Share

8. Tragedi Wadah Sayuran

Author: Arthamara
last update Last Updated: 2025-07-24 01:27:19

Tok..tok..tok

“Permisi mas, saya sudah selesai. Mana Syakilanya?” Tanya Sandra. Buliran air masih menetes dari rambutnya.

Doni segera menunduk. Dia tidak bisa membayangkan kalau handuk itu sampai jatuh. Lagian, untuk sampai ke atas juga harus melewati anak tangga yang lumayan banyak. Mengapa Sandra hanya memakai handuk seperti itu?

“Itu mbak, lagi bobok.” Tunjuk Doni, kepanya menoleh ke arah Syakila di ranjang.

“Malah ketiduran nih anak. Persis seperti ayahnya, mudah tidur. Ketemu bantal yang cocok, langsung sampai Meksiko.” Kata Sandra dari luar pintu.

“Gak apa-apa mbak. Mau dibantu angkat Syakilanya? Atau biarkan dulu disini sampai bangun?” tanya Doni memastikan.

“Jangan mas Doni, saya bawa saja. Biar tidur di rumah sendiri saja,” jawab Sandra lalu masuk ke dalam, ”Permisi ya mas, saya bawa Syakila dulu.”

Doni mengangguk. Sandra mulai berjalan ke arah anaknya yang tertidur pulas. Aroma wangi sabun mandi yang menempel di tubuh Sandra terasa sangat menggoda hidung dan pikiran Doni. Apalagi, mama muda itu hanya menutupnya dengan handuk seperti itu saja.

Sandra sedikit berjongkok saat berusaha mengangkat Syakila. Tentu, dari posisi tersebut segitiga bermudanya bisa dengan mudah dilihat Doni.

Doni segera mengalihkan pandangan. Bagaimanapun dia lelaki normal yang bisa saja terangsang. Apalagi di dalam kamar seperti ini. Dia kembali menelan sativa, lalu pura-pura dengan segera mengambil kopi sisa tadi malam yang tersisa ujung bawah saja. Miminumnya.

“Permisi ya mas. Maaf sudah ngrepotin.” Kata Sandra lagi.

Saat Sandra sedang menggendong Syakila itu dan berjalan keluar, tiba-tiba ujung kakinya menyangkut kabel roll dekat laptop Doni. Sontak dia terhuyung dan mau jatuh.

Doni dengan refleks segera memegangnya. Kalau sampai jatuh, mama muda dan anak itu bisa menabrak ujung meja belajar dan tentu akan menyakitkan.

“Tidak apa-apa mbak? Maaf kabelnya belum sempat saya rapikan.” Ujar Doni sambil memegangi tubuh Syakila yang sudah mau menyentuh meja.

Sandra segera bangkit, dia melepaskan gendongan dari anaknya. Lalu merapikan posisi handuk yang mengendur karena kejadian barusan. Untuk dililitkan ulang di badan.

“Tidak apa-apa mas. Bisa bantu angkat Syakila ke atas? Kaki saya kelihatannya kena ujung meja.” Pinta Sandra lalu menunjukan betisnya yang memang memerah.

“Bisa mbak. Silakan Mbak Sandra duluan ke atas, saya bantu antar Syakila. Semoga dia tidak kebangun.”

Di pagi menjelang siang seperti ini, suasana apartemen memang sepi. Semua penghuni rata-rata sudah keluar.

Sesampainya di unit 11, Sandra segera membuka pintu. Memberi tanda untuk mempersilakan Doni masuk terlebih dahulu. Doni mengikuti saja, tangannya memang terasa pegal menggendong anak itu dari lantai bawah.

Sandra mengikuti dari belakang, mungkin karena kebiasaan. Sandra malah menutup pintu setelah dia masuk, padahal ada Doni di dalam.

Setelah meletakan Syakila di ranjang, dia langsung balik arah. Sandra masih berada di balik pintu, belum mengganti pakaian. Doni tahu, selama ada dia tidak mungkin Sandra berganti pakaian disana. Doni hanya kikuk dan berusaha mengalihkan pandangan lagi. Sandra tahu kekikukan Doni.

“Maaf ya mas, semua pakaian saya jemur. Mumpung bisa nyuci, jadi hanya pakai handuk saja. “ kata Sandra, memahami kesungkanan Doni.

Doni hanya mengangguk lalu segera berinisiatif keluar dari unit itu sebelum ada yang melihat. Karena di posisi yang demikian, orang yang melihat bisa saja salah mengartikan.

