Share

Bab 139

Author: Mita Yoo
last update Huling Na-update: 2026-01-03 20:00:24

Dara menatap keluar jendela, meninggalkan tempat yang selama ini membesarkannya hingga menjalani hidup bersama Arkha. Dia mengirim pesan singkat pada Nina, meminta adiknya itu merahasiakan kepergiannya kali ini untuk menjauh dari suaminya.

Perjalanan kereta yang panjang dan melelahkan akhirnya berakhir di Stasiun Tugu Yogyakarta. Udara lembab dan ramai kota itu menyambut Dara dengan suasana yang ia dambakan. Namun, begitu dia menyalakan ponsel utamanya setelah berhari-hari mematikan ponsel, deringan dan notifikasi langsung membanjiri layar.

Puluhan panggilan tak terjawab. Puluhan pesan. Dan kebanyakan berasal dari satu nomor. Arkha, suaminya.

Dengan jantung berdebar, Dara menjawab panggilan yang kesekian kalinya. Suara Arkha di seberang langsung menyerbunya, penuh dengan amarah yang tertahan dan sebuah kepanikan yang aneh.

Suara Arkha parau, penuh ketegangan. “Kamu ngapain matiin hape, Yang? Sengaja banget menghindari aku? Eman
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 153

    Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 152

    Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 151

    Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 150

    Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 149

    Di ruang konsultasi kantor polisi yang sempit, Samuel duduk berhadapan dengan Rendra yang terlihat semakin lesu namun matanya masih memancarkan tekad yang membara. Laporan pencemaran nama baik terhadap Adrian sudah diajukan, tapi jalan itu terbentur oleh fakta bahwa Adrian sedang cuti dan menghilang—sebuah kebetulan yang terlalu tepat.“Aku sudah buat laporan pencemaran nama baik itu, Ren. Tapi, Adrian sedang cuti. Dia tidak bisa ditemui,” jelas Samuel.Rendra tidak lagi fokus pada Adrian. Pikirannya kini tertuju pada satu orang. Riani.Kunci untuk keluar dari jerat KDRT ini ada padanya. Jika laporan itu dicabut, setidaknya ia bisa bernapas lega dan fokus melawan musuh yang sebenarnya.Rendra merasa energinya habis. Dengan suara rendah, dia memohon. “Sam, kita harus pikirkan cara agar Riani mencabut laporannya. Karena malam itu, bukan aku yang menamparnya.”Rendra menatap pengacaranya dengan intens. “Dia pergi dar

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 148

    Suasana di kantor polisi panas oleh emosi yang meledak. Rendra, yang masih dalam status ditahan dan digiring, melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sana, saat itu. Ben, si wartawan yang selama ini ia curigai sebagai dalang dari berita yang menjatuhkan namanya. Namun Ben tidak datang sebagai tertuduh.Dia datang dengan percaya diri, bahkan dengan senyum tipis yang mengejek di bibirnya.Saat melihatnya, amarah Rendra yang sudah memuncak meledak. “Ternyata kamu pengecut!!” teriaknya, berusaha menerobos penjagaan polisi. “Selama ini kamu selingkuh dengan istri saya dan menyakiti dia!!” Tuduhannya langsung, berdasarkan asumsi bahwa Ben dan Riani bersekongkol untuk menjatuhkannya.Tapi Ben hanya mengangkat alis, terlihat tenang bahkan meremehkan. Dia melangkah lebih dekat, memastikan hanya Rendra dan polisi yang mendengar suaranya.Suuara rendah Ben terdengar lemah, namun jelas dan menusuk, “Anda salah alamat, Pak Rendra. Bukan saya yan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status