LOGINJamuan itu dirancang sempurna, bukan sekadar pesta, melainkan perang yang dibungkus kain sutra. Permaisuri mengundang tokoh dari provinsi tetangga, pejabat tinggi yang menjadi mulut bagi kabar istana, dan juru tulis yang kata-katanya bisa jadi senjata. Kursi disusun agar aliran pandang mengarah ke singgasana, ke meja Kaisar, dan ke posisi yang ditentukan untuk Selir Ke-7.Xuyue memasuki aula dengan langkah yang sudah ia latih sejak malam-malam penuh waspada. Jubahnya anggun, bukan untuk mencolok, tapi menimbulkan rasa aman palsu pada lawan."Mereka menganggap malam ini bisa mematahkan aku dalam satu pementasan," batinnya. "Mereka lupa aku juga melihat panggung dari balik tirai."Permaisuri memimpin jamuan dengan sapaan hangat. Lian Qixue dan Mo Yanyu duduk dekat meja sumber bisik-bisik, Zhao Ruilan menempel di sisi lain, wajahnya manis tapi matanya seperti jarum. Bahkan hidangan disusun untuk mengarahkan pembicaraan ke topik yang diinginkan.Kaisar hadir tenang, menyambut tamu lalu me
Kabar itu menyebar seperti bisikan yang melintasi aula-aula istana, bukan suara resmi, melainkan desas-desus yang menyelinap dari sela-sela tirai.Para dayang berbisik lebih cepat, pejabat mengubah raut wajah mereka, dan di antara selubung sutra, kecemburuan yang lama dipendam kini merekah menjadi sesuatu yang lebih tajam.Xuyue merasakan perubahan itu seperti kutub magnet yang bergeser: tarikan halus yang mengubah keseimbangan segala hubungan."Permainan mereka tak lagi tentang harga diri," batinnya. "Ini sudah berubah menjadi upaya untuk menyingkirkan aku sebelum mereka kehilangan segalanya."Ia duduk di kamarnya, memandangi token perunggu dalam kotak kecil. Bagi mata awam token itu biasa saja, namun bagi yang pernah melihat formasi, simbol lingkar bercabang itu adalah kunci untuk membuka jalur yang lama tertidur.Kaisar tampak lebih sering menarik diri ke ruang studinya, menatap peta dan laporan pengintai.Namun ada sesuatu yang berbeda dalam caranya menatap Xuyue: campuran kebingu
Malam menjemput istana dengan selimut kabut tipis. Suara organ kecil di aula mereda, koridor yang kemarin penuh tawa kini sunyi. Xuyue menunggu hingga langkah terakhir meredup, lalu menyingkap tirai jendela paviliunnya."Ini malam yang tepat," batinnya, merasakan denyut energinya yang samar. Ia menuruni tangga rahasia yang hanya diketahui beberapa orang di istana, tempat yang pernah ditunjukkan Leluhur sekilas.Setelah menutup lubang rahasia dengan kain, ia menyelinap melintasi koridor servis menuju gerbang belakang.Ia berjalan melewati dapur kosong dan gudang terkunci, langkahnya senyap, napasnya tertahan. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi Selir Ke-7 yang rapuh, malam memberinya kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.Di gerbang belakang, taman kecil yang jarang digunakan terbentang di hadapannya. Ia menutup mata, memperluas indera ruhnya. Ada residu energi yang berbeda dari bekas ritual biasa, jejak formasi yang tersisa, garis halus berputar seperti sarang laba-laba.Jejak itu me
Ruangan jamuan terang oleh lentera emas yang tergantung rapi, tetapi cahaya itu tidak mampu menghangatkan suasana.Di bawah permukaan keramahan terdapat arus yang tajam, seperti deretan pisau tipis yang menunggu satu gerakan salah untuk melesat.Xuyue melangkah masuk, setiap geraknya terkalkulasi, jubahnya sederhana namun potongan kainnya mengikuti lekuk yang membuat banyak mata menoleh terlalu lama.Ia berjalan seperti orang yang tahu bagaimana sebuah senyum bisa menjadi tombak, dan bagaimana diam bisa menjadi perisai.Lian Qixue menyambutnya terlebih dahulu, raut wajahnya manis namun matanya memeriksa seperti orang yang menimbang kualitas perhiasan."Selir Ke-7, kau datang tepat waktu," katanya, suaranya halus namun mengandung nada yang berlapis.Di sekeliling, Mo Yanyu memperlihatkan kepedulian yang dibuat-buat, Zhao Ruilan menampilkan keramahan yang terlalu cepat, Han Feixia memancarkan ketegangan yang siap meledak, Yu Shuangli menunjukkan dingin yang meremehkan, dan Jin Meiqin me
Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga
Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber







