut Olivia sambil membujuknya dengan suara pelan."Olivia, jangan ngomong begitu. Nanti bayinya kaget.""Sudah kubilang, perusahaan sangat butuh proyek dari Grup Winata. Aku cuma khawatir Fiona pulang dalam keadaan marah lalu dia minta ayahnya batalin semuanya."Joel menunduk dan m

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 4

    Setelah semua barang selesai kukemas dan kukirim, seluruh tenagaku seolah ikut terkuras. Aku terduduk lemas di sofa.Aku mengirim beberapa pesan kepada Nadya, tetapi tak satu pun dibalas.Baru menjelang sore, dia meneleponku lewat panggilan video.Begitu kuangkat, pemandangan di layar terasa begitu familier.Dia berada di kantor Ayah, tempat aku tumbuh besar.Ibu meninggal saat aku masih kecil. Sejak itu Ayah tak pernah menikah lagi dan membesarkanku seorang diri.Karena tak ingin aku kesepian di rumah, ke mana pun pergi Ayah selalu membawaku."Nadya, kenapa kamu ada di Grup Winata?"Nadya menoleh ke sekeliling, lalu mengamati ruangan itu."Tante ngomong apa, sih? Ini kantor Papa, kok.""Sekarang ini perusahaan Papa. Grup Winata sudah lama nggak ada."Dadaku seolah ditusuk ribuan jarum hingga terasa sesak."Nadya, kamu anak pintar, 'kan? Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"Mendengar pujian itu, dia langsung bercerita tanpa curiga."Tahu dong. Papa pernah cerita semuanya. Kakek dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status