로그인Bab 94
Aroma daging panggang yang gurih dan anggur mahal memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi dupa cendana yang biasa menyertai setiap jamuan istana. Di sisi kanan singgasana, Lady Xiwu duduk dengan anggun, jubah merah merahnya tampak berkilau terkena cahaya lilin. Kipas yang ia kibaskan perlahan menyembunyikan senyum puas yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Di sebelahnya, Chuntao duduk sedikit menunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah singgasana dengan harapan yangBab 168 Fajar baru saja menyingsing, menyisakan warna ungu pucat di ufuk timur saat kami berdiri di ruang kerja Sayap Timur. Tubuh ketiga pembunuh bayaran itu sudah dibawa pergi secara diam-diam, namun jejak ancaman yang mereka bawa masih terasa berat di udara. Lencana naga hitam itu tergeletak di atas meja kayu, berkilau suram di bawah cahaya lilin yang mulai memudar. "Tuan Yuan..." gumam Hongwu pelan, matanya tak lepas dari lencana itu. "Namanya pernah disebutkan di antara para penasihat tertinggi Selatan. Pria yang cerdas, berwawasan luas, dan konon sangat dipercaya oleh Kaisar Lian Cheng. Lalu lima tahun lalu, ia tiba-tiba menghilang. Semua orang mengira ia telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun." Aku duduk di kursi di hadapannya, tangan kananku menyentuh lencana itu dengan ujung jari seakan benda itu bisa berbicara. "Dia tidak mati. Dia bersembunyi. Dan selama lima tahun itu, ia menyusun rencana — rencana yang
Bab 167 Tiga hari setelah perjanjian damai ditandatangani, suasana di istana tampak tenang di permukaan, namun di bawahnya, ketegangan justru semakin menebal. Kabar tentang persatuan Utara dan Selatan menyebar luas, disambut sukacita oleh rakyat biasa, namun dibenci oleh segelintir orang yang selama ini mendapat keuntungan dari perpecahan kedua kekaisaran. Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerja Sayap Timur, menyusun daftar pertukaran benih padi dan teknik pertanian yang akan dikirim ke Selatan. Jasmine masuk dengan wajah cemas, langkahnya terburu-buru namun tetap berhati-hati. "Nyonya," bisiknya pelan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Ada hal aneh. Tiga pelayan yang baru saja ditugaskan ke sini — mereka tidak terdaftar di catatan istana. Dan saat aku menyapa mereka tadi, aksen mereka... bukan dari Utara, juga bukan dari Selatan. Seperti orang dari wilayah perbatasan barat, tempat yang selalu dijaga ketat dan jarang dikunjungi siapa pu
Bab 166 Pagi itu, langit di atas istana tampak biru jernih tanpa awan, namun udara di sekitar Aula Besar terasa berat dan penuh ketegangan. Para penjaga berdiri berbaris ganda di sepanjang lorong, zirah mereka berkilau terkena cahaya matahari, dan setiap langkah kaki terdengar berirama dan tegas. Hari ini bukan pertemuan biasa — hari ini, dua kekaisaran yang dulu saling waspada akan duduk berhadapan untuk membicarakan masa depan. Dan aku, Lianhua, putri dari Kekaisaran Selatan yang kini menjadi Selir Utama Kekaisaran Utara, akan berdiri di tengah-tengah mereka. Hongwu berjalan di sampingku, jubah kekaisarannya yang berwarna emas dan hitam berkilau megah. Ia menoleh padaku sesaat, matanya menyiratkan kekuatan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam tanganku erat, seakan ingin menyalurkan seluruh keberaniannya kepadaku. "Jangan takut," bisiknya pelan, hanya untuk telingaku. "Kau bukan sekadar pengamat di sini.
Bab 165 Musim berganti, dan bunga melati di halaman Sayap Timur mekar lebih lebat dari sebelumnya, menebarkan harum manis yang memenuhi udara setiap kali angin berhembus. Tidak ada lagi bisik-bisik di lorong-lorong istana, tidak ada lagi tatapan curiga, dan tidak ada lagi bayangan yang mengintai dari balik tiang-tiang batu yang megah. Semuanya telah berubah — bukan karena kekuasaan yang menakutkan, melainkan karena ketenangan yang perlahan menyebar ke seluruh penjuru istana. Namun kedamaian ini, ternyata baru saja permulaan. Pagi itu, aku duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sedang menata meja sarapan di sampingku, wajah mereka selalu berseri-seri setiap pagi. "Nyonya, lihatlah," kata Mei Mei sambil menunjuk ke arah gerbang utama Sayap Timur. "Ada utusan dari Kekaisaran Selatan. Mereka membawa surat dan hadiah dari Kaisar Lian Cheng." Tanganku berhenti bergerak. Hatiku berdebar ken
Bab 164 Dua hari berlalu sejak teh beracun itu ditemukan. Kami sengaja tidak melakukan tindakan apa pun, membiarkan Xiwu berpikir bahwa rencananya berjalan lancar — bahwa aku mungkin meminumnya, bahwa aku mulai terpengaruh. Setiap pagi, Hongwu berangkat ke Aula Besar dengan wajah yang tampak serius, seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sengaja membiarkan berita menyebar — bahwa aku merasa kurang sehat belakangan ini, bahwa aku sering merasa pusing dan lelah. Kabar itu perlahan menyebar ke seluruh penjuru istana, hingga akhirnya sampai ke telinga Xiwu. Pagi itu, saat Hongwu sedang duduk di singgasana, membahas urusan negara dengan para menteri, Xiwu tiba-tiba muncul di ambang pintu Aula Besar. Ia mengenakan jubah terbaiknya, wajahnya tampak penuh keprihatinan yang dibuat-buat, seakan ia benar-benar khawatir dengan kondisiku. "Yang Mulia," suaranya terdengar lembut namun cukup didengar semua orang. "Hamba mendengar kabar bahwa Nyonya Lianhua
Bab 163 Tiga hari berlalu tanpa ada kejadian yang mencurigakan. Namun keheningan itu justru membuatku semakin waspada. Setiap kali melangkah melewati lorong-lorong istana, setiap kali menerima makanan atau minuman dari tangan pelayan yang tak kukenal, aku selalu teringat kata-kata Hongwu — Xiwu tidak akan diam saja. Dan keheningan ini, bagiku, terasa seperti ketegangan sebelum badai benar-benar melanda. Pagi itu, udara di Sayap Timur terasa lebih hangat dari biasanya. Aku duduk di meja kerjaku, kuas di tangan, namun pandanganku tak kunjung bisa fokus pada kertas kosong di hadapanku. Jasmine masuk membawa nampan berisi secangkir teh melati yang masih mengepul hangat, wajahnya tampak sedikit cemas. "Nyonya," bisiknya pelan sambil meletakkan cangkir itu di sudut meja, jauh dari lukisan yang belum kering. "Teh ini dikirim dari dapur utama. Katanya... Nyonya Xiwu mengirimkan pesan damai. Dia bilang — kutipan — 'tidak ada gunanya saling bermusuhan, lebih baik







