ログイン“Siapa, Mas?” tanyaku, rasa penasaran bercampur waswas. Ada getaran aneh di dadaku, seperti rasa senang yang menyeruak yang tiba-tiba menyelinap tanpa izin.Mas Bilal tersentak dan menoleh ke arahku, seolah baru menyadari kehadiranku. Matanya sedikit membesar, napasnya tampak tertahan sesaat, lalu raut wajahnya berubah tegang.“Om Bagas, Qia. Sial banget kenapa dia bisa ke sini?!” gerutunya dengan raut wajah kesal dan penuh ketegangan. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal samar, seolah sedang menahan amarah yang siap meledak.“Ya sudah tinggal dibuka saja, Mas, ngapain repot,” balasku dengan santai. Namun, tiba-tiba tangan Mas Bilal menarikku dengan kasar. Tubuhku terhuyung saat dia membawaku masuk ke dalam kamar.“Kamu tunggu di sini dan kunci pintu. Pokoknya jangan keluar sebelum aku yang memintanya,” perintahnya dengan nada tegas, nyaris memaksa. Sebelum aku sempat membantah, pintu sudah ditutup dengan cepat, menyisakanku sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa sempit dan p
"Mas Bilal ... kenapa ...." Pertanyaanku terhenti di ujung bibir ketika pria itu tiba-tiba berlari mendekat dan langsung memeluk tubuhku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dilepaskan sedetik saja.Tubuhku sontak menegang. Pelukan itu datang terlalu cepat, terlalu memaksa.Jadi dia yang telah membiusku? Tapi kenapa dia melakukan ini?"Qia sayang, Mas nggak mau kita bercerai. Semuanya hanya salahpaham. Mas bisa jelaskan," ucapnya dengan suara gemetar, napasnya terasa berat di dekat telingaku.Dulu, pelukan seperti ini selalu menjadi tempatku pulang. Hangat. Aman. Membuatku merasa dimiliki dan dicintai. Namun kini, sensasinya berubah total. Tidak ada kehangatan yang kurasakan. Yang ada justru rasa risih menjalar, bercampur jijik yang membuat perutku mual. Ingatanku melayang pada bukti perselingkuhannya, pada luka yang masih menganga dan belum sempat mengering."Lepas!" Aku segera mendorong tubuhnya menjauh, mengerahkan seluruh tenagaku untuk melepaskan diri dari pelukan itu.Iro
(POV Author)Maira perlahan masuk ke dalam mobilnya, lalu menyalakan mesin sambil menunggu Qiara menyusul naik. Buket bunga lily yang tadi dibawanya dia letakkan hati-hati di kursi belakang. Mesin sudah menyala, AC mulai terasa sejuk, namun menit demi menit berlalu tanpa tanda-tanda Qiara membuka pintu.Kening Maira berkerut. Dia melirik spion samping, lalu ke arah pintu mall. Tetap kosong.Merasa ada yang tak beres, Maira mematikan mesin dan turun lagi dari mobil.“Ke mana si Qia? Kok tiba-tiba ngilang?” gumamnya heran.Tiba-tiba, sebuah mobil melintas di sampingnya dengan kecepatan cukup tinggi, membuat rambut Maira sedikit tersibak oleh hembusan angin. Dia refleks menoleh, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan yang jelas.“Perasaan tadi kita keluar dari mall bareng deh,” ucapnya pelan, berusaha mengingat kembali beberapa menit sebelumnya.Rasa tidak nyaman mulai merayap. Maira segera merogoh ponsel dari kantong
"Aku beli bunga buat Bu Karin, Qia. Aku mau jenguk dia di rumah sakit.""Oh Bu Karin sakit? Sakit apa dia?""Depresi.""Depresi?!" Mataku seketika mendelik. Dadaku terasa mengencang mendengar satu kata itu. "Kok bisa? Memangnya tadinya kenapa, sampai dia bisa depresi seperti itu?""Karena Papi.""Papimu??""Iya." Maira mengangguk cepat, raut wajahnya berubah serius."Memangnya apa yang Papimu lakukan sampai membuat Bu Karin depresi??" tanyaku, semakin penasaran."Karena Papi menolak cinta Bu Karin. Kamu juga pasti masih inget 'kan kejadiannya, pas di restoran?""Masih." Aku mengangguk cepat.Tentu saja aku ingat. Kejadian itu masih membekas dalam di kepalaku. Dan jujur saja, saat itu aku memang sempat merasa kasihan pada Bu Karin—perempuan yang terluka karena perasaan yang tak berbalas.Ini berarti rasa cinta Bu Karin kepada Om Bagas begitu dalam, kasihan dia, seharusnya Om Bagas mau membuka hatinya untuk Bu Karin."Jujur sih aku kasihan banget sama Bu Karin, Qia, apalagi dia kemarin-
Ceklek~ Suara gagang pintu diputar pelan, diikuti daun pintu yang terbuka perlahan. Dari baliknya, Bunda telah berdiri dengan tenang. Di tangannya tergenggam sebuah buket bunga mawar merah berukuran sedang, kelopaknya tersusun rapi dan tampak begitu segar, seolah baru saja dipetik pagi ini. "Ini ada kiriman bunga dari toko Bunda untukmu, Nak." Dia mengulurkannya ke arahku. "Kenapa Bunda memberikanku bunga?" Dahiku langsung berkerut refleks. Meski heran, tanganku tetap bergerak menerima buket itu. Begitu dekat, aromanya langsung menyeruak—harum lembut, menenangkan. Warna merahnya pekat dan hidup, kelopaknya mulus tanpa cela. Cantik sekali. "Bukan dari Bunda, tapi Dokter Bagas." Aku tersentak. Tanganku refleks mengeratkan genggaman pada tangkai bunga, sementara mataku sedikit membulat karena kaget. Dadaku berdebar tidak karuan. Kok bisa dia mengirimkan bunga tanpa bilang apa-apa? Bagaimana kalau Bunda jadi curiga? Ah, Om Bagas ini. Dia memang tidak bisa kalau tidak menyebalka
"Ahhh ... Aahhh ... Aahhh." Suara itu pecah begitu saja dari bibirku, tak lagi bisa kutahan. Tubuhku terasa ringan sekaligus berat di saat bersamaan, terombang-ambing oleh sensasi yang sejak tadi kucoba kendalikan. Di atas kasur, tanpa sehelai benang pun yang tersisa, kami berdua benar-benar tenggelam dalam momen itu—beradu keringat, beradu napas, beradu kendali. Udara dingin dari pendingin ruangan tak mampu meredam panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Suara desahan kami saling bersahutan, memenuhi ruangan yang tertutup rapat itu, memantul di dinding-dinding seolah menjadi saksi bisu atas kekalahanku sendiri. "Uughh ... enak banget, Sayang! Kamu terlalu menjepit Om!!" Om Bagas terus memacu, tanpa memberi celah bagiku untuk bernapas dengan tenang. Setiap gerakannya membuat pikiranku semakin kabur, membuatku lupa pada niat awal, lupa pada batas yang sejak tadi ingin kupasang. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, menggigit bibir, memejamkan mata, memusatkan pikiran







