Beranda / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Topeng Kegembiraan dan Bayang Keraguan

Share

Topeng Kegembiraan dan Bayang Keraguan

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-06-05 20:33:39

Bab 4

"Benarkah?" tanyaku dengan nada yang terdengar begitu antusias, seolah tak ada beban sedikit pun di hatiku. "Saya sangat gembira, akhirnya Yang Mulia Kaisar mulai memperhatikan saya."

Kalimat itu terucap begitu halus, namun di balik kata-katanya aku menyisipkan makna yang lain—biarkan ia berpikir apa yang ia mau, biarkan ia menebak-nebak apa yang sebenarnya tersembunyi di balik senyumku ini.

Mata Nyonya Xiwu terbelalak lebar, tak percaya mendengar jawaban itu. Tangannya yang tadi menyentuh pipiku kini membeku di udara, kaku tak bergerak. Sikap gembira yang kutunjukkan begitu meyakinkan, hingga untuk sesaat ia benar-benar tertegun, tak tahu harus berkata apa lagi.

"Kau... kau justru senang mendengar hal ini?" suaranya tercekat, ketenangan dan kesombongan yang biasa ia pamerkan perlahan mulai retak. "Selama empat tahun kau bersembunyi di sudut terpencil ini, tak pernah menampakkan diri, tak pernah berusaha mendekat... dan sekarang saat Yang Mulia akhirnya mengingat keberadaanmu—kau justru bersukacita seolah memenangkan hadiah terbesar?"

Ia tertawa tajam, namun kali ini tawanya tak lagi terdengar setajam biasanya, bahkan ada nada ragu yang menyelinap di sana. "Sungguh pemandangan yang menggelikan. Kau berpura-pura tenang, rendah hati, dan tak berambisi, padahal diam-diam kau mendambakan perhatian-Nya sepanjang waktu, bukan?"

Xiwu melangkah mundur perlahan, melipat kedua tangannya di dada sambil menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan yang kini penuh dugaan baru. Matanya menyipit tajam, berusaha membongkar apa yang tak terlihat di permukaan wajahku.

"Aku harus mengakui, aku terkesan dengan aktingmu itu," ucapnya, nada bicaranya berubah menjadi penuh perhitungan yang dingin. "Namun jangan terlalu cepat merasa bangga, Lianhua. Yang Mulia itu sosok yang sangat menuntut, penuh ketelitian, dan tak pernah menyukai selir yang terlalu berani atau merasa diri istimewa hanya karena sekali dipanggil."

Dengan seringai yang tak pernah hilang dari bibirnya, Xiwu berbalik perlahan hendak meninggalkan paviliun. "Aku akan segera menyampaikan pada Yang Mulia bahwa kau sudah bersiap dan menunggu kedatangannya dengan tak sabar malam ini."

"Tentu saja," jawabku singkat sambil tersenyum tipis, senyum yang sengaja kubuat tampak polos namun menyembunyikan segalanya.

Xiwu berhenti sejenak di ambang pintu paviliun, lalu menoleh ke belakang dengan tatapan yang penuh kebencian tersembunyi di balik keramahan palsunya.

"Nikmati malammu, Lianhua," ucapnya manis namun setiap katanya beracun. "Semoga kau benar-benar siap menghadapi apa yang diharapkan Yang Mulia dari seorang selir. Jangan sampai kau menyesal setelah terlambat."

Ia pun pergi melangkah menjauh, menghilang di antara pepohonan taman yang rimbun, kain hanfu merahnya berdesir halus di belakangnya bagaikan ekor ular yang melata perlahan menuju mangsanya. Aku menatap punggungnya yang menjauh hingga tak terlihat lagi, lalu perlahan senyumku luntur. Bahuku merosot lemas, dan aku menarik napas panjang yang terasa berat, mencoba menenangkan detak jantungku yang sempat berpacu kencang.

