Share

Bab 4

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-11-14 15:55:59

Usai sesi terapi itu, Arkha segera membawa keduanya kembali ke rumah. Di perjalanan pulang, Mobil SUV mewah itu meluncur mulus meninggalkan gedung klinik. Namun suasana tegang karena perdebatan di ruang terapi masih terasa di dalam kabin mobil yang dingin karena AC.

Senja mulai turun, membuat langit menjadi warna jingga dan keunguan. Namun, keindahan itu seolah tak mampu menembus kaca mobil yang gelap.

Dara duduk di kursi penumpang, tubuhnya masih terasa lelah seolah energinya terkuras habis karena sesi terapi tadi. Bekas sentuhan Rendra saat mereka berjabat tangan, seolah masih melekat di kulitnya. Pria yang dulu pernah membuat jantungnya berdegup kencang itu menjadi seks terapis.

Dara menyandarkan kepala di sandaran kurai mobil, menatap ke luar jendela. Berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih tak tenang.

Tiba-tiba, Arkha memecah kesunyian. Suaranya datar, namun sarat dengan nada menyalahkan. “Kamu dengar 'kan tadi apa kata Rendra?” ujarnya, tanpa menoleh dari jalanan di hadapannya.

“Dia bilang aku nggak perlu datang lagi. Jadi, ya, urusin aja urusan kamu sendiri mulai sekarang,” sambungnya.

Dara memejamkan mata, menahan desakan air mata yang tiba-tiba menggenang. “Tapi, Mas ... aku butuh support kamu. Aku nggak mau menghadapi ini sendirian.”

Arkha mendesah kesal, tangannya mencengkeram setir lebih kuat. “Dukungan? Aku udah nemenin kamu hari ini, Yang. Dan itu aja udah bikin jadwal meetingku berantakan! Kamu tahu nggak, bisnis aku lagi di ujung tanduk? Yang kamu pikirkan cuma perasaan kamu sendiri! Kamu egois, Yang!”

Mobil lalu melaju lebih kencang, menyalip kendaraan lain dengan agresif. Dara merasakan dadanya sesak. “Ini bukan cuma tentang perasaanku, Mas. Ini tentang kita berdua! Pernikahan kita!”

“Ya, dan cara memperbaiki pernikahan kita adalah dengan kamu yang harus berubah!” bentak Arkha, suaranya meninggi.

“Kamu yang harus belajar jadi istri yang lebih baik! Kamu yang harus bisa bikin suaminya betah di rumah, bukan malah ngeluh-ngeluh terus!” kali ini suara Arkha meninggi.

Kata-kata itu seperti tamparan. Dara terisak kecil, tak sanggup lagi menahan tangisnya. Air mata itu akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat.

Dia kembali memalingkan wajah ke jendela, tak ingin Arkha melihatnya menangis.

Namun Arkha tak peduli. Dia terus mengemudi dengan wajah masam, seolah isak tangis istrinya hanyalah gangguan kecil lain dalam harinya yang sudah sibuk. Ruang di dalam mobil itu tiba-tiba terasa sempit, pengap, dan sangat, sangat menyedihkan.

“Intinya, kamu denger ‘kan Yang, apa yang sepupu aku bilang tadi? Aku nggak perlu dateng juga nggak apa-apa. Masalahnya ‘kan di kamu, kamu urusin lah diri kamu sendiri.”

Dara terdiam. Menahan kesal.

“Kamu belajar gimana cara muasin suami, gimana biar aku selalu puas,” lanjut Arkha.

‘Padahal selama ini kamu selalu puas, Mas! Justru aku yang nggak puas sama sekali!’ batin Dara.

Dara masih memandang ke jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu persatu. Setiap kata dari Arkha seperti pukulan demi pukulan yang mengikis sisa-sisa harapannya.

Bayangan Rendra, pria yang dulu pernah memandangnya sepenuh jiwa—berkelebat di pikirannya. Kontras sekali dengan sosok suaminya yang kini hanya memandangnya sebagai kewajiban yang merepotkan.

“Pokoknya besok-besok kamu harus sering dateng ke sana. Sendiri aja ya, aku sibuk soalnya. Bisnis aku ‘kan masih baru, Yang. Kerjaan aku juga mulai padet.”

“Tapi temenin aku lah Mas, masak aku sendirian ke sana? Pasangan lain juga dateng sama suaminya lho!” Dara mencoba protes.

“Nggak bisa, Yang. Aku sibuk banget. Kamu juga tahu ‘kan kalau aku sibuk banget? Kamu ngerti dong kalau kerjaan aku lagi banyak banget. Ini semua demi masa depan kita juga, Yang? Demi anak-anak kita nanti. Kamu harus paham dong?”

“Aku cuma minta temenin, Mas. Cuma sehari dalam seminggu lho, Mas!”

“Nggak bisa, Yang. Kamu juga udah denger Rendra bilang nggak apa-apa dateng sendiri. Kamu harus rajin terapi biar cepet sembuh. Biar bisa puasin suami.”

