Selena the descendant of the moon goddess

Selena the descendant of the moon goddess

last updateTerakhir Diperbarui : 2022-09-13
Oleh:  Cynthia ChrisOngoing
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
6
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
26Bab
4.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

In the world of the supernatural and a time of war. The peace and fate of the supernatural domain rest on the shoulder of a young she-wolf named Selena. Selena grew up as a human, discovering her true identity after the series of nightmares that hunts her down her world was turned upside down. She was lonely, pained, and confused, she was chosen by the moon goddess for greatness. She was the first ever descendant of the moon goddess to ever come into existence. She kicked in courage and became clever, determined, and heroic when she crossed paths with Marcus Verne. Marcus Verne is a fierce and vicious god, who was sent out of the macrocosm because of his greed and selfishness, he embezzled the Alpha position and cruelly enslaved the supernatural realm. He is invincible, brutal, and sends terrifying chills to the core anywhere that he goes but Selena bearing the moon mark around her neck was strong enough to stop him. But with Selena's mate in the picture, could she be able to succeed? Could she pick love over her destiny or could their love conquer all? Follow Selena on her journey full of love, terror, and suspense.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter one(The prophecy)

​Deru angin proyek pencakar langit di pusat ibu kota mendadak berubah menjadi jeritan ngeri ketika bunyi besi bergemeretak patah di udara.

Sebuah crane pengangkut material berat kehilangan keseimbangan, meluncur deras dari lantai atas dan menghantam struktur kerangka utama.

Di bawahnya, Arka Dirgantara pria berusia 35 tahun tengah melakukan inspeksi lapangan bersama beberapa mandor.

Pria berdarah dingin dan sukses besar itu terpaku seketika, menatap bayangan maut yang jatuh tepat ke arahnya tanpa sempat menghindar.

​Namun, sebelum hantaman besi seberat ratusan kilogram itu meremukkan tulangnya, sebuah tubuh paruh baya menerjang dari samping dengan sekuat tenaga.

​Brak!

​Tubuh Arka terpelanting jauh keluar dari zona bahaya, jatuh berguling di atas hamparan beton kasar dengan napas terengah-engah dan luka lecet di sekujur tangan serta jas kerjanya yang robek.

Tapi nahas bagi sang penyelamat. Slamet Riyadi yang sudah berusia 50 tahun, buruh bangunan senior yang bertaruh nyawa di detik-detik krusial itu, tidak sempat menyelamatkan diri.

Besi raksasa tersebut menimpa tubuh bagian bawahnya, mengakhiri napas penuh peluh dari seorang ayah yang selama ini hidup setengah mati demi masa depan putri tunggalnya.

​Suara monitor detak jantung di ruang IGD Rumah Sakit Central Medika berderu monoton, mengiringi detik-detik terakhir kehidupan Slamet.

Di sisi ranjang, Arka berdiri kaku bagai patung batu. Jas mewahnya kotor oleh debu proyek dan bercak darah sang buruh yang merembes ke lantai putih rumah sakit.

Rasa bersalah yang begitu pekat menghantam dada Arka tanpa ampun, menguras seluruh oksigen di paru-parunya.

Nyawanya utuh, raga dan kesuksesannya terselamatkan, tetapi harga yang harus dibayar adalah nyawa seorang pria tak berdosa yang memiliki keluarga yang menantinya di rumah.

​Dengan sisa tenaga terakhirnya yang kian menipis, tangan kasar, legam, dan penuh kapalan milik Slamet terulur lemah dari balik selimut putih, meraba jemari Arka yang masih gemetar. Napasnya tersengal-sengal, berpacu dengan detik-detik maut yang kian mendekat.

​"Tuan... anak saya... Melati..." bisik Slamet patah-patah, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi alat medis yang bising. "Ibunya sudah tiada sejak ia berusia dua belas tahun... Dia sendirian di dunia ini, Tuan... Tolong... demi nyawa yang Tuan ambil... nikahi dia... jadikan ia isterimu... Lindungi masa depannya..."

