بيت / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Langkah Mundur dan Jebakan

مشاركة

Langkah Mundur dan Jebakan

مؤلف: Melati Lu
last update تاريخ النشر: 2026-06-05 20:27:31

Bab 3

"Yang Mulia, saya sedang tidak ingin bermain-main dengan Anda."

Tanpa menunggu izin, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, aku berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya menembus punggungku—tatapan yang seharusnya membuatku gemetar ketakutan, namun entah mengapa saat ini yang kurasakan hanyalah kelelahan yang mendalam dan keinginan kuat untuk menjauh dari pria penuh teka-teki itu.

Di belakangku, suasana ruangan mendadak hening total. Aku tak perlu melihatnya untuk tahu betapa terkejutnya Kaisar Hongwu. Selama puluhan tahun memerintah, belum pernah ada orang—apalagi seorang selir yang selama empat tahun dianggap tak ada—berani memotong pembicaraannya, menolak keinginannya, lalu pergi begitu saja seolah ia bukan penguasa mutlak di negeri ini. Namun aku tak berhenti. Aku terus melangkah menyusuri lorong panjang, langkahku tenang namun terarah, berusaha secepat mungkin menjauhi kediaman yang terasa seperti sangkar emas itu.

Baru setelah sosokku menghilang di tikungan, terdengar suara serunya yang bergema keras, memecah keheningan istana :

"Penjaga! Bawa kembali Lianhua ke hadapanku. Dan ingatkan padanya: ketidaktaatan selalu memiliki konsekuensi yang berat."

Aku mempercepat langkah sedikit, namun tak sampai berlari. Aku tahu konsekuensinya pasti ada, aku tahu aku sedang mempertaruhkan nyawaku sendiri. Namun untuk saat ini, aku hanya butuh waktu—sedikit waktu saja untuk bernapas, untuk berpikir, untuk tidak menjadi objek permainan Kaisar yang tiba-tiba merasa penasaran itu.

Saat berjalan di lorong yang remang cahaya lampu minyak, aku tanpa sengaja berpapasan dengan Nyonya Xiwu. Ia berjalan tergesa-gesa dengan hanfu merah berbenang emas yang berkilauan, rambutnya dihiasi perhiasan paling mahal, wajahnya tampak berseri penuh harap—pasti ia mendengar kabar bahwa Kaisar telah pulang dan berharap segera dipanggil. Sebuah ide melintas cepat di benakku, cara paling sederhana namun cukup ampuh untuk mengulur waktu dan mengalihkan perhatiannya dari aku.

Aku segera berhenti, memberi hormat dengan sopan sesuai aturan istana.

"Salam hormat untuk Selir Agung Xiwu," ucapku dengan nada tenang yang tak bisa dibaca. "Hamba yang hina ini diperintahkan Yang Mulia Kaisar untuk menyampaikan pesan: Beliau meminta Nyonya segera menghadap ke kamarnya saat ini juga."

Wajah Xiwu seketika berubah cerah seolah disinari matahari. Senyum kemenangan merekah lebar di bibirnya, matanya berkilau penuh rasa bangga dan kepuasan yang tak bisa disembunyikan.

"Yang Mulia ingin bertemu denganku?" tanyanya, nada bicaranya terdengar sangat angkuh. "Tentu saja, aku tahu Beliau pasti akan segera mencariku setelah pulang. Aku akan segera ke sana."

Lalu ia menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang penuh rasa kasihan sekaligus penghinaan.

"Sepertinya pemberontakan kecilmu tadi hanya berfungsi menegaskan betapa berbedanya kedudukanku dibandingkan mu," ucapnya manis namun setiap kata terasa tajam seperti jarum. "Kaisar tentu saja lebih menyukai wanita yang tahu cara bersikap dan patuh, bukan wanita yang sok berani dan melupakan tempatnya."

Dengan gerakan perlahan merapikan lipatan bajunya yang indah, ia melangkah lewat di sampingku menuju kamar Kaisar, langkahnya penuh percaya diri yang berlebihan.

"Kamu boleh kembali ke tempat tinggal mu sekarang, Lianhua," serunya tanpa menoleh sedikit pun. "Aku yakin Yang Mulia takkan lagi membutuhkan kehadiranmu malam ini."

