LOGINAku menghentikan mobilku tepat di depan salah satu toko ponsel yang berada di pinggir jalan.Lampu-lampu etalase yang terang memantulkan bayanganku di kaca, sementara deretan ponsel tersusun rapi di dalamnya. Tujuank ingin membelikan Zahra ponsel baru.Aku segera turun dan melangkah masuk."Selamat datang, Pak. Mau cari hape model apa?" Seorang pria, penjaga toko itu menyapa dengan ramah sambil tersenyum."Aku mau beli hape yang harga nggak terlalu mahal tapi kualitasnya bagus."Sebentar ya, Pak. Saya cari."Dia membuka etalase kaca dengan hati-hati, tangannya bergerak lincah memilih satu per satu ponsel sebelum akhirnya mengambil satu unit. Dia kemudian menaruhnya di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arahku."Ini hape merek Oppay, Pak. Harganya 5,5 juta. Sudah tahan air, tahan banting dan tahan ledakan."Aku menatap ponsel itu sekilas saja. Tanpa banyak pertimbangan, aku sudah merasa cukup."Oke. Bungkusi satu."Penjaga toko itu tampak sedikit terkejut dengan keputusanku yang ce
"Kita nggak perlu bayar uang jaminan untuk membebaskan mereka, Nak," ucap Laura saat mengobrol tadi, suaranya pelan namun tegas. Qiara langsung menoleh, keningnya berkerut heran. "Kok gitu, kenapa, Bun?" tanya Qiara heran. "Nanti biar aku yang bayar semuanya, Bunda nggak usah khawatir." Dalam pikirannya, Qiara menduga Laura merasa keberatan dengan nominal yang disebutkan oleh petugas sebelumnya. Wajar saja—urusan dengan polisi memang tidak pernah murah. Dan dalam hal ini, Qiara merasa semua ini terjadi karena dirinya. Karena masalah yang berawal darinya. "Biarkan saja Ayah dan suamimu ditahan di sini, Nak." "Lho?!" Qiara tampak terkejut mendengar ucapan Laura. Tubuhnya sedikit condong ke depan, memastikan dia tidak salah dengar. "Bunda serius ngomong kaya gitu? Tapi kenapa?" Laura menarik napas pelan sebelum menjawab, tatapannya lurus ke depan. "Supaya mereka tobat, Nak. Supaya mereka nggak berkelahi lagi." Qiara menelan ludah. Ada rasa tidak nyaman yang langsung menj
Merasa tak mendapatkan titik temu penyelesaian saat diinterogasi tadi karena kedua belah pihak sama-sama keras kepala dan saling menyalahkan, pihak polisi akhirnya memutuskan untuk bertanya pada pihak keluarga.Mereka berharap keluarga lebih mengerti akar permasalahan sebenarnya hingga kedua pria itu nekat baku hantam."Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka adu jotos, Pak. Ini sudah kedua kalinya. Dan yang pertama, ujungnya Dokter Bagas sampai masuk penjara. Tapi sejujurnya, ini semua hanyalah masalah keluarga biasa yang membesar," jelas Laura dengan hati-hati, berusaha menempatkan diri."Lho, terus apa masalahnya memang tidak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, ya Bu? Tanpa harus ada kekerasan fisik seperti ini?" tanya petugas polisi dengan nada heran."Aku sudah sering menasehati suamiku, Dylan. Tapi suamiku orangnya memang agak keras kepala, Pak. Dan emosinya suka sekali tidak terkontrol kalau sudah marah," jawab Laura jujur."Memang susah ya, Bu, kalau punya watak keras da
Dengan langkah hati-hati, Qiara yang menggendong Kai berhenti di depan pos satpam. Di sana, salah satu satpam tengah duduk sambil mengompres pelipis matanya dengan handuk yang dicelupkan ke air es. Wajahnya tampak kesakitan dan sedikit memar.Namun, tak ada sosok Bagas di sana. Qiara semakin heran, apalagi saat dia melewati bagian lift tadi, lift apartemen itu berjalan normal dan tidak rusak sama sekali."Permisi, Pak ... maaf, apa Bapak melihat suamiku?" tanyanya dengan sopan, sambil menguatkan gendongan pada tubuh mungil Kai.Pak Satpam menoleh pelan, lalu menatap Qiara dengan wajah bingung. "Suami Nona yang mana, ya? Maaf saya nggak tau."Karena penghuni apartemen ini sangat banyak, jadi Pak Satpam tidak bisa mengenali satu persatu pasangan dari mereka. Apalagi jika mereka datang hanya sesekali saja."Namanya Bagaskara, Pak. Tadi dia pamit katanya mau ngambil pesanannya dari ojol yang dititipkan ke sini," jelas Qiara."Oh Pak Bagas." Mendengar nama itu, ekspresi satpam langsung ber
