Masuk"Ini … hasil tes DNA?" Bilal menatap lembaran kertas itu dengan mata membesar.Tangannya sedikit gemetar. Dia embaca ulang setiap baris yang tertulis di sana—seolah berharap ada kesalahan… sekecil apa pun… yang bisa dia jadikan pegangan.Namun— Tidak ada.Itu bukan dokumen biasa. Melainkan hasil uji ilmiah yang tak bisa dibantah.Di bagian kesimpulan tertulis jelas:“Probability of paternity: 99,99% — sangat kuat menunjukkan bahwa pria yang diuji merupakan ayah biologis dari bayi tersebut.”Angka itu…Seolah menghantam keras kesadarannya. 99,99%. Nyaris mutlak. Nyaris tidak memberi ruang untuk keraguan.Kertas itu merupakan hasil tes DNA antara Bagas dan Kai.Tes yang diam-diam sudah dilakukan Bagas… sejak hari pertama bayi itu menghirup udara dunia.Bukan tanpa alasan. Bukan tanpa rencana. Melainkan sebagai langkah antisipasi jika suatu hari kebenaran ini harus diungkap.Dan hari itu… Ternyata datang lebih cepat dari yang diperkirakan."Sekarang kamu paham 'kan, kenapa Om melarangmu
Belum sempat Bagas merespons, pintu ruang IGD itu tiba-tiba terbuka.Ceklek~Seorang dokter pria keluar dari dalam, dia yang menangani Mirna tadi. Wajahnya tampak serius."Pak Bilal, masuklah. Nenek Anda ingin bicara," ucapnya singkat, sembari membuka pintu lebih lebar.Tanpa menoleh lagi ke arah Bagas, Bilal langsung bergerak cepat. Langkahnya tergesa, jantungnya berdebar kencang saat memasuki ruangan itu.Pintu kembali tertutup di belakangnya.Di dalam ruang IGD, lampu putih menyala terang. Aroma obat-obatan terasa tajam di udara.Di salah satu ranjang, Mirna terbaring lemah. Selang oksigen terpasang di hidungnya, membantu napasnya yang masih belum stabil. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya pucat, jauh berbeda dari sebelumnya.Perlahan… matanya bergerak, kepalanya menoleh. Dan saat melihat sosok cucunya mendekat, ada sedikit kelegaan di sana."Bilal …," lirihnya. Suaranya sangat pelan. Hampir tak terdengar. Namun cukup membuat langkah Bilal terhenti sesaat, sebelum akhirnya dia m
Laura yang melihat itu langsung bergerak cepat."Bu!!" Dia menghampiri, menopang tubuh Mirna agar tidak jatuh. Tangannya sigap melingkari bahu wanita tua itu yang mulai kehilangan tenaga. "Bu Mirna duduk dulu… pelan-pelan .…""Nenek kenapa?? Dadanya sakit kenapa??" tanya Bilal panik. Suaranya bergetar, kedua tangannya ikut membantu mendudukkan sang nenek di sofa. Wajahnya berubah pucat, napasnya memburu melihat kondisi Mirna yang tiba-tiba melemah."Jantung Nenek rasanya …." Kalimat itu menggantung.Belum sempat Mirna menjelaskan apa yang dia rasakan, kepalanya langsung terkulai ke samping. Tubuhnya lemas. Kesadarannya hilang begitu saja."Ya Allah… pingsan!" seru Laura panik, menepuk-nepuk pipi Mirna dengan lembut, berharap ada respons sekecil apa pun.Dylan ikut mendekat dengan langkah cepat, wajahnya tegang namun tetap berusaha tenang."Angkat kepalanya… pelan dan baringkan ke sofa," ucapnya, tangannya sigap membantu menopang tubuh Mirna agar tidak terjatuh dengan kasar.Mereka ber
Ucapan dari wanita tua itu benar-benar seperti menyiram bensin ke dalam api yang sudah menyala. "Enak saja mengambil! Nggak boleh!!" Dylan langsung melangkah cepat. Gerakannya refleks, tanpa berpikir panjang. Tangannya mendorong boks bayi menjauh dari jangkauan Bilal, seolah naluri seorang ayah dan kakek mengambil alih sepenuhnya. Sorot matanya tajam. Melindungi. Menolak. Dan di detik berikutnya— Bughh!! Suara pukulan itu menggema keras, memantul di dinding kamar VVIP yang semula tenang. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan tinju Bagas sudah mendarat telak di pipi kanan Bilal. "Aarrggghh!!" Kepala pria itu terlempar ke samping. Tubuhnya oleng beberapa langkah ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terseret, bahunya sempat membentur kursi sebelum akhirnya dia berhasil menahan diri agar tidak jatuh. Buket uang di tangannya terlepas. Berserakan di lantai. Ruangan sontak gempar. Qiara yang berada di atas ranjang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya m
