LOGINRendra menatap langit-langit lagi, kali ini dengan rasa mual dan penyesalan yang mulai merayap. Apa yang baru saja ia lakukan? Apakah ini membuatnya merasa lebih baik? Atau justru menghancurkannya lebih dalam?
Riani menarik selimut, menutupi tubuhnya yang telanjang. Tanpa kata-kata, dia membalikkan tubuhnya, memberi punggungnya pada Rendra. Sebuah sinyal yang jelas.Pertunjukan mereka sudah selesai. Kembali ke kenyataan bahwa pernikahan mereka hanya sebuah transaksi dan perjanjian bisnis.Kegelapan kamar utama setelah keintiman yang kacau itu terasa lebih pekat dari biasanya. Udara masih berbau campuran keringat dan ketegangan yang belum sepenuhnya menguap. Rendra, setelah mengenakan kembali celana dan kausnya dengan gerakan cepat dan menghindar, berdiri di tepi ranjang. Punggungnya menghadap ke arah Riani, yang masih terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya.“Aku tidur di kamar tamu, Ri.” Kalimatnya pendek, datar, dan penuh“Sekali lagi kamu bilang mau cerai, aku beberkan semua bukti foto mesra kamu sama Rendra ke media!” Ancaman itu sekali lagi keluar dari bibir Arkha.Dara tertawa getir. “Ternyata emang bener kamu, Mas? Aku udah nyangka kamu yang menyebarkan rumor itu.”Arkha menggeleng. “Sebenarnya aku dapat foto itu dari seseorang. Aku nggak kenal siapa orang itu, nomornya juga nggak aktif lagi.”Dara tertawa bukan tertawa lega. Tawa itu adalah suara getir yang keluar dari ruang hampa di dadanya. Ruang yang sudah lama ditinggalkan cinta, hanya diisi oleh tawar-menawar busuk dan ancaman yang selalu keluar dari bibirnya.“Kalau begitu,” ucap Dara, menatap lurus mata Arkha yang penuh kemenangan semu. “Kamu cuma pion yang dimanfaatkan atas semua ini. Sama seperti aku. Sama seperti Rendra.”Arkha mendelik. “Apa maksud kamu, Yang?”Dara berjalan pelan ke sisi meja riasnya, membuka laci paling bawah. Dari balik tumpukan pa
Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Yogya itu, deru mesin pembuat suara tangis Dara tenggelam, hampir tak terdengar. Air matanya tak bisa lagi tertahan. Selama ini, dia selalu berusaha kuat.Dia terdorong di kursi penumpang, tangannya masih tertahan oleh cengkeraman Arkha yang sesekali mengendur namun tetap mengancam. Pandangannya kabur oleh air mata, melihat lampu jalan dan pemandangan sawah yang dengan cepat berganti menjadi gelapnya jalan tol.Setiap kilometer yang menjauh dari Yogya terasa seperti menarik napas terakhir dari kebebasan yang baru saja ia dapatkan. Dia harus mengatakan kebenaran ini, sekalipun konsekuensinya tak terduga.Suara Dara parau karena terisak, namun kata-katanya jelas menusuk. “Ceraikan aku, Mas. Lepaskan aku. Kamu ... kamu bukan cinta sama aku. Yang kamu rasain ke aku itu bukan cinta. Itu obsesi, Mas. Kamu obsesi buat ngontrol aku, buat memiliki aku. Itu sakit banget!”Arkha menatap lurus ke jalan, rahangnya berkerut. Tapi tangannya di kemudi m
Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”
Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan
Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z
Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga







