LOGIN"Aku beli bunga buat Bu Karin, Qia. Aku mau jenguk dia di rumah sakit.""Oh Bu Karin sakit? Sakit apa dia?""Depresi.""Depresi?!" Mataku seketika mendelik. Dadaku terasa mengencang mendengar satu kata itu. "Kok bisa? Memangnya tadinya kenapa, sampai dia bisa depresi seperti itu?""Karena Papi.""Papimu??""Iya." Maira mengangguk cepat, raut wajahnya berubah serius."Memangnya apa yang Papimu lakukan sampai membuat Bu Karin depresi??" tanyaku, semakin penasaran."Karena Papi menolak cinta Bu Karin. Kamu juga pasti masih inget 'kan kejadiannya, pas di restoran?""Masih." Aku mengangguk cepat.Tentu saja aku ingat. Kejadian itu masih membekas dalam di kepalaku. Dan jujur saja, saat itu aku memang sempat merasa kasihan pada Bu Karin—perempuan yang terluka karena perasaan yang tak berbalas.Ini berarti rasa cinta Bu Karin kepada Om Bagas begitu dalam, kasihan dia, seharusnya Om Bagas mau membuka hatinya untuk Bu Karin."Jujur sih aku kasihan banget sama Bu Karin, Qia, apalagi dia kemarin-
Ceklek~ Suara gagang pintu diputar pelan, diikuti daun pintu yang terbuka perlahan. Dari baliknya, Bunda telah berdiri dengan tenang. Di tangannya tergenggam sebuah buket bunga mawar merah berukuran sedang, kelopaknya tersusun rapi dan tampak begitu segar, seolah baru saja dipetik pagi ini. "Ini ada kiriman bunga dari toko Bunda untukmu, Nak." Dia mengulurkannya ke arahku. "Kenapa Bunda memberikanku bunga?" Dahiku langsung berkerut refleks. Meski heran, tanganku tetap bergerak menerima buket itu. Begitu dekat, aromanya langsung menyeruak—harum lembut, menenangkan. Warna merahnya pekat dan hidup, kelopaknya mulus tanpa cela. Cantik sekali. "Bukan dari Bunda, tapi Dokter Bagas." Aku tersentak. Tanganku refleks mengeratkan genggaman pada tangkai bunga, sementara mataku sedikit membulat karena kaget. Dadaku berdebar tidak karuan. Kok bisa dia mengirimkan bunga tanpa bilang apa-apa? Bagaimana kalau Bunda jadi curiga? Ah, Om Bagas ini. Dia memang tidak bisa kalau tidak menyebalka
"Ahhh ... Aahhh ... Aahhh." Suara itu pecah begitu saja dari bibirku, tak lagi bisa kutahan. Tubuhku terasa ringan sekaligus berat di saat bersamaan, terombang-ambing oleh sensasi yang sejak tadi kucoba kendalikan. Di atas kasur, tanpa sehelai benang pun yang tersisa, kami berdua benar-benar tenggelam dalam momen itu—beradu keringat, beradu napas, beradu kendali. Udara dingin dari pendingin ruangan tak mampu meredam panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Suara desahan kami saling bersahutan, memenuhi ruangan yang tertutup rapat itu, memantul di dinding-dinding seolah menjadi saksi bisu atas kekalahanku sendiri. "Uughh ... enak banget, Sayang! Kamu terlalu menjepit Om!!" Om Bagas terus memacu, tanpa memberi celah bagiku untuk bernapas dengan tenang. Setiap gerakannya membuat pikiranku semakin kabur, membuatku lupa pada niat awal, lupa pada batas yang sejak tadi ingin kupasang. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, menggigit bibir, memejamkan mata, memusatkan pikiran
Karena rasa penasaran yang tak tertahankan, aku segera membukanya. Jai-jariku gemetar kaku saat mengangkat sampul map berkulit tebal, suara sedikit berdecit saat kuku menyentuh permukaannya. Lalu, ketika map terbuka, isinya sebuah sertifikat, terlipat rapi di tengah. Sertifikat unit apartemen. Aku mengusap jari di atas nama yang tercetak jelas. Itu namaku. Tapi kenapa namaku? "Om membeli unit apartemen ini untukmu, Sayang. Jadi tanda tangan lah." "Membeli untukku?? Tapi kenapa, Om?" tanyaku dengan suara terkejut, kedua alisku bertaut erat. "Waktu itu 'kan Om pernah tanya, apakah apartemen ini bagus dan kamu suka, terus kamu jawab iya. Jadi Om langsung membelinya untukmu. Ya anggap saja sebagai hadiah awal kita jadian." "Awal jadian??" Bicara apa dia ini? Jadian apa? Aku bingung total, pikiran terasa kosong sejenak, tak mampu mengartikan makna kata-katanya sama sekali. "Setelah Om pikir-pikir, sepertinya akan lebih baik sambil menunggu kamu resmi menjadi janda, kita paca
Driingggg!!!Ponselku tiba-tiba berdering, suaranya tajam memecah ketenangan di dalam apartemen. Penasaran campur khawatir, aku segera meraihnya dari dalam tas—jari-jariku sedikit gemetar saat membuka resleting.Di layar terpampang panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Tak berani menolak karena khawatir ada urusan penting, aku langsung mengangkatnya."Halo Qia sayang, ini Mas Bilal." Suara Mas Bilal terdengar dari seberang, lembut dan sedikit mendayu-dayu.Tapi pakai nomor siapa dia? Apa nomor selingkuhannya?"Sayang, tolong buka blokiran nomor Mas, ya? Mas susah buat hubungin kamu."Mas?Tumben sekali dia menyebut dirinya dengan "mas"—biasanya selalu menggunakan "aku"."Mau ngapain Mas telepon?" tanyaku sinis."Kamu ada di mana? Mas ingin bertemu denganmu. Mas akan jelaskan kesalahpahaman ini.""Kesalahpahaman apa? Apa tentang Mas selingkuh?" Suaraku terdengar lebih tinggi, emosi tiba-tiba meluap dalam dada."Mas nggak selingkuh, Sayang, Mas cuma dijebak. Kamu harus percaya sama
"A-ku minta maaf, Om," jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup, suara bergetar dan tangan menggenggam ujung kursi dengan kencang. Jangan sampai karena dia ingat hal itu, membuatnya menjadi benar-benar marah padaku. "Bukan maksud nggak sopan, tapi aku melakukan itu karena dipaksa Maira, dia memintaku untuk menemaninya masuk ke kamar Om. Padahal aslinya aku nggak mau dan aku sudah berusaha menolak, Om.""Memangnya apa yang sebenarnya kalian cari?" Tatapan mata Om Bagas tiba-tiba tajam, seolah menusuk langsung ke jantung, membuatku berdebar tak karuan."Ke-kenapa Om nggak tanya langsung saja ke Miara?" Nanti jika ku jelaskan, takutnya akan jadi masalah. Aku tak mau gara-gara aku, membuat hubungan Om Bagas dan Maira menjadi tambah tidak baik-baik saja. Suaraku pelan, penuh keraguan."Om sekarang tanya padamu.""Tapi aku sendiri nggak tau, Om.""Masa kamu nggak tau?""Beneran." Aku mengangguk cepat, meski tubuhku mulai gemetar—kaki sedikit bergetar di bawah kursi. Semoga saja dia percaya pada







