LOGINRuang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia
Malam itu, Dara dan Rendra duduk di balkon. Biru tertidur di boks dalam kamar, diawasi oleh baby monitor.“Bi, kita akhirnya sampai di saat ini,” kata Dara.Rendra meraih tangannya. “Iya. Setelah perjalanan panjang.”Dara menatap langit berbintang. “Dulu, waktu aku sama Arkha, aku nggak pernah kebayang bisa bahagia kayak gini.”Rendra mengecup tangannya. “Kalau sekarang?”“Sekarang ... aku bahagia. Bukan karena sempurna, tapi karena aku punya kamu, punya Biru, punya keluarga dan sahabat yang peduli.”Rendra mengecup tangannya. “Kamu pantas bahagia, Sayang. Kamu sudah berjuang keras.”Dara tersenyum. “Kita berdua.”Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Biru bergerak, lalu kembali tidur.Di apartemen kecil itu, kehidupan terus berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada kenangan pahit yang perlahan memudar, dan ada cinta yang terus tumbuh.Karena pada akhirn
Usai semua tamu pulang, apartemen kembali sunyi. Rendra dan Dara duduk di sofa, memandangi Biru yang tertidur di boksnya. Bayi mungil itu terbungkus selimut biru muda, tangannya yang kecil mengepal di samping wajahnya.“Lihat dia, Bi,” bisik Dara. “Dia tidur kayak malaikat.”Rendra tersenyum, merangkul bahu Dara. “Dia memang malaikat kita. Malaikat kecil yang datang setelah badai. Dia pelengkap hidup kita.”Dara bersandar di bahu suaminya. Matanya mulai sayu, tetapi senyumnya tidak pernah pudar.“Bi, aku mau cerita sesuatu.”“Apa, Sayang?”Dara menghela napas. “Waktu baby blues itu ... aku ngerasa kayak dunia runtuh. Aku ngerasa nggak becus jadi ibu. Aku ngerasa ... aku nggak pantas punya Biru.”Rendra tidak menyela. Ia hanya memeluknya lebih erat.“Tapi kamu …” Dara menatapnya. “Kamu nggak pernah berhenti berjuang. Kamu gendong Biru, kamu ganti popok, kamu bangun tengah m
Di Rumah Sakit Ibu dan Anak itu, Dokter anak yang memeriksa Biru adalah dokter Anita, wanita muda dengan senyum ramah. Ia memeriksa Biru dengan teliti. Berat badan, tinggi, refleks, semuanya.Biru hanya sedikit rewel saat diukur, tapi cepat tenang begitu digendong Dara.“Biru sehat, Pak, Bu,” dokter Anita mencatat di berkas. “Berat badan naik bagus, tinggi sesuai usia, refleks normal. Semua perkembangannya baik.”Rendra dan Dara menghela napas lega.Dokter Anita menatap Dara. “Bu Dara, ASI-nya lancar?”Dara mengangguk. “Lancar, Dok. Biru menyusu kuat.”“Bagus. Pertahankan. ASI eksklusif sampai enam bulan, ya. Kalau ada masalah, segera konsultasi.”“Iya, Dok.”Dokter Anita tersenyum. “Selamat, ya. Anak Bapak Ibu sehat sempurna. Pertemuan berikutnya sebulan lagi untuk imunisasi.”Rendra menjabat tangannya. “Terima kasih banyak, Dok.”Mereka keluar
Satu pekan kemudian, apartemen yang biasanya hangat kini terasa berbeda. Tumpukan popok bayi di sudut ruangan, botol susu di meja, dan bau bedak yang samar. Namun yang paling mencolok adalah Dara. Ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Biru menangis di boks, tapi Dara hanya diam, tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya kusut karena lama tak tersentuh sisir. Rendra masuk dari dapur dengan botol susu hangat. Begitu mendengar tangis Biru, ia segera meletakkan botol dan menggendong bayinya. “Ssst ... Nak, tenang. Ayah di sini.* Rendra mengayun-ayun Biru dengan lembut, menepuk punggung mungilnya. “Kamu laper, ya? Sebentar, ya., Biru terus menangis, wajahnya merah. Rendra mencoba menyusuinya dari ASI yang sudah diperah oleh Dara, tapi bayi itu menolak, terus meronta. Rendra menatap Dara. Istrinya masih duduk dengan tatapan kosong, tidak bereaksi.
Rendra berlari kecil di lorong Rumah Sakit ke arah administrasi. Ia harus cepat. Dara membutuhkannya. Tapi di tengah jalan, ia bertemu dengan Samuel yang baru datang bersama Jasmine. “Ren! Gimana? Dara udah masuk ruang bersalin?” tanya Samuel. Rendra menghela napas. “Masih ada di ruang periksa. Pembukaan sembilan, sebentar lagi. Aku mau urus administrasi transfusi darah—” “Udah, biar aku yang urus itu.” Samuel menyela. “Mending kamu balik ke Dara. Dia butuh kamu.” Rendra menatap sahabatnya dengan haru. “Makasih Sam …” “Cepet! Jangan buang waktu!” Samuel setengah mendorongnya. “Aku akan urus di sini.” Jasmine menambahkan, “Kami doain juga. Semoga lancar, ya.” Rendra mengangguk, lalu berbalik dan berlari kembali ke ruang pemeriksaan. Sepuluh menit berselang, Dara sudah dipindahkan ke ruang bersalin. Kakinya terbuka, selimut tip
Usai perdebatan panjang yang melelahkan, Arkha akhirnya mengalah. Dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, ia mengangguk pelan.“Baik ... Oke, Yang. Aku mengerti. Kamu butuh waktu,” ucapnya, suara hampir tak terdengar. “Tapi ... janji sama aku, kalau kamu akan mempertimbangkan ulan
“Aku juga mencintaimu, Rendra.” Tiga kata yang telah ia pendam bertahun-tahun, akhirnya terungkap di tengah kekacauan hidupnya. Bisikan itu keluar tanpa paksaan, murni dari relung hati terdalam Dara.Rendra menghentikan ciumannya, menarik diri cukup untuk menatap mata Dara. Di matan
Dara yang sedang berkonsentrasi pada pesanan toko onlinenya, ponsel Dara berbunyi. Decakan kecil keluar dari bibir Dara saat notifikasi dari Tari muncul di layar ponselnya. Adik iparnya itu seperti punya radar khusus untuk mengganggunya di momen yang paling tidak tepat. [Tari
Getaran ponsel Rendra yang tiba-tiba terasa seperti alarm yang memecah ruang hangat antara mereka. Dara membuka mata, melihat Rendra mengambil ponsel dari saku celananya. Wajahnya berubah saat melihat layar.“Halo, Dek,” sambutnya, suaranya tiba-tiba lembut dan penuh perhatian, sang