Saat Doni baru saja melewati Sandra, tiba-tiba Sandra memanggilnya kembali.

“Mas bawa ini, buat makan siang.” Kata Sandra seraya menyerahkan wadah berisi makanan.

Doni ragu, namun menolak pemberian juga tidak baik. Akhirnya dia berbalik badan dan mengulurkan tangan untuk meraih wadah tersebut.

Mungkin karena gugup atau takut ada yang melihat, Doni malah menyenggol wadah tersebut sehingga hampir terjatuh.

Bruuk.

Melihat itu Sandra langsung berupaya memegang wadah tersebut kembali, agar tidak terjatuh. Sayang gerakan kilatnya itu malah membuat handuk yang melilit tubuhnya jadi yang terjatuh.

Akibatnya, tubuh indah Sandra yang bagian atasnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun terlihat jelas di depan Doni. Untung dia masih memakai celana dalam.

“Aaaaa,” teriak Sandra refleks.

Dari luar pintu diketuk.

“Maa..kenapa? buka pintunya ma. Ini Ayah pulang.” Suara berat laki-laki dewasa terdengar. Itu Pak Bayu, suami Sandra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Zareema
seri dan ser ser ser
goodnovel comment avatar
Erine Widyia N
modyaaaaaaar ketahuan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   146. Presentasi Doni

    Malam itu seharusnya menjadi waktu istirahat setelah presentasi yang melelahkan. Namun bagi Doni, malam itu justru menjadi awal dari kekacauan baru.Sylvi memencet pintu kamar hotel, sejak kejadian sebelumnya Doni memang sengaja mengunci pintu.Setelah membuka pintu, Doni kembali ke dalam dengan wajah tegang sambil membawa laptop.“Don, kita harus revisi materi untuk besok. Investor yang datang beda dari rundown awal. Kita perlu menyesuaikan beberapa poin.”Doni melihat ke jari Sylvi, tidak ada cincin. Lalu dia segera mengangguk lemas. “Oke, Bu Sylvi, Sini.”Mereka duduk di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, suara ombak Bali terdengar jauh. Membuat suasana khas yang sangat nyaman untuk berpikir dan mencari ketenangan. Baik sekadar liburan atau bekerja. Namun ketenangan alam itu tidak mampu menjinakkan badai di kepala Doni.Ketika Sylvi membuka draft materi yang Doni kerjakan sore tadi, ia langsung mengerutkan dahi.“Don… ini salah semua. Bagian data keuangan tidak jeli. ”Doni

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   145. Mira Menghilang

    Venue itu mewah, tempat perusahaan besar dan pemilik modal berkumpul. Bisa sekadar untuk mendengar proposal kerja sama baru, ataupun guna menggugurkan kewajiban undangan wajib dari pemerintah.Sylvi tampil rapi, rambut terikat, seragam kantor menyatu dengan aura profesionalismenya. Sementara Doni… hanya berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang hancur.“Don,” panggil Sylvi pelan begitu mereka masuk lift. “Kamu baik-baik aja? Sejak tadi diam banget.”“Oh, iya. Aku… cuma kurang tidur.”Sylvi menatapnya dalam, seolah mencari celah dari kebohongan kecilnya.“Kamu yakin?”Doni mengangguk cepat.Tapi bagaimanapun, ketidaktenangan itu tidak bisa ditutupi. Matanya sembab, konsentrasinya buyar, bahkan ia salah menekan tombol lift.Juga berbagai kesalahan kecil lain. Apakah itu semua pertanda akan kejadian lain hari?Ruangan besar itu dipenuhi para petinggi perusahaan. Projector menyala. Slide pertama muncul. Sylvi berdiri di samping Doni dan memberi anggukan kecil.“Tenang ya, Don. Kit

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   144. Video Perusak Suasana

    Lampu lalu lintas berubah hijau. Nadia mundur sambil menatap Doni.“Mas… jangan hilang lagi, ya.”Doni mengangguk lemah.Mobil melaju, meninggalkan Nadia yang berdiri di trotoar dengan bahu bergetar, mencoba menahan air mata yang sudah terlalu lelah untuk jatuh.“ Maafkan aku ya Nad. Kamu pasti bisa melalui ini semua. “Gumam Doni pelan. Sesampainya di bandara, panggilan terakhir penumpang pesawat sudah didengungkan. Dengan tergesa-gesa Doni segera melakukan prosedur awal pendaftaran penerbangan dan langsung masuk pesawat. … . Doni tiba di Bali sore hari. Di pintu kedatangan, Sylvi sudah menunggunya.“Doni! Akhirnya kamu datang.”Sylvi tersenyum cerah, langit Bali tampak memantulkan cahaya di matanya.“Aku akan selalu menemani bidadari perusahaan kita kemanapun dibutuhkan, bukanlah begitu tuan putri? “ Ucap Doni berusaha menghibur Sylvi. “Itu yang aku suka darimu. Selalu cepat dan bisa diandalkan. ““Dan aku akan selalu suka menemanimu kemanapun. Akan kemana kita? Langsung kerja?