Aku hanya menunduk diam, menahan senyum tipis yang hampir terbit di bibirku. Setelah sosoknya menghilang di ujung lorong, aku segera berbalik arah dan berjalan cepat menuju kediamanku—Istana Bunga, bangunan kecil di sudut paling belakang istana yang sepi dan tenang.

Sesampainya di sana, pelayan setiaku, Xiao Ying, segera menyambut ku dengan wajah cemas namun lega melihatku kembali dengan selamat. Aku duduk di kursi kayu dekat jendela, membiarkan diriku akhirnya bernapas lega.

"Berhasil lolos sejenak," gumamku pelan pada diri sendiri, lalu menerima cangkir teh hangat yang disodorkan Xiao Ying. Aroma bunga melati yang lembut menyebar di udara, menenangkan sedikit kekacauan di hatiku.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tak berapa lama kemudian, Xiao Ying masuk kembali dengan wajah yang tampak gelisah.

"Nyonya," ucapnya pelan sambil membungkuk.

"Maaf mengganggu. Namun Selir Agung Xiwu ada di depan gerbang, bersikeras ingin bertemu denganmu. Katanya membawa pesan langsung dari Yang Mulia Kaisar."

Mataku menyipit tajam. Aku tahu betul Xiwu takkan datang ke tempat sederhana ini kalau bukan ada maksud buruk. Pasti ia menyadari bahwa aku telah membohonginya, atau mungkin Kaisar yang sengaja mengutusnya untuk memanggilku kembali. Entah apa pun alasannya, ini pasti bukan hal yang baik.

"Pesan apa yang dibawanya?" tanyaku dengan nada dingin.

"Dia tak mau menjelaskan di sini, Nyonya. Katanya hal ini sangat mendesak dan harus didengar langsung olehmu."

Aku berpikir sejenak. Menolaknya hanya akan membuatnya semakin curiga dan bisa berakibat lebih buruk. Akhirnya aku berdiri dan merapikan pakaianku.

"Baiklah. Aku akan menemuinya di paviliun taman. Pastikan tak ada orang lain yang berani mendekat atau menguping pembicaraan kami."

Saat berjalan menuju paviliun itu, perasaan tak nyaman makin merayapi dadaku. Udara di sekitar istana terasa lebih berat dari biasanya, seolah badai besar sedang bersiap datang.

Sesampainya di sana, aku memberi hormat dengan sopan namun tetap menjaga jarak aman.

"Salam hormat, Selir Agung. Ada keperluan apa Nyonya datang hingga ke kediaman hamba yang sederhana ini?"

Xiwu berdiri tegak di tengah paviliun, memandangi sekeliling bangunan tua itu dengan tatapan yang penuh penghinaan. Ia berbalik menghadap ku dengan senyum palsu yang tak pernah sampai ke matanya.

"Ah, Lianhua," sapanya dengan nada yang sengaja dibuat ramah. "Senang sekali akhirnya kau mau keluar dari tempat persembunyianmu yang kumuh ini."

Ia melangkah mendekat perlahan, menatap penampilanku yang sederhana dari atas ke bawah seolah sedang menilai barang tak berharga.

"Yang Mulia mengutus ku membawakan pesan," bisiknya seolah berbagi rahasia, padahal suaranya cukup jelas untuk kudengar. "Beliau memintamu segera menghadap ke kamarnya malam ini juga."

Jantungku berdegup lebih kencang di balik dadaku, namun aku berusaha menjaga wajahku tetap tenang tanpa ekspresi.

"Begitukah? Dan apa yang sebenarnya diinginkan Yang Mulia dariku?" tanyaku datar.

Seringai di bibir Xiwu melebar menjadi senyum penuh kemenangan, namun matanya tetap dingin dan tajam.

"Beliau tak menjelaskan secara rinci," ucapnya rendah, "Tapi aku yakin wanita secerdas kau pasti sudah bisa menebaknya."

"Maaf, aku sungguh tak mengerti maksud perkataan Nyonya," jawabku tenang.

Senyumnya sedikit terhenti, digantikan kilatan kekesalan yang samar.

