공유

144. Air cinta

작가: Rossy Dildara
last update 게시일: 2026-03-09 15:21:10
"Astaghfirullah!!" seru Qiara dengan nada tinggi begitu dia menginjakkan kaki keluar dari kamar mandi. Dia tampak terkejut, matanya melotot lebar ke arahku.

Aku mengangkat alis dengan wajah penuh kebingungan, mata memandangnya dengan tatapan tidak mengerti. Mengapa dia bereaksi seolah-olah sedang melihat hantu, sampai beristighfar seperti itu?

"Ada apa, Sayang?"

Qiara tidak segera menjawab, malah dengan cepat membuang muka ke arah jendela di sisi kamar, pipinya tampak sedikit kemerahan mes
Rossy Dildara

Gemnya kencengin dong, Guys, banyakin, masa cuma 6 orang doang yang ngasih?? Yang lainnya ke mana?? Padahal yang baca setiap harinya hampir 3k. Kalau lebih banyak yang kasih gem, itu bisa sangat memengaruhi, supaya novel ini masuk promosi terus. Dan Authornya juga bisa lebih semangat buat update.

| 12
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Te Mawari
maaf iya Autror lain kali di kasih gamesnya
goodnovel comment avatar
Najwa Alhuda
tetep terusss SEMANGATT Thor .........
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   185. Kai aku ambil

    "Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu.Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba.Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan."Bu Laura!"Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   184. Jangan, Om!

    Bau menyengat langsung tercium menusuk hidung. "Om ngapain?" suara Qiara langsung berubah tegang, nada khawatir bercampur ketakutan terdengar jelas. Dia berjalan cepat mendekati suaminya. "Itu bukannya bensin, ya?""Iya, Sayang." Jawaban Bagas terdengar santai. Bahkan terlalu santai untuk situasi yang begitu berbahaya dan gila ini.Tangannya kembali terangkat, hendak menyiramkan lagi—tapi dengan cepat Qiara menahannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat pergelangan tangan Bagas yang kekar, berusaha menghentikan aksi nekat itu."Terus kenapa Om siram? Bensin 'kan bahaya, Om. Kalau kena api bisa kebakar." Matanya memandang Bagas lekat-lekat, berharap suaminya sadar akan apa yang sedang dia lakukan.Bagas menoleh. "Justru Om ingin membakarnya."Degh!Jantung Qiara seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar."Om mau bakar rumah Ayah?" tanyanya lagi, berharap dia salah dengar."Iya." Bagas mengangguk mantap, tanpa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   183. 5 liter bensin

    "Mbak, aku mau pesan dua porsi soto ayam, dua air mineral, dan dua jus mangga. Di take away, ya," ucap Bagas pada kasir restoran."Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya."Kasir wanita itu segera mencatat pesanannya dengan cekatan, lalu mengetik cepat di mesin kasir untuk mentotalkan harga pembayaran.Sementara itu, Bagas merogoh dompetnya mengeluarkan sebuah blackcard berwarna hitam pekat, dan membayar dengan cepat tanpa menunggu struk pembayaran tercetak sepenuhnya.Setelah selesai, dia melangkah pergi menuju salah satu kursi kosong di sudut restoran yang agak sepi.Dia duduk. Sembari menunggu pesanan jadi, dia berniat menelepon asisten pribadi dulu.Panggilan tersambung dalam satu nada dering."Halo.""Halo, Bos, selamat siang." Suara asistennya terdengar ramah dan ceria dari seberang sana."Temui aku di restoran soto ayam yang baru buka, dekat pasar Teluk Gong, lalu bawakan bensin di dalam jerigen. 5 liter saja.""Mobil Bos kehabisan bensin?" tanya sang asisten, suaranya terdengar ragu."E

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   182. Kubakar saja

    Mata Dylan sontak membulat, jelas terkejut dengan pertanyaan istrinya. Sedikit pun, tak pernah terlintas di benaknya untuk melakukan hal sekejam itu—terlebih pada cucu pertamanya yang begitu dia sayangi."Bunda ini bicara apa? Kita nggak perlu melakukan tindakan gila seperti itu pada Kai, Kai nggak salah apa-apa di sini. Dia suci, dia nggak berdosa." Suaranya tegas, bahkan sedikit meninggi. Ada naluri melindungi yang begitu kuat dalam ucapannya."Iya, Bunda tau." Laura mengangguk pelan. Tatapannya melembut, namun pikirannya tetap bekerja.Sebetulnya dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Pertanyaan tadi… hanyalah cara untuk menggali isi hati suaminya."Tapi sekarang apa yang ingin Ayah lakukan pada Kai?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan, kali ini lebih tenang, lebih dalam.Dylan menggeleng tanpa ragu. "Nggak ada. Kai nggak perlu dibawa-bawa dalam masalah ini. Yang Ayah masalahkan hanya orang tuanya, hanya mereka, Bun." Nada suaranya mulai turun. Namun amarah itu—belum ben

