ANMELDENSarah tidak bisa membiarkan kabar tentang Panglima Dasco berlalu begitu saja. Jika benar pria itu berada di istana, sementara seluruh kerajaan mengira ia sedang memimpin pasukan di perbatasan, maka ada kebohongan besar yang sedang dimainkan di depan mata raja. Kebohongan sebesar itu hanya mungkin terjadi jika ada banyak orang yang menutupinya.
“Kapan kau melihatnya?” tanya Sarah pada Mira.
“Tadi malam, Nona. Setelah kejadian di ruang samping. Aku sedang kembali
Sarah berdiri terpaku beberapa detik setelah sosok itu menghilang di balik tirai. Jenderal Harwin. Pria itu seharusnya sudah mati. Namanya disebut dalam laporan penyergapan yang menghancurkan keluarga Arman sebagai salah satu korban yang gugur di tempat.Selama bertahun-tahun Sarah meyakini itu, merelakan satu per satu orang yang dulu setia pada ayahnya pergi dari hidupnya. Namun malam ini, di tengah jamuan yang dipenuhi orang-orang istana, pria itu muncul dengan wajah yang tidak mungkin ia lupakan.Sarah menoleh cepat, memastikan tidak ada yang memperhatikan keterkejutannya. Ratu Elena sedang sibuk berbincang dengan beberapa bangsawan di sisi lain, Pangeran Vero masih belum kembali, dan para undangan lain terlalu asyik dengan urusan mereka sendiri.Sarah menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan ke arah tirai tempat Jenderal Harwin menghilang. Ia berusaha terlihat biasa saja, seperti orang yang sedang berjalan-jalan menikmati udara malam dari balkon.
Sarah menggenggam kepingan logam itu sampai ujung jari-jarinya memutih. Lambang setengah matahari dan setengah bulan terasa dingin di telapak tangannya, maknanya justru membakar dadanya seperti bara. Itu lambang keluarganya, lambang yang dulu dikenakan ayahnya pada panji-panji pasukan dan stempel resmi wilayah timur.Setelah kejatuhan Lord Arman, lambang itu dilarang dipakai di seluruh kerajaan, bahkan menyebut namanya saja dianggap aib. Kini kepingan itu tiba-tiba jatuh dari atas atap kamarnya, dibawa oleh seseorang yang bergerak seperti bayangan.Kata"Percaya"yang terukir di permukaannya tidak bisa dianggap angin lalu. Ada pihak dari masa lalunya yang masih hidup dan ingin membuka saluran komunikasi. Apakah itu kawan atau jebakan yang dibungkus kenangan?Sarah menatap celah atap yang sudah kembali tertutup, lalu menoleh ke jendela yang masih gelap oleh bayangan malam. Ia tidak bisa tidur lagi malam ini, karena satu keputusan kecil yang ia
Ratu Elena berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Dari luar, tidak ada yang berubah. Wajahnya tetap anggun, senyumnya masih tipis. Di balik matanya, pikirannya bekerja seperti roda penggilingan yang berputar cepat.Ia mendengar semuanya. Percakapan antara Raja Adrian dan selir rendahan itu baru saja memberinya dua informasi penting. Pertama, Sarah ternyata sudah menemukan jejak tentangSarang. Kedua, raja mulai curiga pada orang-orang terdekatnya.Itu artinya, rencana yang sudah disusun bertahun-tahun kini mulai goyah. Begitu tiba di kediamannya, Elena langsung memanggil seorang pelayan kepercayaan.“Panggil Pangeran Vero ke ruang tamu pribadiku. Bilang ada urusan penting.”Pelayan itu menunduk dan pergi. Elena duduk di kursi beludru dekat jendela. Ia menatap taman yang mulai gelap diterpa senja. Pikirannya melayang pada masa lalu—pada perjanjian-perjanjian yang dulu ia buat untuk sampai ke posisinya sekarang.Ia t
Sarah berdiri di ambang pintu ruang bawah tanah itu. Cahaya dari lorong belakang hanya masuk sedikit, membentuk garis tipis di lantai batu yang lembap. Bau anyir logam semakin kuat. Bercak merah pada kain yang tergeletak dekat pintu masih basah. Itu darah. Bukan luka kecil.Sarah memaksakan dirinya untuk tidak mundur. Ia menoleh ke belakang, memastikan Mira masih di dekat dinding gudang. Perempuan itu terlihat ketakutan, tidak berani bersuara.“Tunggu di luar,” bisik Sarah.“Nona, jangan masuk sendirian,” Mira memohon.“Aku hanya melihat sebentar.”Sarah melangkah masuk perlahan. Ruang bawah tanah itu ternyata lebih luas dari yang ia kira. Di dinding-dindingnya tergantung rantai tua dan beberapa lentera yang sudah mati. Lantainya tanah dan batu, dengan genangan air di beberapa sudut.Semakin ke dalam, bau darah semakin menyengat. Sarah menutup hidung dengan lengan bajunya. Matanya menyapu ruangan.D
Sarah tidak bisa membiarkan kabar tentang Panglima Dasco berlalu begitu saja. Jika benar pria itu berada di istana, sementara seluruh kerajaan mengira ia sedang memimpin pasukan di perbatasan, maka ada kebohongan besar yang sedang dimainkan di depan mata raja. Kebohongan sebesar itu hanya mungkin terjadi jika ada banyak orang yang menutupinya.“Kapan kau melihatnya?” tanya Sarah pada Mira.“Tadi malam, Nona. Setelah kejadian di ruang samping. Aku sedang kembali dari dapur ketika melihat dua orang berdiri di ujung lorong. Salah satunya memakai jubah gelap. Aku sempat mendengar suaranya. Itu pasti Panglima Dasco.”“Kenapa kau begitu yakin?”“Karena aku pernah melihatnya waktu masih bekerja di kediaman Lord Arman. Suaranya berat, dan dia selalu bicara dengan nada memerintah.”Sarah berpikir keras. Panglima Dasco dulu adalah bawahan ayahnya. Setelah ayahnya dihukum, Dasco naik dengan cepat. Banyak yang me
Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya







