/ Romansa / Sentuh Aku, Om Dokter! / 9. Parfum wanita lain

공유

9. Parfum wanita lain

작가: Rossy Dildara
last update 게시일: 2025-11-23 10:11:17

[Selamat pagi, kesayangan.]

[Apa semalam kamu bisa tidur, Sayang? Kok kamu nggak menelepon Om sih? Padahal Om nungguin tau.]

Ngomong apa dia ini?

Kesayangan katanya? Tubuhku seketika menggigil mendengarnya.

Dan untuk apa juga aku meneleponnya? Selain itu, kenapa dia masih memanggilku "sayang"? Bukankah semalam Ayah sudah memintanya untuk mengubah panggilan itu?

Aku menghela napas pendek, jengkel tapi juga bingung.

"Assalamualaikum ... Qiara."

"E-ehh!" Aku terkejut, saat mendengar suara samar da
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
ceritanya bangus yg g bagus iklanya bikin emosi
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   199. Jadi curiga

    "Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   198. Kangen setengah mati

    "Pak Bagas, ada yang datang menjenguk Anda." Suara tegap petugas polisi itu seketika membuyarkan lamunan panjangnya. Bagas tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Sejak pagi dia memang hanya duduk diam mematung di sudut sel yang pengap dan panas itu. Pikirannya melayang jauh, terus menerus membayangkan wajah istrinya tercinta, Qiara, yang kini entah di mana dan bagaimana keadaannya. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. "Pasti kesayanganku, Qiara? Qiara yang datang 'kan, Pak?" Nada suaranya berubah drastis, tiba-tiba penuh semangat dan berbinar. Matanya yang tadinya lesu kini terlihat hidup kembali. Tanpa menunggu jawaban pasti, kakinya sudah melangkah cepat mendekati pintu jeruji besi itu. "Betul, Pak." Petugas itu mengangguk mantap, lalu segera membuka gembok besar yang mengunci ruangan itu. Namun, baru saja Bagas hendak melangkah keluar dengan antusias, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dikunci dengan borgol besi yang dingin dan keras. "Lho, k

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   197. Tekanan mental

    "Tapi kenapa harus aku?? Aku 'kan nggak kenapa-kenapa, Mai.""Lho, bukannya katanya kamu terkena ilmu hitam?" Ustad Yunus bertanya dengan raut wajah yang tampak heran."Ilmu hitam??" Qiara semakin bingung dan kali ini dia terlihat sangat terkejut serta tak percaya. "Ustad kata siapa?? Aku nggak terkena ilmu hitam sama sekali kok.""Kata Maira.""Aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk tentang Mami," sahut Maira cepat. Sebenarnya dia tak berani jujur jika ini semua ada kaitannya dengan Bagas, karena dia tahu itu sama saja dia mencari masalah besar. Bisa-bisa berbahaya nantinya bagi dirinya. "Jadi ya karena aku khawatir... Nggak ada salahnya dong kalau aku bawa Mami ke sini. Lagian diruqyah itu 'kan bagus dan membawa berkah, Mi.""Mimpi buruk gimana?""Banyak lah, Mi. Dari mulai mimpi Mami sakit, Mami jatuh. Intinya mimpi buruk."Qiara diam sejenak, tampak sedang berpikir, lalu akhirnya dia mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Tapi prosesnya kira-kira berapa lama Ustad??""Sebentar

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   196. Diruqyah

    Sebelumnya, tepat setelah menerima telepon dari Laura yang memberitahu bahwa Dylan dan Bagas di tahan polisi lalu Qiara dan Kai akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, sebuah rencana yang sudah lama dia susun bersama kakak seniornya tiba-tiba terlintas jelas di benak Maira. Sepertinya hari ini adalah waktu yang paling tepat. Apalagi saat ini Bagas tidak ada di sisi Qiara, tidak ada yang akan menghalangi atau mencurigai gerak-geriknya. Maira pun segera mengetik balasan untuk Davin: [Jadi, Kak. Ini aku baru bujukin Mamiku supaya mau ikut bersamaku. Nanti semisal aku sudah otewe berangkat, aku akan kabari Kakak.] Setelah mengirim pesan itu, dia menyimpan kembali ponselnya dengan wajah yang kembali tenang dan tersenyum manis. "Ya sudah, Mai. Aku mau mandi terus izin dulu ke Bunda, ya?" pamit Qiara lalu menggendong Kai. "Biar aku saja yang minta izin ke Oma. Mami langsung mandi saja nggak apa-apa," jawab Maira cepat, berusaha memudahkan segalanya. "Ya sudah." Qiara menganggu