Langkah Bagas seketika terhenti tepat di depan gerbang utama apartemen. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat saat melihat sosok yang berdiri tegak di sana.Dylan.Pria itu berdiri mematung, wajahnya memerah menahan amarah yang meluap-luap. Kedua tangannya terkepal kuat hingga urat-urat biru terlihat menonjol jelas di pergelangan tangannya. Tatapannya tajam, penuh kebencian dan kemarahan yang sudah terpendam lama.'Aneh... Kok bisa dia ada di sini? Tau dari mana alamat apartemen ini?' batin Bagas heran. Otaknya bekerja cepat memutar ingatan, tapi tidak menemukan jawaban."Hei Penculik! Kembalikan Kai kepadaku sekarang juga!" teriak Dylan dengan suara menggelegar.Tanpa menunggu jawaban, Dylan langsung melangkah lebar mendekat dan mencengkeram kedua bahu menantunya itu dengan kasar, seolah siap melepaskan semua emosinya.Namun, Bagas yang juga sama kuat dan sigap, dengan cepat menepis tangan besar itu menjauh dengan tenaga yang tak kalah kuatnya."Jangan sembarangan kalau bicara,
Sudah hampir satu jam rasanya Kai menyusu, dan sampai sekarang Bagas lihat dia belum melepaskan puting maminya. Sebagai seorang dokter kandungan yang paham betul soal perawatan bayi dan kesehatan ibu serta anak, rasa khawatir mulai menjalar di dadanya. Dia tahu betul durasi menyusu yang ideal untuk bayi seumur Kai.Dengan gerakan lembut namun tegas, dia pun berniat mengambil alih Kai dari gendongan istrinya."Sayang... sudah sejam Kai nenen. Hentikan sekarang saja," ucapnya lembut kepada Qiara. Namun, istrinya justru menahan tangannya dengan cepat, seolah tak ingin memisahkan diri dari buah hatinya."Jangan, Om! Kasihan. Om sabar dulu, nanti gantian."Qiara pikir Bagas sudah tidak sabar untuk menyusu seperti Kai, maksudnya ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang darinya dengan cara yang sama. Padahal, bukan itu maksud Bagas."Bayi yang masih berumur sebulan idealnya nenen 20 sampai 45 menit, Sayang, durasinya. Kalau lebih dari itu takutnya dia kekenyangan dan ujungnya muntah, ma
"Alhamdulillah... kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri," ucap Pak Penghulu.Kalimat itu disusul dengan do'a yang segera dipanjatkan. Suaranya terdengar khidmat, teratur, memenuhi ruangan yang sejak tadi terasa pengap dan menekan dadaku. Kami semua mengangkat tangan.Om Bagas mengaminkan do
Dia Ayah Agus. Ayah kandungku. Pria yang selama ini hanya hadir sebagai bayangan di masa lalu—yang keberadaannya tak pernah aku ketahui dan tak ada niat aku cari tahu. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat aku menikah dengan Mas Bilal—datang sebentar, duduk sebagai wali, lalu pergi, bahk
Mataku yang terasa berat perlahan terbuka. Kepala terasa sedikit pening, seolah baru terbangun dari tidur yang terlalu dalam. Pandanganku menyapu sekeliling ruangan, dan dahiku spontan berkerut.Ruangan ini asing.Dindingnya berwarna putih, pencahayaan hangat, dengan furnitur modern yang tertata ra
“Aku juga ada perlu dengan Dokter Bagas.”“Mbak ada perlu apa sampai datang ke rumah sakit sega—” Ucapanku seketika terhenti. Kata-kataku menggantung di udara saat pintu ruangan Om Bagas perlahan terbuka.Pria itu muncul dari balik sana.“Eh... ini Dokter Bagas ’kan, ya?” tanya Mbak Julia cepat. Su