Saat matahari perlahan terbenam di ufuk barat, menyisakan warna jingga kemerahan yang perlahan berganti gelap, bayangan panjang mulai merayap di halaman istana. Di kediamanku yang sederhana, Istana Bunga, para pelayan sibuk mempersiapkan segalanya sesuai aturan yang berlaku. Seprai sutra berwarna krem yang baru digelar rapi di atas tempat tidur besar, dupa beraroma melati harum dinyalakan di sudut ruangan, dan nampan berisi kue-kue halus serta anggur dingin disusun rapi di atas meja kecil di dekat jendela. Cahaya lilin di tempat-tempat strategis memberikan kesan hangat namun sekaligus penuh ketegangan yang tak terucap.

"Mei Mei, sepertinya aku benar-benar sudah gila hari ini," bisikku pelan kepada pelayan setiaku yang sedang merapikan gorden jendela, suaraku hampir tak terdengar di tengah kesibukan pelayan lain.

Mei Mei segera menghentikan gerakannya, meletakkan kain yang dipegangnya, lalu berbalik menghadapku dengan wajah penuh keprihatinan namun tetap tenang. Ia melangkah mendekat, menjauh dari pelayan lain yang sedang menyusun bunga segar di vas keramik.

"Nyonya tidak gila," jawabnya lembut namun tegas, lalu menunduk sedikit agar hanya aku yang mendengarnya. "Nyonya hanya... sedang menghadapi keadaan yang jauh lebih sulit daripada apa pun yang pernah Nyonya alami selama tinggal di sini."

Ia menatapku lekat-lekat, matanya penuh pengertian sekaligus kekhawatiran yang mendalam.

"Perhatian dari Yang Mulia ibarat pedang bermata dua, Nyonya," lanjutnya berbisik pelan. "Ia bisa mengangkat derajat Nyonya setinggi langit dalam sekejap mata, namun bisa pula menjatuhkan Nyonya hingga tak bersisa apa pun jika tidak ditangani dengan sangat hati-hati dan kebijaksanaan."

Tangan Mei Mei terulur perlahan menggenggam tanganku dengan erat, seolah ingin menyampaikan kekuatan dariku kepadaku.

"Apapun yang terjadi malam ini," ucapnya mantap, "ingatlah satu hal: Nyonya jauh lebih kuat dan lebih cerdas daripada yang Nyonya kira sendiri. Dan apa pun yang diharapkan atau diinginkan oleh Yang Mulia, Nyonya masih memegang kendali atas diri sendiri dan jalan yang akan Nyonya ambil."

Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan: "Aku akan menunggu tepat di luar pintu utama, tak akan pergi ke mana pun. Jika Nyonya membutuhkan pertolongan atau hanya sekadar memanggil, aku akan segera masuk."

"Baiklah," jawabku sambil mengangguk pelan, meremas lembut tangannya sebagai tanda terima kasih. "Pastikan pelayan lain juga tetap waspada dan menjaga jarak, jangan sampai ada yang menguping atau menyebarkan berita sembarangan. Entah mengapa, hatiku merasa gelisah sekali malam ini, seolah ada sesuatu yang buruk akan terjadi."

Mei Mei mengangguk mantap, lalu melepaskan genggamannya. "Aku akan memastikan semuanya bersiap siaga, Nyonya. Takkan ada bahaya yang berani mengganggu kedamaian di sini malam ini. Aku janji."

Setelah Mei Mei pergi memeriksa keadaan di luar, aku duduk sendirian di kursi kayu dekat meja makan, membiarkan keheningan menyelimutiku perlahan. Suasana istana perlahan menjadi hening total, seolah seluruh penghuninya menahan napas serentak, menanti nasib apa yang akan menimpaku malam ini. Udara malam yang masuk dari celah jendela terasa makin berat, dipenuhi rasa penasaran, ketakutan, dan dugaan-dugaan yang tak terjawab. Aku menatap pantulan diriku di cermin kecil di atas meja—wajahku tampak tenang, namun mataku menyembunyikan kegelisahan yang nyata.

