MasukAra bangun dengan keputusan yang sudah bulat.
Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.
Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.
Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.
Ara bangun dengan keputusan yang sudah bulat.Dia harus ke bank. Dia harus tau apa isi safe deposit box itu.Zayn sudah berangkat ke kantor sejak subuh—ada meeting penting dengan investor. Ini kesempatan Ara.Dia berpakaian simple—jeans, kaus, hoodie, kacamata hitam. Mencoba tidak menarik perhatian.Tapi saat mau keluar kamar, dia bertemu dengan pelayan."Nyonya Ara, mau kemana?" tanya pelayan dengan sopan tapi... waspada."Aku... aku mau jalan-jalan sebentar. Beli cemilan.""Saya bisa pesankan untuk Nyonya. Atau driver bisa antarkan—""Nggak usah. Aku mau sendiri aja." Ar
Ara terbangun dengan perasaan... aneh.Semalam, setelah Zayn konfrontasi ibunya, mereka tidur dalam pelukan. Tapi pagi ini, Zayn sudah tidak ada di samping—mungkin sudah berangkat ke kantor.Ara duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.6 minggu hamil sekarang.Bayi di dalam perutnya sudah sebesar biji kacang. Kecil, tapi... ada.Ponselnya bergetar.Pesan dari... Nadine.Nadine: "Ara, gimana? Zayn sudah tau?"Ara menatap pesan itu dengan perasaan tidak enak.Kenapa Nadine begitu... eager?
Ara datang sendirian dengan taksi—sengaja tidak pakai driver keluarga Alaric agar tidak ketahuan. Dia mengenakan hoodie dan kacamata hitam, mencoba menyamarkan identitasnya.Kafe yang Nadine pilih kecil, sepi, jauh dari pusat kota—tempat yang tidak akan ada wartawan atau orang yang mengenal mereka.Ara masuk dan langsung melihat Nadine duduk di pojok, mengenakan blazer elegan dan kacamata—terlihat seperti profesional muda, bukan ibu tiri yang manipulatif.Nadine tersenyum saat melihat Ara. "Ara, terima kasih sudah datang."Ara duduk dengan waspada. "Langsung to the point aja. Siapa yang sebar rumor tentang Alaric Group?"Nadine menyeruput kopinya dulu, lalu berkata pelan:
Jam 6 pagi, Ara terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya."Ara! Bangun!" Suara Zayn—panik, mendesak.Ara langsung bangun, membuka pintu. Zayn berdiri di sana dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat."Ada apa?"Zayn menyodorkan ponselnya—layar menampilkan artikel berita yang baru saja tayang 10 menit lalu."Endra MAHENDRA BERI PERNYATAAN: 'ANAK SAYA DIPAKSA MENIKAH OLEH KELUARGA Alaric!'"Ara membaca dengan napas tercekat.Dalam artikel itu, Endra dikutip mengatakan bahwa Ara "dimanipulasi" untuk menikah dengan Zayn, bahwa keluarga Alaric "mengambil keuntungan" dari kehamilannya, dan bahwa dia sebagai ayah "san
Ara bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tidurnya tidak nyenyak—mimpi tentang keluarganya, tentang Arga, tentang semua yang terjadi.Zayn sudah bangun lebih dulu, duduk di meja sarapan sambil membaca tablet. Begitu melihat Ara bangun, dia langsung berdiri."Pagi. Kamu tidur nyenyak?" tanyanya sambil membantu Ara duduk."Lumayan." Bohong. Tapi Ara tidak mau bikin Zayn khawatir.Pelayan menyajikan sarapan—roti panggang, telur, salad buah, dan segelas susu hangat. Semua terlihat sempurna seperti foto di majalah."Mama belum turun?" tanya Ara."Mama ada meeting pagi. Papa juga sudah berangkat ke kantor." Zayn menuangkan susu ke gelas Ara. "Jadi hari ini kita berdua aja."
Pagi, Jam 9 Tepat ,di Apartemen AraDriver keluarga Alaric datang tepat waktu—seorang pria paruh baya dengan seragam hitam rapi dan sikap profesional yang kaku."Selamat pagi, Nyonya Alaric," sapanya sambil membungkuk sopan. "Saya sudah siap membawa Anda ke kediaman utama."Nyonya Alaric.Gelar itu terasa asing di telinga Ara."Selamat pagi," balas Ara kaku sambil menarik kopernya.Zayn langsung mengambil alih koper itu. "Aku yang bawa. Kamu jangan angkat yang berat-berat.""Zayn, itu cuma koper—""Ara." Zayn menatapnya dengan tatapan yang tidak memberi ruang debat. "Kamu hamil.







