Share

Bab 154

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2026-01-10 14:16:00

Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Yogya itu, deru mesin pembuat suara tangis Dara tenggelam, hampir tak terdengar. Air matanya tak bisa lagi tertahan. Selama ini, dia selalu berusaha kuat.

Dia terdorong di kursi penumpang, tangannya masih tertahan oleh cengkeraman Arkha yang sesekali mengendur namun tetap mengancam. Pandangannya kabur oleh air mata, melihat lampu jalan dan pemandangan sawah yang dengan cepat berganti menjadi gelapnya jalan tol.

Setiap kilometer yang menjauh dari Yogya terasa seperti menarik napas terakhir dari kebebasan yang baru saja ia dapatkan. Dia harus mengatakan kebenaran ini, sekalipun konsekuensinya tak terduga.

Suara Dara parau karena terisak, namun kata-katanya jelas menusuk. “Ceraikan aku, Mas. Lepaskan aku. Kamu ... kamu bukan cinta sama aku. Yang kamu rasain ke aku itu bukan cinta. Itu obsesi, Mas. Kamu obsesi buat ngontrol aku, buat memiliki aku. Itu sakit banget!”

Arkha menatap lurus ke jalan, rahangnya berkerut. Tapi tangannya di kemudi m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 157

    “Dan dia mengirim foto itu ke nomor aku. Karena aku marah, aku minta salah satu kenalanku, wartawan buat bikin berita itu heboh.” Suara Arkha terdengar frustrasi.Dara mendesah. “Akhirnya kamu mengakuinya, Mas. Aku lega. Ternyata selama ini benar-benar kamu yang bikin semua masalah jadi besar.”“Tapi aku menemukan sesuatu yang lain.” Dia mengeluarkan sebuah tablet, mengetuk layarnya, lalu memutarnya ke arah Dara. “Kamera keamanan di villa tempat foto itu diambil. Aku berhasil mendapatkan salinannya.”Di layar, tampak rekaman berwarna agak buram. Terlihat Arkha dan wanita itu, seperti dalam foto. Tapi rekaman itu berlanjut beberapa detik setelah momen dalam foto. Terlihat, wanita itu menepis pelukan Arkha dan berjalan cepat pergi, sementara Arkha berdiri terpaku, wajahnya … bukan wajah seseorang yang berselingkuh. Melainkan wajah kebingungan dan kemarahan.“Ini bukan perselingkuhan seperti yang diberitakan, Yang,” kata Arkha, su

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 156

    “Pengirim foto ini. Dia sudah bikin kacau rumah tangga kita, Mas. Ranjang kita. Kepercayaan kita. Bahkan hal yang paling privat,” kata Dara.“Kita tetap menjadi suami-istri di atas kertas nggak akan bisa bikin dia berhenti.”Tangan Arkha mengepal. “Kita bisa keluar dari situasi ini dengan identitas yang tetap rahasia. Setelah kita temukan dia, kita baru bicara soal ... perpisahan.”Dia menyebut kata perpisahan dengan gugup, seperti lidahnya terbakar. Dara mendengarnya. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu.Mungkin bukan lagi tentang cinta. Mungkin itu gengsi, kesombongan, atau ketakutan akan kehilangan satu-satunya tanah yang masih dia pijak setelah dunia perselingkuhannya terbongkar.“Kamu takut ya Mas,” gumam Dara, bukan sebagai tuduhan, tapi sebagai pengamatan seorang istri.  “Bukan takut kehilangan aku. Tapi takut kehilangan tentang citra pernikahan kita. Keluarga sempurna. Bisnis suami didukung istri

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 155

    “Sekali lagi kamu bilang mau cerai, aku beberkan semua bukti foto mesra kamu sama Rendra ke media!” Ancaman itu sekali lagi keluar dari bibir Arkha.Dara tertawa getir. “Ternyata emang bener kamu, Mas? Aku udah nyangka kamu yang menyebarkan rumor itu.”Arkha menggeleng. “Sebenarnya aku dapat foto itu dari seseorang. Aku nggak kenal siapa orang itu, nomornya juga nggak aktif lagi.”Dara tertawa bukan tertawa lega. Tawa itu adalah suara getir yang keluar dari ruang hampa di dadanya. Ruang yang sudah lama ditinggalkan cinta, hanya diisi oleh tawar-menawar busuk dan ancaman yang selalu keluar dari bibirnya.“Kalau begitu,” ucap Dara, menatap lurus mata Arkha yang penuh kemenangan semu. “Kamu cuma pion yang dimanfaatkan atas semua ini. Sama seperti aku. Sama seperti Rendra.”Arkha mendelik. “Apa maksud kamu, Yang?”Dara berjalan pelan ke sisi meja riasnya, membuka laci paling bawah. Dari balik tumpukan pa

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 154

    Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Yogya itu, deru mesin pembuat suara tangis Dara tenggelam, hampir tak terdengar. Air matanya tak bisa lagi tertahan. Selama ini, dia selalu berusaha kuat.Dia terdorong di kursi penumpang, tangannya masih tertahan oleh cengkeraman Arkha yang sesekali mengendur namun tetap mengancam. Pandangannya kabur oleh air mata, melihat lampu jalan dan pemandangan sawah yang dengan cepat berganti menjadi gelapnya jalan tol.Setiap kilometer yang menjauh dari Yogya terasa seperti menarik napas terakhir dari kebebasan yang baru saja ia dapatkan. Dia harus mengatakan kebenaran ini, sekalipun konsekuensinya tak terduga.Suara Dara parau karena terisak, namun kata-katanya jelas menusuk. “Ceraikan aku, Mas. Lepaskan aku. Kamu ... kamu bukan cinta sama aku. Yang kamu rasain ke aku itu bukan cinta. Itu obsesi, Mas. Kamu obsesi buat ngontrol aku, buat memiliki aku. Itu sakit banget!”Arkha menatap lurus ke jalan, rahangnya berkerut. Tapi tangannya di kemudi m

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 153

    Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 152

    Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status