"Ah, berhentilah berpura-pura tak tahu, Lianhua," katanya, nadanya kini mulai terdengar tajam dan kasar. "Kita sama-sama paham apa yang diharapkan seorang Kaisar dari selirnya, terutama setelah dua tahun jauh dari istana."

Ia melangkah semakin dekat hingga jarak kami hanya tinggal satu jengkal. Aku bisa mencium aroma wangi bunga yang terlalu menyengat dari tubuhnya.

"Setelah berperang dan bertemu begitu banyak orang di perbatasan," bisiknya dengan nada jahat yang tak bisa disembunyikan, "akhirnya Yang Mulia memutuskan untuk memberikan perhatiannya padamu juga. Dan aku tahu persis apa yang dimaksudkan dengan itu."

Tangannya terulur perlahan, menyisir sehelai rambutku yang jatuh ke pipi dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar, lalu menekan jarinya sedikit ke kulitku.

"Dia ingin menidurimu, Lianhua."

 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Selir Yang Terlupakan   Bunga Yang Tumbuh Di Sudut Istana

    Bab 150 Sementara itu, aku duduk tenang di balik jubah berwarna biru cerah yang jatuh lembut hingga menyapu tepi kursi, seakan air yang tenang menggenang di sana. Cahaya pagi yang hangat menyelinap masuk melalui jendela sayap timur, menyinari meja kayu gelap tempat kuasku bergerak perlahan dan mantap di atas kertas. Tak ada suara gaduh, tak ada tatapan menilai. Hanya aku, tinta yang menetes, dan kesunyian yang damai di sekelilingku. Di sini tak ada siapa-siapa yang berani datang. Tak ada Xiwu yang melangkah angkuh masuk tanpa ketuk pintu, tak ada tatapan menyelidik milik Chuntao. Hanya goresan kuas yang halus dan suara samar kehidupan istana yang teredam di balik tembok tebal. Tiba-tiba ketukan pelan terdengar di pintu. "Nyonya Lianhua?" Seorang pelayan muda yang jarang terlihat di bagian dalam mengintip dengan ragu, kedua tangannya memeluk nampan kayu yang dipernis rapi. "Ada pesanan yang dikirimkan langsung dari Aula Besar." Aku me

  • Selir Yang Terlupakan   Satu-Satunya Kebenaran Di Antara Keramaian

    Bab 149 Aku tertawa pelan, suara itu bergetar hangat di dadaku saat aku membiarkan tubuhnya menekan lembut ke arahku. Aku tak menarik diri. Sebaliknya, aku justru bersandar nyaman di tumpukan bantal empuk, membiarkannya menempel padanya seakan waktu di dunia ini berhenti hanya untuk kami berdua. "Kau wanita yang sungguh berbahaya..." gumamku lembut, jemariku perlahan menelusuri lengkungan halus di sepanjang lengannya yang telanjang. "Pria sepertiku seharusnya tak mudah tergoyahkan hanya oleh satu kata, satu sentuhan, atau satu senyuman darimu." Aku menunduk mencium puncak rambutnya yang harum, memejamkan mata sejenak menyerap kehangatan ini. Beban takhta, tuntutan para menteri, permainan politik yang tak ada habisnya... semuanya terasa begitu jauh, tak berarti, dan tak sanggup menyentuh kedamaian yang ada di ruangan ini. "Baiklah..." akuku pelan sambil merangkulnya lebih erat. "Beberapa saat lagi. Tapi jangan salahkan aku jika akhirnya aku mem

  • Selir Yang Terlupakan   Milikku Sepenuhnya

    Bab 148 Aku mengerang pelan di sela napasku yang terengah, lalu menjawab dengan suara yang lembut namun teguh. "Ya... begitulah adanya." Tanganku perlahan merambat lembut di punggungnya, seakan ingin memeluknya sepenuhnya ke dalam diriku. Setiap kata dan setiap sentuhanku seakan menembus jauh ke dalam hatinya. Hongwu mendekat hingga tubuh kami menyatu sepenuhnya, tak tersisa jarak sedikit pun di antara kulit kami yang saling bersentuhan. "Kau sungguh luar biasa..." suaranya terdengar berat dan serak saat ia membenamkan wajahnya di lekuk leherku yang peka. Tangannya bergerak selaras dengan gerak tanganku, telapak tangannya yang lebar dan hangat menempel erat di punggungku, menarikku semakin rapat hingga kain sutra di bawah tubuh kami terlipat berkerut. Irama di antara kami perlahan semakin mendesak, semakin penuh rasa rindu yang tak tertahankan. Setiap sentuhan terasa seperti pengakuan yang tak terucapkan, setiap tarikan napas adalah rahasia ya

