LOGINSarah berdiri di ambang pintu ruang bawah tanah itu. Cahaya dari lorong belakang hanya masuk sedikit, membentuk garis tipis di lantai batu yang lembap. Bau anyir logam semakin kuat. Bercak merah pada kain yang tergeletak dekat pintu masih basah. Itu darah. Bukan luka kecil.
Sarah memaksakan dirinya untuk tidak mundur. Ia menoleh ke belakang, memastikan Mira masih di dekat dinding gudang. Perempuan itu terlihat ketakutan, tidak berani bersuara.
“Tunggu di luar,” bisik
Mereka tiba di danau saat matahari belum terlalu tinggi. Perjalanan dari istana memakan waktu setengah hari. Mereka melepas kuda di dekat pohon besar dan membiarkannya merumput. Sarah membawa keranjang berisi roti, keju, dan sebotol air. Adrian membawa selimut dan pancing yang ia temukan di gudang istana. Langit biru, awan tipis, angin sejuk.Sarah turun dan berjalan ke tepi danau tanpa menunggu. Ia berdiri di atas batu besar, menatap air yang tenang, menatap pantulan langit, menatap awan yang lewat. Adrian turun dan berdiri di samping kuda, menonton. Sarah mengangkat tangannya, menyentuh udara seperti menyentuh sesuatu yang tidak terlihat. Lalu ia menoleh dan tersenyum.Adrian menghampiri dan berdiri di sampingnya di atas batu. “Kau terlihat sedang bicara dengan danau.”“Aku hanya menikmati. Dulu, setiap kali merasa berat, aku mencari air. Danau, sungai, kolam. Aku berdiri di tepinya, menatap air, dan merasa lebih ringan. Air tidak pernah menu
Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l
Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang
Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”
Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu
Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid







