Share

Bab 3

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-11-14 15:53:13

“Selamat siang, Bu Dara, dan ... Pak Arkha. Silakan duduk!” ucap Rendra, suaranya halus namun penuh wibawa, tangannya menunjuk ke dua kursi empuk di seberang meja kerjanya yang rapi.

Kini, mata pria itu memandangnya dengan tenang dan profesional. Namun, saat mata mereka bertemu, Dara bisa merasakan kejutan yang sama terlihat di matanya.

Arkha, yang sebelumnya bersikap acuh, tiba-tiba menyipitkan matanya. Wajah masamnya pecah oleh ekspresi kaget yang tidak bisa disembunyikan. “Oh ternyata kamu, Rendra?”

Rendra hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang terukur sempurna antara keramahan profesional dan pengakuan terhadap seorang teman lama. “Iya, Arkha. Lama nggak ketemu.”

Arkha pun menarik kursi untuk Dara sebelum duduk di sampingnya, sikapnya tiba-tiba berubah menjadi lebih santai, bahkan sedikit akrab. “Iya. Lama banget kita nggak ketemu, ya? Waktu aku nikah juga kamu nggak dateng. Ternyata kamu jadi terapis seks sekarang?” ujarnya, nada suaranya terdengar ringan, hampir seperti mengejek.

“Iya. Dan karena kita udah kenal,” jawab Rendra, matanya berpindah sebentar ke Dara yang masih kaku, sebelum kembali ke Arkha, “bakalan lebih gampang bikin janji. Kamu bisa bilang sama perawat di depan kalau kamu temenku, jadi mereka bakal duluin kalian di kunjungan berikutnya.”

Tawaran Rendra terdengar membantu, tetapi Dara merasa ada sesuatu dalam nada datarnya yang terasa seperti sebuah pintu yang dibuka untuk penyalahgunaan.

“Sebenernya aku nggak mau dateng, Ren,” sahut Arkha sambil melirik ke arah Dara sebentar, seolah melemparkan kesalahan. “Cuma istri aku nih, maksa.”

Tatapan Rendra yang tenang dan analitis perlahan beralih ke Dara. Dia menyatukan tangannya di atas meja.

“Ya,” ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa berat. “Masalah hubungan suami istri memang perlu waktu lama. Harus sering-sering konsul.” Kalimat itu diucapkan secara umum, tetapi Dara merasa seolah kalimat itu hanya ditujukan khusus untuk dirinya.

“Sebenernya aku perlu dateng nggak sih, Ren? Aku tuh sibuk sebenernya!”protes Arkha, kembali ke sikap arogannya.

Rendra tidak langsung menjawab. Dia membiarkan keheningan menggantung sesaat, matanya menatap bergantian ke arah Arkha dan Dara. Seolah-olah sedang mempelajari setiap kedip mata dan gerak tubuh mereka berdua.

Lalu, dengan sengaja, dia menjawab dengan pilihan kata yang bisa ditafsirkan ganda, “Oh, sebenernya kalau ada masalah sama pihak wanita, pria-nya nggak perlu dateng juga nggak apa-apa kok.”

“Oh, berarti besok-besok nggak apa-apa kalau aku nggak dateng ‘kan? Masalahnya ‘kan ada di istri aku,” Arkha meminta kepastian dari Rendra, sambil melirik Dara.

Kalimat itu terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, kalimat itu seperti membebaskan Arkha dari tanggung jawab. Namun di sisi lain, itu adalah pernyataan yang secara halus mengatakan bahwa “masalah” mereka hanya ada pada Dara.

Dara merasakan dadanya sesak. Ia datang ke sana untuk mencari solusi bersama, bukan untuk diberi label sebagai pihak yang bermasalah sendirian. Dan dari cara Rendra memandangnya, ia bertanya-tanya apakah itu adalah tatapan empati seorang terapis, atau sesuatu yang lain.

Rendra tersenyum tipis, tangannya yang terampil mencatat sesuatu di atas clipboard. “Oh, nggak apa-apa, kok kalau emang istrimu mau dateng sendirian. Tapi inget,” ujarnya, suaranya lembut, “proses terapi akan berjalan lebih efektif kalau ada komitmen dari kedua belah pihak.”

Rendra kemudian memindahkan tatapannya yang tenang namun dalam kepada Dara. “Nah, Ibu Dara, mari kita mulai dengan Anda. Bisakah Anda ceritakan, apa yang selama ini dirasa ... kurang?” tanyanya, dengan fokus profesional yang sempurna.

Namun, di balik tatapan mata yang tenang itu, Dara bisa merasakan sesuatu yang lebih. Sebuah pengakuan diam-diam akan masa lalu mereka, sebuah pertanyaan yang tak terucap.

Ruangan yang nyaman itu tiba-tiba terasa begitu pengap. Udara di sekitar Dara seolah menipis.

Dara menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Dia merasa terjebak antara suaminya yang tak acuh di sampingnya dan pria yang pernah sangat dikenalnya di seberang ruangan. Saat dia membuka mulut untuk berbicara, suaranya hampir tercekik.

“Saya ….”

“Saya merasa hubungan kami di ranjang kurang harmonis,” ucap Dara ragu-ragu.

Arkha dengan cepat membantah. “Selama ini dia jarang banget bikin aku puas, Ren. Aku juga bingung, dia mendadak minta dianterin terapi.”

“Oh, nggak masalah kok. Tapi terapi masalah ini memang biasanya lama, perlu waktu. Hasilnya nggak akan instan,” kata Rendra.

Dara merasakan tatapan Rendra padanya. Dadanya berdebar kencang. Sedangkan Arkha di sampingnya hanya acuh.

“Rendra ini sebenernya saudara sepupuku, Yang. Dia juga temen deketku dari dulu karena umur kita nggak beda jauh. Kamu bisa terapi sama dia sampai sembuh,” kata Arkha.

Dara merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. Kata-kata ‘sampai sembuh’ dari Arkha terasa seperti vonis, seolah dialah satu-satunya masalah yang perlu diperbaiki. Dan senyum Rendra yang profesional itu tiba-tiba terasa seperti pisau yang menusuk-nusuk hati Dara.

“Betul. Kalau Bu Dara mau datang sendiri, nggak masalah,” kata Rendra, matanya tetap tertuju pada Dara, seolah hanya ada mereka berdua saja di ruangan itu.

Arkha langsung menyambut tawaran itu dengan senyum sumringah. “Bagus itu! Jadi aku nggak perlu nemenin lagi. Kamu bisa tetep dateng sendiri, ‘kan, Yang?” katanya sambil menyentuh bahu Dara, seolah sudah bersiap untuk melepas tanggung jawabnya.

Dara hanya bisa mengangguk lemah, mulutnya terasa kering. Di depannya, Rendra tersenyum samar. Dan untuk sesaat, tatapan Rendra dengan matanya yang gelap itu, membuat Dara tak nyaman.

‘Rasanya aku ingin segera keluar dari ruangan ini sekarang juga,’ batin Dara.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 153

    Dara menutup matanya, menahan sakit karena kalimat itu. Dia memiliki keyakinan jika Rendra sedang difitnah.“Ini bukan tentang memilih dia, Mas. Ini tentang memilih diriku sendiri. Aku nggak mau jadi bagian dari hidup yang bikin aku sengsara lagi. Apa pun itu.”Hening sejenak di seberang telepon. Lalu, Arkha mengeluarkan ancaman yang berbeda, lebih halus, dan lebih berbahaya.“Kalau kamu tetap nekat ... ingat, aku masih suamimu yang sah secara hukum. Aku masih punya hak. Atas apa pun yang berhubungan dengan kita. Termasuk ... warisan ibumu yang di Kampung Melati itu. Klausulnya melindungi kamu dari menjual, tapi bagaimana kalau ada masalah dengan rumah itu? Kebakaran, misalnya? Atau ... hal lain yang bikin rumah itu jadi nggak layak huni?”Ancaman itu samar, tapi jelas. Dia akan menggunakan segala cara, bahkan merusak hal yang paling Dara hargai dari ibunya.Napas Dara tercekat. “Mas, kamu nggak akan …”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 152

    Suasana riang di teras rumah Reza sedang berada di puncaknya. Beberapa anak les Reza, usia SD hingga SMP, duduk bersila dengan antusias mengelilingi Dara yang sedang mengatur cetakan sabun, pewarna alami, dan wajan kecil untuk mencampur bahan adonan pembuat sabun.Aroma minyak kelapa hangat dan essential oil lavender memenuhi udara. Dara dengan sabar menjelaskan langkah-langkah dasar, matanya berbinar melihat antusiasme anak-anak. Ini adalah momen penyembuhan baginya, bisa merasakan kembali keberadaan dirinya dan berbagi pengetahuan.Tepat saat dia hendak menuangkan adonan sabun ke dalam cetakan, dering ponselnya memecah konsentrasi. Dara ingin marah, tetapi dia menahannya dan hanya tersenyum di depan anak-anak itu.Dara menoleh ke arah Reza. “Za, sebentar aku angkat telepon dulu,” ucapnya pada Reza yang sedang membantu seorang anak mengaduk.Dia berharap itu telepon dari Rendra, meski harapannya kecil setelah telepon putus yan