​Arka tertegun, darahnya mendadak berdesir dingin hingga ubun-ubun. Permintaan itu begitu gila, begitu berat untuknya. Arka ingin menolak, ingin segera menjelaskan bahwa ia telah memiliki Kirana Paramitha, istri tercinta yang sangat ia agungkan, perempuan lembut yang menjadi belahan jiwa sekaligus rumah tempat ia pulang.

Lidahnya kelu, sebelum kata-kata penolakan itu sempat meluncur dari bibirnya, mata sayu Slamet menatapnya dengan keputusasaan mutlak seorang ayah yang sebentar lagi meninggalkan putrinya seorang diri di dunia yang kejam.

Di detik-detik terakhir itu, beban hutang nyawa meremukkan pertahanan Arka sepenuhnya. Tanpa sadar, bibir Arka bergetar lalu mengangguk lemah.

​"Saya... saya berjanji," bisik Arka lirih, mengikat takdirnya pada sebuah sumpah mati yang berat.

​Seketika itu juga, garis pada layar monitor EKG melurus, menandakan berhentinya denyut nadi Slamet Riyadi.

Pria paruh baya itu pergi dengan sisa senyum kelegaan di wajahnya, meninggalkan Arka dalam kurungan janji yang siap menghancurkan seluruh hidup yang telah ia bangun.

​Malam telah larut ketika mobil mewah Arka memasuki pekarangan rumah megah bergaya modern minimalis di kawasan elit.

Di ruang keluarga yang hangat, Kirana Paramitha, menyambut kepulangan suaminya.

Perempuan bergaun tidur sutra lembut itu tersenyum manis, melangkah mendekat untuk mengambil tas kerja dari tangan Arka sebelum memberikan pelukan hangat yang biasanya selalu menjadi pelabuhan teraman bagi pria itu.

Kirana sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan maut di proyek, tidak pula tahu tentang janji sakral yang baru saja diikrarkan suaminya di rumah sakit.

​Namun, malam itu, Arka tampak begitu berbeda. Pelukannya terasa hampa, dan tatapannya kosong menerawang jauh menembus dinding kaca rumah mereka.

​Kirana mengerutkan keningnya, meletakkan secangkir teh chamomile hangat di atas meja marmer di hadapan Arka yang duduk melamun di sofa. Ia duduk di sebelah suaminya, lalu mengusap lembut punggung tangan Arka yang terasa dingin.

​"Kamu dari tadi melamun terus, Mas," ucap Kirana dengan suara halusnya yang menenangkan. "Apa ada masalah di proyek pembangunan gedung baru itu? Wajahmu pucat sekali, bajumu juga... ada noda apa ini?" tanya Kirana cemas, jarinya hampir menyentuh bercak kecokelatan di lengan jas Arka.

​Arka dengan cepat menarik tangannya, menghindari sentuhan itu bukan karena benci, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar membakar dadanya. Ia menatap mata jernih Kirana, perempuan yang mengisi setiap jengkal napas dan hatinya dengan tatapan penuh tersiksa.

​"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya kelelahan biasa di kantor," bohong Arka dengan suara serak yang dipaksakan stabil.

Ia meneguk teh buatan istrinya, berharap cairan hangat itu bisa melunturkan batu besar yang menyumbat tenggorokannya.

​Kirana menghela napas panjang, menatap suaminya dengan penuh kelembutan dan sorot mata sarat kasih sayang. "Jangan terlalu memforsir diri, Mas. Apapun beban pekerjaan itu, kita hadapi bersama. Kamu tahu aku selalu ada untukmu, kan?"

​Mendengar kalimat tulus itu, hati Arka serasa dihujam ribuan jarum tak kasat mata.

Bagaimana jika kamu tahu aku baru saja berjanji untuk membawa perempuan lain ke rumah ini sebagai istriku? batin Arka berteriak nelangsa.

