/ Romansa / Sentuh Aku, Om Dokter! / 8. Pikirkan baik-baik

공유

8. Pikirkan baik-baik

작가: Rossy Dildara
last update 게시일: 2025-11-22 13:42:49
"Memangnya kenapa sih? Aku panggil dia sayang 'kan memang aku sayang sama dia, Lan. Kan aku sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri."

Oh, jadi itu alasannya.

"Tetap saja risih aku dengarnya! Mending nggak usah, panggil nama saja! Atau kalau enggak, panggil Dek saja," saran Ayah.

"Cih! Lebay kamu, Lan! Si Halal Bihalal yang suaminya saja nggak ngelarang!" cibir Om Bagas sambil mengetok kepala Ayah, dan Ayah membalas dengan menoyor kepala Om Bagas.

Meskipun hubungan mereka terjalin
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
kenapa juga harus pnggil om
goodnovel comment avatar
Rossy Dildara
coba ditebak kak
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   202. Kalian boleh bebas

    "Apa kalian masih betah tinggal di sini?"Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibir Laura, saat Bagas dan Dylan duduk berhadapan dengannya."Kalau Ayah sih jelas nggak betah," sahut Dylan cepat, matanya melirik sekilas ke arah Bagas di sampingnya.Di sisi lain meja, Laura duduk berdampingan dengan Qiara yang masih menggendong Kai erat di pelukannya. Bayi mungil itu kini sudah tertidur lelap, napasnya teratur dan tenang—sangat berbeda dari tangisan tanpa henti tadi, seolah kehadiran ayah dan kakeknya saja sudah cukup menyembuhkan segala kegelisahannya."Sama aku juga, Ra... eh maksudku Bun," Bagas ikut menyahut, suaranya terdengar rindu. "Kapan kira-kira aku dan Ayah dibebaskan? Apa Bunda dan Qiara sama sekali nggak rindu kami berdua? Kai sendiri kayaknya rindu berat sama kami."Sebagai seorang ayah sekaligus dokter, naluri Bagas memang lebih peka. Dia paham betul betapa besar dampak kehadiran keluarga bagi pertumbuhan dan ketenangan anak sekecil itu."Kalian boleh bebas, asal kalian ma

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   201. Siapa sangka

    Hati Laura bagai teriris melihat sang cucu, Kai, yang terus menangis tanpa henti. Tangisan itu tak kunjung reda meski sudah dibawa ke dokter dan diberi obat penenang. Merasa tak tega lagi dan mendesak, akhirnya dia memutuskan untuk membawa cucunya langsung ke kantor polisi, satu-satunya tempat di mana ayah dan kakek anak itu berada."Mohon maaf Ibu, Nona. Ini masih terlalu pagi untuk menjenguk tahanan. Kalian bisa kembali lagi nanti pukul 10 pagi," ucap salah satu petugas polisi dengan tegas melarang mereka masuk. Matanya melirik jam dinding di ruangan itu yang masih menunjukkan angka 02.00 dini hari."Maafkan kami, Pak. Tapi ini benar-benar darurat. Anakku menangis terus semalaman, dia nggak bisa tidur, nggak mau makan, karena kangen berat sama Ayah dan Opanya. Tolong izinkan kami sebentar saja, biarkan Kai digendong mereka sebentar saja supaya dia tenang," pinta Qiara dengan nada memelas, air matanya hampir menetes melihat kondisi anaknya yang semakin lemas."Maaf sekali, Nona. Saya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   200. Menangis terus menerus

    Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah yang begitu familiar bagi mereka berdua. Suasana halaman rumah terasa tenang dan teduh, seolah menyambut kedatangan mereka kembali."Kamu mau mampir dulu, Mai??" tanya Qiara lembut begitu dia turun dari mobil."Enggak, Mi. Aku mau langsung pulang saja," jawab Maira sambil merapikan sedikit rambutnya. "Nanti titip salam buat Oma Laura saja, ya??" pintanya dengan nada akrab yang biasa mereka gunakan."Oke." Qiara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, senyum tipis terukir di bibirnya.Dia pun tak memaksa, hanya berdiri mematung sejenak di sana, membiarkan Maira membelok mobilnya lalu meninggalkan pekarangan rumah. Hanya setelah mobil Maira benar-benar hilang dari pandangan, barulah Qiara menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah.****"Oooeee... Oooeee ....."Tangisan keras Kai memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya, bayi mungil itu menangis terus-menerus dan tak kunjung bisa tidur nyenyak sejak tadi.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   199. Jadi curiga