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   143. Silih Berganti

    “Apalagi ini, Tuhan? apa semua balasan dari akumulasi dosaku selama ini?” ucap Doni pelan.Perlahan, para peserta yang sebelumnya berniat menjadi audience seminar hasil Doni menjauhi ruangan. Donipun berjalan pelan keluar ruangan.Doni berdiri mematung di depan ruang sidang seminar hasil. Ruangan itu kini juga telah kosong, hanya tersisa papan tulis yang masih ada sisa-sisa coretan metodologi miliknya. Peluh dingin membasahi tengkuknya. Hatinya terasa retak, nyaris remuk. Hasil akhir sidangnya hanya berujung pada satu kalimat dari Prof. Anas yang terus terngiang:"Tidak layak. Metode yang kau pakai tidak sesuai kaidah ilmiah yang saya arahkan."Prof.Anas yang terkenal kalem dan pembimbing yang tenang, itu menjadi seperti singa podium yang langsung menghancurkan semua perjuangan Doni selama tiga bulan ini.Doni tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu sudah berusaha, ia tahu Bu Dyah yang selama lima bulan menggantikan pembimbing utama sudah memoles semuanya semampu mungkin. Tentu dengan pen

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   142. Ternyata Tidak Mudah

    Dikejar para perempuan juga disandera para wanita. Banyak wanita juga banyak masalah yang muncul begitu saja. Begitu mudah Doni berada, begitu pula tantangan hidup berasal. Dan itulah Doni dan hidup. Hidup, bagi Doni, terasa seperti rangkaian ujian yang anehnya begitu rapi, begitu terstruktur, seakan-akan ada tangan tak terlihat yang mengatur agar semuanya jatuh menimpanya dalam waktu yang sama. Mira yang tetap tak bisa dihubungi. Nadia yang terus mencarinya lewat pesan dan panggilan, namun harus ia abaikan demi syarat Rani yang entah apa maksudnya. Ditambah kejadian di kampus yang menguras energinya, membuatnya seperti berjalan dengan tas ransel berisi batu.“Cobaan apa gak bosan kamu mengikuti ku? Pindahlah ke orang lain. Aku saja sudah bosan denganmu! “ lirih Doni bermonolog. Gr.. Gr… gr… Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk. Dari orang yang baru saja dia pikirkan. Rani: [Jangan sampai melanggar janji. ]Doni : [ Iya. Aku tahu]Beberapa detik kemudianRani: [Dan jangan lup

  • Semua Perempuan Itu Mengejarku   141. Kebingungan Doni

    Doni berjalan mondar-mandir di depan IGD, langkahnya tidak teratur. Setiap beberapa detik ia berhenti, menatap pintu itu seperti ingin menembusnya dengan tatapan—seolah jika ia cukup kuat, pintu itu akan terbuka dan membiarkan dia masuk.Tapi tidak.Pintu itu tetap menjadi tembok antara Doni dan kenyataan pahit yang sedang terjadi pada Nadia.Rika duduk di kursi tunggu, memeluk tas kecilnya. Suaranya masih serak ketika ia memanggil Doni.“Mas Doni… duduk sebentar. Mas kelihatan lelah sekali, seperti mau pingsan.”Doni menggeleng keras. “Aku nggak bisa duduk, Rika. Kalau aku duduk… pikiran aku makin kacau.”Rika menatapnya lama, wajahnya dipenuhi rasa iba.“Mas… Bu Nadia itu kuat. Dia pasti berjuang di dalam. Tapi Mas juga harus tenang…”“Tenang?!” Doni mengangkat suaranya, lalu cepat-cepat menurunkannya karena sadar mereka berada di rumah sakit.“Rik, aku hampir saja nabrak anak kecil di jalan. Aku hampir bikin orang mati! Karena kepalaku kacau, karena aku panik… terus sekarang aku ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status