ログインBab 3
"Yang Mulia, saya sedang tidak ingin bermain-main dengan Anda." Tanpa menunggu izin, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, aku berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya menembus punggungku—tatapan yang seharusnya membuatku gemetar ketakutan, namun entah mengapa saat ini yang kurasakan hanyalah kelelahan yang mendalam dan keinginan kuat untuk menjauh dari pria penuh teka-teki itu. Di belakangku, suasana ruangan mendadak hening total. Aku tak perlu melihatnya untuk tahu betapa terkejutnya Kaisar Hongwu. Selama puluhan tahun memerintah, belum pernah ada orang—apalagi seorang selir yang selama empat tahun dianggap tak ada—berani memotong pembicaraannya, menolak keinginannya, lalu pergi begitu saja seolah ia bukan penguasa mutlak di negeri ini. Namun aku tak berhenti. Aku terus melangkah menyusuri lorong panjang, langkahku tenang namun terarah, berusaha secepat mungkin menjauhi kediaman yang terasa seperti sangkar emas itu. Baru setelah sosokku menghilang di tikungan, terdengar suara serunya yang bergema keras, memecah keheningan istana : "Penjaga! Bawa kembali Lianhua ke hadapanku. Dan ingatkan padanya: ketidaktaatan selalu memiliki konsekuensi yang berat." Aku mempercepat langkah sedikit, namun tak sampai berlari. Aku tahu konsekuensinya pasti ada, aku tahu aku sedang mempertaruhkan nyawaku sendiri. Namun untuk saat ini, aku hanya butuh waktu—sedikit waktu saja untuk bernapas, untuk berpikir, untuk tidak menjadi objek permainan Kaisar yang tiba-tiba merasa penasaran itu. Saat berjalan di lorong yang remang cahaya lampu minyak, aku tanpa sengaja berpapasan dengan Nyonya Xiwu. Ia berjalan tergesa-gesa dengan hanfu merah berbenang emas yang berkilauan, rambutnya dihiasi perhiasan paling mahal, wajahnya tampak berseri penuh harap—pasti ia mendengar kabar bahwa Kaisar telah pulang dan berharap segera dipanggil. Sebuah ide melintas cepat di benakku, cara paling sederhana namun cukup ampuh untuk mengulur waktu dan mengalihkan perhatiannya dari aku. Aku segera berhenti, memberi hormat dengan sopan sesuai aturan istana. "Salam hormat untuk Selir Agung Xiwu," ucapku dengan nada tenang yang tak bisa dibaca. "Hamba yang hina ini diperintahkan Yang Mulia Kaisar untuk menyampaikan pesan: Beliau meminta Nyonya segera menghadap ke kamarnya saat ini juga." Wajah Xiwu seketika berubah cerah seolah disinari matahari. Senyum kemenangan merekah lebar di bibirnya, matanya berkilau penuh rasa bangga dan kepuasan yang tak bisa disembunyikan. "Yang Mulia ingin bertemu denganku?" tanyanya, nada bicaranya terdengar sangat angkuh. "Tentu saja, aku tahu Beliau pasti akan segera mencariku setelah pulang. Aku akan segera ke sana." Lalu ia menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang penuh rasa kasihan sekaligus penghinaan. "Sepertinya pemberontakan kecilmu tadi hanya berfungsi menegaskan betapa berbedanya kedudukanku dibandingkan mu," ucapnya manis namun setiap kata terasa tajam seperti jarum. "Kaisar tentu saja lebih menyukai wanita yang tahu cara bersikap dan patuh, bukan wanita yang sok berani dan melupakan tempatnya." Dengan gerakan perlahan merapikan lipatan bajunya yang indah, ia melangkah lewat di sampingku menuju kamar Kaisar, langkahnya penuh percaya diri yang berlebihan. "Kamu boleh kembali ke tempat tinggal mu sekarang, Lianhua," serunya tanpa menoleh sedikit pun. "Aku yakin Yang Mulia takkan lagi membutuhkan kehadiranmu malam ini." Aku hanya menunduk diam, menahan senyum tipis yang hampir terbit di bibirku. Setelah sosoknya menghilang di ujung lorong, aku segera berbalik arah dan berjalan cepat menuju kediamanku—Istana Bunga, bangunan kecil di sudut paling belakang istana yang sepi dan tenang. Sesampainya di sana, pelayan setiaku, Xiao Ying, segera menyambut ku dengan wajah cemas namun lega melihatku kembali dengan selamat. Aku duduk di kursi kayu dekat jendela, membiarkan diriku akhirnya bernapas lega. "Berhasil lolos sejenak," gumamku pelan pada diri sendiri, lalu menerima cangkir teh hangat yang disodorkan Xiao Ying. Aroma bunga melati yang lembut menyebar di udara, menenangkan sedikit kekacauan di hatiku. