Share

Meratakan

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-06-23 11:04:42

Vespara.

​Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.

​Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tunduk Atau

    Cengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.​Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph.​"Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.​Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah.​"Kau pi

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Usus Adikmu

    Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tawaran

    ​Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.​Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan.​"Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.​Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya.​"Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik.​"Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meratakan

    Vespara.​Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.​Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.​Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.​Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Siapa Adikmu?

    "Tidak akan ada perbincangan nyaman di sebuah ranjang."Meghan menatap Petter tanpa secercah pun ketakutan di matanya. Sepasang manik matanya yang tajam mengunci pandangan pria itu, mengirimkan sinyal penolakan yang begitu mutlak. Ia tidak bergerak mundur setidapun, meski jarak di antara wajah mereka kini begitu dekat hingga ia bisa membaui aroma tembakau dari napas Petter.Satu hal yang tidak dipahami Petter. Meghan telah ditempa oleh kegilaan seorang tiran seperti Ralph. Ancaman atau godaan dari pria lain seperti Petter tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan baginya.Petter tertegun sejenak, senyum jenakanya membeku di sudut bibir. Ketegaran wanita di hadapannya ini sama sekali tidak sinkron dengan statusnya sebagai seorang tawanan yang tak berdaya. Bukannya menangis atau memohon belas kasihan, Meghan justru menatapnya seolah Petter-lah yang berada di posisi bawah angin.Sedetik, dua detik, keheningan mencekam menyelimuti ruang batu itu.Hingga akhirnya, Petter perl

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Petter

    Meghan tidak pernah bercanda ketika mengatakan kalimat itu di depan wajah sang Raja. Tatapan matanya malam itu begitu tajam, menusuk langsung ke sepasang manik abu-abu milik Ralph saat ia berbisik, "Kau harus tahu, anak yang nanti lahir dari rahim ini tidak akan pernah memanggilmu 'Ayah'."​Ralph mungkin mengira itu hanyalah letupan amarah dari selir pembangkangnya yang sedang merajuk setelah pertengkaran hebat mereka. Namun, Ralph salah besar. Meghan tidak sedang menggertak, karena jauh di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana pelariannya sendiri dengan teramat rapi.​Ia bukan wanita bodoh yang pasrah menerima takdir sebagai pemuas nafsu sang Tiran. Kepingan koin Ducat dan Groshen bernilai tinggi yang selalu diberikan Ralph sebagai uang saku, yang biasanya digunakan selir lain untuk membeli gaun sutra atau perhiasan mahal, diam-diam Meghan kumpulkan dan sembunyi di tempat paling aman. Koin-koin itu adalah tiket kebebasannya.​Kesempatan ema

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   21+

    Ralph melempar kemeja linennya ke lantai batu, membiarkan tubuhnya yang penuh bekas luka terlihat di bawah cahaya obor yang berderak. Ia menarik Meghan dengan satu sentakan kasar hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang yang dingin."Kau masih gemetar," desis Ralph. Ia merangkak naik ke atas ran

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ralph VS Vane

    Sore itu, Meghan melarikan diri sejenak ke tepi danau di bagian paling belakang kompleks istana, tempat di mana bayangan pepohonan willow menyembunyikan sosoknya dari menara pengawas. Di pangkuannya terdapat piring kecil berisi potongan pie apel yang masih hangat. Campuran susu dan kayu manisnya

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tidak Punya Pilihan

    Di atas meja kerja kayu ek yang besar itu, kantong kain tebal berisi koin Ducat milik Carl masih tergeletak dengan posisi agak miring. Meghan berjalan mendekat tanpa berani menatap mata Ralph. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia meletakkan gulungan perkamen yang dibawanya tepat di atas k

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Koin Penawar Nyawa

    Meghan mematung tepat di depan ambang pintu yang sedikit terbuka. Perkamen di tangannya gemetar hebat, membuat tepian kertas itu bergesekan dan menimbulkan suara berisik yang samar, tapi segera tertutup oleh ketegangan di dalam ruangan. Ia tidak bisa bergerak, kakinya seolah terpaku pada marmer di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status