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 151

    Pagi di Yogyakarta masih sejuk, namun di hati Dara ada awan kelabu yang tak kunjung pergi. Dia duduk di bangku kayu di tepi sawah di belakang rumah Eyang, menatap hamparan hijau yang terhampar luas. Pikirannya masih terperangkap di antara dua berita yang menghancurkan. Rendra yang memutuskan telepon tanpa penjelasan dan berita mengerikan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan pria itu.Kedua hal itu saling bertabrakan, menciptakan badai keraguan dan sakit hati bagi Dara.Tak lama, Reza menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Dara, memberikannya satu cangkir. “Ta, kok kamu ngelamun dari tadi? Udah dipikirin belum mau ngajarin anak-anak di sini buat bikin sabun itu?” tanyanya, mencoba menarik Dara kembali ke kenyataan yang lebih membuatnya melupakan sejenak masalah yang dialaminya.Dara menerima cangkir teh itu, bibirnya tersenyum kecil tetapi matanya sama sekali tak tersenyum. “Iya, aku pikirin kok, Z

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 150

    Rendra termenung memikirkan langkah selanjutnya. Kemudian, bel pintu sel berdering, memecah kesunyian renungan Rendra. Petugas membuka pintu dan mengumumkan dengan suara datar, “Ada kunjungan dari istri Anda.”Rendra mengerutkan kening, bingung. “Istri saya?” gumamnya.Siapa lagi kalau bukan Riani? Tapi setelah semua yang terjadi, setelah pengakuan Ben, apakah Riani masih berani datang? Atau jangan-jangan ini jebakan lain? pikirnya.Dia diantar ke ruang kunjungan terbatas. Di seberang meja yang terbuat dari kayu lapis, duduk sosok yang akrab namun tiba-tiba kini terasa sangat asing. Riani.Dia duduk tegak, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa lebam yang kini mulai memudar di tepinya. Matanya, yang biasanya dingin dan terukur, kali ini sulit dibaca. Ada kelelahan, mungkin penyesalan, atau bisa jadi hanyalah kepura-puraan yang lebih dalam.Saat melihat Riani duduk di sana, sebuah gelombang emosi campur aduk menyerga

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 149

    Di ruang konsultasi kantor polisi yang sempit, Samuel duduk berhadapan dengan Rendra yang terlihat semakin lesu namun matanya masih memancarkan tekad yang membara. Laporan pencemaran nama baik terhadap Adrian sudah diajukan, tapi jalan itu terbentur oleh fakta bahwa Adrian sedang cuti dan menghilang—sebuah kebetulan yang terlalu tepat.“Aku sudah buat laporan pencemaran nama baik itu, Ren. Tapi, Adrian sedang cuti. Dia tidak bisa ditemui,” jelas Samuel.Rendra tidak lagi fokus pada Adrian. Pikirannya kini tertuju pada satu orang. Riani.Kunci untuk keluar dari jerat KDRT ini ada padanya. Jika laporan itu dicabut, setidaknya ia bisa bernapas lega dan fokus melawan musuh yang sebenarnya.Rendra merasa energinya habis. Dengan suara rendah, dia memohon. “Sam, kita harus pikirkan cara agar Riani mencabut laporannya. Karena malam itu, bukan aku yang menamparnya.”Rendra menatap pengacaranya dengan intens. “Dia pergi dar

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 148

    Suasana di kantor polisi panas oleh emosi yang meledak. Rendra, yang masih dalam status ditahan dan digiring, melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sana, saat itu. Ben, si wartawan yang selama ini ia curigai sebagai dalang dari berita yang menjatuhkan namanya. Namun Ben tidak datang sebagai tertuduh.Dia datang dengan percaya diri, bahkan dengan senyum tipis yang mengejek di bibirnya.Saat melihatnya, amarah Rendra yang sudah memuncak meledak. “Ternyata kamu pengecut!!” teriaknya, berusaha menerobos penjagaan polisi. “Selama ini kamu selingkuh dengan istri saya dan menyakiti dia!!” Tuduhannya langsung, berdasarkan asumsi bahwa Ben dan Riani bersekongkol untuk menjatuhkannya.Tapi Ben hanya mengangkat alis, terlihat tenang bahkan meremehkan. Dia melangkah lebih dekat, memastikan hanya Rendra dan polisi yang mendengar suaranya.Suuara rendah Ben terdengar lemah, namun jelas dan menusuk, “Anda salah alamat, Pak Rendra. Bukan saya yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status