Waktu berlalu begitu lambat, hingga akhirnya saat bintang-bintang mulai bersinar terang di langit gelap dan suara jangkrik mulai terdengar pelan dari halaman, terdengar ketukan pelan namun tegas di pintu depan. Jantungku berdegup kencang sekali lagi, namun aku menarik napas panjang berusaha menguatkan hati, lalu bersuara dengan nada yang sekuat tenaga kupertahankan agar tetap tenang:

"Masuklah."

Pintu kayu itu terbuka perlahan, dan Kaisar Hongwu melangkah masuk. Kehadirannya seketika memenuhi seluruh ruangan ini, membuat udara terasa lebih padat. Ia tak lagi mengenakan pakaian perang yang penuh debu, melainkan jubah sutra berwarna gelap yang disulam halus dengan motif awan naga berwarna perak, namun wibawa yang terpancar darinya tetap sama kuatnya, bahkan terasa lebih menekan di ruangan yang sederhana ini. Langkah kakinya terdengar berat namun berirama jelas di atas lantai kayu yang mengilap.

Matanya yang tajam segera menemukan sosokku yang duduk diam di sudut ruangan, meneliti setiap inci penampilanku dengan cepat namun teliti. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya.

"Jadi kau ada di sini," ucapnya, suaranya terdengar jelas dan bergema pelan di tengah keheningan ruangan. "Sempat aku berpikir kau akan kembali bersembunyi di sudut taman seperti biasa, atau mungkin melarikan diri lewat pintu belakang."

Ia berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di hadapanku, namun tak ikut duduk di kursi yang tersedia. Matanya terus menatapku tanpa berkedip sedikit pun.

"Selamat datang di Istana Bunga yang sederhana ini, Yang Mulia," ujarku seraya memberi hormat dengan sopan sesuai aturan, menundukkan kepala sedikit namun tak berani terlalu lama membuang muka.

Hongwu terkekeh pelan, matanya menyipit geli melihat sikapku yang berhati-hati itu.

"Tak ada yang benar-benar sederhana dari tempat ini, Lianhua," koreksinya lembut sambil memberi isyarat agar aku tak perlu terlalu kaku.

"Kau berhasil menciptakan ketenangan dan kehangatan di sini yang bahkan aku sendiri pun merasa damai seketika saat melangkah masuk. Sesuatu yang jarang kutemukan di kediaman lain di istana ini."

Ia berjalan perlahan mengelilingi ruangan, memperhatikan setiap sudut dengan saksama—dari pola sulaman di tirai jendela, susunan bunga di vas, hingga aroma samar yang melekat di udara. Seolah sedang mempelajari setiap rahasia yang tersimpan di dalam ruangan ini.

"Katakan padaku," mulainya kembali setelah berhenti di dekat meja, sambil menuangkan anggur ke dalam dua cangkir porselen halus. "Apa yang sebenarnya membuatmu berbeda dari wanita lain yang ada di istanaku?"

"Apa maksud pertanyaan Yang Mulia?" tanyaku tenang sambil menatapnya lurus, berusaha tak terlihat gugup.

Hongwu mengangkat salah satu cangkir itu, namun matanya tak lepas sedikit pun dari wajahku saat ia berjalan kembali mendekat.

"Aku ingin tahu," ulangnya pelan, "mengapa selama empat tahun ini kau memilih tetap berada di pinggiran, menjauh dari hiruk-pikuk dan persaingan, sementara selir-selir lain berjuang mati-matian saling berebut agar diperhatikan olehku?" Ia menyesap sedikit anggur di cangkirnya, lalu menatapku tajam. "Dan Xiwu bercerita bahwa kau tampak sangat gembira tanpa ragu sedikit pun saat mendengar kabar bahwa aku ingin bertemu dan menemuimu malam ini. Apakah itu benar? Apakah kau akhirnya menginginkan perhatianku ini, setelah sekian lama menghindar?"