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tak berapa lama kemudian, Xiao Ying masuk kembali dengan wajah yang tampak gelisah. "Nyonya," ucapnya pelan sambil membungkuk. "Maaf mengganggu. Namun Selir Agung Xiwu ada di depan gerbang, bersikeras ingin bertemu denganmu. Katanya membawa pesan langsung dari Yang Mulia Kaisar." Mataku menyipit tajam. Aku tahu betul Xiwu takkan datang ke tempat sederhana ini kalau bukan ada maksud buruk. Pasti ia menyadari bahwa aku telah membohonginya, atau mungkin Kaisar yang sengaja mengutusnya untuk memanggilku kembali. Entah apa pun alasannya, ini pasti bukan hal yang baik. "Pesan apa yang dibawanya?" tanyaku dengan nada dingin. "Dia tak mau menjelaskan di sini, Nyonya. Katanya hal ini sangat mendesak dan harus didengar langsung olehmu." Aku berpikir sejenak. Menolaknya hanya akan membuatnya semakin curiga dan bisa berakibat lebih buruk. Akhirnya aku berdiri dan merapikan pakaianku. "Baiklah. Aku akan menemuinya di paviliun taman. Pastikan tak ada orang lain yang berani mendekat atau menguping pembicaraan kami." Saat berjalan menuju paviliun itu, perasaan tak nyaman makin merayapi dadaku. Udara di sekitar istana terasa lebih berat dari biasanya, seolah badai besar sedang bersiap datang. Sesampainya di sana, aku memberi hormat dengan sopan namun tetap menjaga jarak aman. "Salam hormat, Selir Agung. Ada keperluan apa Nyonya datang hingga ke kediaman hamba yang sederhana ini?" Xiwu berdiri tegak di tengah paviliun, memandangi sekeliling bangunan tua itu dengan tatapan yang penuh penghinaan. Ia berbalik menghadap ku dengan senyum palsu yang tak pernah sampai ke matanya. "Ah, Lianhua," sapanya dengan nada yang sengaja dibuat ramah. "Senang sekali akhirnya kau mau keluar dari tempat persembunyianmu yang kumuh ini." Ia melangkah mendekat perlahan, menatap penampilanku yang sederhana dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang tak berharga. "Yang Mulia mengutus ku membawakan pesan," bisiknya seolah berbagi rahasia, padahal suaranya cukup jelas untuk kudengar. "Beliau memintamu segera menghadap ke kamarnya malam ini juga." Jantungku berdegup lebih kencang di balik dadaku, namun aku berusaha menjaga wajahku tetap tenang tanpa ekspresi. "Begitukah? Dan apa yang sebenarnya diinginkan Yang Mulia dariku?" tanyaku datar. Seringai di bibir Xiwu melebar menjadi senyum penuh kemenangan, namun matanya tetap dingin dan tajam. "Beliau tak menjelaskan secara rinci," ucapnya rendah, "Tapi aku yakin wanita secerdas kau pasti sudah bisa menebaknya." "Maaf, aku sungguh tak mengerti maksud perkataan Nyonya," jawabku tenang. Senyumnya sedikit terhenti, digantikan kilatan kekesalan yang samar. "Ah, berhentilah berpura-pura tak tahu, Lianhua," katanya, nadanya kini mulai terdengar tajam dan kasar. "Kita sama-sama paham apa yang diharapkan seorang Kaisar dari selirnya, terutama setelah dua tahun jauh dari istana." Ia melangkah semakin dekat hingga jarak kami hanya tinggal satu jengkal. Aku bisa mencium aroma wangi bunga yang terlalu menyengat dari tubuhnya. "Setelah berperang dan bertemu begitu banyak orang di perbatasan," bisiknya dengan nada jahat yang tak bisa disembunyikan, "akhirnya Yang Mulia memutuskan untuk memberikan perhatiannya padamu juga. Dan aku tahu persis apa yang dimaksudkan dengan itu." Tangannya terulur perlahan, menyisir sehelai rambutku yang jatuh ke pipi dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar, lalu menekan jarinya sedikit ke kulitku. "Dia ingin menidurimu, Lianhua."Bagian 1 Matahari baru saja merayap naik di atas atap istana Utara, menyinari halaman Sayap Timur dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara pagi terasa segar, beraroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang pagar kayu — tanaman yang kubawa dari Selatan, yang kini berakar kuat di tanah Utara, seolah tak pernah berpindah tempat sama sekali. Embun masih menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah basah, menciptakan bunyi halus yang menenangkan di tengah keheningan pagi.Aku duduk di meja kayu rendah di beranda, sedang menyeduh teh melati. Uap panas mengepul perlahan, membawa harum yang lembut dan menenangkan. Tangan yang tadi menyiram bunga masih sedikit basah, dan ujung rambutku yang terurai terkena embun pagi yang dingin namun menyegarkan. Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada utusan yang berjalan bergegas. Hanya aku, cangkir teh yang mengepul, dan dunia yang perlahan terbangun dalam keheningan yang damai.Belum lama, pintu terbuka pelan. Hong