Dara menatap wajah Arkha yang keras, diterangi lampu jalan yang lewat silih berganti. Dia menarik napas pelan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

“Jadi ... yang kamu mau,” ujarnya, suaranya bergetar namun jelas, “adalah aku yang harus berubah. Aku yang harus ‘sembuh’. Aku yang harus belajar ... untuk selalu membuatmu puas.”

Dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti berjalan di atas kaca. “Tapi kamu sendiri nggak perlu berubah apa-apa? Nggak perlu belajar memahami apa yang aku rasakan? Nggak perlu meluangkan waktu sekali aja untuk kita?”

Arkha mendecitkan mobil tepat di depan lampu merah. Dia memutar kepalanya, wajahnya tampak kesal. “Yang, ini bukan soal aku nggak mau. Aku nggak bisa! Kerjaanku—”

“Aku tahu,” potong Dara dengan tenang yang mengejutkan dirinya sendiri. “Aku tahu kamu sibuk.”

Dara memandang lurus ke depan, menatap lampu merah yang seakan tak kunjung hijau. “Tapi mungkin ... mungkin yang perlu ‘diperbaiki’ bukan cuma aku, Mas. Mungkin masalahnya bukan cuma di ranjang. Mungkin masalahnya ada di sini,” ujarnya, menunjuk ke arah hati mereka berdua, “di ruang tamu kita yang sepi, di meja makan yang selalu diisi oleh kita berdua tapi rasanya kayak sendiri-sendiri.”

Dara akhirnya mengatakannya. Keluhan yang selama ini terpendam, rasa kesepian yang dia pendam di balik senyumannya selama pernikahan mereka.

Lampu berubah hijau. Arkha menginjak gas, wajahnya tetap berkerut. Dia tidak membalas. Diamnya lebih menyakitkan daripada amarah.

Kalimat terakhir itu seperti kunci yang membuka sangkar. Sebuah kebebasan yang pahit. Di satu sisi, dia dilepaskan dari tekanan untuk membawa Arkha. Di sisi lain, dia dihadapkan pada pintu konsultasi berdua dengan seorang pria dari masa lalunya, seorang pria yang tatapannya tadi masih membangkitkan getaran-getaran lama.

Dara akhirnya mengalah. Dengan sebuah anggukan pelan. Mungkin ini bukan lagi tentang memperbaiki hubungannya dengan Arkha. Mungkin ini tentang dirinya sendiri. Tentang belajar memuaskan dirinya sendiri, dan siapa tahu, mungkin menemukan kembali jati dirinya yang hilang di ruang praktik itu.

“Oke, Mas. Baik,” ucapnya akhirnya dengan suara datar. “Aku bakalan urus semuanya sendiri.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 153

    Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 152

    Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 151

    Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 150

    Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 149

    Di ruang konsultasi kantor polisi yang sempit, Samuel duduk berhadapan dengan Rendra yang terlihat semakin lesu namun matanya masih memancarkan tekad yang membara. Laporan pencemaran nama baik terhadap Adrian sudah diajukan, tapi jalan itu terbentur oleh fakta bahwa Adrian sedang cuti dan menghilang—sebuah kebetulan yang terlalu tepat.“Aku sudah buat laporan pencemaran nama baik itu, Ren. Tapi, Adrian sedang cuti. Dia tidak bisa ditemui,” jelas Samuel.Rendra tidak lagi fokus pada Adrian. Pikirannya kini tertuju pada satu orang. Riani.Kunci untuk keluar dari jerat KDRT ini ada padanya. Jika laporan itu dicabut, setidaknya ia bisa bernapas lega dan fokus melawan musuh yang sebenarnya.Rendra merasa energinya habis. Dengan suara rendah, dia memohon. “Sam, kita harus pikirkan cara agar Riani mencabut laporannya. Karena malam itu, bukan aku yang menamparnya.”Rendra menatap pengacaranya dengan intens. “Dia pergi dar

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 148

    Suasana di kantor polisi panas oleh emosi yang meledak. Rendra, yang masih dalam status ditahan dan digiring, melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sana, saat itu. Ben, si wartawan yang selama ini ia curigai sebagai dalang dari berita yang menjatuhkan namanya. Namun Ben tidak datang sebagai tertuduh.Dia datang dengan percaya diri, bahkan dengan senyum tipis yang mengejek di bibirnya.Saat melihatnya, amarah Rendra yang sudah memuncak meledak. “Ternyata kamu pengecut!!” teriaknya, berusaha menerobos penjagaan polisi. “Selama ini kamu selingkuh dengan istri saya dan menyakiti dia!!” Tuduhannya langsung, berdasarkan asumsi bahwa Ben dan Riani bersekongkol untuk menjatuhkannya.Tapi Ben hanya mengangkat alis, terlihat tenang bahkan meremehkan. Dia melangkah lebih dekat, memastikan hanya Rendra dan polisi yang mendengar suaranya.Suuara rendah Ben terdengar lemah, namun jelas dan menusuk, “Anda salah alamat, Pak Rendra. Bukan saya yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status