Nada bicaranya terdengar santai seolah hanya berbincang biasa, namun ada ketajaman tersembunyi yang tak bisa kurasakan salah—persis seperti seekor pemangsa yang sedang diam-diam mengamati setiap gerak-gerik mangsanya sebelum menerkam.

Perlahan aku menundukkan pandanganku, wajahku berubah sendu seolah tersentuh kesedihan yang mendalam.

"Aku bukan bersembunyi, Yang Mulia..." jawabku dengan suara yang terdengar lemah dan pelan, lalu menundukkan kepala lebih dalam. "Aku hanyalah seorang selir biasa, tak memiliki kerabat berkuasa, tak memiliki harta, maupun pengaruh apa pun di istana ini. Maka dari itu, aku selalu saja tersisihkan, dilupakan, dan dianggap tak ada oleh semua orang..."

Alis Hongwu sedikit berkerut melihat ekspresiku. Ia segera meletakkan kembali cangkirnya di meja kecil di sampingnya, lalu melangkah mendekat hingga jarak kami sangat dekat. Dengan jari telunjuknya yang dingin namun kuat, ia perlahan mengangkat daguku agar aku terpaksa kembali menatap matanya yang gelap.

"Biasa?" ulangnya lembut namun tegas, matanya menyelidiki ke dalam hingga ke dasar jiwaku. "Tak ada hal yang biasa darimu, Lianhua. Sikapmu, ketenanganmu, bahkan keberanianmu menantangku kemarin... kau justru yang membuatku semakin penasaran, sesuatu yang tak pernah kulakukan pada wanita lain selama aku memerintah."

Ibu jarinya menyentuh pelan bibir bawahku, sentuhan yang terasa begitu lembut namun penuh kekuasaan mutlak yang tak bisa ku tolak.

"Aku tak percaya pada kebetulan semata," gumamnya pelan, suaranya terdengar mendesak. "Kedatanganmu ke sini empat tahun lalu... sikapmu yang aneh... rasanya tak sekadar takdir biasa yang membawamu ke hadapanku. Ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya."

Aku menatap balik dengan ketegaran yang ku pertahankan sekuat tenaga, meski mataku perlahan mulai berkaca-kaca, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadaku.

"Jika benar ini semua adalah takdir," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar, "mengapa kabarnya Yang Mulia justru sangat membenci keberadaan ku? Mengapa aku harus ditempatkan di Istana Bunga yang terpisah jauh dari kediaman selir lainnya, seolah tak pantas berada di dekatmu?"

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Yang Terlupakan   Waktu Yang Hanya Milik Kita Berdua

    Bagian 1 Matahari baru saja merayap naik di atas atap istana Utara, menyinari halaman Sayap Timur dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara pagi terasa segar, beraroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang pagar kayu — tanaman yang kubawa dari Selatan, yang kini berakar kuat di tanah Utara, seolah tak pernah berpindah tempat sama sekali. Embun masih menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah basah, menciptakan bunyi halus yang menenangkan di tengah keheningan pagi.Aku duduk di meja kayu rendah di beranda, sedang menyeduh teh melati. Uap panas mengepul perlahan, membawa harum yang lembut dan menenangkan. Tangan yang tadi menyiram bunga masih sedikit basah, dan ujung rambutku yang terurai terkena embun pagi yang dingin namun menyegarkan. Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada utusan yang berjalan bergegas. Hanya aku, cangkir teh yang mengepul, dan dunia yang perlahan terbangun dalam keheningan yang damai.Belum lama, pintu terbuka pelan. Hong