Cerita Sampingan 2 — Story 4: Warisan yang Tak Pernah Pudar Bagian 1: Musim Gugur yang Penuh Kenangan Waktu berlalu bagaikan sungai yang tenang, membawa musim demi musim tanpa henti. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak hari gempa besar itu — tiga puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tembok yang dibangun, dan tidak ada satu pun orang yang mati karena perang atau perselisihan antar-wilayah. Dua kekaisaran yang dulu saling bermusuhan kini telah menyatu sepenuhnya, menjadi satu negeri yang luas, makmur, dan damai — tempat di mana bunga melati tumbuh di setiap halaman rumah, dan nama Lianhua serta Hongwu diucapkan dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh jutaan orang. Namun waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Rambutku kini memutih sepenuhnya, kerutan melukis wajahku seperti peta perjalanan panjang yang telah kutempuh. Hongwu juga demikian — tubuhnya masih tegap, namun langkahnya lebih pelan, dan matanya yang dulu tajam kini penuh kelembutan dan kedamaian. K
Cerita Sampingan 2 — Story 3: Di Bawah Langit yang SamaBagian 1: Kabar yang Menggetarkan Dua NegeriSetelah musim kemarau yang berat itu berlalu, dua kekaisaran yang bersatu tampak semakin kuat. Sawah kembali hijau, sungai mengalir jernih, dan di setiap perbatasan berdiri taman-taman bunga melati yang menjadi lambang perdamaian. Namun takdir selalu punya cara untuk menguji keteguhan hati manusia.Suatu musim semi, saat bunga-bunga bermekaran paling indah, utusan datang bergegas dari wilayah paling selatan — wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara dan pegunungan tinggi. Wajah utusan itu pucat, napasnya memburu, dan di tangannya memegang laporan yang disegel dengan tinta merah — tanda bahaya paling mendesak.Hongwu membuka laporan itu di ruang kerja Sayap Timur. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar."Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat sepe
Cerita Sampingan 2 — Story 2: Cahaya yang Menembus KabutBagian 1: Musim Kemarau yang Tak Kunjung UsaiTiga tahun telah berlalu sejak perjalanan kami ke Selatan — hari di mana Xiao Yu dengan polosnya berkata bahwa ia punya “dua rumah, tapi satu hati”. Kata-kata itu kini menjadi nyata dalam setiap sendi kehidupan dua kekaisaran yang bersatu. Perdagangan mengalir bebas, jalan-jalan diperlebar, sekolah-sekolah dibangun di perbatasan, dan setiap musim panen dirayakan bersama-sama, tanpa melihat dari mana asal seseorang. Namun takdir sering kali menguji kebahagiaan yang paling utuh sekalipun.Musim kemarau tahun itu datang lebih awal dan lebih ganas dari yang pernah ada. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun hujan turun. Sungai yang biasanya jernih dan deras perlahan menyusut, memperlihatkan bebatuan di dasarnya yang retak dan kering. Sawah-sawah hijau berubah menjadi kuning cokelat, lalu menjadi debu yang beterbangan saat angin bertiup. Waduk yang dulu mampu menampung air untuk satu
Cerita Sampingan 2 — Story 1: Jejak Kecil di Dua NegeriTahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan.Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu."Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri."Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu penuh bahaya dan penjagaan ketat. Sekarang
Cerita Sampingan 4: Kembalinya Cahaya di Balik KabutDua puluh tahun telah berlalu sejak hari perdamaian itu ditandatangani. Dua puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, dan tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Xiao Yu kini telah resmi menjadi Kaisar — bukan Kaisar Utara maupun Selatan, melainkan Kaisar dari Kekaisaran Bersatu, sebuah negeri yang membentang dari pegunungan utara hingga pantai selatan, di mana bendera bunga melati berkibar di setiap menara kota.Aku dan Hongwu kini hidup sederhana di Sayap Timur — bukan lagi sebagai penguasa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan sebagai orang tua yang bangga melihat buah perjuangan mereka tumbuh menjadi pohon yang menaungi jutaan orang. Rambut kami mulai memutih, kerutan muncul di wajah kami, namun di mata kami berdua, cahaya itu tidak pernah pudar — cahaya ketenangan yang tak ternilai harganya.Surat dari PegununganSuatu pagi musim