Ruangan VVIP itu terasa hangat dan tenang. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan wangi lembut dari tubuh bayi yang baru lahir. Lampu redup menambah suasana nyaman, membuat siapa pun yang berada di dalamnya seakan ingin berbicara dengan suara pelan. Qiara bersandar setengah duduk di atas ranjang, tubuhnya masih lemah, namun wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa jam lalu. Di sampingnya, Bagas duduk dengan posisi sedikit mendekat, menyuapi Qiara bubur ayam dengan penuh perhatian. Gerakannya pelan, sabar, bahkan sesekali dia meniup sendok itu sebelum menyodorkannya ke bibir Qiara. Sementara itu… Dylan berdiri di dekat boks bayi. Sejak tadi, matanya tak lepas dari sosok kecil yang tengah tertidur pulas di dalam sana. Bayi laki-laki itu—Kainoa Alfarizi. Kai. Nama yang baru saja Dylan berikan dengan penuh pertimbangan. Nama itu bukan sekadar indah diucapkan, tapi juga penuh makna. “Kainoa” diambil dari bahasa Hawaii yang berarti lautan bebas—melambangkan ha
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil dipenuhi campuran rasa haru, dan tak percaya. Laura yang duduk di kursi depan, di samping Dylan yang mengemudi, sejak tadi tak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya terus tertuju pada bayi kecil yang kini sudah terbungkus rapi dalam bedong di pangkuannya. Tangannya mengelus lembut kain itu. Sesekali menyingkap sedikit, hanya untuk memastikan wajah mungil itu tetap terlihat. Bukan hanya haru. Tapi juga… heran. Bayi laki-laki itu tampan sekali. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya tegas meski masih sangat kecil. Sempurna. Tak ada kekurangan sedikit pun. Namun—semakin lama Laura memperhatikan... semakin jelas sesuatu yang mengusik pikirannya. Wajahnya mirip. Sangat mirip dengan Bagas. Alisnya. Garis hidungnya. Bahkan bentuk bibirnya. Laura sampai menahan napas
{Semua kegelapan yang aku rasakan selama ini seketika hilang, saat aku bertemu dan mengenal Qiara. Seolah gadis cilik yang memiliki senyuman yang sangat manis, bahkan mengalahkan gula dan madu.}{Jantungku berdebar setiap menatap matanya yang begitu cantik. Bukan, bukan cuma mata, tapi s
Padahal Bu Karin bertanya dengan nada yang biasa, tapi aku hampir tersendak dibuatnya. Jus yang baru kusedot hampir keluar dari mulutku, tanganku terjepit erat di gagang gelas.Pikiranku berputar kencang—bagaimana dia bisa melihat kami?"Apartemen?" Maira mengulang kata itu, dah
"Karin, kamu apa-apaan sih! Kita bukan anak kecil lagi, lagian malu dilihat umum apalagi ada anakku di sini!" Om Bagas cukup bereaksi, langsung menarik diri dengan lembut tapi tegas untuk melepaskan genggaman tangan wanita itu. Dia menoleh ke arah tamu yang menatap dengan senyum malu, lalu kembali
"Kamu mau mencarikan Papimu jodoh?" "Iya." Maira mengangguk cepat, matanya memancar cahaya harapan. "Aku juga akan carinya yang wajahnya mirip denganmu. Aku pernah baca di internet, katanya kita itu punya 7 kembaran di dunia, dan aku yakin akan ada wanita yang juga mirip denganmu." "Kenapa harus