    "Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   198. Kangen setengah mati

    "Pak Bagas, ada yang datang menjenguk Anda." Suara tegap petugas polisi itu seketika membuyarkan lamunan panjangnya. Bagas tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Sejak pagi dia memang hanya duduk diam mematung di sudut sel yang pengap dan panas itu. Pikirannya melayang jauh, terus menerus membayangkan wajah istrinya tercinta, Qiara, yang kini entah di mana dan bagaimana keadaannya. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. "Pasti kesayanganku, Qiara? Qiara yang datang 'kan, Pak?" Nada suaranya berubah drastis, tiba-tiba penuh semangat dan berbinar. Matanya yang tadinya lesu kini terlihat hidup kembali. Tanpa menunggu jawaban pasti, kakinya sudah melangkah cepat mendekati pintu jeruji besi itu. "Betul, Pak." Petugas itu mengangguk mantap, lalu segera membuka gembok besar yang mengunci ruangan itu. Namun, baru saja Bagas hendak melangkah keluar dengan antusias, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dikunci dengan borgol besi yang dingin dan keras. "Lho, k

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   197. Tekanan mental

    "Tapi kenapa harus aku?? Aku 'kan nggak kenapa-kenapa, Mai.""Lho, bukannya katanya kamu terkena ilmu hitam?" Ustad Yunus bertanya dengan raut wajah yang tampak heran."Ilmu hitam??" Qiara semakin bingung dan kali ini dia terlihat sangat terkejut serta tak percaya. "Ustad kata siapa?? Aku nggak terkena ilmu hitam sama sekali kok.""Kata Maira.""Aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk tentang Mami," sahut Maira cepat. Sebenarnya dia tak berani jujur jika ini semua ada kaitannya dengan Bagas, karena dia tahu itu sama saja dia mencari masalah besar. Bisa-bisa berbahaya nantinya bagi dirinya. "Jadi ya karena aku khawatir... Nggak ada salahnya dong kalau aku bawa Mami ke sini. Lagian diruqyah itu 'kan bagus dan membawa berkah, Mi.""Mimpi buruk gimana?""Banyak lah, Mi. Dari mulai mimpi Mami sakit, Mami jatuh. Intinya mimpi buruk."Qiara diam sejenak, tampak sedang berpikir, lalu akhirnya dia mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Tapi prosesnya kira-kira berapa lama Ustad??""Sebentar

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   28. Tak mau mendengarkan

    "Selingkuh?!" Mataku membulat sempurna, terkejut mendengar permintaan Ayah. Kata itu menggema di telingaku, seolah petir menyambar di siang bolong. "Memangnya Mas Bilal selingkuh, Yah?" tanyaku dengan suara tercekat, merasakan dadaku sesak.Tidak mungkin!Mas Bilal tidak mungkin selingkuh, kan? Dia

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   27. Ketahuan selingkuh

    "Cukup sampai di sini??" Om Bagas terdiam sejenak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Lalu, nada suaranya berubah menjadi panik. "Apa maksudmu, Sayang? Kamu masih marah sama Om, ya? Om 'kan sudah minta maaf. Kalau gitu... Om akan jelasin sama Bundamu. Katakan pada Om, alasan apa

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   26. Cukup sampai di sini

    Tanganku menyentuh sesuatu yang bertekstur kain, namun terasa sangat lembut dan licin di kulit. Jantungku berdebar semakin kencang, iramanya tak karuan, saat menarik benda itu keluar dari dalam paperbag.Mataku seketika membulat sempurna, mulutku terbuka tanpa suara. Di tanganku kini tergenggam seh

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   18. Galeri Om Bagas

    "Om ...," panggilku lirih. Aku menanti jawaban, namun, yang kudengar hanyalah keheningan yang menyelimuti.Tak lama kemudian, telingaku menangkap suara dengkuran halus. Rupanya dia sudah tertidur lelap. Wajahnya menghadap ke samping, memunggungiku, sehingga aku tak menyadari bahwa dia telah terlela

    last update최신 업데이트 : 2026-03-18
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status