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 4

    Cerita Sampingan 2 — Story 4: Warisan yang Tak Pernah Pudar Bagian 1: Musim Gugur yang Penuh Kenangan Waktu berlalu bagaikan sungai yang tenang, membawa musim demi musim tanpa henti. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak hari gempa besar itu — tiga puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tembok yang dibangun, dan tidak ada satu pun orang yang mati karena perang atau perselisihan antar-wilayah. Dua kekaisaran yang dulu saling bermusuhan kini telah menyatu sepenuhnya, menjadi satu negeri yang luas, makmur, dan damai — tempat di mana bunga melati tumbuh di setiap halaman rumah, dan nama Lianhua serta Hongwu diucapkan dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh jutaan orang. Namun waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Rambutku kini memutih sepenuhnya, kerutan melukis wajahku seperti peta perjalanan panjang yang telah kutempuh. Hongwu juga demikian — tubuhnya masih tegap, namun langkahnya lebih pelan, dan matanya yang dulu tajam kini penuh kelembutan dan kedamaian. K

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 3

    Cerita Sampingan 2 — Story 3: Di Bawah Langit yang SamaBagian 1: Kabar yang Menggetarkan Dua NegeriSetelah musim kemarau yang berat itu berlalu, dua kekaisaran yang bersatu tampak semakin kuat. Sawah kembali hijau, sungai mengalir jernih, dan di setiap perbatasan berdiri taman-taman bunga melati yang menjadi lambang perdamaian. Namun takdir selalu punya cara untuk menguji keteguhan hati manusia.Suatu musim semi, saat bunga-bunga bermekaran paling indah, utusan datang bergegas dari wilayah paling selatan — wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara dan pegunungan tinggi. Wajah utusan itu pucat, napasnya memburu, dan di tangannya memegang laporan yang disegel dengan tinta merah — tanda bahaya paling mendesak.Hongwu membuka laporan itu di ruang kerja Sayap Timur. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar."Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat sepe

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2- 2

    Cerita Sampingan 2 — Story 2: Cahaya yang Menembus KabutBagian 1: Musim Kemarau yang Tak Kunjung UsaiTiga tahun telah berlalu sejak perjalanan kami ke Selatan — hari di mana Xiao Yu dengan polosnya berkata bahwa ia punya “dua rumah, tapi satu hati”. Kata-kata itu kini menjadi nyata dalam setiap sendi kehidupan dua kekaisaran yang bersatu. Perdagangan mengalir bebas, jalan-jalan diperlebar, sekolah-sekolah dibangun di perbatasan, dan setiap musim panen dirayakan bersama-sama, tanpa melihat dari mana asal seseorang. Namun takdir sering kali menguji kebahagiaan yang paling utuh sekalipun.Musim kemarau tahun itu datang lebih awal dan lebih ganas dari yang pernah ada. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun hujan turun. Sungai yang biasanya jernih dan deras perlahan menyusut, memperlihatkan bebatuan di dasarnya yang retak dan kering. Sawah-sawah hijau berubah menjadi kuning cokelat, lalu menjadi debu yang beterbangan saat angin bertiup. Waduk yang dulu mampu menampung air untuk satu

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 1

    Cerita Sampingan 2 — Story 1: Jejak Kecil di Dua NegeriTahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan.Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu."Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri."Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu penuh bahaya dan penjagaan ketat. Sekarang

  • Selir Yang Terlupakan   Story 4

    Cerita Sampingan 4: Kembalinya Cahaya di Balik KabutDua puluh tahun telah berlalu sejak hari perdamaian itu ditandatangani. Dua puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, dan tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Xiao Yu kini telah resmi menjadi Kaisar — bukan Kaisar Utara maupun Selatan, melainkan Kaisar dari Kekaisaran Bersatu, sebuah negeri yang membentang dari pegunungan utara hingga pantai selatan, di mana bendera bunga melati berkibar di setiap menara kota.Aku dan Hongwu kini hidup sederhana di Sayap Timur — bukan lagi sebagai penguasa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan sebagai orang tua yang bangga melihat buah perjuangan mereka tumbuh menjadi pohon yang menaungi jutaan orang. Rambut kami mulai memutih, kerutan muncul di wajah kami, namun di mata kami berdua, cahaya itu tidak pernah pudar — cahaya ketenangan yang tak ternilai harganya.Surat dari PegununganSuatu pagi musim

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status