LOGINRatu Elena berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Dari luar, tidak ada yang berubah. Wajahnya tetap anggun, senyumnya masih tipis. Di balik matanya, pikirannya bekerja seperti roda penggilingan yang berputar cepat.
Ia mendengar semuanya. Percakapan antara Raja Adrian dan selir rendahan itu baru saja memberinya dua informasi penting. Pertama, Sarah ternyata sudah menemukan jejak tentang Sarang. Kedua, raja mulai curiga pada orang-orang terdekatnya.
Itu artinya, re
Ruang audiensi pagi itu terasa lebih dingin. Sarah dan Adrian sudah duduk ketika anak komandan tertinggi masuk—sudah rapi, sudah makan, sudah tidur, tetapi matanya masih menyimpan kelelahan yang tidak hilang dalam satu malam.Sarah tidak menunggu basa-basi. “Kau bilang ayahmu menerima semua syarat. Termasuk ganti rugi, mundur dari wilayah klaim, dan janji tidak menyerang lagi.”Pemuda itu mengangguk. “Ayahku sudah tua dan lelah. Dia ingin berdamai, ingin mati dalam damai, bukan dalam perang.”Adrian mencondongkan tubuh. “Skarn punya sejarah panjang mengkhianati perjanjian.”“Ayahku bukan Skarn. Kalau kau tidak percaya, datang dan lihat sendiri. Tatap matanya.”Sarah meletakkan dua kunci di meja. “Kau tahu tentang ini?”Pemuda itu menatap lama, matanya berubah—bukan takut, tetapi seperti orang yang mendengar sesuatu yang sudah lama diketahui dan baru pertama kali melihat.
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Sarah langsung menuju ruang kerja, meletakkan dua kunci di meja. Buku tua di sampingnya. Peta pegunungan sudah disimpan. Tidak ada kristal, tidak ada benda aneh—hanya dua kunci dan buku yang belum sepenuhnya dipahami.Adrian masuk, meletakkan pedangnya di sudut ruangan, lalu duduk di kursi seberang. “Kita harus bicara tentang Skarn. Damai tidak bisa ditunda selamanya.”Sarah mengangguk. “Aku sudah memutuskan, aku ingin dengar pendapatmu, Barra, dan Mira dulu.”Barra dan Mira dipanggil. Setelah pintu tertutup, Sarah bicara. “Komandan tertinggi Skarn ingin berdamai. Dia sudah mundur, memberikan kunci kedua, dan menunjukkan keseriusan. Aku butuh pendapat kalian.”Barra melipat tangan. “Aku tidak percaya pada Skarn, aku percaya pada bukti. Mereka mundur, meninggalkan benteng, tidak menyerang. Itu bukan perilaku musuh yang ingin berperang.”Mira m
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Sarah langsung menuju ruang kerja, meletakkan dua kunci di meja—yang pertama kecil dan sederhana, yang kedua lebih besar dan rumit. Ukirannya sama: setengah matahari, setengah bulan, satu bintang di tengah. Adrian berdiri di sampingnya, mengamati kedua benda itu.“Kedua kunci ini dibuat oleh tangan yang sama,” kata Sarah. “Atau kelompok yang sama.”“Kelompok apa?”“Belum tahu. Kita punya buku tua dan peta yang ditemukan Barra.”Barra masuk membawa peta kulit kuno, rapuh namun masih terbaca. Peta itu menunjukkan lokasi di pegunungan utara, jauh di luar perbatasan Skarn—tempat yang tidak ada di peta modern. Mira menyusul dengan teh, lalu duduk mendengarkan.“Kunci ini mungkin membuka sesuatu di sana,” kata Sarah.Adrian menatap peta lama. “Kita pergi melihat sendiri.”“Berbahaya. Kita tidak tahu
Sarah bangun sebelum matahari. Pakaian gelap, sepatu bot, belati di pinggang, kunci misterius di saku. Di cermin, wajahnya keras tanpa keraguan. Adrian sudah menunggu di halaman bersama Barra dan dua puluh prajurit. Kuda-kuda siap. Tidak ada yang bicara. Hanya angin dan matahari yang mulai naik.Mereka keluar dari gerbang istana menuju utara. Perjalanan dua hari melewati hutan, perbukitan, dan desa-desa sepi yang penduduknya mengungsi. Sarah menyerap setiap kerusakan tanpa banyak komentar. Malam pertama mereka berkemah di tepi hutan. Api unggun kecil. Sarah menatap bara, Adrian duduk di sampingnya, Barra berjaga di kejauhan.“Kau tidak bicara sepanjang hari,” kata Adrian.“Aku sedang memikirkan pertemuan ini. Apakah damai ini nyata atau jebakan yang lebih halus.”“Kau tidak akan pernah percaya padanya.”“Aku tidak akan pernah percaya pada Skarn. Aku mungkin percaya pada seseorang yang lelah dan ingin berhen
Sarah, Barra, dan dua puluh prajurit memasuki gerbang istana saat matahari condong ke barat. Debu menempel di wajah dan pakaian; kuda-kuda berjalan pelan, lelah. Adrian sudah menunggu di halaman sejak sore. Begitu melihat Sarah, bahunya turun, rahangnya mengendur. Sarah turun dari kuda dengan kaki gemetar dan lengan berdenyut, tetap berdiri tegak. Adrian memeluknya erat tanpa bicara. Mira menyusul, membawa air dan kain basah.“Aku butuh bicara dengan kalian,” kata Sarah. “Semua.”Mereka masuk ke ruang peta kecil di sayap barat—bukan balai dewan besar. Hanya Sarah, Adrian, Barra, dan Mira. Sarah meletakkan kunci misterius di meja, lalu melaporkan pertemuannya dengan komandan tertinggi Skarn: lelaki tua, lelah, mengibarkan bendera putih, memerintahkan pasukannya mundur, ingin berdamai.Barra melipat tangan. “Skarn tidak pernah berdamai. Mereka menunggu waktu yang tepat.”“Aku tahu. Karena itu aku tidak akan me
Sarah tidak tidur semalaman. Buku tua tergeletak di sampingnya, kunci di tangan, matanya merah, pikirannya jernih. Ia sudah membaca buku itu tiga kali; isinya tidak berubah—catatan benda kuno, gambar kunci, simbol yang belum ia pahami. Menjelang pagi, ia menutup buku dan menyimpan kunci di saku, lalu berdiri menatap jendela. Langit masih gelap, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.Adrian masuk membawa teh. Ia meletakkannya di meja, duduk di samping Sarah, dan menunggu tanpa bicara.“Aku sudah memutuskan,” kata Sarah. “Aku akan ke perbatasan. Melihat sendiri apa yang terjadi di sana.”Adrian menegang. “Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kita tidak punya janji pertemuan.”“Aku tidak butuh undangan. Aku butuh jawaban.”Barra masuk dengan wajah tegang. “Ratu. Pengintai baru kembali dari perbatasan utara. Ada bendera putih di atas benteng Skarn. Satu bendera. Tidak ada pasukan bergerak, tidak