  • Selir Yang Terlupakan   Satu-Satunya Kebenaran

    Bab 147 Hongwu mendengar suara lembut yang lolos dari bibirku, dan seketika seakan segala kendali yang tersisa di dalam dirinya runtuh sepenuhnya. Ia sedikit menjauh agar dapat menatap wajahku lekat-lekat. Matanya yang pekat tampak berkilauan tak menentu, dadanya naik turun berat seiring napasnya yang memburu tak beraturan. "Kau tak pernah menyadari..." suaranya terdengar begitu serak dan berat, "...apa yang sesungguhnya kaulakukan kepadaku." Ia menggeser posisinya, menekan tubuhnya sedikit lebih erat menempel pada tubuhku. Tangannya kembali melingkar dari sela rambutku hingga turun ke pinggangku, jari-jarinya meremas lembut namun penuh kepemilikan seakan sedang berusaha menambatkan dirinya agar tak pernah terpisah dariku. Bibirnya kembali turun menyapu lembut kulit tepat di belakang telingaku yang paling peka, napasnya hangat dan berdesir di sana. "Empat tahun lamanya..." bisiknya pelan di kulitku yang seketika terasa membara, "...empat tahun

  • Selir Yang Terlupakan   Penyatuan Tanpa Kata

    Bab 146 Hongwu mengeluarkan suara rendah penuh kepuasan saat ia merasakan jemariku menyisir rambut hitamnya yang tebal. Sentuhanku seakan meruntuhkan pertahanan terakhir yang ia bangun begitu rapat selama bertahun-tahun. Tangannya melingkar semakin erat di pinggangku, menarikku menempel padanya seakan ingin menyatukan tubuh kita menjadi satu. Ciumannya perlahan berubah — dari lembut dan penasaran menjadi sesuatu yang jauh lebih mendesak, penuh kerinduan yang nyaris putus asa. Bibirnya menyusuri lembut garis bibirku, dan saat aku perlahan membukanya menyambutnya, ia membalasnya dengan rasa lapar yang begitu dalam hingga membuat seluruh tubuhku terasa lemas dan bergetar hebat. Ia sedikit menjauh sejenak, napasnya memburu dan terasa hangat menyapu pipiku yang memerah. "Kau... kau jauh lebih berbahaya daripada buku apa pun yang pernah ada..." suaranya terdengar serak, nyaris tak kukenali lagi. Tangannya meluncur lembut dari punggungku kembali ke p

  • Selir Yang Terlupakan   Sumpah Tanpa Janji

    Bab 145 Aku tersenyum lembut menatapnya. "Aku sungguh bersyukur mendengarnya." Hongwu mengembuskan napas panjang, seakan melepaskan segala beban yang selama bertahun-tahun ia tahan sendirian. Ketegangan yang selalu mengeras di rahangnya perlahan luruh, dan untuk sejenak, ia hanya menatapku lekat-lekat — benar-benar menatapku tanpa topeng kekuasaan sedikit pun. "Kau memang seharusnya begitu..." ucapnya pelan, senyum tulus yang tak pernah dilihat siapa pun kini tersungging lembut di sudut bibirnya. Senyum yang begitu sederhana namun hangat, seakan pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, bukan penguasa yang pulang dari medan perang yang penuh darah. Tangannya perlahan turun dari leherku, menyentuh pipiku lembut sebelum menyisir sehelai rambut ke belakang telingaku. "Di istana ini, hampir semua orang hanya berkata apa yang ingin kudengar..." gumamnya pelan. "Namun kau selalu berkata apa yang sungguh kau pikirkan. Dan sejujurnya... aku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status