MasukSuara di luar ruangan itu semakin keras dan terburu-buru sehingga Rendra langsung tersadar dari lamunannya. Dengan gerakan cepat, dia melepaskan Dara dan merapikan pakaiannya sendiri, sementara Dara dengan wajah memerah berusaha menenangkan diri.
Rendra membuka kunci pintu, membukanya selebar celah. Wajah Maya yang pucat dan bermata sembap langsung terlihat. Rendra tetap mencoba berbicara tenang, dengan nada terdengar profesional, meski napasnya masih bDara terbangun dengan tubuh yang masih hangat dalam pelukan Rendra. Di luar, sinar matahari mulai meninggi. Pelan, Dara menggeser tangan Rendra dari pinggangnya. Rendra melenguh, lalu membuka mata. Dia menatapnya dengan tersenyum. “Pagi, Sayang. Istriku yang cantik.” “Pagi, Bi.” Rendra bersandar pelan di ranjang. “Mau sarapan apa?” Dara berpikir sejenak lalu berbisik. “Mau sarapan kamu.” Rendra tertawa, menariknya lebih dekat. “Boleh. Tapi nanti, kita harus jemput Biru dulu biar Nina sama Irvan nggak ngamuk.” Mereka tertawa. Rendra menarik Dara untuk berbaring sebentar, menikmati keheningan pagi. Dara meletakkan kepalanya di dada Rendra, mendengarkan detak jantung yang berdetak pelan. “Bi,” panggilnya. Rendra mengusap rambutnya dengan lembut, “Apa, Sayang?” “Aku suka permainan malam tadi,” katanya sambil malu-malu. Rendra mengecup keningnya. “Aku juga. Kita harus lebih sering, Sayang.” “Iya. Tapi nggak usah gaya baru setiap kali.” “Memang kenapa, Sayang? Katanya kamu suka?”
Rendra memilih restoran di lantai 33 sebuah hotel berbintang. Dari jendela kaca besar, lampu-lampu Kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.Dara duduk di hadapannya, gaun putih sederhana yang ia kenakan terlihat anggun di bawah cahaya lilin. Rendra tidak bisa berhenti memandang.“Kenapa ngeliatain aku terus, Bi? Aku belepotan?” tanya Dara sambil mengusap sudut bibirnya.“Bukan.” Rendra tersenyum. “Kamu cantik. Masih sama kayak dulu waktu pertama kali aku lihat kamu waktu kita masih sama-sama mahasiswa.”Dara tertawa. “Sekarang aku udah tua, Bi.”“Tua? Kamu malah makin cantik di mataku.”Dara tersenyum. “Gombal.”“Bukan gombal. Itu fakta, Sayang.”Mereka tertawa bersama. Pelayan datang dengan menu, mempersilakan mereka memilih.Dara memesan pasta, Rendra memilih steak. Mereka memilih wine ringan untuk menemani malam.“Aku
“Tapi beberapa minggu belakangan, saya merasa makin berat. Saya takut suatu saat suami saya muak. Saya takut dia melihat saya sebagai orang yang aneh. Saya takut …”“Takut kehilangan dia?” lanjut Rendra, setengah menebak.Sarah mengangguk. Air matanya jatuh.Rendra menghela napas. “Bu Sarah, perjalanan Anda tidak akan mudah. Ada luka masa lalu yang perlu dipahami, ada rasa malu yang perlu dikelola. Tapi Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit: bicara.”Sarah mengusap air matanya. “Apa saya bisa sembuh, Dok?”Rendra tersenyum tipis. “Sembuh mungkin bukan kata yang tepat, Bu Sarah. Tapi saya yakin, Anda bisa belajar menerima diri sendiri, dan membangun hubungan yang sehat dengan suami Anda, tanpa beban rasa bersalah atau malu.”Mereka berbicara lebih lama. Tentang masa kecil, tentang orang tua yang bercerai, tentang rasa tidak aman yang selalu mengikuti. Rendra mendengarkan, kadang berta
Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me
Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara
Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
“Urusan Arkha tahu atau nggak, itu urusan belakangan, Ra,” jawab Rendra tegas, tangannya memegang pundak Dara dengan lembut. “Yang penting kesembuhan Ibu dulu. Kita bisa atur penjelasannya nanti kalau beliau sudah membaik.” Dia menatap mata Dara, suaranya menjadi lebih lembut.
Mobil Rendra meluncur pelan memasuki halaman rumah Dara. Rumah yang dulu ia anggap miliknya bersama Arkha. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan lampu di dalam rumah menyala, menandakan Arkha sudah pulang. Saat Dara meraih gagang pintu, bersiap untuk masuk ke dalam p
Sarapan pagi itu terasa seperti medan ranjau. Dara menatap Arkha di seberang meja, menyusun kata-kata dengan hati-hati sebelum melontarkan rencana kecilnya.“Mas, aku ... kayaknya aku mau mulai terapi lagi sama Rendra,” ucapnya, berusaha terdengar ragu dan penuh harap.
Suasana di ruang pemeriksaan dokter terasa ringan, penuh harapan. Marini duduk di kursi roda dengan wajah masih pucat, namun senyum kecil sudah kembali menghiasi bibirnya. Dokter memandangi informasi riwayat medis milik Marini dengan puas sebelum menatap Dara dan Nina.“Hasil pemeri







