Masuk**Kaivan mendekatkan bibirnya, mengecup sepanjang rahang Kayla dengan lembut. Napasnya memburu dan suhu tubuhnya meningkat. Kayla sudah tahu akan menuju ke mana adegan yang seperti demikian itu."Ini di kantor, Van ...." Ia memperingatkan dengan lembut, sebab tak ingin dianggap menolak. "Nanti aja di rumah, gimana? Memangnya nggak ada hal urgen yang harus kamu kerjain?""Hm-mm ...." Kaivan mencebik. Bibirnya cemberut. "Kalau pengennya sekarang, gimana?""Jangan kayak anak ABG puber gitu, deh.""Kalau sama kamu, aku kayaknya nggak bisa jadi dewasa, deh ...."Kayla terkekeh. Ia membalas ciuman sang suami selama beberapa saat, hingga akhirnya mendorong pelan dada bidang pria itu."No ... nanti aja di rumah. Sekarang kita harus keluar, karena ini jam kerja. Ayo, nggak boleh males."Meski dengan menahan senyum kecut, Kaivan akhirnya mengangguk dan membawa Kayla keluar dari ruang istirahat itu. Sementara sang istri mendudukkan diri di atas sofa, ia bersiap membuka dokumen yang sudah dileta
**Gedung kantor empat lantai itu sejuk, tertata rapi dan sangat tenang seperti sebuah perpustakaan. Kayla merasa degup jantungnya berpacu dua kali lebih cepat saat kakinya melangkahi ambang pintu depan.Ketika ia dan Kaivan sampai di lobby, apa yang Kayla khawatirkan benar terjadi. Semua pasang mata yang berada di sana sontak mengarah kepadanya. Ada yang memandang dengan ingin tahu, ada pula yang jelas-jelas melemparkan pandangan penuh penilaian.Rasanya tidak nyaman, sungguh. Kayla ingin berbalik pergi dan meninggalkan tempat itu saat itu juga. Ia tahu diri, dan orang-orang yang berada di sana sepertinya tidak senang melihat kehadirannya.“Angkat wajahnya, Sayang. Jangan nunduk.” Tapi suara Kaivan terdengar menegur dengan lembut. Kayla segera memandang kepadanya.“Kamu adalah istriku. Kamu nyonya bos. Jangan menunduk seperti itu, ya? Kamu itu cerminanku loh.”“Mereka semua kayaknya nggak terlalu suka sama aku, Van.” Kayla membalas dengan cemas.“Nggak masalah. Kita memang nggak lah
**"Maafin aku, Van. Tapi aku nggak mau ketemu atau berurusan lagi sama Anin dan yang lainnya. Bukan karena aku takut, tapi aku pikir hanya akan buang-buang waktu kalau berurusan sama mereka. Aku kenal benar watak ibu dan adik kamu. Lagipula, kalau kita nekat datangin mereka, bukan nggak mungkin Laskar akan ikut campur. Aku nggak mau ketemu sama Laskar."Kaivan tertegun mendengar pernyataan Kayla. Ah, benar juga. Ia sendiri pun enggan bertemu dengan Laskar, sebenarnya. Pria itu diam cukup lama, sebelum akhirnya meraih tangan Kayla dan berujar pelan."Kamu yakin, Kay?""Tentu saja. Aku nggak ingin berurusan dengan mereka lagi.""Jujur, aku yang nggak rela kamu diginiin. Mereka nggak tahu seberharga apa kamu buat aku. Demi Tuhan, aku benar-benar nggak rela kalau kamu terus-terusan disakiti hanya karena rasa iri mereka.""Percayalah, aku baik-baik aja. Kalau aku rasa hal-hal seperti ini masih bisa aku atasi sendiri, maka kamu nggak perlu khawatir, Van. Aku bukan perempuan yang selemah it
**"Kok salah orang? Ya jelas enggak, lah. Ini malahan udah saya pikirin baik-baik dari lama. Tapi kan karena kemarin Mbak Kayla dan Mas Kaivan masih dalam masa-masa bulan madu, jadi saya belum berani menghubungi. Hari ini saya berani-beraniin telepon, seneng banget pas Mbak Kayla langsung setuju mau dateng ke sini."Perempuan cantik itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Membuat Kayla seketika memandang kepada sang suami. Ia tidak mungkin memutuskan hal sebesar ini sendirian, kan? Ia harus bertanya kepada Kaivan dulu tentang segala sesuatu sekarang.Kaivan yang sadar bahwa pandangan itu mengandung pertanyaan, segera menjawab. "Kamu yang jalanin, jadi terserah kamu, Sayang. Selama itu hal baik, aku akan selalu dukung. Kamu boleh lakuin apapun yang bikin hati kamu bahagia.""Ooh ... suami yang sangat green flag!" Sazia menyambut dengan tepuk tangan heboh.Sementara Kayla sendiri sedang tersipu dengan kedua pipi merah padam. Perempuan itu akhirnya mengangguk."Sepert
**Kaivan sebenarnya masih ingin bercengkerama lebih lama dengan Kayla di meja makan mereka yang selalu hangat. Tapi waktu tidak bisa diajak berkompromi. Sebentar saja, matahari sudah meninggi, pertanda hari sudah cukup siang. Ia sudah libur cukup lama, jadi mau mau harus berangkat bekerja hari ini."Kamu mau ikut aku ke kantor nggak, Sayang?" tawar Kaivan, yang tentu saja membuat Kayla kaget sekali."Ikut kamu ke kantor? Ngapain banget, Van?""Ya ikut aja, biar aku ada temennya.""Terus aku gunanya apa di sana? Aku kan nggak bisa apa-apa.""Kata siapa? Kamu tuh sangat amat berguna sebagai penangkal mood buruk aku, tahu! Kalau ada kamu, mood aku jadi baik sepanjang hari dan bisa kerja dengan maksimal."Kayla berdecak. "Akal-akalan kamu aja itu, mah.""Kok begitu? Beneran ih!"Kendati demikian, Kayla diam-diam mempertimbangkan tawaran itu. Kebetulan ia sedang bosan di rumah sebab tidak ada kegiatan yang benar-benar harus dilakukan. Sepertinya ikut ke kantor bukan ide yang buruk.Namun
**Perlahan alis Kaivan berkerut. Wajahnya menegang dan pandangannya menajam. Sekarang, di bawah foto yang baru saja ia unggah, ada ratusan utas komentar yang nyaris semuanya bernada memojokkan Kayla. Komentar jahat yang memang sangat beralasan membuat seseorang menjadi down dalam sekejap.Kaivan menggulir komentar itu ke utas paling atas untuk melihat dari mana ia berasal. Siapa yang memulainya sehingga banyak orang terpancing mengetik kalimat jahat serupa.Paling atas. Kaivan menekan fotonya untuk melihat siapa gerangan.“Kamu kenal orang ini?” Ia tunjukkan ponselnya kepada Kayla untuk melihat profil akun tersebut.“Aku nggak punya media sosial, jadi nggak pernah tahu itu siapa. Lagian itu foto sepertinya cuma gambar random yang diambil dari internet.”“Ah, bener juga.” Kaivan mengutuk dalam hati. Baru menyadari bahwa gambar-gambar model perempuan seperti itu sering ia lihat di internet. Kesal, ia membuka semua foto akun tersebut untuk mencari tahu.Kayla menahan tangan suaminya ya







