Mag-log inRuang kerja raja terasa seperti tempat berlindung terakhir di tengah istana yang sedang terbakar. Begitu pintu tertutup, Adrian berjalan ke meja, melemparkan pedangnya ke atas tumpukan dokumen, lalu menatap mereka satu per satu. Wajahnya keras, ada kelegaan samar di matanya.
"Aku kira kalian sudah tertangkap," katanya.
Sarah melangkah mendekat. "Vero mengeluarkan perintah penangkapan atas nama raja. Gerbang belakang dijaga, lorong bawah ditutup. Kami lolos lewat atap."
Ad
Sarah tidak tidur malam itu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap luka di lengannya yang mulai mengering. Mira tertidur di tikarnya, napasnya teratur. Di luar, istana sunyi. Penjaga-penjaga berbaris di pos masing-masing, obor menyala di sepanjang koridor. Dasco sudah berada di sel bawah sejak dua jam lalu. Barra memastikan sel itu dijaga ketat, empat penjaga di depan pintu, dua di lorong.Sarah bangkit, mengenakan pakaian gelap, lalu keluar dari kamar tanpa membangunkan Mira. Ia menyusuri koridor belakang menuju tangga bawah. Di depan sel Dasco, Barra berdiri dengan pedang tersarung."Kau mau masuk?" tanya Barra."Aku perlu bicara dengannya."Barra menatap Sarah sebentar, lalu mengangguk. Ia membuka pintu sel. Sarah masuk. Sel itu sempit, hanya ada bangku batu dan jeruji besi. Dasco duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya terikat di depan. Wajahnya babak belur."Selir Sarah," katanya. "Kau datang. Aku sudah menduga."Sarah
Sarah tidak menunggu penjelasan lengkap. Ia turun dari kudanya, meskipun lututnya masih terasa nyeri. Barra sudah berdiri di depannya, wajahnya tegang."Di mana Dasco?" tanya Sarah."Di kota. Pengintai kami melihatnya di pasar utama. Dia tidak sendirian. Ada sekitar tiga puluh orang bersamanya. Bukan prajurit biasa. Mereka membawa pedang dan tombak."Adrian turun dari kudanya, menatap Barra. "Tiga puluh? Dari mana dia dapat pasukan sebesar itu?""Entahlah. Mungkin dari sisa kelompok yang masih setia. Mungkin dari luar. Yang jelas, mereka bergerak menuju istana."Sarah menatap Adrian. "Kita tidak punya banyak waktu."Adrian mengangguk. Ia berjalan cepat ke ruang kerja, diikuti Sarah, Barra, dan Mira. Di ruang kerja, Lady Mira sudah menunggu dengan peta kota yang terbentang di meja."Di sini," kata Lady Mira, menunjuk satu titik di pasar utama. "Dasco terlihat di sini sekitar satu jam lalu. Mereka bergerak ke arah timur, menuju gerbang
Sarah tidak menunggu pagi. Begitu Lady Mira melaporkan bahwa Adrian yang lain hilang, ia langsung menuju kamar lelaki itu. Pintu kamar terbuka. Dua penjaga yang seharusnya berjaga sudah dipindahkan ke ruang tabib. Salah satunya masih belum sadar. Satunya lagi duduk di lantai, kepalanya diperban, matanya masih berkunang-kunang.Sarah berjongkok di depannya. "Apa yang kau lihat?"Penjaga itu menelan ludah. "Aku tidak melihat siapa-siapa, Nona. Aku hanya merasa ada yang memukul belakang kepalaku. Lalu gelap.""Kau tidak mendengar suara langkah?""Tidak. Tidak ada suara. Seperti... seperti orang yang sudah hafal tempat ini."Sarah berdiri, menatap Adrian. "Orang dalam. Lagi."Adrian mengangguk. Ia memeriksa kamar. Tempat tidur berantakan, tidak ada tanda perkelahian. Jendela tertutup rapat. Tidak ada jejak kaki di lantai. Lelaki muda itu pergi dengan tenang, atau dibawa oleh seseorang yang ia percaya.Barra masuk, wajahnya t
Lelaki tinggi itu menerjang lebih dulu. Pedangnya menyambar ke arah leher Adrian. Adrian menangkis, bunyinya keras di udara malam. Mereka beradu pedang, mendorong satu sama lain. Lelaki itu kuat, terlatih. Adrian mundur selangkah, lalu membalas dengan tebasan cepat. Lelaki itu menghindar, lalu menendang perut Adrian. Adrian tersandung, tidak jatuh.Sarah menerjang ke arah dua penyerang yang mencoba mengepung dari samping. Belatinya menusuk lengan satu orang. Orang itu menjerit, tidak mundur. Penyerang kedua menebas ke arah kepala Sarah. Sarah menunduk, lalu menendang lututnya. Penyerang itu jatuh, cepat bangkit.Mira menghadapi satu penyerang dengan pedang pendek. Lengannya masih sakit, ia masih cepat. Ia menangkis, berputar, lalu menusuk perut lawan. Lawan itu jatuh. Mira tidak menunggu. Ia menarik pedangnya, lalu berbalik menghadapi penyerang berikutnya.Barra bertarung dengan dua orang sekaligus. Pedangnya bergerak cepat, efisien. Ia menangkis tebasan pertama
Mereka berangkat sebelum matahari terbit. Kali ini hanya Sarah, Adrian, Barra, dan Mira. Lelaki muda itu tinggal di istana, dikawal Lady Mira dan dua penjaga. Sarah tidak ingin membawanya. Terlalu berisiko. Terlalu banyak yang bisa terjadi jika ia bertemu Dasco.Mereka berkuda ke timur, melewati jalanan berdebu yang berkelok di antara perbukitan rendah. Matahari naik perlahan, membakar udara. Sarah menutupi wajahnya dengan kerudung tipis. Adrian berkuda di sampingnya, tidak banyak bicara. Barra memimpin, matanya terus mengawasi sekitar. Mira di belakang, lengannya masih dibalut.Mereka tiba di pelabuhan timur saat matahari sudah tinggi. Pelabuhan itu lebih kecil dari pelabuhan selatan. Hanya beberapa kapal yang berlabuh. Dermaganya kayu, sudah lapuk di beberapa bagian. Bau ikan asin dan garam memenuhi udara. Para nelayan sibuk memperbaiki jala, beberapa pedagang menawarkan barang dagangan.Sarah turun dari kudanya. "Di mana pengintai melihatnya?"Barra me
Pagi itu istana terasa berbeda. Sarah merasakannya begitu ia keluar dari kamar. Para pelayan berjalan lebih cepat, suara mereka lebih pelan. Beberapa menunduk saat berpapasan, tidak ada yang berani menatap lama. Berita tentang lelaki muda itu sudah menyebar. Adrian yang lain. Saudara raja. Bayangan yang selama ini disembunyikan.Sarah menemui Adrian di ruang kerja. Raja itu sudah duduk di mejanya, ditemani Barra dan Lady Mira. Di sudut ruangan, lelaki muda itu berdiri dekat jendela, menatap halaman. Ia memakai pakaian bersih yang dipinjamkan dari gudang istana. Wajahnya masih pucat, matanya masih sayu, ia tidak lagi terlihat seperti orang yang siap menyerang."Kau sudah makan?" tanya Sarah.Lelaki muda itu menoleh. "Sedikit."Adrian berdiri. "Kita akan bicara di balai dewan. Kau harus hadir. Aku ingin kau mendengar apa yang akan kukatakan."Lelaki muda itu menatap Adrian. "Aku bukan bagian dari dewan.""Hari ini kau bagian dari dewan. Kau sa