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   181. Berhak marah

    Dylan tampak terdiam beberapa saat, memandangi mereka secara bergantian. Lalu bukannya menjawab permintaan maaf mereka, dia justru mendorong keduanya untuk melepaskan lututnya, setelah itu dia langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu.Bagas segera menyangga punggung Qiara, khawatir perempuan itu akan terjungkal.Melihat Dylan seperti hendak masuk ke dalam rumah, Qiara bergegas berlari menyusul."Ayah, kenapa Ayah masuk? Jawab dulu permintaan maaf dari ...." Ucapan Qiara belum selesai, tapi Dylan sudah keburu masuk dan menutup pintu sembari membantingnya.Brakk!!!"Astaghfirullah!!" Bagas tersentak, merasa kaget. Dia lalu mendekat ke arah Qiara, memeluknya lalu mengelus dada istrinya, khawatir perempuan itu kaget juga. "Kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang?""Ayah!" panggil Qiara, meraih gagang pintu. Saat diturunkan pintu itu justru telah terkunci dari dalam. "Kenapa dikunci pintunya, Ayah! Kita belum selesai bicara!" tambahnya berteriak."Dylan, apa-apaan kamu? Buka pintunya, Lan!" Ba

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   180. Terlalu rapuh dan terlalu manis

    "Akulah yang meminta Om Bagas untuk menghamiliku, Yah." Suara itu meluncur tegas dan lantang, memecah ketegangan yang mencekam. Semua kepala serentak menoleh ke arah sumber suara. Tepat di belakang mereka, berdiri tegak sosok Qiara. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa. Tangan dia terlihat sangat hati-hati menggendong tubuh mungil Kai yang sudah terlelap pulas. Sontak saja, semua orang di sana terkejut bukan main. Bahkan Bagas sendiri sampai terpaku sesaat. "Sayang ... kok kamu—" Mulut Bagas terbuka sedikit, bingung. Tadinya bukan ini skenario yang sudah dia rencanakan. Dia sudah berniat menutupi semuanya, siap menanggung semua kesalahan seorang diri, namun niat itu buyar seketika karena pengakuan berani istrinya. "Udah, Om. Biarkan saja. Sudah terlanjur juga kita ketahuan," sela Qiara cepat. Dia menatap suaminya lekat-lekat, tatapan itu memohon sekaligus meminta pengertian agar Bagas tidak lagi membantah atau menutup-nutupi. B

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   57. Wanita berambut pirang

    "Untuk kali ini bukan." "Maksudnya?" Aku menatapnya heran. "Bukan Om yang membuatnya kecelakaan." "Om jangan bohong!" seruku tak percaya. "Kalau kamu nggak percaya, silahkan laporkan saja Om ke polisi," sahutnya dengan nada menantang, pundaknya sedikit mengangkat. "Tapi perlu kamu tau ... Ke

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   48. Papiku gila

    Di hadapanku terbentang pemandangan yang sungguh mengejutkan—seolah waktu terhenti sejenak, dan napasku tercekik di tenggorokan. Kamar itu terlihat mewah dan lengkap, seperti kamar orang kaya pada umumnya. Tempat tidur yang besar dengan sprei warna putih, meja rias yang bersih dengan cermin yang

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   50. Demi keselamatan suamimu

    Maira segera merebut buku di tanganku dengan gerakan cepat—tangan dia bergeser cepat seperti ular, lalu dengan tergesa-gesa menaruhnya kembali ke dalam laci nakas dan menutupnya rapat. Kemudian saat pintu perlahan dibuka, dia langsung menarik tubuhku dengan kekuatan penuh untuk berguling bersamanya

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   58. Mantan pacar

    "Soal foto itu 'kan Ayah sudah katakan, Ayah sendiri nggak tau.""Mana mungkin Ayah nggak tau, Ayah bohong kan?" Aku memicingkan mata dengan tatapan penuh kecurigaa. Aku merasa tidak bisa begitu saja mempercayainya."Ayah serius, Qia. Kapan sih Ayah pernah berbohong padamu?" Suaranya terdengar tega

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status