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   195. Sudah cukup sampai di sini

    "Bun ... apa nanti sore kita ke kantor polisi lagi?" tanya Qiara pelan, matanya menatap Laura yang sedang dengan telaten memandikan Kai di bak mandi.Suasana di rumah terasa sepi sejak mereka pulang tadi. Laura meminta Qiara untuk tinggal di rumahnya mulai sekarang, membawa serta Kai, selama Bagas masih ditahan di kantor polisi."Mau ngapain kita ke sana lagi?" sahut Laura balik bertanya, suaranya terdengar datar namun jelas, wajahnya tampak heran dengan pertanyaan putrinya itu."Buat anterin pakaian ganti dan perlengkapan lainnya buat Ayah sama Om Bagas, Bun. Masa mereka nggak ganti baju sama sekali? Apalagi Om Bagas, dari pagi sampai sekarang belum sempat mandi," jelas Qiara dengan nada khawatir yang sangat terasa."Soal itu biar Sakti yang urus. Bunda sudah titip sama dia tadi.""Jam berapa Om Sakti mau berangkat? Kalau gitu aku mau masak dulu deh, Bun. Aku mau bawain makanan khusus buat Ayah dan Om Bagas," ucap Qiara antusias, berniat ingin berbuat sesuatu untuk suami dan ayahnya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   194. Teringat masa lalu

    Dylan sempat terpaku beberapa detik, menatap Bilal dengan sorot mata tak percaya. Rahangnya mengeras, sementara dadanya naik turun menahan emosi yang tiba-tiba kembali menguar. Seharusnya dia ingat. Seharusnya dia sadar sejak awal. Bilal memang sudah masuk penjara… tapi sialnya, dari sekian banyak tempat, kenapa harus di penjara yang sama? Bahkan satu sel dengannya. Benar-benar nasib yang menyebalkan. "Aku ditahan di sini karena difitnah, Ayah," jawab Bilal dengan raut sedih, matanya menunduk seolah menanggung beban berat. Dylan hanya mendengus kasar. "Ternyata kalian saling mengenal, ya? Baguslah kalau begitu," ucap salah satu polisi dengan nada santai, seolah tak peduli dengan ketegangan di antara keduanya. Bunyi ceklek terdengar nyaring saat gembok sel dikunci. Dua polisi itu kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Dylan dan Bilal dalam ruang sempit yang terasa semakin pengap. Keheningan sempat menggantung. Namun tak lama, Bilal kembali membuka suara. "Ngomong-ngomong Aya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   61. Tidak ada kabar

    Setelah menutup telepon, aku berniat langsung ke rumah sakit dan membatalkan makan siang bersama Ayah. Namun, Ayah melarang keras meskipun aku sudah menjelaskan bahwa Mas Bilal mengalami kecelakaan dan kini tengah dioperasi. Dia memperingatkan bahwa makan siang juga penting untukku saat ini, terlep

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   60. Jangan lama-lama!

    "Ayok." Ayah mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan pemahaman terhadap hasratku. Dia kemudian mengajakku keluar bersama dari ruangannya, tangannya secara lembut menyandar di pundakku seolah ingin memberikan kekuatan.Ketika kami sampai di lobby, kami melihat ruangan yang sepi tanpa ada jejak Om

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   63. Tespeck

    Aku memasuki kamar mandi kecil itu, lalu mengunci pintunya dengan tangan yang masih gemetar.Mataku menatap kedua tespeck yang ada di atas wastafel, jantungku berdebar semakin kencang.Aku melakukan langkahnya dengan hati-hati, kemudian menampung urine ke dalam wadah steril yang dokter berikan.Saa

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   64. Menantu kurang ajar

    Pandanganku langsung ke dalam kamar, tepatnya di ranjang Mas Bilal. Ayah berdiri kokoh di sisi kanan Mas Bilal, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya yang besar dan berotot mencengkram leher Mas Bilal dengan erat. Wajah Ayah tampak memerah dengan emosi yang membara. Sementara Mas Bilal, d

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status