Pergulatan batin yang hebat seketika meremukkan jiwanya. Di satu sisi, ada cinta sucinya kepada Kirana, perempuan yang tak boleh sedikit pun tersakiti oleh kehadiran orang asing.

Di sisi lain, ada sumpah atas nama nyawa yang harus ditepati kepada seorang pahlawan yang telah terbujur kaku di kamar jenazah.

​Malam itu, di balik dekap hangat Kirana yang tidak tahu apa-apa, Arka mengambil keputusan paling kejam dan pengecut yang pernah ia buat dalam hidupnya.

Ia memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran ini rapat-rapat untuk sementara waktu.

​Keesokan paginya, ambulans yang membawa peti jenazah Slamet Riyadi diberangkatkan menuju sebuah desa terpencil di kaki bukit.

Arka memerintahkan asisten pribadinya untuk mengurus semua administrasi kantor dan kompensasi besar bagi keluarga korban, sementara ia sendiri memilih ikut mengawal kepulangan jenazah sang buruh hingga ke liang lahat.

Di balik niatnya menghormati sang pahlawan, tersimpan sebuah misi berat yang akan mengubah jalannya takdir tiga manusia.

​Setibanya di rumah duka yang sederhana dan berdinding bilik bambu di desa tersebut, suasana langsung pecah oleh isak tangis pilu para pelayat yang memadati halaman.

Di sisi pusara yang baru digali, berdiri seorang gadis belia berbalut pakaian hitam sederhana. Melati Anjani. Gadis berusia 18 tahun dan berwajah sangat polos, dengan mata sembab akibat menangis seharian, memancarkan pesona alami yang begitu rapuh sekaligus memikat di tengah duka mendalam yang melilit tubuhnya.

​Saat prosesi pemakaman selesai dan para tetangga perlahan membubarkan diri meninggalkan area pemakaman yang basah oleh sisa hujan, Arka melangkah mendekati Melati yang kini terduduk seorang diri di atas tanah makam ayahnya.

Langkah kaki sepatu mahalnya berderak di atas tanah becek, menghentikan tangis tertahan gadis itu.

​Arka menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh sisa harga diri dan arogansinya sebagai seorang konglomerat besar.

Dengan sorot mata penuh beban penyesalan, pria itu berlutut satu kaki di hadapan Melati, menyetarakan pandangannya dengan gadis belia yang tengah menatapnya dengan tatapan kosong penuh air mata.

​"Melati..." panggil Arka pelan, suaranya bergetar berat di udara sore yang mulai kelabu. "Ayahmu... Slamet Riyadi, telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawaku di proyek itu."

​Melati mendongak perlahan, menatap pria asing berjas rapi yang tampak begitu kontras dengan kesederhanaan desa tempat tinggalnya, bibir gadis itu bergetar.

​"Dan sebelum napas terakhirnya berhenti di rumah sakit," lanjut Arka dengan nada yang semakin serak, menatap lurus ke dalam manik mata Melati yang polos, "Ayahmu meminta satu hal yang berat kepadaku. Ia tidak ingin kamu hidup sebatang kara di dunia ini tanpa perlindungan."

​Melati terdiam, air matanya kembali tumpah membasahi pipi mulusnya. "Ayah... ayahku sudah tidak ada..." cicitnya pilu.

​Arka memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk mengucapkan kalimat yang akan menjungkirbalikkan hidup mereka berdua. "Mulai hari ini, kamu ikut aku ke kota, Melati. Bukan sebagai tanggungan, bukan pula sebagai pekerja... tapi sebagai istri sahku. Sesuai dengan janji terakhir yang harus aku tepati kepada ayahmu."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

Ezedialu Cynthia
Ezedialu Cynthia
Amazing ......
2022-08-24 05:00:47
0
0
Amber Postler
Amber Postler
I personally don't care for the writing style, the author seems young
2022-09-13 21:55:48
1
0
26 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status