ANMELDENBab 102
Aku merampas undangan itu dari tangan kasim yang gemetar bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Kertasnya terasa berat, terbuat dari serat sutra terbaik khas selatan yang halus, masih memancarkan aroma harum bunga melati dan cendana yang khas. Tulisan kaligrafinya begitu indah, setiap goresannya tegap, sengaja, dan penuh keanggunan yang tak bisa ditiru sembarangan orang.Undangan Resmi Perayaan Musim Semi Kekaisaran Selatan.Mataku menelusuriEpilog Lima tahun telah berlalu sejak hari di mana Tuan Yuan ditangkap dan perdamaian antara Kekaisaran Utara dan Selatan akhirnya terjalin. Tidak ada lagi pasukan yang berbaris di perbatasan, tidak ada lagi utusan yang datang dengan wajah penuh curiga, dan tidak ada lagi bisik-bisik tentang perang yang akan datang. Langit di atas dua kekaisaran itu kini selalu biru dan tenang, sama seperti hati rakyatnya yang akhirnya bisa bernapas lega. Musim panas itu, taman di Sayap Timur bermekaran lebih indah dari sebelumnya. Bunga melati tumbuh subur di mana-mana, menebarkan harum lembut yang memenuhi udara setiap kali angin berhembus pelan. Di beranda yang sama tempat aku dulu duduk melukis sendirian, kini aku duduk di samping Hongwu, dan di antara kami, seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata gelap dan senyum cerah sedang bermain dengan karangan bunga melati yang baru saja kupetik. "Lihat, Ibu! Bunganya putih sekali!" serunya riang, m
Bab 171 Suara langkah kaki yang berat dan berirama semakin mengeras, menggema di seluruh ruang gua yang luas. Wajah Tuan Yuan yang tadi penuh kemenangan perlahan berubah pucat. Ia berbalik cepat ke arah mulut gua, di mana cahaya obor yang terang benderang mulai menembus kegelapan, diikuti oleh barisan prajurit yang rapi dan gagah — lambang naga emas Kekaisaran Selatan berkibar di atas kepala mereka. Di barisan paling depan, menunggangi kuda hitam yang tegap, berdiri seorang pria berwajah tegas namun matanya memancarkan kehangatan saat melihatku. Kaisar Lian Cheng — Ayahku — telah datang sendiri, membawa pasukan terbaiknya. "Kau terkepung, Tuan Yuan!" suara Ayahku menggelegar, menembus kebisingan di dalam gua. "Kau tidak punya jalan keluar. Lepaskan tawananmu dan menyerahlah sekarang, atau kau akan binasa di sini!" Tuan Yuan mundur selangkah, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat. Wajahnya yang tua kini tampak bengkok karena amarah dan
Bab 170 Tujuh hari berlalu sejak Xiwu diculik dan peringatan dari Kaisar Lian Cheng tiba. Tujuh hari di mana setiap detik terasa seperti satu jam penuh ketegangan. Istana kini berubah menjadi benteng — penjaga berlipat ganda, pintu-pintu dijaga ketat, dan setiap orang yang masuk atau keluar diperiksa dengan teliti. Namun di luar tembok istana, kabar buruk terus berdatangan. Pasukan Tuan Yuan semakin mendekat, dan bisik-bisik tentang perang yang akan datang mulai terdengar di jalan-jalan kota. Sore itu, aku duduk di ruang kerja Sayap Timur, menyusun peta perbatasan yang ditandai dengan garis-garis merah dan biru. Hongwu berdiri di sampingku, tangannya menunjuk sebuah titik di pegunungan yang curam. "Di sinilah kemungkinan besar markas mereka," katanya pelan namun tegas. "Gua-gua alami yang luas, tersembunyi di balik hutan lebat, dan hanya bisa dimasuki melalui satu jalur sempit. Tempat yang hampir mustahil untuk diserang secara langsung." Aku m
Bab 169 Siang itu terasa berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam saat kami menunggu kabar dari Kasim Zhou yang sedang menginterogasi ketiga pelayan itu. Aku duduk di beranda Sayap Timur, menatap bunga melati yang bergerak pelan tertiup angin, namun pikiranku melayang jauh — ke arah Selatan, ke arah Ayahku, dan ke arah musuh yang bersembunyi di balik semua ini. Hongwu keluar dari ruang kerja, wajahnya masih tampak serius namun sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Ia duduk di sampingku, meletakkan secangkir teh hangat di tanganku. "Kasim Zhou baru saja mengirim pesan," katanya pelan. "Mereka bicara. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengakui semuanya. Mereka adalah orang-orang yang disewa oleh orang kepercayaan Tuan Yuan. Tugas mereka hanya satu — memantau gerak-gerikmu, melaporkan kapan penjaga berganti, dan membukakan jalan jika diperlukan. Mereka tidak tahu rencana besarnya. Mereka hanya tahu bahwa mereka dibayar mahal untuk itu."
Bab 168 Fajar baru saja menyingsing, menyisakan warna ungu pucat di ufuk timur saat kami berdiri di ruang kerja Sayap Timur. Tubuh ketiga pembunuh bayaran itu sudah dibawa pergi secara diam-diam, namun jejak ancaman yang mereka bawa masih terasa berat di udara. Lencana naga hitam itu tergeletak di atas meja kayu, berkilau suram di bawah cahaya lilin yang mulai memudar. "Tuan Yuan..." gumam Hongwu pelan, matanya tak lepas dari lencana itu. "Namanya pernah disebutkan di antara para penasihat tertinggi Selatan. Pria yang cerdas, berwawasan luas, dan konon sangat dipercaya oleh Kaisar Lian Cheng. Lalu lima tahun lalu, ia tiba-tiba menghilang. Semua orang mengira ia telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun." Aku duduk di kursi di hadapannya, tangan kananku menyentuh lencana itu dengan ujung jari seakan benda itu bisa berbicara. "Dia tidak mati. Dia bersembunyi. Dan selama lima tahun itu, ia menyusun rencana — rencana yang
Bab 167 Tiga hari setelah perjanjian damai ditandatangani, suasana di istana tampak tenang di permukaan, namun di bawahnya, ketegangan justru semakin menebal. Kabar tentang persatuan Utara dan Selatan menyebar luas, disambut sukacita oleh rakyat biasa, namun dibenci oleh segelintir orang yang selama ini mendapat keuntungan dari perpecahan kedua kekaisaran. Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerja Sayap Timur, menyusun daftar pertukaran benih padi dan teknik pertanian yang akan dikirim ke Selatan. Jasmine masuk dengan wajah cemas, langkahnya terburu-buru namun tetap berhati-hati. "Nyonya," bisiknya pelan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Ada hal aneh. Tiga pelayan yang baru saja ditugaskan ke sini — mereka tidak terdaftar di catatan istana. Dan saat aku menyapa mereka tadi, aksen mereka... bukan dari Utara, juga bukan dari Selatan. Seperti orang dari wilayah perbatasan barat, tempat yang selalu dijaga ketat dan jarang dikunjungi siapa pu







