LOGINDara terbangun saat dini hari dengan perasaan tidak nyaman di perutnya. Ia mengerang pelan, mencoba mengubah posisi. Tapi rasa tak nyaman itu tidak hilang, justru semakin menjadi.
“Sayang?” Rendra langsung terbangun, refleks meraih tangan Dara. “Ada apa? Kamu ngerasa kontraksi?” Dara mengangguk, napasnya memburu. “Iya, Bi ... rasanya ... kayak diremas-remas.” Rendra melihat jam. Pukul 03.30 pagi. Ia segera bangkit,Rendra tersenyum tipis. “Anda tidak gila, Pak Bima. Tapi Anda butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dan yang lebih penting, apakah istri Anda tahu? Apakah dia nyaman dengan ini?”Bima menunduk lagi. “Dia ... dia nggak tahu. Saya selalu menutupi. Tapi belakangan, dia mulai curiga. Dia lihat saya ... reaksi saya setiap kali kami menonton film bersama, atau saat ada teman saya yang datang …”“Dan Anda memutuskan datang ke sini karena?”“Karena saya takut kehilangan dia.” Bima menggenggam tangannya sendiri. “Saya takut suatu saat dia tahu, lalu dia benci saya. Saya takut dia pergi. Saya ... saya nggak bisa kehilangan dia, Dok.”Rendra menghela napas. Ia menatap pria di hadapannya, bukan sebagai kasus, tapi sebagai manusia yang sedang berjuang untuk berdamai.“Pak Bima, perjalanan Anda tidak akan mudah. Tapi dengan Anda datang ke sini, Anda sudah mengambil langkah pertama yang paling sulit. Sekarang, kita perlu me
Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara
Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
Sore harinya, di perjalanan pulang mereka. Biru duduk di kursi belakang, masih bersemangat. “Ibu, Lilia lucu! Dia suka dinosaurus juga, tapi dia suka yang T-rex! Biru suka yang brontosaurus!”Dara tersenyum di balik kemudi. “Bagus, Nak. Kamu punya teman baru.”“Besok Biru main lagi sama Lilia, ya?”Dara mengangguk. “Boleh, Sayang.”Biru bernyanyi kecil, senang.Dara menatap jalanan, pikirannya melayang. Riani masih hidup. Dengan nama baru, anak baru, kehidupan baru. Dan ia harus memberi tahu Rendra.Tapi untuk saat ini, ia memilih menikmati kebahagiaan kecil di depan matanya. Biru punya teman baru, dan ia, mungkin, bisa memaafkan masa lalu.Malam itu, Rendra pulang dengan wajah lelah. Namun, dia langsung tersenyum begitu melihat Biru berlari ke arahnya.“Ayah! Ayah! Biru punya teman baru! Namanya Lilia!”Rendra menggendongnya. “Wah, cerita dong sama Ayah!”
Tiga Tahun Kemudian, Taman Kota … Biru berlari-lari kecil di taman, mengejar kupu-kupu. Rendra dan Dara duduk di bangku taman, mengawasinya dengan senyum. “Pelan-pelan, Nak!” teriak Dara. Biru berbalik, melambai, lalu kembali mengejar kupu-kupu. Samuel, Jasmine, Irvan, Nina, Fanny, dan Tari datang membawa makanan dan minuman. Mereka berkumpul di taman, sekadar bertemu untuk merayakan kebersamaan. “Kak, Biru makin pinter ya,” kata Nina. Dara tersenyum. “Iya. Suka nanya ini itu. Kadang bikin aku kewalahan.” Rendra menambahkan, “Kemarin dia nanya, kenapa langit biru. Aku jawab, karena warna kesukaan dia.” Semua tertawa. Biru berlari kembali, memeluk kaki Dara. “Ibu, aku lihat kupu-kupu! Warnanya kuning! Bagua banget!” “Bagus, Nak. Nanti kita gambar kupu-kupunya, ya.” B
Ruang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia
Suasana tegang dan bau antiseptik rumah sakit langsung menyergap mereka. Rendra dengan sigap mengantar Dara langsung ke depan pintu ICU, di mana Nina sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata sembab. Saat melihat Rendra, Nina mengangguk sopan, meski matanya penuh pertanyaan tersirat.
Jari Dara perlahan menekan tombol hijau “terima” seolah memiliki kehendak sendiri. Sebelum sempat berpikir, wajah Rendra sudah muncul di layar. Rambutnya sedikit acak, berbaring di atas bantal, dengan senyum kecil yang membuat Dara menahan napas.‘Dia semakin tampan sekarang,’ bisik
“Kamu nggak marah, Mas?” Suara Dara lirih, hampir seperti bisikan anak kecil yang takut dimarahi. Matanya menatap Arkha dengan hati-hati, mencari tanda-tanda kekecewaan atau amarah di wajah suaminya.Namun yang ia temukan justru senyum lembut. Arkha mengangkat tangan, menyibak helaian rambut Dara y
Dara berdiri di depan cermin kamar mandi, jari-jarinya dengan hati-hati menyentuh bekas kemerahan di kulitnya. Sentuhan Arkha tadi memang berbeda. Lebih sabar, lebih memperhatikan responnya. Bahkan saat dia mengerang kesakitan sesekali, Arkha langsung melambat atau berganti gerakan.







